Kenneth melihat Olivia yang keluar dari rumahnya mengenakan dress yang ia beri. Benar saja apa yang dikatakan Violet, Olivia memang sangat cantik dengan dress itu. Kenneth tersenyum melihat Olivia yang sudah berada di hadapannya.
“Hai, Kenneth.”
Kenneth mengangguk dan tersenyum. “Dress-nya sangat bagus padamu.” Kenneth menggandeng tangan Olivia dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan rumahnya.
Sepanjang jalan menuju toko perhiasan yang menyediakan cincin pernikahan, mereka hanya diam. Kenneth merasa tidak ada yang bisa ia bicarakan dengan Olivia selain masalah pernikahannya, dan mereka juga sudah membicarakan hal itu. Jadi, Kenneth tidak bisa membuka obrolan apapun. Sementara, di pinggirnya, Olivia terlihat tenang dengan kesunyian dalam mobil. Wanita itu menatap ke luar jendela dan sedari tadi terlihat tidak ada niatan untuk berbicara dengannya. Astaga, Kenneth tidak pernah merasa seperti ini dengan Violet. Obrolannya terasa mengalir dengan Violet walaupun terkadang mereka merasa canggung—tapi, tidak secanggung ini.
Mereka turun dan memasuki toko perhiasan tujuan mereka. Sebenarnya, Kenneth bisa saja membuat desain cincin itu sendiri—yang memang bisa terkesan lebih spesial. Namun, Kenneth ingin mendekatkan dirinya pada Olivia, jadi sepertinya cara ini ampuh. Tapi, Kenneth sangsi ia bisa mengetahui Olivia dengan mudah jika saat seperti ini saja hanya ada rasa canggung yang melingkupi mereka. Sangat berbeda ketika ia bersama Violet.
Oke, Kenneth, berhenti membandingkan calon istrimu dengan kakaknya.
“Kenneth, aku menyukai cincin ini.” Olivia terlihat berbinar saat menunjukkan cincin yang ia mau pada Kenneth. Pria itu mengikuti pandangan Olivia dan setuju bahwa cicinnya memang bagus.
Kenneth tidak berniat untuk melihat cincin lain. Jadi, ia langsung menyetujui pilihan Olivia.
“Olivia, apa kau kelelahan?” tanya Kenneth ketika mereka berada di kedai yang tak jauh dari toko perhiasan tadi.
Olivia menyeruput ice lemon tea -nya. Sebelum menjawab, “Tidak, kenapa?”
Kenneth tersenyum lega. “Aku hanya takut kau kelelahan.”
Olivia tertawa kecil. “Terkadang lucu melihat bagaimana orang terlalu mengkhawatirkanku. Apa aku semenyedihkan itu?”
Kenneth merasa tertohok dengan jawaban Olivia. “Olivia, tidak. Jangan berkata seperti itu.”
“Tapi, aku memang semenyedihkan itu. Bahkan, jika aku tidak sakit seperti ini, kau tidak akan menikahiku.” Olivia memandang murung ke arah Kenneth. Ia selalu bermimpi bahwa suatu hari ia akan memiliki suami seperti Kenneth Wijaya. Ia selalu menginginkan pria yang memiliki kekuasaan, namun bisa bersikap lembut—dingin, namun bisa tertawa jika sedang bersamanya. Mungkin, ia harus bersyukur pada penyakitnya—karena, jika ia tidak sakit, Kenneth bahkan tidak akan meliriknya.
Kenneth terdiam mendengar pernyataan Olivia—ia tidak bisa menampik, karena, memang hal itu yang terjadi. Jika orangtuanya tidak memaksanya untuk membantu Alden Mitchell dan juga Olivia sendiri, ia tidak akan di sini bersamanya.
“Kenneth?” Olivia menegur pria itu karena terlalu lama terdiam. Ia hanya waswas apabila ucapannya ada yang salah.
Kenneth hanya mengangkat sebelah alisnya dan menunggu Olivia melanjutkan apa yang ingin ia katakan.
“Menurutmu, apa arti pernikahan itu sendiri?” Oke, Kenneth sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Olivia. Jujur saja, ia tidak pernah tahu, karena bahkan pernikahan ini terkesan dipaksakan—terlepas dari Kenneth tetap ingin berusaha yang terbaik dalam pernikahan ini.
“Ikatan suci? Dimana permasalahan yang dulu dihadapi sendiri sekarang menjadi dihadapi berdua?” Kenneth terkekeh sendiri mendengar jawabannya. “Aku tidak tahu, Olivia. Aku belum memikirkannya.” Olivia tertawa kecil dan sedikit tersipu melihat Kenneth tersenyum padanya.
“Bagaimana menurutmu?” Olivia mengerutkan dahinya. Tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud Kenneth.
“Tentang pernikahan,” jelas Kenneth. Olivia mangut-mangut mengerti. “Aku selalu percaya bahwa dengan menikah, aku akan lebih bahagia. Jadi, mungkin menurutku itu adalah sebuah pencapaian yang berarti aku sudah melewati keraguanku dan memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupku dengan seseorang.” Kenneth tidak terkejut dengan jawaban Olivia. Ia sudah yakin Olivia akan menjawab bahwa menikah akan membuatnya bahagia. Klise. Tapi, bukankah ketika sudah menikah, maka akan semakin banyak masalahnya? Bukankah pernikahan itu tidak menjamin akan bahagia?
Kenneth membalasnya, dan mengutarakan apa yang ada di kepalanya. “Apa menikah akan selalu menjamin kebahagiaan?”
“Entahlah, aku belum pernah mencobanya,” canda Olivia. Kenneth tersenyum mendengarnya—walau, dalam hatinya ia belum puas dengan jawabannya.
***
“Olivia, bagaimana pengobatanmu? Kapan kau akan memulainya?” tanya Kenneth ketika mereka berada di perjalanan pulang.
Olivia tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kenneth. “Dokter menyarankan untuk kemoterapi dulu, baru aku menjalani transplantasi sumsum tulang.”
Kenneth meringis tanpa sadar membayangkan apa yang akan dilewati Olivia. Ia tidak tega. “Kau tidak apa?”
Olivia mendengus. “Entah, Kenneth. Aku tidak mau merepotkan keluargaku—lagipula, aku akan mati. Pada akhirnya, tubuhku akan menyerah—jadi, percuma saja.”
Kenneth menggeleng kuat. “Kita memang akan meninggalkan dunia ini, Olivia. Terlepas bahwa kita sakit atau tidak.” Kenneth menggenggam tangan Olivia cukup erat. Sementara, wanita itu merasakan debaran jantungnya menggila. Ia tidak bisa bernapas hanya karena genggaman tangan Kenneth—oke, maaaf jika dirinya berlebihan—tapi, ini gila! Kenneth yang menggenggam tangannya adalah hal tergila setelah pria itu mencium bibirnya kemarin.
Olivia senang sekaligus gugup. “Tapi, aku akan lebih cepat meninggalkan dunia ini, bukan?”
Tepat saat itu mobil Kenneth sudah berada di depan rumah Olivia. “Tidak, tidak ada yang tahu, Olivia.” Kenneth tersenyum tipis, berusaha untuk menenangkan Olivia. Ia tidak ingin wanita itu berpikiran buruk tentang kematian dan juga penyakitnya.
Sebelum keluar dari mobilnya, Kenneth masih menahan Olivia dengan pegangan tangannya. “Kemarilah. Mendekat, Olivia.” Kenneth berbisik yang membuat Olivia semakin gugup. Ia mendekatkan dirinya pada Kenneth. Kenneth menyentuh dagu Olivia dan membuatnya mendongak. Pria itu dengan perlahan mencium bibir Olivia—ia berusaha menciumnya dengan lembut.
Kenneth menggerakan bibirnya cukup pelan sebelum kedua tangannya berada di kedua pipi Olivia. Setelah beberapa saat, Kenneth melepaskan ciumannya. “Jangan mengatakan hal itu lagi, mengerti?” ujar Kenneth dengan lembut.
***
Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa Kenneth adalah orang berengsek. Well, Kenneth akan membenarkannya. Karena, ia memang seperti itu—mau disangkal bagaimanapun. Kenneth akan membenarkan bahwa ia memang berengsek.
Kenneth mencium Olivia beberapa saat yang lalu—dua kali ia mencium Olivia. Namun, ia juga sempat mencium kakak Olivia beberapa hari yang lalu—ia mencium Violet. Ciuman pertama mereka setelah mereka menghadiri suatu acara. Violet sangat cantik malam itu, dengan gaun yang dapat membuat siapa saja kehilangan akalnya. Kenneth tidak pernah bermaksud mencium Violet saat itu—hanya saja, instingnya sebagai pria menyuruhnya untuk sekadar mencium bibirnya. Padahal, saat itu ia masih menganggap Violet temannya. Kedua, ia mencium Violet setelah wanita itu menginap di apartemennya. Jujur, bibir Violet sangat menggoda untuk ia cium. Ia tidak bisa menahannya sama sekali. Semenjak saat itu, Kenneth sadar bahwa ia tidak ingin Violet untuk sekedar jadi temannya. Ia sudah menyangkalnya beberapa kali—tapi tetap saja, ia tidak bisa menahannya. Ketiga kalinya ia mencium wanita itu, ia tahu bahwa Violet adalah wanita yang sulit ia dapatkan. Sangat sulit.
Bahkan, keinginannya untuk mendapatkan wanita itu harus pupus terlebih dahulu. Well, Kenneth harus merelakannya.
Saat ia mencium Olivia, ia hanya ingin memantapkan hatinya bahwa Olivia akan segera menikah dengannya. Tidak mungkin ia mengharapkan wanita lain ketika ia harus menikahi Olivia.
Berengsek, bukan?
Yap, Kenneth tahu itu.
***
TBC
Ms. Addict