Hujan yang mereka pandangi semakin deras. Kaki-kakinya seperti anak panah yang menungkik hendak merobek bumi. Gemuruh sesekali terdengar dan langit berselubung gelap. Tidak ada tanda-tanda akan reda. Hujan merata di seluruh Jakarta. “Kayaknya bakal lama nih hujannya,” gumam Naraya sembari menoleh kepada yang lain. Dia harus latihan hari ini dan dia tidak tahu apakah di sekitar GOR hujan juga atau tidak. “Iya, awet kayaknya,” sahut Guntur yang sedari tadi gelisah. Cowok itu mulai berdiri. “Gue balik aja, deh. Nggak apa-apa ujan-ujanan. Lo gimana, Ling?” Joceline terdiam. Mukanya terlihat bingung. Mungkin cewek itu tidak mau hujan-hujanan, tetapi terserang rasa sungkan. “Ya udah, gue ikut. Nggak apa-apa basah juga.” “Balik ya, woy,” pamit Guntur kepada Renard dan Naraya yang masih duduk

