“Kau ingin kopi atau teh?” tanya Kenneth pada Violet yang berada di balkon malam itu. Sedangkan wanita itu menjawab bahwa ia ingin kopi. Violet memandang tubuh Kenneth yang sudah memakai pakaian namun masih mencetak tubuh kekar pria itu dengan jelas. Astaga, kedua kalinya Violet melihat tubuh Kenneth—secara tidak langsung—dan rasanya Violet tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memperhatikan tubuh pria itu.
“Kopi, Violet.” Violet cukup terkejut ketika secangkir kopi berada di hadapannya dan melihat Kenneth juga memegang secangkir kopi lain.
“Thanks.”
Kenneth duduk di sampingnya dan menyesap pelan kopinya. “Langitnya sangat indah, bukan?” ujarnya ketika mendongak dan melihat langit malam itu.
Violet mengikuti pandangannya dan mengangguk. Ia menghela napas, berusaha untuk menceritakan pada Kenneth apa yang baru saja terjadi—karena memang itu maksudnya datang kemari. “Kenneth, are we friends?” permulaan yang buruk, Violet. Goodjob. Violet merutuk dirinya yang sangat sulit mencari kata-kata yang tepat.
Kenneth menatap dirinya bingung dan tertawa canggung. “Tentu saja. Ada apa, Violet?”
Violet menarik napas dalam-dalam dan tersenyum. “Adikku—Olivia Mitchell—didiagnosis terkena kanker darah tiga bulan yang lalu. Sudah pada tahap ketiga—dunianya hancur saat itu, begitupun aku dan Ayah. Olivia merasa mimpinya sudah terenggut—andai saja, ia mengetahui itu sejak awal, mungkin masih ada kemungkinan untuk disembuhkan. Hanya saja...ini sudah akan mencapai tahap akhir—ia kehilangan semangat bahkan untuk mengobati penyakitnya.” Violet menghapus sudut matanya dan terisak kecil. Kenneth memandangnya dengan tatapan iba.
“Dia tidak ingin diobati, Kenneth. Katanya; untuk apa aku diobati jika pada akhirnya tetap saja aku akan pergi. Aku takut akan kehilangan dia...” isak Violet dan seketika ia merasakan Kenneth membawanya pada dekapannya. Kenneth mengusap pelan punggungnya yang bergetar.
“Selama ini, aku sering melihatnya kelelahan, demam, dan...aku tahu ia menahan sakitnya. Kesalahan terbesarku adalah mengijinkannya untuk mengurus restoranku sementara aku pergi, sekarang dia berada di rumah sakit, Kenneth. Dan, aku ketakutan...” Violet memeluk tubuh Kenneth dengan erat. Ia yakin baju pria itu basah karena air matanya.
“Itu bukan salahmu, Violet.” Kenneth sangat buruk dalam menenangkan seseorang. Ia benci dirinya yang sekarang tidak bisa menenangkan Violet.
“Jika terjadi sesuatu padanya—”
“She’ll be fine.” Kenneth memotong ucapan Violet.
“Aku tidak tahu sampai kapan dia bertahan...”
“As long as possible, Violet. Yang harus kau lakukan adalah menyemangati dan menemaninya, bukan untuk menyalahkan dirimu akan apa yang terjadi padanya.”
Kenneth mencoba untuk merangkai kata-kata apa yang sekiranya bisa menenagkan pikiran Violet dan menyadarkan bahwa kejadian tadi bukan salahnya—ia benci Violet menyalahkan dirinya sendiri. “Violet, apa yang membuatmu yakin bahwa kejadian pada Olivia adalah kesalahanmu?”
“Aku yang membiarkannya bekerja di tempatku.” Violet menjawab lirih.
“Tapi, yang menginginkannya adalah Olivia, bukan? Begini, aku tidak bermaksud untuk menyalahkan Olivia dan membelamu. Tapi, Violet, tidak semua hal yang terjadi padanya adalah salahmu. Karena ia bekerja seharian tadi dan akhirnya sakit, bukan berarti itu salahmu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku tahu kau menyayangi adikmu dan tidak ingin terjdi sesuatu padanya—hal yang sama yang akan aku lakukan pada saudara-saudaraku. Tapi, ini sangat bukan dirimu, Violet—aku tahu kita baru kenal beberapa hari, tapi aku juga tahu bahwa kau tidak seperti ini.”
“Kau mandiri, dewasa, dan kuat. Walaupun kau ceroboh.” Yap, Kenneth akhirnya berhasil menenangkaan Violet.
Violet mendongak dan menatap Kenneth. Ia melihat Kenneth tersenyum dan akhinya Violet melepaskan pelukannya dengan canggung. “Thankyou, Kenneth.”
Kenneth mengangguk. Ia menyerahkan cangkir kopi milik Violet padanya. “It’s gonna be alright.”
“Well, aku sangat takut karena...ibuku juga meninggal karena itu—ibu tiriku, actually, ibu dari Olivia—jika Olivia akan meninggalkan aku dan Ayah...kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan.” Violet menghela napas dan memandang langit kembali.
“Jika seperti ini, aku akan beranggapan bahwa salah satu dari bintang itu adalah ibuku—ibu kandungku—karena aku belum pernah melihatnya, ia meninggalkanku setelah melahirkanku. Lalu, aku akan berandai akan ada satu bintang lagi, dan itu adalah ibu tiriku.” Violet tersenyum seraya melihat langit.
Sementara, di sampingnya Kenneth membeku. Bagaimana rasanya ditinggal ibunya—untuk dua kali? Berarti, Violet tumbuh tanpa seorang ibu. Astaga.
Violet melirik Kenneth dan mengerti arti tatapan pria itu. “Oh, tidak perlu merasa iba. Aku baik-baik saja.”
“Apa yang terjadi pada mereka?” tanya Kenneth penasaran.
Violet menghela napas. “Seperti yang aku bilang, ibu kandungku meninggal setelah melahirkanku—pendarahan yang parah. Lalu, ayahku menikah dengan Sydney—ibu Olivia—dan Sydney meninggal karena kanker yang dideritanya. Saat itu aku dan Olivia masih remaja.” Violet tersenyum miris ketika menceritakannya. Dadanya sesak dan penuh akan kerinduan pada ibunya.
“Pasti berat untuk keluargamu, bukan?”
Violet mengangguk. “Aku mengkhawatirkan ayahku.”
“You’re strong, Violet.”
Violet tertawa kecil dan menggeleng. “Kau berlebihan.”
***
Meminum kopi dan duduk di balkon pagi hari itu sangat menenangkan untuk Kenneth. Ia selalu melakukan itu. Kopi paginya tidak mungkin ia lewatkan—pernah sekali ia tidak meminum kopi saat pagi hari dan seharian penuh ia mendapat suasana hati yang buruk, berlebihan mungkin, tapi tidak untuk Kenneth.
Suara bel apartemen membuatnya sedikit mengumpat karena merusak suasana paginya. Dengan kaki menghentak, ia keluar kamarnya dan berniat membuka pintu itu—sejenak, ia melihat ke arah ranjang di mana Violet masih terlelap dan bergelung di bawah selimutnya. Semalam, Kenneth menyuruhnya untuk menempati ranjangnya saja dan ia sendiri tidur di sofa yang ada di kamarnya. Tentu saja, Kenneth mencoba untuk tidak menjadi pria berengsek.
Suara bel kembali berbunyi dan Kenneth kembali mengumpat. Saat pintu terbuka, Kenneth melihat Kentzo yang tersenyum tidak berdosa di depan pintu apartemennya. Yap, Kenneth mengambil kunci cadangan dari kembarannya itu agar Kentzo tidak sembarangan masuk ke apartemennya.
“Hello, Brother.”
Kenneth memutar bola matanya. Ia tidak peduli dengan kehadiran Kentzo di sana karena terkadang Kentzo akan datang padanya tanpa alasan yang jelas.
“Kenneth, dimana file perusahaan yang diberi oleh Dad? Sekretarisku bilang itu ada padamu.” Kenneth menghela napas—oh, kali ini dia datang dengan alasan yang cukup jelas.
“Ada di mejaku, ambil saja di kamar.” Kenneth berbalik dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan—oh s**t!
Kenneth berbalik ke arah kamarnya dengan cepat dan pada saat itu juga Kentzo membuka pintu kamarnya seraya membawa dokumen yang ia maksud dan memandang Kenneth dengan tidak percaya. “God, help me,” gumam Kenneth yang sudah tahu apa yang akan dikatakan Kentzo.
“Kenneth, really? Violet Mitchell?” Kenneth memutar bola matanya melihat kelakuan Kentzo.
Sedangkan, kembarannya tertawa meledek dan menggodanya. “Hei, Brother. Ternyata kau menyembunyikan Alexandria yang baru.”
“Kentzo, dia tidak seperti Alexa.”
Kentzo tertawa kecil. “Iya, tapi dia berhasil menggeser posisi Alexa di hatimu. Damn, goodjob, Violet.” Kentzo meninju pelan perut Kenneth untuk menggodanya.
“Apa dia terpesona dengan otot perutmu? Atau dia menyukai bagian yang lain yang bisa ia mainkan?” Kentzo meraba perut Kenneth yang segera ditepis oleh kembarannya. “Stop it, Kentzo. Kami tidak melakukannya.”
“Oh, benarkah? Kau mencoba trik Clarresta? No s*x before marriage?”
Kenneth mendengus kasar. “Berhenti, Kentzo. Kami hanya berteman.”
“Whatever, Brother.”
***
Violet terbangun dan mencium aropa sedap dari luar kamar, lalu ia melihat Kenneth sedang menyiapkan sarapan di dapurnya.
“Morning, Kenneth.”
Kenneth melihat Violet di ambang pintu dan tersenyum. “Morning, Violet.” Kenneth mematikan kompornya dan meletakkan sarapan itu di dua piring di hadapannya.
“Aku memasak nasi goreng, tidak apa?”
Violet tersenyum. “Tentu saja, aku yakin rasanya sangat enak.”
“Tidak, jangan terlalu berharap.”
Mereka menyantap sarapannya yang diisi obrolan ringan mereka. Violet merasa nyaman mengobrol dengan Kenneth. Astaga. Violet merasa dirinya terlalu jauh sekarang, karena tidak mungkin ia dan Kenneth akan melewati batas pertemanan mereka, bukan?
“Terimakasih, Kenneth. Aku minta maaf karena sangat merepotkanmu,” ucap Violet ketika berada di depan pintu apartemen Kenneth. Pria itu ikut tersenyum lembut padanya dan mengangguk. “Kau tidak merepotkan, Violet.” Awalnya, Kenneth menawarkan untuk mengantar Violet ke rumah sakit—karena tujuan wanita itu adalah menjenguk adiknya. Namun, Violet menolak dengan dalih bahwa Kenneth harus bekerja hari ini.
Violet tertawa kecil. “Oh, terimakasih juga untuk pakaiannya—akan aku kembalikan segera.” Kenneth meminjamkan kaos putih dengan celana panjang hitam, lalu pria itu juga memakaikan jaket padanya.
“Tidak usah terburu-buru, simpan saja.”
“Apa?”
Kenneth merasa bahwa ia sudah mengatakan hal yang salah—Violet tidak mengerti apa yang dikatakannya. “Maksudku, jika kau sibuk, kau tidak perlu buru-buru mengembalikannya.”
Violet mengangguk dan mendekat ke arah Kenneth. Ia berniat untuk mengecup pipi pria itu—sebagai ucapan terima kasihnya—mereka berteman, bukan?
Namun, Violet salah sangka jika ia akan mencium pria itu di pipinya, karena yang ia rasakan adalah bibir lembut pria itu. Astaga! Jangan lagi... Violet memisahkan dirinya ketika merasa dirinya sudah kelewatan—apa yang ada dipikirannya ketika ia mencium pria itu?!
“Kenneth...ma—maafkan aku.” Violet terbata-bata dan gugup ketika menyadari perbuatannya sementara Kenneth memandangnya datar.
Violet akan berjalan menjauh dari Kenneth jika pria itu tidak menarik lengannya dan kembali menciumnya. Bahkan, Violet merasakan tangan kekar pria itu berada di pinggangnya dan sebelah tangannya berada di belakang lehernya. Violet terbuai, dan Kenneth merapatkan diri mereka. Tangan Violet refleks melingkar di sekitar lehernya—mereka mulai menikmati setiap cumbuan itu.
Hingga, Violet yang terlebih dahulu mendapat kesadaran terlebih dahulu dan memisahkan diri dari Kenneth. Napasnya memburu.
“Kenneth, apa—”
“Begitu cara mencium yang benar, Violet.” Kenneth tetap berusaha untuk menyembunyikan bahwa ia gugup dan jantungnya berdetak sangat kencang. Ayolah, sejak kapan Kenneth merasakan itu di hadapan wanita? Tapi, ia merasakannya ketika mencium Violet—jantungnya berdebar namun ia merasa nyaman. Apa itu normal?
“Goodbye, Kenneth.” Violet tersenyum kikuk.
“Bye.”
***
TBC
Ms. Addict