Epilog

1292 Kata

Bercengkerama dengan hati, meminta kesanggupan untuk melewati hari ini. Perasaanku tidak seperti wanita yang akan melepas masa lajang pada umumnya. Aku di sini. Duduk di depan cermin besar dengan balutan kebaya putih yang sederhana, namun tampak elegan. Aku di sini, masih menanti kedatangan orangtuaku untuk mengantarkan dan melepaskan tanggungjawab mereka kepada laki-laki yang akan menjadi suamiku. Aku di sini, masih berharap Ayah bisa mencabut keputusannya dan sudi untuk menjadi wali nikahku. Meski aku tahu, rasanya sulit untuk meluluhkan hati Ayah. Tidak apa-apa. Mungkin memang harus seperti ini semua berjalan. Setidaknya masih ada Kak Arsen yang menjadi waliku, dan Kak Arkan yang meminjamkan rumahnya untuk acara ijab kabul. Katanya Ayah meminta Kak Arsen untuk menjadi waliku, ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN