9

1344 Kata
Biar Kenneth beri tahu wanita seperti apa yang ia inginkan. Pertama, wanita itu harus memiliki kepribadian yang baik—terutama sopan santun. Kedua, Kenneth tidak bisa berbohong bahwa cantik dan pintar juga merupakan hal yang penting untuknya. Ketiga, wanita yang bisa diajak bertukar pikiran dengannya bisa membuatnya terlena. Kenneth yakin akan sulit mendapatkan wanita yang diinginkannya—terlalu ribet, dan Kenneth sadar itu. Tapi, ia juga merasa bahwa tidak akan terlalu sulit karena semua wanita akan bertekuk lutut padanya—tolong keluarkan nama; Alexandria Neville karena wanita itu tidak akan pernah bisa bersamanya. Namu sekarang, Kenneth tidak bisa menghilangkan pikiran tentang ciumannya dan Violet sejak tadi hingga malam ini. Bibir Violet terasa sangat...manis. Astaga, mengapa pikirannya tentang Violet harus selalu kotor? Bukankah mereka hanya teman? Kenneth masih mencintai Alexandria—walau tidak dapat mendapatkannya—tidak mungkin ia melupakan wanita itu begitu saja dan memilih untuk mencintai wanita lain. Kenneth melihat ponselnya yang tergeletak di pinggirnya. Ia membukanya dan langsung menuju aplikasi mengirim pesan. Refleks, ia memilih ruang chat Violet. Wanita itu yang menghubunginya kemarin dan mengatakan ingin bertemu karena membutuhkan bantuannya. Kenneth beranggapan Violet akan membicarakan tentang ciuman pertama mereka—bahwa wanita itu juga menyukainya dan ingin melakukannya lagi...wait what? Dugaannya salah, Violet datang kepadanya untuk menceritakan tentang adiknya. Kenneth sedikit bersyukur karena dengan begitu, ia bisa kembali bertemu dengan Violet. “Berengsek sekali kau, Kenneth,” gumamnya dengan frustasi. Ia masih berada di room chat Violet. Ia melihat foto profil wanita itu. Violet yang tersenyum ke arah kamera dengan jumpsuit panjang berwarna putih tulang, kancing hitam berada di bagian atas dari d**a hingga perutnya. Ia sangat cantik. Kenneth mengakui itu. Kenneth memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada Violet. “Violet”. Hanya itu yang ia kirim. Goodjob, Kenneth, kau berlagak seperti remaja yang baru mendekati perempuan. God, umurnya sudah dua puluh enam tahun—kenapa sikapnya seperti remaja ketika ia mendekati Violet? Tunggu, apa yang baru ia katakan—mendekati? “Aku pasti sudah gila.” Kenneth keluar dari room chat Violet, ia menyadari bahwa ia jarang sekali mengirim pesan pada wanita. Hanya ada Alesya yang selalu ia kirim pesan, Ayahnya, saudara-saudaranya, lalu sekretaris dan rekan kerjanya—itupun yang menurutnya sangat penting. Sisanya, hanya orang lain yang mengirim pesan padanya tanpa ia balas. Ia terlonjak ketika ada pesan lain. Tuhan, apa yang terjadi padanya? Kenapa ia merasa sangat menunggu pesan dari Violet? “Ada apa, Kenneth?” Kenneth tersenyum melihat balasannya. “Can i see you tomorrow?” Ia tidak tahu kenapa ia mengirim balasan seperti itu, dan kenapa ia ingin bertemu dengan wanita itu? Tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan balasan dari Violet. “Sure, is there something wrong?” Kenneth kembali tersenyum. Kenapa wanita itu selalu berpikiran bahwa Kenneth memintanya bertemu ketika ada sesuatu yang ingin ia bicarakan? Padahal, Kenneth hanya ingin menjalin pertemanan lebih dekat dengan wanita itu. Yap, ‘teman’. “No. I just wanna see you.” Ia tidak pikir panjang saat mengirimnya. Saat ia membaca kembali, jantungnya terpompa hebat. Bagus, ia mengacaukan semuanya. Kini, Violet akan berpikir bahwa dirinya sangat berengsek dan genit. Violet kembali membalas pesannya. “Apa?” Kenneth hampir terbahak sekaligus gugup ketika membaca pesan itu. Ia hanya bisa menjawab. “Iya, aku hanya ingin bertemu denganmu, apa itu salah?” Kenneth menggelengkan kepalanya karena merasa ini bukan dirinya. Saat ia mencoba mendekati Alexandria, ia hanya terus terang langsung akan perasaannya—bukan menjadi remaja yang dimabuk cinta. Wait, tidak. Kenneth tidak mencintai Violet. Ia tidak berusaha menggantikan Alexandria dengan Violet. Dan....Violet hanya temannya, walaupun Violet memenuhi salah satu kriter wanita idamannya. “Tidak, tentu saja tidak. Maafkan aku.” Kenneth tersenyum lagi melihat jawaban dari Violet. “See you tomorrow, Violet.” Kenneth melihat Violet hanya membaca pesannya. Ia merasa...tidak rela? Ia tidak mau mengakhiri chat-nya dengan Violet. Padahal, jika dilihat, percakapan mereka di pesan itu terkesan canggung. “Kau sudah tidur?” “Kenneth, apa yang kau lakukan? Berengsek!” Kenneth mengumpat ketika menyadari apa yang sudah ia kirim pada Violet. “Tidak, kenapa?” Kenneth sekarang bingung akan menjawab apa pada wanita itu. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa ia tidak mau mengakhiri percakapan itu. Jadi, ia menjawab, “Tidak apa, Violet. Goodnight.” Oke, Kenneth gila. *** Violet memeriksa pendapatan yang diperolehnya bulan ini, ia berada di ruang kerjanya di dalam restoran itu dengan secangkir kopi pagi ini. “Violet, ada seseorang yang mencarimu.” Salah satu pegawainya datang ke ruangannya—dan Violet tahu bahwa itu adalah Kenneth. Tiba-tiba saja, jantungnya berpompa kencang—untuk alasan yang tidak jelas. Mungkin, karena pesan yang dikirim Kenneth semalam—iya, pria itu mengatakan ‘hanya ingin bertemu dengannya’ lalu, dia mengirim pesan ‘selamat malam’—apa teman memang selalu mengirimkan pesan-pesan itu? Selama dua puluh empat tahun hidupnya, Violet tidak pernah mendapat pesan selamat malam dari teman-temannya. God, sebenarnya apa maksud pria itu? Violet melihat Kenneth duduk membelakanginya. Ia memilin ujung bajunya—gugup. “Hai, Kenneth.” Violet tersenyum ketika sudah duduk di hadapannya. “Hai.” Kenneth tampak sangat tampan hari ini. Dengan kaos berwarna hitam dengan jeans pendek—pria itu terlihat santai. “Kau tidak bekerja?” Kenneth mengeryit dan tertawa mendengarnya. “Ini hari Minggu, Violet.” Violet terlihat salah tingkah. Ia menggaruk pelipisnya dengan canggung. “Aku lupa, sungguh.” “Apa kau sibuk di sini?” tanya Kenneth seraya melihat ke sekelilingnya. Restoran ini cukup ramai, jadi Kenneth bertanya demikian—takut menganggu kegiatan Violet. Violet menggeleng. “Ada pegawaiku yang bisa mengurusnya, kenapa?” “Aku ingin mengajakmu ke...luar?” “Luar?” “Iya, jalan-jalan mungkin, atau membeli es krim—terserah kau saja.” Violet tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Kenneth. “Kenneth, kau seperti remaja. Seriously? Membeli es krim dan jalan-jalan?” Kini, giliran Kenneth yang salah tingkah. Ia heran bagaimana mungkin Violet selalu membuatnya salah tingkah dan menjadi remaja tanggung. “Okay whatever, kau mau?” Hati Kenneth membuncah senang ketika Violet menganggukkan kepalanya. *** “Thankyou.” Violet tersenyum senang ketika Kenneth datang padanya setelah pergi ke kedai es krim dan membawa dua cup es krim di tangannya. Satu green tea untuknya dan satu vanilla untuk Kenneth. Mereka berjalan menyusuri trotoar di pusat kota yang sangat ramai hari ini. Tujuannya adalah taman kota yang berada beberapa blok lagi dari tempat mereka sekarang. “Kau sangat menyukai es krim?” tanya Kenneth ketika melihat Violet sangat asyik dengan es krimnya. Violet mengangguk. “Iya, dulu aku selalu menginginkan es krim rasa anggur—you know, warnanya seperti violet—namaku. Dan, Olivia selalu marah padaku jika aku merengek ingin es krim itu karena sulit menemukannya.” Kenneth tertawa kecil mendengarnya. Ia sangat nyaman berada di samping wanita itu. “Akhirnya, aku menetapkan pilihanku pada green tea.” “That’s good.” Violet tidak memperhatikan jalannya hingga ia tidak sengaja menyenggol bahu seseorang dengan cukup keras. “Sorry!” “Perhatikan jalanmu, Nona,” ucap orang yang tidak sengaja ia tabrak. Kenneth tidak terlalu memperhatikan kejadiannya bagaimana, tapi ia mendengar ucapan Violet. “Kau tidak apa?” Ia memegang bahu Violet yang tertabrak orang itu. Violet mengangguk walau sempat meringis. “Hati-hati, Violet. Kenapa kau sangat ceroboh?” Refleks, Kenneth memegang tangan kanan Violet—membuat gadis itu tiba-tiba terhenyak. Ini kedua kalinya Kenneth memegang tangannya dan berhasil membuatnya kebigungan. Maksudnya, kenapa pria ini bersikap manis padanya? Violet hanya tersenyum canggung. “Aku memang ceroboh. Saat SMA dulu aku dikenal sebagai orang yang sangat ceroboh—maksudku, semua orang memang terkadang ceroboh. Tapi, aku benar-benar ceroboh, Kenneth.” Kenneth tersenyum mendengar wanita itu bercerita. “Benarkah? Seceroboh apa dirimu?” “Aku tahu kau tidak akan percaya ini, tapi aku pernah hampir masuk ke dalam tempat sampah saat SMA.” Kennet tidak bisa menahan tawanya. Sungguh, wanita di sampingnya ini sangat-sangat ceroboh. “Kau bercanda?” “Tidak. Saat itu, koridor kelas sangat penuh murid baru yang mencari kelas mereka. Lalu, aku sendiri sibuk dengan buku-buku untuk hari pertama sekolah. Alhasil, aku terdorong-dorong dan tidak sengaja menabrak tempat sampah di depanku—hingga akan terjatuh kesana...” Violet melihat Kenneth tertawa terbahak di sampinya—tawanya sangat renyah. Ia hanya bisa tersenyum melihatnya. “Hentikan, Kenneth. Jangan menertawaiku...” Violet memukul pelan lengan pria itu. “Itu antara ceroboh atau kau memang sial.” Kenneth tertawa kecil melihat muka Violet yang memerah—entah kenapa. “Oh satu lagi, dan ini sangat memalukan. Aku pernah salah masuk kelas.” Violet menertawai kebodohannya sendiri. “What?” “Sungguh, itu ketika tahun terakhir aku di SMA. Aku sibuk menelepon temanku yang membawa buku tugasku dan sialnya dia tidak akan masuk sekolah. Akhirnya, aku tidak memperhatikan jalan menuju kelasku—i mean, aku yakin arahku sudah benar. Hingga saat aku masuk ke kelas itu—yang ternyata kelas sebelas—semua orang memandangku layaknya aku orang gila.” Sekali lagi, Kenneth tertawa karenanya—Violet pikir, ceritanya tidak selucu itu hingga membuat orang lain tertawa seperti Kenneth. Oh mungkin pria ini memiliki selera humor yang buruk. “Kau sangat...ceroboh.” Violet mengangkat bahunya. “Aku tidak heran orang lain beranggapan seperti itu. Sebenarnya, itu hanya sedikit dari banyaknya kisah cerobohku, Kenneth.” “Really? Aku tidak sabar mendengar semua ceritanya kalau begitu.” Entah kenapa, jantung Violet berdetak lebih kencang saat Kenneth mengatakan hal itu. Ia hanya bisa tersenyum kikuk. *** TBC Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN