10

1263 Kata
“Jadi, ceritakan padaku, kenapa anak dari Alden Mitchell berakhir menjadi pemilik restoran—bukan meneruskan perusahaan ayahnya?” Kenneth menatap Violet dengan antusias layaknya anak kecil yang menunggu untuk dibacakan dongeng. Kini, mereka sudah sampai di taman kota yang sangat ramai—mereka memilih untuk duduk di salah satu bangku kecil di sana yang berada di samping pohon besar. Violet menyendokkan es krimnya terlebih dahulu sebelum menjawab Kenneth. Yap, kecintaannya pada es krim membuatnya membeli satu cup es krim lagi tadi. “Hm, aku sangat cinta memasak, mungkin?” Kenneth menaikkan sebelah alisnya. “Sungguh, hanya itu?” Violet terkekeh. “Itu adalah jawaban yang selalu aku berikaan pada kerabat ayahku—tidak sepenuhnya benar, dan tidak sepenuhnya bohong.” “Sebenarnya, aku menghindari anggapan orang seperti; oh, tidak heran dia bisa mudah bekerja disana—bukankah ayahnya pemilik perusahaaannya? Aku membenci orang yang berkata seperti itu, Kenneth. Aku ingin meraih kesuksesanku tanpa label dari keluargaku—aku tidak ingin manja, that’s what i’m trying to say.” Violet menatap Kenneth yang seksama mendengarnya. “Lagipula iya, aku suka memasak. Ibu tiriku selalu mengajakku memasak saat ia masih hidup—dia yang membuatku hobi memasak.” Violet tersenyum. Senyum itu menular pada Kenneth. “Kau bisa bekerja di perusahaan orang lain, bukan? Maksudku, itu sama saja.” “Tidak, tetap saja orang akan beranggapan bahwa aku memanfaatkan ‘nama’ ayahku untuk memudahkan urusanku. Aku tahu, tidak seharusnya aku mendengarkan ucapan orang—tapi, aku juga tidak ingin selalu bergantung pada ayahku. Lagipula, aku tidak terlalu tertarik pada urusan perusahaannya.” Violet menyendokkan es krim lagi ke mulutnya. “Sangat mandiri,” ucap Kenneth seraya menatap Violet. “Apa?” “Kau orang yang mandiri. Maksudku, sangat jarang orang yang memilih mengambil resiko seperti itu—biasanya, sebagian orang hanya mengambil jalan pintas dari keluarganya.” Violet tersenyum. “Tapi, aku melakukan itu karena ayahku menaruh harapan banyak padaku—aku hanya takut mengecewakannya.” Kenneth mengangguk mengerti—ia tahu kenapa Alden tidak menyetujui pilihan Violet. Wanita di hadapannya itu berhasil membuatnya terpesona dengan pemikirannya—Kenneth tidak peduli jika banyak orang yang berpikir ia berlebihan dalam memuji dan memandang Violet, tapi memang itu yang ada dipikirannya. “Sudah tentangku, sekarang ceritakan tentangmu.” Kenneth tertawa kecil. “Aku mungkin yang dianggap orang yang mengambil jalan pintas itu. Karena, aku bekerja di perusahaan—yang masih milik ayahku. Semua saudaraku juga. You know, itu seperti ‘tradisi turun-temurun’. Orangtuaku memang membebaskan kami untuk memilih pilihan kami sendiri—tapi, entahlah, melihat Sean yang mulai bekerja di sana juga, aku jadi ikut menginginkannya.” “Lucky you, orangtuamu tidak seperti ayahku.” Kenneth terkekeh. “Semua orangtua memiliki pemikiran yang berbeda, bukan?” Violet mengangguk. “Iya, jika nanti aku mempunyai anak, aku akan membebaskannya menentukan pilihannya. Karena—well, tidak enak untuk menjadi anak yang harus selalu menuruti kemauan orangtuanya.” “Tapi, bukankah membebaskan anakmu, akan menjadikannya semena-mena?” Violet mengggeleng. “Maksudku, bebas yang tetap mengontrolnya. Setidaknya, aku harus tahu dengan siapa dia bergaul, bagaimana lingkungan pertemanannya, hal sederhana semacam itu. Aku tidak akan mencegah anakku kelak untuk berhubungan dengan semua orang—karena aku ingin dia memiliki pandangan luas tentang perbedaan di sekitarnya. Namun, tentu saja aku masih akan mengontrolnya—apakah cara bergaulnya baik atau tidak, apakah temannya baik atau tidak.” Kenneth manggut-manggut. “Orangtuaku lebih terkesan membebaskan anak-anaknya. Tidak terlalu mengontrol. Tapi, tidak semua anak mengerti bagaimana menyikapi aturan orangtuanya, bukan? Kadang aku takut akan hal itu.” Violet mengangkat bahunya. “Wajar saja. Tapi, Kenneth, sedikit kesalahan dalam hidup tidak akan mengacaukan hidupmu.” “Anak pembangkang, hm?” Violet tertawa kecil. “I am. Hanya saja, ibu tiriku memperbolehkanku melakukan apa yang aku mau. Apapun itu—asal tidak sampai hamil, itu yang hanya ia tekankan.” Kenneth mengangguk—secara tidak langsung, ia memiliki persamaan pandangan dengan Violet. Entah kenapa ia senang dengan hal itu dan tanpa Violet sadari, ia menyendokkan es krim Violet dan memakannya. Violet tidak menyadarinya karena ia mengalihkan pandangannya pada sekelompok anak kecil yang berlari di belakang Kenneth. Hingga... “Kenneth!” Violet melotot tidak setuju dan memukul pelan lengan Kenneth. Kenneth hanya tertawa tidak bersalah. “Aku hanya minta sedikit, Violet.” “Tetap saja kau mencurinya.” “Hanya sedikit...” “Kenneth!” Mereka menghabiskan sisa hari bersama dengan tawa mereka yang menghiasi. Kenneth semakin nyaman bersama Violet. Sementara, Violet melupakan bahwa Kenneth adalah orang yang akan dikenalkan pada Olivia. *** Kenneth mengantarkan Violet ke rumahnya saat hari sudah malam. Mereka terlalu bersenang-senang hari ini, hingga lupa waktu. “Terimakasih, Kenneth.” Violet tersenyum, yang dibalas anggukan oleh Kenneth. “Terimakasih juga untuk hari ini, Violet.” Kenneth merasa tidak rela bahwa waktunya dan Violet akan berakhir—berlebihan, Kenneth, ia merutuk dirinya yang menjadi aneh semenjak berteman dengan Violet. Kenneth memandang Violet yang balas melihatnya heran—mengapa Kenneth menatapnya seperti itu? “Ada ap—” Ucapan Violet terbungkam oleh ciuman Kenneth pada bibirnya. Ia tidak tahu apa maksud pria itu kembali menciumnya, tapi Violet merasa...tidak apa dengan ciuman itu. Tidak ada yang salah dari ciuman Kenneth—tapi, seharusnya ia tidak boleh merasakan hal itu karena...mereka berteman. Friends do not kiss each others, right? Pertanyaan sebenarnya adalah, kenapa ciuman Kenneth merayunya untuk membalas ciumannya? Namun, kali ini, Violet tidak menolak dan mengikuti instingnya. Ia merasakan tangan Kenneth berada di belakang lehernya dan membawanya semakin dekat. Ciuman mereka semakin dalam—astaga, akal sehat Violet menyuruhnya untuk berhenti. Bukannya melanjutkan ciuman ini. Violet tidak peduli, ia semakin dimabuk dalam rayuan dan sapuan bibir Kenneth padanya. Oke, ini gila. “Kenneth...” Violet berbisik diantara ciuman mereka yang dibalas gumaman tidak jelas oleh Kenneth. Tangan Kenneth yang terbebas merambat untuk memegang tangan Violet—sangat erat hingga Violet juga ikut menggenggamnya. “Violet, apa kau tidak apa dengan ini?” Ciuman Kenneth beralih ke pipi Violet. Kecupan-kecupan kecil yang membuat Violet kesulitan bernapas. Ini memang...kali pertama ia berciuman dengan pria—maksudnya, kekasihnya dulu saat kuliah pernah menciumnya—namun, itu hanya kecupan. Tidak seperti Kenneth yang...err, ia tidak bisa menjelaskannya. “Kenneth... i thought we were friends.” “Apa aku harus melewati batas itu?” Kenneth mencium bibirnya lagi. “Maksudmu?” “Bagaimana...jika kita melewati batas pertemanan kita.” Kenneth mencium bibir Violet untuk terakhir kalinya dan menatap wanita itu. “Maksudmu kita...” “Aku tidak ingin menjadi sekadar teman untukmu.” Violet kebingungan. Mereka teman...dan ini terlalu cepat baginya. Ia tidak bisa melakukannya dengan cepat. “Apa kau tidak berpikir ini terlalu cepat?” “Apa kau ingin mencobanya?” Violet menggeleng. “Ini terlalu cepat...” Kenneth mengangguk. “Aku akan menunggu, Violet. Aku tahu ini terlalu cepat—butuh waktu untuk kita memikirkan semuanya.” Kenneth tersenyum, namun itu membuat Violet merasa bersalah. “Maafkan aku, Kenneth.” “Tidak, Violet—maafkan aku, aku terlalu terburu-buru akan hal ini.” “Kita masih berteman?” tanya Violet khawatir. “Tentu. Apa nanti kau ingin mencobanya denganku untuk... you know, bergerak melewati batas pertemanan kita?” Violet tetap menggeleng. “Kita lihat saja nanti.” *** Apa yang Kenneth pikirkan tentang mencium Violet dan mengubah pertemanan mereka menjadi ke arah yang lebih dari itu adalah sikap dan pemikiran Violet yang dewasa. Selain cantik dan mandiri, Violet memiliki hasrat untuk mencapai kebahagiaannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Selama ini, Kenneth menginginkan wanita yang seperti itu. Berbeda dengan Violet, Alexandria dulu juga merupakan wanita yang mandiri—namun, ia tidak bisa meraih kebahagiaannya sendiri dan lebih mementingkan kebahagiaan orang lain. Meraih kebahagiaannya sendiri—bukan sikap yang egois, dan Kenneth terpukau dengan sikap Violet yang demikian itu. Kenneth tidak menganggap bahwa dirinya memang sudah mencintai Violet—karena, ia memang belum mencintainya. Ia membutuhkan waktu untuk memproses semuanya hingga dirasa siap baginya untuk mencintai Violet—seutuhnya. Bahkan, keinginan untuk mencintai Violet tidak pernah terpikirkan olehnya—ia tidak pernah berpikir bahwa hari ini ia nekat untuk melewati batas itu dan langsung mengutarakannya pada wanita itu. Kenneth ingat kemarin malam, ia mengingatkan dirinya bahwa Violet hanya teman dan selalu seperti itu. Namun, hanya butuh waktu sehari bagi Violet untuk membuat keinginan Kenneth berubah. Goodjob, Violet. “Aku gila—sangat gila,” gumam Kenneth merutuki perilakunya sendiri. Semua itu karena Violet. *** “Itu semua terlalu cepat...” “Iya... terlalu cepat...” “Kenneth masih menyukai Alexandria...” “...ralat, sangat mencintai Alexandria...” “Dia butuh kacamata untuk melihat aku sama seperti Alexandria...” “...Alexandria lebih baik dibandingkan aku...” Violet mondar-mandir di kamarnya, ia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tindakan Kenneth tidak benar. Walaupun Violet merasa nyaman di dekat pria itu, ia masih harus memantapkan dirinya bahwa memang Kenneth sudah melupakan Alexandria—astaga, lagipula siapa dirinya dibandingkan wanita itu? Tunggu, apa ia memang akan mencintai pria itu? Astaga. Ini semakin gila. Mereka hanya berteman. End of the story. Tidak peduli ia merasa nyaman di dekat pria itu atau bahkan jika ia mencintai pria itu—percayalah, cinta tidak datang secepat itu. *** TBC Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN