8

1168 Kata
Violet melihat adiknya sedang berbicara dengan ayahnya ketika ia berada di rumah sakit pagi itu. Olivia nampak baik-baik saja dan seolah tidak sakit—dan Violet tidak menyukai hal itu, ia tidak menyukai Olivia yang berlagak seolah dia baik-baik saja. Mungkin, jika dulu Olivia tidak sering demam dan ada bintik-bintik merah pada tubuhnya, Violet dan Ayahnya tidak akan tahu Olivia sakit. “Hai, Oliv.” Violet tersenyum—berusaha untuk tersenyum. Ia melihat adiknya tersenyum senang. Violet mendekati ranjangnya dan memeluk Olivia dengan erat. Wajah Olivia masih pucat seperti kemarin. “Bagaimana keadaanmu?” Olivia mengangkat kedua bahunya. “Dying,” ujar Olivia lirih. Hati Violet tercubit tiba-tiba. Terkadang, Violet rela menggantikan posisi Olivia karena ia tidak mau malihat adiknya hancur seperti ini. “Olivia.” Sang Ayah menegur Olivia yang sudah pasrah dengan hidupnya. “Ayah, be realistic—kalian tidak bisa terus menahan aku di dunia ini dengan keadaan yang seperti ini. Memang, beberapa hari yang lalu aku merasakan semangat untuk menjalani—” Olivia terbatuk sejenak. “—untuk menjalani kehidupanku seperti orang normal. Tapi, lihat kenyataannya. Aku sudah kalah, Ayah.” Violet merasakan matanya memanas ketika sang adik kembali terbatuk untuk yang kedua kalinya. “Olivia, maafkan aku. Aku seharusnya tidak menyuruhmu bekerja di tempatku.” Olivia menggeleng kuat. Ia menggenggam tangan kakaknya erat. “Itu keinginanku, Kak. Dan tentu saja bukan salahmu aku seperti ini.” “Iya, tapi jika Violet—” “Ayah, stop!” Olivia menaikkan nada suaranya walau dengan suara yang serak. Alden terdiam dan mengusap wajahnya kasar. “Kau juga harus realistis, Olivia. Ada pengobatan yang bisa kamu jalani supaya sembuh. Kau yang tidak realistis, Nak. Kau menolak tawaran dokter untuk mengobatimu.” Olivia tertawa miris—meledek ucapan ayahnya. “Excuse me, sembuh? Apa kau sadar, Ayah, kau baru saja mengatakan aku bisa sembuh?” “Oliv, tentu saja kau bisa sembuh,” ujar Violet yang dibalas tatapan tidak percaya oleh adiknya. “Aku sakit hampir tahap akhir—tinggal satu jentikan jari lagi, aku akan berada di tahapan akhir. Lalu, setelah itu? I’m dead.” Olivia tidak menyadari bahwa air matanya luruh saat itu juga. Violet mendekat untuk memeluk adiknya. “Kau harus sembuh, Olivia. Jangan tinggalkan aku.” “Tapi, sayangnya aku tidak bisa, bukan? Aku tidak bisa untuk selalu bersama, Kakak. I’m sorry.” *** “Ayah, bisa kau tinggalkan kami berdua?” tanya Olivia ketika Ayahnya masih saja duduk di sofa kamar rawatnya dan tidak melakukan apapun selain memainkan ponselnya. Olivia tahu ayahnya memikirkan kesehatannya—oh ralat, sampai kapan ia bisa bertahan. Ayahnya tersenyum, lalu mengangguk. Sebelum keluar dari ruangan, Alden mendekat ke arah Olivia dan mengecup kepala anaknya dengan sayang. “Kak,” panggil Olivia yang membuat Violet mengalihkan pandangan ke arahnya. Olivia menyuruh kakaknya untuk duduk di sisinya. “Kau tahu, sebenarnya aku sudah mencapai mimpi-mimpiku...” Violet menghela napas—tahu akan kemana topik pembicaraan ini. “Olivia,” tegur Violet. “Tidak, tidak, dengarkan aku dulu.” Violet tersenyum kecil dan menuruti perintah adiknya. “Aku berhasil lulus SMA dengan nilai yang cukup bagus—” “Oh, ayolah Oliv. Nilaimu sempurna.” Violet memutar bola matanya. “Lalu, aku masuk universitas impianku. Aku memiliki pacar impianku—pernah, maksudku—kami sudah putus. Dan, aku lulus tepat waktu.” Violet mengingat mantan pacar Olivia—yang tidak bisa ia pugkiri—sangat tampan. Mereka sudah putus sayangnya—dan lelaki itu memilih untuk bertunangan dengan temannya, padahal jika Violet perhatikan, Olivia dan pria itu sangat cocok. “Akhirnya, aku juga berhasil bekerja—walaupun hanya satu hari dan tubuhku yang lemah ini hanya bisa menyerah.” Olivia melajutkan dan tertawa kecil. “Lalu, apa yang kau inginkan?” Violet bertanya dengen lembut. “Aku tahu ini terdengar menjengkelkan, menyebalkan, silly—whatever you called. Aku ingin menikah dan memiliki anak.” Olivia tertawa dan membuat Violet menatapnya tidak percaya. “Hei....” Violet tertawa kecil dan meledek adiknya. “Siapa yang membuatmu seperti ini? Mantan pacarmu?” “Kakak!” “Oliv, apa yang harus aku lakukan?” “Mencarikanku suami? Orang yang mau menghabiskan sedikit saja waktunya bersamaku.” Olivia hampir tertawa membayangkan ada seorang pria yang benar-benar tulus untuk menikahinya dan akan mencintainya. Keinginannya terdengar menyebalkan, bahkan hampir tidak mungkin. Mana ada yang mau menghabiskan waktu dengan wanita sekarat sepertinya? Olivia sangsi keinginanya akan terwujud. Sementara, Violet termenung mendengar permintaan Olivia. Walaupun ia merespon ucapan adiknya dengan canda—bukan berarti ia tidak memikirkannya. Jika saja, Olivia serius dengan permintaannya—dan mungkin, itu keinginan terakhirnya, God, apa yang baru saja aku katakan?—Violet akan mewujudkannya. “Oliv, kau serius?” “Sangat. Aku hanya ingin mencapai impian terakhirku dan menjadi wanita seutuhnya sebelum aku mati—mungkin, aku tidak diperkenankan untuk hamil karena aku sakit. Tapi, aku bisa mengadopsi, bukan?” Olivia sepertinya sangat menginginkannya. Violet bisa melihat dari binar matanya. “Olivia, dimana aku bisa mencarikanmu suami?” *** “Apa? Itu permintaan yang sangat konyol, Violet.” Alden memandang anak sulungnya dengan tatapan tidak percaya setelah Violet mengatakan Olivia ingin menikah dan memiliki anak. Maksud Alden, bagaimana mungkin secepat itu? Siapa orang yang mau menikah dengan putrinya? “Sungguh, Ayah. Lagipula, dia berjanji akan menjalani pengobatan setelah ia menikah—ayolah, Ayah, untuk Olivia.” Violet memegang sebelah tangan ayahnya—hal yang jarang sekali ia lakukan—lagipula, berbicara seperti sekarang adalah hal yang jarang ia lakukan pula. Kau tahu sendiri, hubungan Alden dan Violet tidak berjalan lancar. Alden menghela napas. “Dia memiliki pacar? Jika iya, kita minta saja pacarnya untuk menikahinya.” “Sudah putus, Ayah. Satu tahun yang lalu.” “Oh, kalau begitu—mantan pacarnya, kita suruh untuk menikahinya saja.” “Mantan pacarnya, sedang melakukan riset di Jerman, Ayah.” “Kita suruh dia pulang.” “Tidak bisa.” “Kenapa?” “Dia sudah bertunangan, Ayah!” Violet hampir menjenggut rambutnya sendiri karena ayahnya tidak mengerti dengan ucapannya. Violet menghela napas kasar. Alden mengusap wajahnya lelah. “Lalu, siapa?” “Ayah mungkin memiliki kenalan?” Olivia harus memiliki lelaki yang pantas untuknya. Jadi, mungkin ayahnya bisa tahu siapa yang pantas untuk putrinya. “Oh! Anak dari Kent Wijaya—Kenneth Wijaya, satu-satunya anak Kent yang belum menikah bukan?” Entah mengapa, Violet ingin berteriak bahwa ia tidak setuju dengan pilihan ayahnya kali itu. Ia tidak setuju temannya yang akan dijodohkan dengan Olivia. “Apa harus... Kenneth Wijaya? Maksudku, kerabatmu bukan hanya Kent Wijaya, Ayah.” “Apa maksudmu, Violet?” Violet menyadari bahwa ia sudah kelewatan dan bisa jadi ayahnya menyadari hal itu. ia tertawa kecil. “Oh, tidak, maksudku—ya, Kenneth pria yang baik.” God, jangan Kenneth. Mungkin, Violet terlalu hanyut karena kebaikan Kenneth padanya. Pria itu menenangkannya ketika pikirannya sedang kalut semalam. Kenneth membuatnya nyaman....dan pria itu juga baik. Violet menyukai sikap Kenneth. Violet terlalu terbawa perasaan pada sikap Kenneth yang seharusnya tidak ia rasakan. Pria itu memang orang yang baik, dan ia baik pada semua orang. Bukan padanya saja, jadi tidak ada yang perlu dispesialkan. *** “Oke, Olivia, jadi suami seperti apa yang kamu mau?” Violet bertanya seraya merapikan penampilannya yang sangat berantakan. Hari sudah menjelang sore, dan Violet masih memakai pakaian milik Kenneth dan tentu saja ia belum mandi. Penampilannya sangat—sangat berantakan. Olivia tertawa mendengarnya. “Hm, seperti Kenneth Wijaya?” Sial, rutuk Violet. Pilihan Ayahya sangat tepat. Mungkin, memang Olivia dan Kenneth sudah ditakdirkan bersama—wait, kenapa omongannya sangat menjijikkan? Dan, kenapa ia harus tidak setuju Kenneth dijodohkan dengan Olivia? Mereka hanya teman, bukan? “Oh, kau tidak ingin mempunyai suami seorang pilot, mungkin? Atau seorang pangeran—Prince Harry?” Sekali lagi, Olivia tertawa mendengar gurauan kakaknya. “Tidak. Lagipula, Kakakku tersayang, Prince Harry sudah menikah.” Violet mengangkat bahunya. “Kita cari pangeran lain.” Olivia menggeleng. “Kenneth Wijaya adalah impianku—entah sejak kapan, tapi aku sangat terpesona padanya. Kau tahu, tampan, pintar, and single. Pertama kali aku melihatnya, aku seketika—ini akan terdengar bodoh, tapi aku langsung menyukainya. Hei, kau temannya, bukan? Ceritakan sedikit tentangnya.” Violet menghela napas. Ia tidak terlalu suka Olivia yang penasaran pada Kenneth. Ia hanya...tidak suka. “Dia baik—sangat baik. Kami hanya teman, Oliv—tidak terlalu dekat.” “Oh, tapi jika aku tidak mendapatkan Kenneth Wijaya—aku ingin seseorang seperti Kenneth Wijaya.” Iya, Oliv. Andai ada tiruan Kenneth Wijaya yang kau inginkan. *** TBC Violet itu ga rela, Oliv... :( Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN