Kentzo menatap kembarannya tidak percaya. “Sungguh kau tidak apa?” tanyanya entah untuk yang keberapa kalinya. Suasana di kafetaria kantor Kenneth yang ramai tidak menganggu Kentzo untuk menginterogasi kembarannya. Ia tidak mau Kenneth salah mengambil langkah.
“Iya, Kentzo. Aku akan menikahi Olivia, dan berusaha menghargai wanita itu.” Kenneth menyesap pelan kopi yang baru saja ia pesan siang ini. Kentzo menatapnya dengan sungguh-sungguh—yang jarang sekali ia lakukan karena biasanya hanya ada kerlingan jahil yang sering ditunjukkan olehnya.
“Kau serius? Bagaimana dengan Violet?”
Kenneth menghela napas. “Kita hanya berteman, Kentzo.”
“Iya, teman yang tidur di ranjangmu.” Kentzo meledeknya dan membuat Kenneth menggelengkan kepalanya.
“Dia sedang ada masalah saat itu.”
“Lalu, bagaimana dengan Alexa? Kau masih mencintainya?”
Kenneth menggeleng kuat. “Alexa sudah bukan orang yang aku cintai lagi, Kentzo. Aku sudah berhasil membuatnya pergi.”
Kentzo tersenyum senang. “Baiklah jika itu yang menurutmu baik. Lagipula, Olivia Mitchell cantik juga, Kenneth.”
***
“Astaga, Kenneth, jika kau ingin mengenal Olivia lebih dekat, kau bisa menemuinya langsung dan bertanya padanya.” Violet memutar bola matanya dengan malas. Sore ini, Kenneth kembali mengunjungi restorannya dan mengatakan ingin mengajak Violet ke suatu tempat dan membicarakan tentang Olivia—pria itu ingin mengenal lebih dekat wanita yang akan dinikahinya.
“Oh, tidak perlu. Karena, lebih baik aku menanyakan langsung saja pada kakaknya.” Kenneth mengerling jahil yang membuat Violet tertawa kecil.
“Jadi, kemana kita sekarang?”
Kenneth memutuskan untuk mengajak Violet ke bioskop setelah mengetahui ada film yang baru saja dirilis dan mereka ingin menontonnya.
“Jika nanti kau mengajak Olivia ke bioskop, jangan membelikannya popcorn.” Kenneth mengeryit ketika Violet berbisik di tengah pemutaran film—sepertinya mereka tidak terlalu memperhatikan filmnya dan lebih memilih untuk membicarakan Olivia.
“Kenapa?” Untung saja mereka duduk di bangku belakang, sehingga sepertinya tidak banyak orang yang terganggu.
“Dia tidak suka, Kenneth. Menurutnya, popcorn adalah makanan teraneh yang pernah ada.” Violet memakan popcorn yang ada di tengah-tengah mereka sementara Kenneth memperhatikannya.
“Lalu, apalagi yang harus aku tahu?”
Violet terlihat sedang berpikir seraya kembali memakan popcorn-nya. “Jangan buat dia kelelahan dan segera bawa dia ke rumah sakit jika dia demam atau—”
“Iya, aku tahu itu, Violet.” Kenneth melihat perubahan mimik muka Violet yang berubah menjadi sendu. Ia sudah tahu penyakit Olivia dan bagaimana menyikapinya jika ada salah satu gejala muncul.
“Oh, lagipula ia sudah berjanji untuk menjalani pengobatan setelah menikah denganmu.”
Kenneth mengangguk. “Aku akan memaksanya jika dia tidak mau.”
Violet tersenyum dan kembali memusatkan perhatiannya pada film yang sedang diputar. Kenneth tidak peduli dengan film itu dan hanya memperhatikan Violet. Violet sangat cantik malam ini—hanya memakai kaos putih, jeans dan floral cardigan. Kenneth tersenyum melihatnya. Astaga, ia tidak boleh seperti ini pada temannya—tapi, ia tetap boleh memuji temannya, bukan?
“Olivia sangat menyukai anak kecil.” Violet berkata seraya memakan popcorn mereka.
Kenneth mengikutinya untuk memakan popcorn seraya menatap Violet. “Benarkah?”
“Hm, mungkin kau akan mempunyai anak yang banyak dengannya...” Violet mengerling kepada Kenneth. Lalu, sedetik kemudian ia menyadari sesuatu. “Oh, Olivia pernah menyarankan untuk mengadopsi anak.” Ia tersenyum kecut.
Kenneth terdiam. “Bagaimana denganmu? Kau menyukai anak kecil juga?” tanyanya setelah lama terdiam. Violet mengangkat bahunya. “Tidak terlalu. Maksudku, terkadang mereka sangat berisik—aku tidak terlalu menyukainya.” Kenneth tertawa kecil mendengar jawaban Violet.
“Tapi, nanti kau juga akan memiliki anak.”
“Lalu, apa lagi yang harus aku tahu? Seperti, makanan kesukaannya?”
Violet seolah teringat sesuatu. “Dia menyukai kue bikinanku.”
Kenneth mengeryit. “Aku tidak terlalu yakin itu,” ledeknya.
Violet memberenggut tidak suka. Ia membuang muka dari Kenneth. “Kau bahkan belum mencoba kue buatanku.” Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap Kenneth tidak suka.
“Apa itu enak?”
“Tentu saja!”
Kenneth tertawa tanpa menyadari tatapan tidak suka dari orang yang di sampingnya. Walaupun mereka berbicara tidak terlalu keras, tetap saja mereka menganggu. Sangat mengganggu.
“Shhh....” ujar seseorang di hadapan mereka dan membuat keduanya menutup mulutnya. Mereka tersadar bahwa mereka terlalu berisik.
***
Olivia baru saja memasuki pagar rumahnya setelah berbelanja dari minimarket dekat sana ketika mobil Kenneth sampai di depannya. Olivia berbalik dan melihat Violet keluar dari mobil itu dan diikuti Kenneth—ia tersenyum.
“Olivia? Darimana kau?” tanya Violet terlihat bingung melihat Olivia yang jarang sekali keluar sendiri dari rumah di malam hari kini berdiri di depannya dengan membawa sekantong plastik—yang Violet tahu isinya adalah camilan.
“Aku membeli makanan.” Olivia menjawab tepat saat Kenneth menghampirinya.
“Apa di tanganmu, Kak? Makanan untukku juga?” tanya Olivia penasaran dengan apa yang dipegang Violet. Astaga, malam ini ia sangat lapar. Jika kakaknya juga membawa makanan untuknya, maka Olivia akan sangat berterimakasih.
“Nope, ini milikku. Punyamu ada di Kenneth.” Violet berbalik dan menunjukkan bahwa Kenneth juga membawa makanan untuk Olivia. Olivia tersenyum senang.
“Aku akan ke kamar dulu. Bye Kenneth, Olivia.”
Sesaat setelah Violet pergi, hanya ada rasa canggung di antara mereka. Mereka belum terlalu dekat, kemarin saat Kenneth memberikan hadiah padanya adalah percakapan mereka yang kedua kalinya—tentu saja rasa canggung itu masih ada. Olivia tersenyum pada calon suamiya—astaga, ia tidak percaya ia berani mengatakan itu.
“Bagaimana jika kita duduk di sana, seraya memakan makanan ini?” tawar Kenneth seraya menunjuk bangku di pekarang rumah Olivia. Wanita itu mengangguk setuju dan berjalan ke sana.
Kenneth ternyata membelikan martabak manis untuknya—sangat sederhana namun Olivia menyukainya. Lagipula, makanan itu adalah salah satu makanan favoritnya. “Terimakasih, Kenneth.”
Kenneth tersenyum. “Olivia.”
Olivia baru saja memakan martabak itu ke dalam mulutnya sehingga tidak bisa menjawabnya dengan jelas. Jadi, ia menaikkan sebelah alisnya.
“Besok aku ingin mengajakmu untuk...mencari cincin pernikahan kita.”
Olivia yakin jantungnya berhenti berdetak untuk satu detik—hingga ia tidak tahu apa ini sudah waktunya untuk meninggalkan dunia ini. Oke, berlebihan. Olivia mematung mendengarnya. “Apa katamu?”
Kenneth tertawa kecil melihat ekspresi Olivia. “Kau mau?”
Olivia mengangguk. “Iya, aku mau.”
Mereka membicarakan rencana pernikahan mereka. Mulai dari tema pernikahan yang berwarna putih, penyelenggaraan yang sederhana, dan Olivia menginginkan keluarga saja yang datang—walaupun Kenneth menyarankan untuk menyelenggarakan pernikahan yang cukup mewah.
“Kenneth.”
Kenneth menatap Violet dan menunggu apa yang akan dikatakannya.
“Violet pernah bercerita tentang Alexa,” ucapnya mengingat perkataan Violet beberapa hari lalu padanya tentang Alexandria Neville—wanita yang pernah menjadi kekasih Kenneth.
“Lalu?” tanya Kenneth.
“Apa kau masih mencintainya?” tanya Olivia dengan hati-hati. Dalam diam ia berharap bahwa Kenneth sudah tidak mencintai Alexandria—namun, ia sadar bahwa Kenneth yang rela menikahinya dan menuruti perintah kedua orangtuanya sudah lebih dari cukup. Keinginannya sudah terpenuhi.
“Tidak.”
Olivia berbalik menatap Kenneth tidak percaya. “Kau tidak perlu berbohong, Kenneth. Aku tahu—”
Kenneth mencium bibir Olivia, seketika menghentikan ucapan wanita itu. Ia mendekatkan diri pada Olivia dan berharap wanita itu akan membalas ciumannya. Harapannya terbalas—Olivia membuka bibirnya dan membalas ciuman Kenneth. Terbuai, Olivia tidak sadar kedua kakinya berada di paha Kenneth, sementara tangan pria itu berada di pinggangnya sementara satu lagi berada di pipinya.
“Kenneth.”
“Olivia, kita sudah berjanji untuk melewati ini bersama. Aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku akan menghargaimu.”
Kenneth tahu bahwa walaupun ia belum siap menerima Olivia seutuhnya—atau dengan kata lain, belum mencintainya—setidaknya, ia harus menghargai perasaan wanita itu. Kenneth tidak ingin menyakiti perasaan Olivia, ia hanya ingin membahagiakan wanita itu. Ia ingin membantu Olivia untuk mencapai keinginan terakhirnya—tidak, jangan menggunakan kata terakhir.
Kenneth hanya mencoba untuk melihat Olivia.
***
TBC
warning : Kenneth bukan tokoh yang bakal disukai sama kalian :)
Ms. Addict