Ada yang tidak biasa ketika Naraya memasuki pekarangan rumah. Pertama, gerbang dibuka lebar. Kedua, Hummer hitam kesayangan papanya yang biasa ada di garasi sekarang ada di depan pintu. Tandanya? Orang tuanya pulang. Dia bergegas memarkirkan skuter dengan asal, mengoper kunci ke satpam yang berjaga dan berlari ke dalam. Gawat, Rubicon milik Satria, sang papa, belum kembali dari bengkel. Semoga papanya tidak menyadari itu. Begitu sampai di dalam, mata Naraya langsung mengamati sekitar. Aman. Dia berjingkat ke arah kamar. “Naraya.” Sebuah teguran halus membuat tubuh Naraya menegang. Kepalanya menoleh. Kedua orang tuanya ternyata sudah duduk di ruang tengah, menunggu dia. Dari cara Sofia memanggil, Naraya dapat menangkap intonasi mamanya itu kalau keadaan sedang tidak baik-baik saja. “Yes

