12

1367 Kata
Kenneth membutuhkan Violet untuk menceritakan apa yang baru saja orangtuanya katakan padanya—saat itu juga. Jadi, ia memutuskan untuk menghubungi Violet dan mengajaknya untuk bertemu. Ia harus membicarakannya pada Violet. Mereka akhirnya bertemu di restoran Violet yang akan segera tutup malam itu. Kenneth melihat wanita itu menunggunya di pinggir jalan. Saat mobilnya sudah berada di hadapan Violet, wanita itu langsung masuk ke kursi di samping Kenneth. “Ada apa? Kau terlihat...” “Kacau?” tebak Kenneth. Ia tersenyum miris. Kenneth mematikan mesin mobilnya alih-alih membawa Violet ke suatu tempat. “Kenneth, kau kenapa?” Kenneth memutar badan untuk mengalihkan pandangan pada Violet. Lamat-lamat ia menatap wanita itu. “Apa kau tahu Olivia akan djodohkan denganku?” Violet membisu. Ia tidak menyangka akan secepat ini. Padahal, baru beberapa hari yang lalu ia menghabiskan waktu bersama Kenneth tanpa memikirkan masalah itu—dengan sedikit berharap bahwa Kenneth tidak akan berakhir bersama Olivia. “Ayah sudah memberitahumu?” Kenneth terhenyak ketika menyadari bahwa Violet sudah mengetahuinya. Ia mengira bahwa wanita itu juga tidak tahu tentang rencana Alden dan Kent, namun ternyata wanita itu sudah mengetahuinya lebih dulu. Ia merasa...tidak adil. “Kau mengetahuinya, Violet?” Kenneth bertanya pada wanita itu tidak percaya. Ia sempat melihat mata wanita itu berkaca sebelum menundukkan wajahnya. “Kenneth...maafkan aku.” Violet merasakan setetes air mata jatuh di pipinya. Ia tidak ingin merasakan hal ini. Seharusnya, saat ia tahu bahwa Alden akan menjodohkan Olivia dengan Kenneth, ia harus menjauh dari Kenneth saat itu juga, atau paling tidak, jangan membuat Kenneth menaruh harapan akan hubungan mereka—yang entah dinamakan apa. “Violet, kita baru saja membicarakan tentang—” “Aku tahu, Kenneth. Dan, itu semua salah. Aku seharusnya sadar, bahwa semuanya salah.” Violet tidak bisa menahan isakannya. Ia melihat Kenneth yang menyiratkan tatapan kecewa dan marah. Violet tahu bahwa ia layak mendapatkan itu. Sangat layak. “Kau bersikap layaknya kita memiliki harapan untuk lebih dari sekadar teman, Violet. Bahkan, jika kau lupa, kita—astaga, Violet—i kissed you!” Violet mengangguk. “Itu semua salah. Waktu yang aku lewatkan denganmu—” “Salah? Violet, kenapa kau sangat berani mengatakan hal itu?” Saat itu, Violet tahu bahwa Kenneth akan sangat membencinya. “Kau memberiku harapan, Violet. Itu yang membuatku kesal padamu. Seharusnya jika kau tahu sejak awal tentang itu, jangan buat aku menaruh harapan padamu. Kau sangat....kau berhasil membuatku terpesona dan seketika melupakan Alexandria—kau berhasil mengembalikan aku seperti dulu, Violet.” Kenneth melihat Violet menatapnya dengan iba—astaga, Kenneth tidak suka tatapan itu. “Violet, kau tahu apa yang kau lakukan?” Violet mengangguk. Kenapa selama hidupnya ia selalu melakukan kesalahan? Dia tidak berguna—untuk adiknya, ayahnya, sekalipun untuk Kenneth. “Aku sangat bodoh dan tidak berguna.” Kenneth memang tidak menyukai tindakan Violet padanya—tapi, ia lebih tidak menyukai wanita itu menyalahkan dirinya sendiri. “Violet, tidak. Jangan seperti ini.” “Kau lebih baik membenciku.” “Tidak bisa.” “Tapi itu lebih baik.” “Violet, bagaimanapun kau tetap temanku—terlepas aku pernah menaruh harapan padamu dan kau menggagalkannya.” Violet mendengus. “Kenneth, maafkan aku.” Kenneth mengangkat bahunya. “Aku marah, Violet—entah padamu, atau pada diriku sendiri. Dan kini, aku harus menikahi adikmu?” “Apa kau melihat adanya pilihan lain?” Kenneth menggeleng. “Jika aku punya, aku akan membawamu pergi jauh dari sini dan menikahimu saat itu juga.” Violet tertawa miris. “Maaf, Kenneth. Itu tidak mungkin.” “Iya, tentu saja tidak akan terjadi—karena, aku akan menikahi adikmu.” Violet tahu Kenneth serius dengan ucapannya—ia bisa melihatnya dari tatapan pria itu. Violet hanya bisa tersenyum tipis dan menunggu apa yang akan terjadi ke depannya. Violet terbius dengan kebaikan Kenneth padanya tempo hari—dia mencurangi dirinya sendiri bahwa ia tidak dispesialkan oleh Kenneth, karena Kenneth bisa melakukan hal itu pada semua orang. Eligible bachelor seperti Kenneth mudah mendapatkan wanita manapun dan mudah membuat wanita itu merasa spesial—Violet termakan ucapannya sendiri. Sementara, Kenneth berharap terlalu banyak pada Violet. Ia terburu-buru dan ketika takdir mengatakan bahwa Violet bukan untuknya—maka hal ini akan sulit baginya. *** “Kakak, apa aku sudah rapi?” Olivia memilin ujung dressnya gugup. Ia duduk di kursi meja makan itu seraya berusaha untuk tenang walaupun tidak berhasil. “Maksudmu, apa kau sudah cantik? Tentu saja, Oliv. Kau selalu cantik.” Violet tersenyum dan menggenggam tangan Olivia yang dingin. Ia tertawa kecil. Mereka kini berada di kediaman Kent dan Alesya Wijaya untuk membicarakan tentang pernikahan Kenneth dan Olivia—akhirnya, Kenneth menyetujui perjodohan itu tanpa pikir panjang dan akhirnya Olivia mendapatkan apa yang ia mau. Yap, Kenneth Wijaya. “Apa kau segugup ini saat datang ke acara waktu itu bersamanya?” Violet tidak kuat untuk tidak menahan tawanya. “Tidak, Oliv, karena kita hanya teman.” Hanya teman, itu yang selalu ia rapalkan dalam hati. Walaupun, ia sangsi Kenneth masih mau menganggapnya teman atau bukan. “Maaf jika kalian menunggu lama.” Alesya datang dengan dua piring di kedua tangannya, dibantu Kent yang ikut membawakan piring berisi makanan. Alden tersenyum dan berkata, “Terimakasih, Alesya.” Saat Kenneth sudah berada di sana, pembicaraan—yang sebenarnya tidak ingin Violet dengar—segera dimulai. “Jadi, kau setuju Kenneth, untuk menikah dengan Olivia?” tanya Alden dengan antusias. “Iya, Tuan Alden.” Olivia tersipu malu ketika Kenneth menjawab seraya menatap ke arahnya. “Oh, tidak perlu seformal itu. Kau bisa memangilku; Ayah.” Kenneth mengangguk sopan. Ia menatap Olivia sekali lagi dan tersenyum tipis padanya, sebelum ia melirik Violet yang duduk di samping Olivia. Violet tidak memperhatikannya karena sedari tadi, wanita itu hanya sebagai penonton di sana—apa Violet biasa saja menerima perjodohan Kenneth dengan adiknya? “Syukurlah, Kenneth. Setidaknya kau bisa menyusul saudara-saudaramu yang sudah menikah.”Alesya tertawa kecil mendengar ucapan Kent. “Olivia, kau ingin makan terlebih dahulu?” tawar Kent pada calon menantunya yang sedari tadi hanya tersipu malu setiap pandangannya melirik pada Kenneth. Olivia menggeleng. “Tidak, kita makan bersama saja.” Alesya mengangguk setuju. Ia yang terlebih dahulu mengambil piring dan memberikannya pada suaminya. Akhirnya, mereka makan dipenuhi dengan topik tentang pernikahan itu. “Kapan kita adakan pernikahannya?” Kenneth mengangkat suara terlebih dahulu. “Bagaimana jika minggu depan?” “Minggu depan?” Olivia tidak percaya jika Kenneth akan begitu cepat memikirkan pernikahan mereka. Maksudnya, awalnya ia mengira bahwa pernikahan itu akan diadakan bulan depan atau beberapa bulan kedepan. Tidak secepat ini—bahkan, mereka belum kenal dekat. Walau Olivia mengatakan bahwa ia sudah menyukai Kenneth, tentu ia sangat ingin mengenal Kenneth lebih dekat untuk menghabiskan sisa hidupnya yang pendek dengan pria itu. “Oh, apa kau keberatan, Olivia?” Astaga, Olivia suka ketika pria itu memanggil namanya. “Apa itu tidak terlalu cepat?” “Well, lebih cepat lebih baik.” *** Kenneth duduk di pinggir kolam dengan Olivia di sampingnya. Kaki mereka di masukkan ke dalam kolam dan membuat gerakan sedikit demi sedikit yang menimbulkan air kolam bergerak. “Apa kau keberatan dengan ini semua?” tanya Olivia yang membuat Kenneth mengalihkan pandangannya. “Maksudmu?” “Pernikahan ini, Kenneth. Aku tahu kau sangat terpaksa untuk ini—hanya karena permintaan bodohku, kau akhirnya mau menghabiskan waktumu bersama wanita sekarat seperti aku.” Olivia tersenyum miris. “Jangan berkata seperti itu, Olivia. Lagipula, aku tidak merasa terpaksa dengan ini.” Kenneth tidak tahu ia sedang berkata sejujurnya atau tidak. Karena, ia iba dengan Olivia yang seperti ini di hadapannya. “Terimakasih, Kenneth.” Kenneth tersenyum. “Tentu, Olivia. Kita akan melewati pernikahan ini bersama, kau mau?” Olivia mengangguk. Namun, Kenneth tidak merasakan persaaan membuncah senang karenanya. Pikirannya melayang pada Violet—yang telah memberinya harapan dan seharusnya ia musnahkan keinginan awalnya dengan Violet. Seharusnya, ia meyakinkan hatinya bahwa Olivia adalah wanita yang akan ia nikahi—maka, ia harus mencintainya. Apakah Kenneth bisa? *** Kenneth memutuskan untuk melepaskan harapannya pada Violet—Karena, untuk apa ia berharap pada sesuatu yang tidak bisa ia miliki? Lagipula, bukankah Violet mengatakan bahwa tampang tidak terlalu penting untuknya? Maka, Kenneth mungkin bukan pria yang dicari wanita itu. Kenneth hanya bisa menjadi temannya saja. Pria itu tidak tahu apakah tindakannya pada Olivia dan mengatakan akan melewati pernikahan ini sungguh-sungguh atau tidak. Kenneth hanya ingin melepaskan harapannya pada Violet. Terlepas dari pemikirannya bahwa pernikahan yang akan ia jalankan adalah pernikahan konyol dan tidak tahu apakah ia bisa bertahan atau tidak—Kenneth akan berusaha untuk menjadi yang terbaik, untuk dirinya—dan Olivia. Kenneth tidak mengatakan bahwa ia adalah orang yang mudah jatuh cinta—tidak, ia tidak janji bahwa ia akan mudah mencintai Olivia. Karena, bahkan mencintai Violet hanya angan yang harus ia relakan. Untuk Olivia, ia tidak tahu butuh berapa lama untuknya mencintai wanita itu. Atau bahkan mungkin ia tidak bisa jatuh cinta pada Olivia. Pemikiran ini membuatnya pusing. Kenneth mencintai Alexandria karena wanita itu terlihat sangat rapuh—ia merasa menjadi pahlawan karena Alexandria butuh dilindungi, selain karena wanita itu juga cantik. Hal itulah yang membuat Alexandria spesial di mata Kenneth—karena dulu, Kenneth membutuhkan wanita yang ingin dilindungi sehingga ia merasa menjadi pahlwana. Dengan Violet—walaupun ia tidak akan bisa mencintai wanita itu, ia menyukai pemikirannya yang dewasa dan mandiri. Kenneth merasa nyaman berada di sampingnya...dan tenang. Violet adalah orang yang tepat saat ia membutuhkannya. Hal itu yang membuat Kenneth igin bersama Violet. Sementara, dari semua hal itu, ia akan berakhir pada Olivia Mitchell—wanita yang belum terlalu ia kenal. *** TBC Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN