Naraya ingat puisi di BOS yang dibacanya karena gagal tidur kembali, kemarin malam, setelah mengangkat telepon dari Gesna. Entah kenapa, puisi singkat itu terngiang-ngiang dan membuatnya hafal. Dia berdecak resah. Salahnya juga lupa silent-kan ponsel, sehingga terganggu oleh telepon yang tujuannya meminta ditemani menonton. Lagi pula, Gesna aneh-aneh saja, menelepon orang hampir tengah malam hanya untuk mengajak nonton. Dia lalu membuka-buka ponsel dan membaca unggahan yang ada di BOS. Ternyata ini yang namanya rindu, Begitu bertemu, Bukannya tundas, Malah rimbun dan susah ditebas. Rindu saya kehilangan puannya, Rindu saya ditinggal pergi begitu saja. Ia gugur dalam gigil, Ia hanyalah asa yang degil. Puisi rindu, nama pena penulisnya Black Tuxedo. Entah mengapa, Naraya merasa kala

