6

1049 Kata
Violet masih merasakan jantungnya berdegup kencang ketika ia masuk ke rumahnya. Ia hanya masih tidak percaya bahwa Kenneth baru saja menciumnya. Walaupun pria itu mengatakan bahwa itu adalah ucapan terimakasihnya—rasanya sama saja di bibir Violet. “Astaga!” Violet terlalu memikirkan apa yang baru saja terjadi hingga tidak memperhatikan jalannya. Baru saja, ia menyenggol guci besar di samping rak sepatu, untung saja guci itu tidak pecah. Bodohnya aku. “Hello, Gorgeous.” Olivia sedang memakan es krimnya ketika Violet sampai di ruang tengah rumahnya. “Kau belum tidur?” Violet terheran karena jika jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, biasanya Olivia sudah tertidur. Olivia menggeleng. “Aku tidak bisa tidur.” Violet mulai khawatir dengan kedaan adiknya. Ia menyimpan clutch-nya sembarangan dan duduk di samping Olivia. “Hei, kau tidak apa?” Olivia tertawa melihat wajah khawatir kakaknya. “Ayolah, Kak, kau berlebihan. Aku baik-baik saja, dengan es krimmu ini.” Olivia menunjukkan es krim green tea yang ia makan dan membuat Violet melotot tidak percaya. “Beraninya kau!” Violet langsung merebut es krimnya dan membuat Olivia tertawa kencang. “You know, Kenneth Wijaya sangat tampan tadi, Kak.” Olivia bersender pada bantal-bantal di ujung sofa. Suaranya terdengar lirih. Sementara Violet tidak terlalu memperhatikan keadaan adiknya dan hanya fokus pada es krim dan acara tv di hadapannya. “Aku ingin memiliki suami seperti dia,” ujarnya lagi dengan lirih. Violet mengangguk setelah menyuapkan sesendok besar es krim ke mulutnya. “Iya, kau bisa saja, Olivia.” Violet mengalihkan pandangannya pada Olivia yang sudah setengah kehilangan kesadarannya dengan hidung yang mengeluarkan darah. “Astaga, Oliv!” Violet langsung menyimpan es krimnya dan mendekat pada Olivia. Hidungnya terus mengeluarkan darah. “Aku tidak apa, hanya...lelah.” Violet merasakan napasnya memburu dan air mata mulai mengalir. “Tidak, Oliv. Aku di sini, kita akan ke rumah sakit, oke?” Violet membawa Olivia ke dalam dekapannya. Olivia menggeleng. “Aku ingin istirahat, Kak. Aku lelah.” “Tidak sekarang, Olivia. Aku mohon...” “Ayah!” “Ayah, bantu aku!” “Shh...Kak, sudahlah. Ayah sedang istirahat.” Violet melihat adiknya sudah hampir kehilangan kesadarannya. “Olivia, hei, Oliv. Tetap bersamaku, okay?” “Look, aku mengotori gaunmu.” Olivia menyentuh darahnya yang juga mengalir pada gaun Violet. “Warna gaunmu hampir sama dengan darahku, Kak.” “f**k it, Olivia.” *** “Dia berada di stadium tiga, Tuan Alden. Masih ada kemungkinan untuk meringankannya. Kami akan berusaha untu membuatnya bertahan—jika dia mau dibantu. Karena kau tahu, Olivia menolak segala bentuk pengobatan yang kami anjurkan.” Dokter yang menangani Olivia menjelaskan keadaannya selama lebih dari dua puluh menit. Violet bisa mendengar itu dengan jelas dari tempatnya duduk. Violet merasakan ayahnya duduk di sampingnya dan menghela napas. “Ayah...” “Tidak, Violet, jangan sekarang.” Violet merasakan matanya memanas. “Aku minta maaf. Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku mengijinkan Olivia untuk beraktivitas berat. Aku bodoh, Ayah.” Alden mengambil napas dalam-dalam dan mengusap matanya. “Dia sakit, Violet.” Violet mengangguk, ia tidak bisa menahan air matanya. “Aku hanya ingin dia bahagia, Ayah. Melihatnya sangat semangat untuk menjalani hidup—aku tidak tega untuk menghancurkannya. Aku hanya ingin adikku bahagia, itu saja.” “Niatmu baik, Violet. Terlepas dari Ayah yang tidak menyukai sikapmu yang tidak menurut—ayah selalu tahu kau memiliki hati yang baik. Hanya saja, terkadang kau harus memikirkan keadaan orang yang ingin kau bantu, Violet.” Alden menatap putri sulungnya yang terisak kecil. “Aku tahu, i’m sorry.” “Mungkin kau sebaiknya meminta maaf pada Olivia. Kita tidak tahu sampai kapan dia bertahan—apa dia akan sembuh atau tidak, kita tidak akan tahu itu, Violet.” “Dia harus sembuh, Ayah.” “Violet, Ayah membenci sikapmu dan tindakan yang sudah kau lakukan pada adikmu—walau dengan label ‘niat baikmu’.” Dari situ, Violet tahu ia sudah melakukan kesalahan besar di hidupnya. *** Violet tidak tahu lagi kepada siapa ia mengatakan apa yang terjadi. Ia tidak bisa menahan ini sendiri. Ia tidak bisa menahan kekesalan dan kebencian pada dirinya sendiri tanpa menceritakannya pada orang lain. Ia tidak sanggup. Jadi, nama yang pertama kali muncul dalam pikirannya adalah Kenneth. Ia menelepon Kenneth dan langsung menemuinya di apartemen pria itu. Kini, ia berdiri di apartemen pria itu. Masih gugup untuk memencet bel di hadapannya. Setelah perang batin dalam dirinya, ia akhirnya memencet bel apartemen Kenneth. Tidak butuh waktu lama untuk melihat Kenneth muncul dengan wajah khawatir. Pria itu tetap tampan dengan kaos hitam dan celana pendek berwarna navy. “Violet, ada apa?” Kenneth terlihat kebingungan dan khawatir karena saat Violet meneleponnya, wanita itu menangis dan terisak. “Kenneth...” isaknya. Violet mencoba untuk menghapus jejak air matanya, namun percuma. “Hei, kemarilah.” Kenneth menarik pelan pergelangan Violet. Menutup pintu di belakang mereka setelah masuk, Kenneth membawa Violet yang semaki terisak ke dalam pelukannya. Violet langsung memeluknya erat. “Kenneth, aku bodoh...” Kenneth mengeryit heran, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Violet. Ia hanya bisa membalas pelukan wanita itu. “Ada apa? Kau bisa menceritakannya padaku.” “Aku mencelakai adikku sendiri. Aku bodoh, Kenneth.” Kenneth menyadari bahwa Violet tidak akan bisa menceritakan detail kejadian yang sudah ia alami sekarang, jadi yang bia ia lakukan adalah memeluknya erat dan mengusap rambutnya pelan. “It’s okay, semua akan baik-baik saja, Violet.” Kenneth merasakan Violet menggeleng di pelukannya. “Tidak, dia tidak baik-baik saja, Kenneth.” “At least, you’re gonna be fine, Violet. That’s enough.” *** “Kau ingin mengganti gaunmu?” Kenneth menyadari bahwa Violet masih memakai gaun yang ia pakai ke acara tadi. Violet mengerutkan dahinya. “Kau memiliki pakaian wanita?” tanyanya dengan suara serak. Kenneth tertawa kecil. “Tidak, tapi aku bisa meminjamkan kaos dan celana panjangku.” Violet menggeleng. “Tidak perlu, aku akan segera pergi. Maaf aku merepotkanmu malam-malam begini, Kenneth. Aku sangat menyebalkan, bukan?” Kenneth menggeleng kuat dan menahan kedua lengan Violet. “Kau....gila. Aku akan menjadi pria paling berengsek jika mengijinkanmu pergi lewat tengah malam ini, Violet. Tidak, kau tidak akan pergi kemanapun. Sebentar, aku ambilkan baju gantimu.” Violet tidak bisa berkutik ketika Kenneth sudah menghilang dari hadapannya. “Here you go.” Kenneth memberikan baju dan celana panjangnya. “Thankyou.” Kenneth mengangguk. “Hm, Kenneth, bisa kau memutar badanmu supaya aku bisa...you know?” Violet tersenyum kikuk. Kenneth yang mengerti mengikuti perintahnya. “Actually, Violet, kau bisa menggunakan kamar mandiku jika kau ingin—” “Oh, tidak perlu. Aku sudah selesai, dan...sepertinya aku tidak membutuhkan celana ini.” Kenneth berbalik dan melihat Violet menggunakan pakaiannya. Ia menahan napas ketika melihat pakaiannya  sangat kebesaran di tubuh wanita itu. Paha putihnya hanya tertutupi setengah saja dan kaki jenjangnya terlihat sempurna di mata Kenneth. “Apa...kau baik-baik saja?” Violet sedikit malu ketika Kenneth memperhatikan tubuhnya. “Iya, sebenarnya...lebih baik kau memakai celana itu.” “Why? Bajumu sudah menutupi pahaku.” Kenneth menghela napas kasar dan mengusap wajahnya berharap pikiran kotornya menghilang. “It is, tapi tidak untuk kaki jenjangmu itu, Violet.” Violet mengerti apa yang dimaksud oleh Kenneth. Ia sudah dewasa, dan dia sudah mengerti. Sial, otaknya terlalu lama memprosesnya. “Astaga, maafkan aku, Kenneth.” Violet dengan cepat memakai celananya—dihadapan Kenneth yang secara otomatis pria itu melihat paha dan kaki jenjangnya sekali lagi. Sialan nafsu biologisku, Kenneth menghela napas. “Permisi sebentar, Violet.” “Kau akan kemana?” “Mandi.” *** TBC Ms. Addict
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN