13

1195 Kata
Violet menghela napas lelah ketika ia sudah berada di depan pintu apartemen Kenneth sore ini. Ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya di restoran dan menemui pria itu, katanya, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Awalnya, Violet ingin menolaknya karena ia juga masih memiliki urusan, tapi ia tidak ingin memperkeruh pertemanannya dengan Kenneth. Jadi, ia memilih untuk menuruti kemauan Kenneth. Saat ia memencet bel, tidak perlu waktu yang lama untuknya menunggu Kenneth membukakan pintu di hadapannya. Kenneth masih memakai setelan kerjanya—tentu saja sangat tampan, Violet tidak bisa berbohong akan itu. “Hai,” ujar Violet canggung. Tentu saja canggung, ia dan Kenneth baru saja bertengkar—apa kejadian kemarin bisa dianggap bertengkar?—dan Kenneth akan menikahi Olivia. Sementara kini, pria itu ingin bertemu dengannya. Kenneth tersenyum dan membukakan pintu lebih lebar untuk Violet. Violet masuk ke apartemen Kenneth yang masih sama keadaannya seperti terakhir kali ia lihat. “Apa aku menganggu waktumu?” tanya pria itu seraya menyodorkan secangkir kopi padanya. Mungkin, Kenneth tahu kesukaannya pada kopi—walau tidak terlalu kecanduan. “Tidak, tentu tidak.” Violet tersenyum. Tidak mungkin ia berbohong pada Kenneth bahwa sebenarnya ia masih memiliki urusan di tempatnya. Kenneth duduk bersebrangan dengannya. Pria itu menghela napas. “Violet.” “Iya?” Violet mencoba untuk tidak terlalu canggung dan merasa santai di hadapan Kenneth. “Aku—aku hanya ingin mengatakan bahwa...aku tidak bisa membencimu.” Violet merasakan  jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tahu apa yang akan dibicarakan Kenneth. “Violet, terlepas dari harapanku dulu padamu—aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Lagipula, aku akan menjadi adik iparmu, bukan?” Violet terkekeh pelan mendengarnya. “Aku ingin kita baik-baik saja, kau mau?” tanya Kenneth. Ia sudah memikirkan ini semalaman. Cara terbaik untuk ini adalah merelakan harapannya tentang kelanjutan hubungannya dengan Violet, menikahi dan menghargai Olivia—karena Kenneth membutuhkan waktu untuk mencintai Olivia, dan terakhir berdamai dengan Violet. Violet mengangguk. Ia tidak tahan jika harus bermusuhan dengan Kenneth sepanjang hidupnya. “Jadi, teman?” “We’re good.” Kenneth tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Violet. Violet tertawa kecil sebelum menjabat tangan Kenneth. “Oke, Violet. Hari ini aku ingin mengajakmu pergi.” “Kemana?” tanya Violet heran ketika melihat Kenneth sudah berdiri seraya menggenggam tangannya. “Membeli es krim kesukaanmu?” *** Mereka mengulang kegiatan mereka beberapa hari yang lalu. Berjalan-jalan seraya memakan es krim—yap, mungkin lama-lama Kenneth akan menyukai hal ini, dengan temannya. Kenneth dan Violet memutuskan untuk memasuki suatu butik ternama di pusat kota karena Kenneth berencana untuk membelikan sesuatu untuk Olivia—sebenarnya, itu adalah ide Violet. Tidak salah untuk memberikan hadiah pada calon istrimu, katanya. “Olivia sangat menyukai warna pastel, Kenneth. Jadi, kau lebih baik melihat baju-baju berwarna pastel.” Violet mengikuti Kenneth yang melihat-lihat apa yang sekiranya cocok untuk Olivia. Violet sibuk memakan es krim green tea-nya sementara Kenneth kebingungan mencarikan hadiah yang cocok untuk Olivia. “Bagaimana menurutmu?” Kenneth mengambil sebuah dress dan menunjukkannya pada Violet. Violet mengerutkan dahinya dan menggeleng. Pakaian yang dipilih Kenneth adalah long a-line dress berwarna sky blue. “Kau akan mengajaknya kemana? Prom?” Kenneth mendengus malas mendengar jawaban Violet. “Kau tidak setuju?” “Jika kau ingin mengajak Olivia ke prom, mungkin dress itu cocok,” ujar Violet dengan sinis. Ia kembali memakan es krimnya seraya mengikuti Kenneth. Seorang pegawai butik menghampiri mereka dan bertanya apa yang bisa ia bantu. Kenneth menolaknya dengan halus dan mengatakan ingin mencari baju yang ia inginkan sendiri. “Violet, kau pasti menyetujui ini.” Kenneth berbalik setelah mengambil dress pilihannya. Violet menggeleng kuat. Off shoulder dress berwarna pink pastel pilihan Kenneth adalah hal yang pasti tidak disukai oleh Olivia. Karena, adiknya itu tidak menyukai modelnya. “Olivia tidak menyukai itu, Kenneth.” Kenneth mendesah lelah. Ia kembali berjalan untuk mencari dress apa yang cocok dengan Olivia. Semuanya terasa lebih sulit karena ini pertama kalinya ia membelikan seorang wanita sebuah dress—apalagi ia belum terlalu mengenal wanita ini. “Violet, tolong setujui ini. Aku lelah.” Kenneth menunjukkan trim dress berwarna pale pink. Violet melihatnya terpukau. Olivia pasti akan menyukai dress itu. “Absolutely yes.” Kenneth mengerutkan dahinya. “Kau yakin?” Violet menghabiskan es krimnya dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dalam butik itu. “Iya, sederhana dan pastel—sangat Olivia.” Kenneth tersenyum senang. Walaupun ia akui bahwa ia belum mencintai Olivia—setidaknya ia berusaha membuat wanita itu bahagia. Kenneth memberikan dress yang ia pilih pada salah satu pegawai butik itu untuk membungkusnya. Sementara, Violet memandang salah satu dress di hadapannya. Ia memegang dress itu. “Kau mau? Kau bisa membelinya, Violet.” Violet terkesiap ketika Kenneth berada di belakangnya dan berbisik padanya. Violet memukul pelan lengan Kenneth karena mengejutkannya. “Tidak, aku sedang mengirit pengeluaranku.” Violet tertawa kecil. Violet merasakan ponselnya bergetar. “Oh, ini Olivia. Aku keluar sebentar, Kenneth.” Kenneth mengangguk dan melihat Violet keluar dari butik itu. “Tolong, dengan yang ini juga.” *** Hari sudah malam ketika Kenneth berkunjung ke rumah Violet. Ia akan memberikan hadiahnya pada Olivia. “Kau siap bertemu dengan calon istrimu?” goda Violet ketika mereka masih berada di dalam mobil tepat di depan rumahnya. Kenneth tertawa kecil. Ia mengambil kotak hitam yang berada di kursi belakang mobil. “Aku baru tersadar bahwa sebentar lagi aku akan menikahinya—namun memiliki nomor ponselnya saja tidak.” Violet membelalakkan matanya tidak percaya. “Kau serius?” Kenneth meringis dan mengangguk. “Silly, right?” “Oke, aku akan mengirimkannya padamu sekarang.” Violet mengambil ponselnya dan segera mengirimkan kontak Olivia pada Kenneth. Kenneth memperhatikan Violet dengan senyum di wajahnya. Tanpa Violet sadari, Kenneth menaruh sebuah kotak di pangkuannya. Ketika akan turun, Violet baru menyadarinya. “Kenneth, lebih baik kau yang memberikannya pada Olivia.” Violet menujuk pada kotak hitam di pangkuannya. “I will.” Sementara itu, Kenneth memegang satu kotak hitam lagi. Violet mengerutkan dahinya. Kotak hitam berukuran sedang di pangkuannya milik siapa, kalau begitu? “Jika penasaran, buka saja.” Violet langsung membukanya dan terkejut ketika isinya adalah dress yang diinginkanya. “Kenneth....” Kenneth mengangkat bahunya. “Tidak perlu terharu seperti itu, Violet.” “Thankyou.” Kenneth sangat baik padanya. Ia adalah teman yang sangat baik. *** Violet melihat Olivia sedang memakan camilannya seraya menonton serial televisi kesukaannya. “Hai, Olivia.” Olivia sedikit terkejut dan melihat kakaknya menyimpan sepatunya di rak. “Hai, Kak.” Olivia tersenyum dan kembali pada kegiatannya. “Lihat, siapa yang datang kemari.” Violet menengok ke belakangnya dan Kenneth langsung masuk ke rumah itu. Pria itu melihat Olivia terkejut melihatnya. “Olivia,” ujar pria itu seraya tersenyum pada Olivia. Kenneth bisa mengetahui bahwa wanita itu tersipu malu. Violet melihatnya dan memutar bola matanya—meledek mereka berdua. “Oke, aku tidak ingin jadi pengganggu. Aku akan ke kamar sekarang.” Sebenarnya, Violet hanya menampik sesuatu yang ia rasakan. Sesuatu yang membuatnya tidak menyukai cara Kenneth memperlakukan Olivia dan bagaimana pria itu menatap adiknya. Ia tidak menyukai Kenneth yang tersenyum pada Olivia dan tidak menyukai ketika Olivia tersipu malu ditatap Kenneth. Violet menyadari bahwa ia menemukan kenyamanan dengan Kenneth ketika mereka berdua. Rasa familier yang membuatnya ingin selalu berdekatan dengan pria itu—rasa nyaman yang melindunginya. Violet tahu ia tidak seharusnya merasakan hal itu pada temannya. Mereka hanya teman yang baru saja berbaikan dan Kenneth akan segera menikahi Olivia. Lagipula, ia hanya terlena akan kebaikan Kenneth padanya—jika saja Kenneth tidak menenangkannya atau bahkan pria itu tidak ingin berkenalan lebih dekat dengannya maka mungkin Violet tidak akan merasakan hal ini. Sementara, Violet harus menyiksa dirinya dengan menampik rasa nyaman itu. Harus meyakini bahwa ia dan Kenneth sekadar teman—kembali saat mereka baru saja berkenalan dan melupakan kejadian-kejadian beberapa hari yang lalu bahwa mereka ingin melebihi dari sekadar teman. Kenyataannya, mereka tidak bisa. Violet bersandar di pintu kamarnya. Ia merasakan dadanya sesak—seperti sesuatu direnggut paksa darinya. Seharusnya, ia sadar diri bahwa ia tidak boleh merasakan hal ini. Teman tidak boleh merasakan apa yang ia rasakan. “Kenneth menikah dengan Olivia, dan memang itu yang seharusnya terjadi,” ucap Violet meyakinkan dirinya sendiri. Violet tidak boleh mencintai kenyamanan yang diberikan Kenneth padanya. *** TBC Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN