Part 1
"Baju kamu pasti beli bekas, ya?"
"Kok berani pakek tas Gucci kw?"
"Ha ha ha, wajah kamu pasti glowing karena pakek merkuri."
"Udah-udah, jangan dihina orang hina, nanti makin terhina." Suara tawa ibu mertua dan ipar-iparku memenuhi gendang telingan ini. Jujur dadaku panas mendengarkan hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut keluarga suamiku itu.
Selama ini aku merantau ke kota bersama suamiku, namun niat hati kami pulang ke rumah ibu suamiku setelah 10 tahun, karena ingin mengundang mereka untuk menghadiri acara grand opening toko emas serta syukuran rumah baru kami.
Tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa mereka akan menyambutku dengan sedemikian rupa, padahal kedatanganku ke sini secara baik-baik.
"Gaya anak kamu kaya orang kaya, padahal susah, lain kali apa adanya aja ya," Erina menyahut, dia merupakan istri dari Bang Abas—abang sulung suamiku.
"Eh gimana Rin? Masih jadi pembantu orang kaya?" Mertuaku ikut menimpali sambil menepuk pelan bahu ini.
Aku tersenyum manis, mengangguk pelan sambil menyentuh tangan ibu mertuaku yang masih berada di pundak ini.
"Masih, Buk, heheh," jawabku berbohong, padahal kenyataannya aku sanggung menyewa puluhan art untuk berkerja di rumahku.
"Wah ini banyak banget emas imitasi, kok nggak malu makenya?" tanya Mbak Ghita.
Dasar manusia-manusia itu itu tidak bisa membedakan yang mana asli yang mana imitasi, kelihatan sekali tidak pernah melihat emas.
Kulirik Mas Daffa yang juga sedang menatapku dalam, kedua tangan pria itu terkepal dengan kuat, tidak hanya dulu dia di hina seperti ini, bahkan sekarang mereka masih saja menghina kami.
"Kalau aku sih, mending ga usah pakek emas dari pada harus emas imitasi ha ha ha," sahut Mbak Kania. Jujur dadaku semakin naik turun.
"Biasa lah, toh dia ga pernah tau gimana rasanya pakek emas!" Bahkan Bang Abas ikut membulliku, ini sudah sangat kelewatan menurutku.
"Sudah-sudah, ayok makan dulu," ucap ibu mertuaku melerai.
"Ada ayam Rin, tapi jangan rakus ya, ibu tau kamu jarang makan enak."
"Anak kmu juga tuh, air liurnya hampir muncret liat makanan enak, kasian, ya."
Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut mertuaku, aku ingin meneriaki wajahnya dan berkata bahwa anakku sudah bosan dengan makanan seperti itu.
Mas Daffa menarik tanganku dan mengendong Erieka kemudian membawa kami pergi dari sana. Sebelum benar-benar keluar, Mas Daffa menatap ibu dan saudara-saudaranya sambil berkata.
"Kuharap kalian semua bisa hadir di acara syukuran yang kami adakan, dan semoga kalian semua tidak terkejut dan menyesal."
Setelah mengatakan itu mas Daffa dengan penuh emosi membawa aku dan anak kami pergi dari sana.
Di ujung gang terparkir mobil mewah kami yang mereka sebut sebagai mobil rental itu.
"Mereka tidak pernah berubah, lihat aku akan membalas perkataan mereka semua."
Bersambung ...