LIMA PULUH TUJUH

1679 Kata

Tak lama dan tanpa diminta, Gesna menceritakan hal yang menimpanya hingga bisa berakhir di rumah sakit. Naraya memandangi lutut Gesna yang terbalut perban. Jika saja siang ini tidak ada kunjungan dari dokter dan perawat, tentu Naraya masih tidak mempercayai cerita itu. "Jadi, lo ini sampai operasi, Ge?" desis Naraya masih penasaran. Gesna hanya mengangguk pelan dan pasrah. Cewek itu menatap kaki kirinya dengan hampa. "Nasib gue kayak gini amat, ya. Mana lo semua dengar sendiri, 'kan? Gue nggak boleh aktivitas fisik berlebihan dulu selama enam bulan." "Sabar, Ge. Yang penting lo sembuh dan sehat." Asri mengusap-usap lengan Gesna, meminta cewek itu agar jangan terlalu bersedih. Ponsel Gesna berbunyi. Naraya cukup hafal nada dering itu. Nada dering yang Gesna pasang khusus untuk Guntur. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN