Aku mengambil sebotol saos dan ku tumpahkan pada baju Erina.
"Ups, aku juga tidak sengaja."
Wajah Erina sudah merah padam. Wanita itu seperti sedang menahan sensasi panas yang timbul dari tubuhnya akibat siraman saus cair tersebut.
"Ayok Erina, kita ke toilet bareng," kataku mengejek sambil tersebut Devils.
"Kurang ajar, awas saja kau," cibirnya pelan namun aku masih bisa mendengar dengan sangat jelas.
Aku langsung melenggang pergi dari sana dan diikuti oleh Mas Daffa. Pria itu menyamai langkahku agar beriringan dengannya. Kemudia ia tersenyum penuh arti.
"Aku baru tau kalau istriku ini cerdik dan berani," katanya.
"Lagi pula kenapa harus takut, Mas? Mereka yang mulai jadi tidak ada salahnya bukan? jika aku sedikit ikut serta dalam permainan ini."
Mas Daffa mengangguk paham.
"Sebaiknya jangan kita lanjutkan acara ini, ya, sebagian celanamu telah basah," kata Mas Daffa tiba-tiba membuat aku langsung menggelengkan kepala ini cepat.
Setelah keluar dari toilet, aku berdiri sebentar di depan cermin dan menatap tubuhku dari bawah hingga atas kemudian seutas senyum merekah sempurna.
"Kenapa di akhiri, aku suka bermain-main, Mas," kataku sambil menarik tangan suamiku agar kembali menuju ke arah meja bundar tempat mertua dan iparku berada. Kulihat Erina sudah berada di sana dengan pakaian berbeda.
"Eh, Airin? Kamu yakin tetap melanjutkan makan malam dengan keadaan basah begitu, apa nggak ada niatan beli baju dulu, kan di samping restaurant ini ada butik." Ibu menyarani. Tapi aku lebih menangkap bahwa ini merupakan sindiran.
"Aku tidak suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu," jawabku seadanya.
"Tidak suka menghamburkan uang apa memang tidak punya uang?" tanya Mbak Kania. Ia sedang berusaha menahan tawanya.
"Dua-duanya benar," sahutku acuh. Aku fokus pada makanan di depanku. Sushi dengan ditaburi caviar, itu sebabnya menu ini tergolong mahal.
"Emang bisa pegang sumpit?" tanya ibu mengolok-olok.
"Bisa makan pake tangan," sahutku.
"Yang penting bisa makan mahal," sahutku membuat wajah-wajah itu seketika menatapku jengkel.
Saat semua orang fokus pada makanan masing-masing, dua pelayan datang dan tersenyum dengan ramah.
"Maaf menganggu kenyamanannya, teman kami kehilangan ponsel genggam dan sebuah dompet, apa boleh saya periksa tas anda," aku terkejut bukan main, kulirik para benalu itu yang sedang tersenyum licik. Oh, tenyata ini merupakan bagaian dari rencana mereka.
"Oh, silahkan," kataku sambil menyerahkan tas kecil yang memang hanya muat diisi oleh ponsel dan dompet saja.
Kedua pria berpakaian seragam itu nampak terdiam sambil menatap satu sama lain, beberapa saat kemudian dua ponsel yang sedang menjadi incaran dikeluarkan dari dalam tasku dan sebuah dompet berwarna hitam juga berada di sana. Ya, satu merupakan milikku.
"Tenyata benar, anda yang mengambilnya," kata pelayan itu. Mereka masih berusaha berkata dengan sopan.
Aku mengidikkan bahuku acuh. Bahkan tidak sama sekali peduli dengan apa yang terjadi, berbeda dengan Mas Daffa yang sudah terlihat marah dan bingung.
"Rin, murahan banget sih, bisa-bisanya mencuri di restaurant ini, kau lihat pengunjungnya ramai sekali," kata Ibu dengan nada suara yang tidak habis pikir.
"Jangan-jangan ponsel yang katanya milikmu itu juga hasil curian?" tanya Mbak Kania.
Dan apa yang aku lakukan? Ya, hanya mengunyag dan memasukkan makanan-makanan di hadapanku ke dalam mulut. Aku tidak sama sekali terlihat peduli karena aku tau benar bahwa ini merupakan bagaian dari rencana mertuaku dan ipar, itu lah mengapa mereka mengundang kami untuk menghadiri makan malam ini.
Setelah lima menit aku menghabiskan makananku, ku tatap iparku satu persatu dan kemudian tatapanku berhenti pada wajah ibu.
Meraih segelas minuman dan menyeruput hingga habis.
"Cara kalian udah nggak jaman." ucapku santai.
"Mencuri kau pikir jaman, orang kalau nggak punya duit ya kerja," cetus Erina.
"Siapa yang mencuri?" tanyaku membuat semua orang menatapku jengkel.
"Mana ada pencuri mau ngaku." Imbuh Mbah Ghita sambil menatapku rendah.
"Benar! Kau benar, kalau ada pencuri yang mau ngaku pasti penjara penuh kan?" tanyaku sambil tersenyum. Mereka semua bingung melihat sikapku yang sama sekali tidak panik. Padahal jelas-jelas ponsel itu di temukan di dalam tasku.
"Bawa saja ke kantor polisi," kata ibu. Saat dua pria itu hendak menyentuhku. Aku dengan cepat mengangkat tangan.
Kuambil ponsel yang sejak tadi berada di dalam tas dan menujukkan sesuatu.
Pada layar itu memperlihatkan fitur rekam suara yang sudah berjalan selama 20 menit lebih.
Ya, aku merekamnya sejak pertama sampai di restaurant ini.
"Kalian mau rekaman ini di putar menit ke berapa?" tanyaku santai membuat wajah para benalu itu sontak menegang.
"Ayo jawaban, rekaman ini setidaknya bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam benak kalian. Bagaimana aku mencuri, dan kapan aku memasukkan ponsel ini ke dalam tas."
Ibu menelan salivanya gusar.
"Hei, kenapa wajah kalian tegang? Baik aku putar saja ..."
Bersambung ...
Jangan lupa komen