Kenneth melihat gaun merah Violet dan pikirannya mulai melayang-layang. Oh, berengsek sekali. Ia hanya mengajak Violet untuk menemaninya di acara itu, bukan untuk menemaninya di ranjang. Lagipula, mereka hanya teman. Ya, teman. Saat orangtuanya mengatakan bahwa ia harus membawa seorang ‘teman’ maka satu nama yang hanya bertengger di kepala Kenneth; Violet Mitchell. Entah kenapa ia memilih Violet. Jika diperhatikan, Violet sudah memiliki kriteria wanita idaman Kenneth Wijaya—cantik, ralat, sangat cantik. Lalu, pintar Kenneth sudah tahu tentag Violet Mitchell—anak dari Alden Mitchell—yang memiliki prestasi cemerlang saat di sekolah dan bisa melanjutkan kuliah di luar negeri. Bisa diprediksi, Violet adalah anak yang mandiri.
Lalu, kenapa kini Kenneth memikirkan kriteria wanita idamannya pada Violet? Bukankah, mereka hanya teman?
Teman. Yap, mereka berteman.
“Kau cantik, Violet.” Kenneth tidak ingin berbohong, karena memang Violet terlihat sangat cantik dan...menggoda. Oke, Kenneth bukan pria yang gemar meniduri wanita seperti Sean dan Kentzo sebelum menikah. Wanita yang pernah ia tiduri hanya...empat. Wanita pertama adalah seniornya ketika ia kuliah, kedua adalah mantan pacarnya yang berbeda dua tahun darinya, ketiga adalah salah satu w*************a di kelab malam—itupun karena bujukan setan dari Kentzo, dan terakhir adalah Alexandria—mantan pacar yang mungkin masih ia cintai sampai sekarang.
Violet mungkin tidak pernah menjadi yang kelima. Karena, oh Tuhan, apakah mereka akan melewati batas pertemanan mereka? Kenneth rasa tidak.
“Terimakasih, Kenneth. Kau juga tampak...gagah malam ini.” Violet tersenyum. Kenneth tertawa kecil mendengarnya. “Gagah?”
“Dan tampan.” Violet menambahkan. Kenneth melirik wanita itu. Bibir wanita itu sangat menggoda dengan lipstick berwarna merah dan membuat Kenneth ingin menciumnya. Jangan mulai lagi, Kenneth!
Kenneth menggenggam tangan Violet ketika masuk ke gedung tempat acara. Violet membenarkan dugaannya, karena acara ini sangat mewah. Ia menatap tangannya yang digenggam oleh Kenneth, entah sejak kapan ia merasakannya, tapi rasanya cukup nyaman. Tenang yang dapat membelenggunya.
“Oh astaga!” Violet tidak memperhatikan jalannya dan hanya mengkuti kemana Kenneth membawanya, hingga ia menabrak salah satu pelayan yang membawa gelas minuman.
“Sorry,” cicitnya pada pelayan itu yang hanya dijawab anggukan.
Kenneth yang mendengar itu segera menoleh. “Ada apa, Violet?”
“Tidak, aku hanya ceroboh.” Violet tersenyum tidak berdosa dan membuat Kenneth tertawa kecil. “Careless Violet.”
“I am.” Violet terkekeh karena mengingat betapa cerobohnya ia.
“Kenneth!” Panggilan itu membuat keduanya menoleh. Seorang wanita dengan gaun berwarna hitam menghampiri mereka.
“Hai, Clarresta.” Clarresta adalah adik kembar Sean Wijaya. Wanita itu adalah satu-satunya kakak perempuan Kenneth.
“Violet Mitchell?” Clarresta tersenyum pada Violet, sekaligus tidak percaya bahwa Kenneth akan membawa anak dari teman ayahnya itu.
“Halo, Clarresta. Dimana anak-anakmu?” Sebenarnya, Violet cukup dekat dengan Clarresta karena sikap wanita itu yang sangat ramah pada semua orang.
“Oh, malam ini adalah waktuku dengan suamiku.” Clarresta tertawa. Ketika seseorang memanggil Clarresta, wanita itu segera pamit dari hadapan mereka.
Acara segera dimulai tak lama dari itu, Kenneth membawa Violet pada salah satu meja, dimana orangtuanya dan Clarresta beserta suaminya berada di sana. Dari situ, Violet merasa dekat dengan keluarga Kenneth. Wait...what? Tapi, entahlah, Alesya dan Kent sangat ramah padanya. Violet merasa nyaman di sekitar mereka, walaupun sebenarnya ia sudah bertemu beberapa kali sebelumnya, hanya saja dia tidak pernah berbicara seperti sekarang.
“Bagaimana kabar Alden, Violet?” tanya Kent di tengah kebisigan acara sehingga Violet harus menajamkan pendengarannya.
“He’s fine, Tuan Kent.” Kent mengangguk dan tersenyum.
“Aku tidak mengira Kenneth akan mengajakmu kemari, Vio.” Alesya melirik Kenneth yang fokus—mungkin berpura-pura—pada acara di depan. Alesya tahu anaknya berpura-pura.
“Kenneth?” panggil Alesya yang membuat pria itu mengalihkan perhatiannya.
“Aku dekat dengannya.”
Violet tercengang dengan jawaban Kenneth. Begitupun Alesya. “Sejak kapan?” Violet bertanya dengan nada tidak setuju.
“Sejak...tadi?”
Violet tertawa karena menganggap Kenneth membuat lelucon yang sangat konyol. Ia bahkan tidak merasa Kenneth mau dekat dengannya—untuk berteman saja mungkin pria itu akan berpikir dua kali.
***
“Dance with me?” Kenneth mengulurkan tangannya pada Violet yang duduk di hadapannya. Violet tersenyum, ia membalas uluran tangan Kenneth. Sebenarnya, Violet tidak terlalu pandai berdansa, tapi well, kini ia bisa mencobanya.
Setelah acara inti selesai, kini para tamu bisa menikmati jamuan lain, termasuk juga berdansa. “Aku tidak terlalu bisa dalam hal ini.” Violet berbisik pada Kenneth yang membuat pria itu tersenyum.
“So do i, Violet.” Kenneth tersenyum jahil yang membuat Violet memandangnya tidak percaya.
“What?!”
Kenneth hanya bisa tertawa melihat tatapan Violet.
“Kau sangat cantik malam ini,” ucap Kenneth yang membuat Violet memutar bola matanya. Tidak, Violet tidak boleh merasa tersanjung dengan ucapan Kenneth. Pria seperti Kenneth mungkin sudah mengatakan hal itu pada semua wanita yang ia temui. Tidak ada yang spesial dari perkataan itu.
“Kau sudah mengatakannya dua kali, thanks.” Violet memasang wajah datar yang membuat Kenneth mengerling kepadanya. Oh c’mon, Kenneth, sejak kapan kau seperti ini?
“You know, Violet, terakhir kali aku melihat orang lain berdansa seperti ini adalah ketika wanita yang aku cintai—pernah, mungkin—menikah dengan orang lain.”
Violet menyatukan alisnya. “How pethatic, Kenneth.” Wanita itu mengejek yang membuat Kenneth memutar bola matanya.
Melihat itu, Violet tertawa. “Apa kau menyesal?” tangan Violet berganti untuk dikalungkan di sekitar leher Kenneth. Kenneth memegang pinggangnya.
“Tidak, sepertinya. Aku merasa tidak pantas untuknya.”
Violet mendengus. “Cliche. Jangan berpikiran seperti itu, Kenneth.”
Kenneth mendekatkan tubuhnya pada Violet dapat menjadi gugup karenanya. Harum tubuh pria itu sangat memabukkan. “Kenapa?”
“Karena kau bertindak seolah kau memang buruk rupa. Look at you, aku yakin seribu wanita akan bertarung untuk mendapatkanmu.”
Kenneth tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Banyak orang yang mengatakan hal itu padaku.”
“Karena memang itu kenyataannya. Aku mengerti kenapa banyak orang yang tertarik padamu—tampan, kaya, dan...single. Siapa yang tidak tertarik?” Violet berkata selayaknya ucapan itu tidak untuk memuji Kenneth. Ia tidak menunjukkan rasa tertaik dan kagum yang berlebihan—biasa saja, tidak seperti wanita lain yang sering kali tertangkapnya memuji berlebihan dan Kenneth tidak terlalu menyukai hal itu.
“Bagaimana denganmu?” Violet menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti. “Bagaimana pemikiranmu? Apa kau juga selalu menginginkan pria tampan, kaya, dan apapun yang sering orang lain sebutkan?”
Violet menggeleng. “Baik—yang terpenting dia memiliki hati yang baik. Tampang itu secondary to matter. Sufficient but not necessary—aku tahu, mungkin kau menganggap aku naif atau semacamnya. Namun, memang itu yang terpenting untukku. I can’t lie, memang aku tidak bisa menolak pesona pria tampan—yang tidak akan membuatku malu untuk dikenalkan pada dunia—tapi aku juga harus bercermin pada diriku sendiri. Apa aku layak untuk mendapatkan pria itu?”
Kenneth melongo. Jawaban Violet adalah jawaban yang sangat jarang ia dapatkan dari sebagian wanita yang ia kenal. Jawaban Violet....sangat berbeda dan itu membuat Kenneth merasa...terpukau? “Tampang secondary to matter? Sungguh?”
“Kenneth, dunia ini bukan dunia fantasi dimana upik abu bisa mendapatkan pangeran tampan yang menjadi cinta sejatinya. Kita harus menerima realitanya—bukan bermaksud merendahkan diriku, tapi, aku hanya ingin memantaskan diriku saja terlebih dahulu sebelum merujuk kepada siapa yang pantas untuk mendampingiku.”
Lagi-lagi, Kenneth membisu mendengar jawaban Violet. Benar, Violet benar tentang bagaimaa kita menilai diri sendiri sebelum menginginkan pasangan kita. Mungkin, selama ini Kenneth terlalu terbuai oleh pujian orang lain tentang kelebihannya hingga tidak bercermin pada kekuranganya.
“Yes, Ma’am,” goda Kenneth setelah lama ia berdiam karena terlalu speechless pada jawaban Violet.Wanita yang memiliki pandangan berbeda, dan mandiri. Nice.
Keduanya tertawa. Sementara, Violet merasa dirinya semakin nyaman berada di dekat Kenneth. Ada perasaan asing bahwa ia merasa nyaman dan tenang di dekat pria itu—padahal mereka hanya orang asing, bahkan Violet ragu jika Kenneth menganggapnya seorang teman.
Namun, ia merasa nyaman di dekatnya.
“Siapa wanita itu?”
Kenneth perlu waktu untuk mencerna siapa ‘wanita’ yang dimaksud Violet hingga akhirnya ia mengerti. “Alexandria Neville. Istri kakakku.”
“Oh, dia memang cantik—sangat cantik. Tidak heran kau menyukainya.” Violet menghadiri pesta pernikahan mewah itu karena ayahnya diundang ke sana, jadi—terlepas dari permusuhan konyolnya dengan ayahnya—pria itu mengajaknya ke acara itu. Alexandria mungkin adalah wanita yang paling cantik yang ia temui—bukan untuk melebih-lebihkan, tapi sungguh, Alexandria sangat cantik. Ia adalah wanita idaman untuk semua cowok—terutama yang seperti Kenneth dan juga Sean Wijaya. Ia tidak heran.
***
“Terimakasih, Violet.” Kenneth mengantarkan Violet tepat di depan rumahnya. Violet mengangguk dan tersenyum.
“Goodnight, Kenneth.” Saat Violet baru saja akan membuka pintu mobil, Kenneth menahannya. Violet hanya memasang wajah bingung tanpa bertanya.
Dalam sepersekian detik, jantungnya berhenti ketika Kenneth mengecup bibirnya. Oh no, oh no! Tolong bangunkan Violet dari mimpi ini! Tapi, Violet baru menyadari ini bukan mimpi ketika kecupan itu menuntutnya untuk membuka mulut dan membalasnya. God...Violet!
Violet berusaha meraih kesadarannya dan menjauh dari Kenneth. “Kenneth...?”
“Violet, maaf aku hanya—”
“Apa itu tadi? Untuk apa?”
Kenneth berusaha untuk bersikap normal seolah tadi tidak terjadi. “Itu...rasa terimakasihku.”
Violet menarik napas dalam-dalam. “Oh, okay.”
Kenneth merogoh sakunya dan menarik kartu dari sana. Oh, kartu nama. “Nomorku, alamatku, alamat kantorku—whatever, kau tahu apa yang ada di situ. Aku harap kau menyimpannya. Kita bisa bertemu lagi, right?”
Violet mengangguk kikuk. “Iya, tentu saja.”
“Bye, Violet. See you later.”
“Bye, Kenneth.”
Violet berjalan cepat memasuki rumahnya. Dalam hati ia terus bergumam. He...kissed me!
***
TBC
Ms. Addict