Selain orang ke tiga, yang menjadi momok paling menakutkan bagi sepasang anak manusia yang sedang menjalin kasih adalah, jarak.
Iya, LDR, dengan tiga huruf kapital dari singkatan long distance relationship, alias hubungan jarak jauh itu, sudah menjadi mimpi buruk Deera selama beberapa bulan belakangan.
Hubungan jarak jauh ini seharunya nggak akan terjadi kalau Arlan, pacarnya dari sejak zaman SMA nggak iseng mengisi formulir student exchange ke Amerika di tahun ketiga kuliahnya. Keisengan itu ternyata membuahkan hasil. Arlan lolos seleksi pertukaran mahasiswa yang ribet dan susahnya setara dengan ujian praktik SIM C di kantor Samsat.
Dan hari ini, mimpi buruk itu akhirnya menjadi kenyataan.
berdiri di antara koper-koper yang akan dibawa oleh pacarnya, Deera yang nggak rela ditinggal kembali merajuk.
“Arlan, fixed nya berapa lama kamu di sana?”
Pertanyaan ini sudah puluhan kali ditanyakan oleh Deera, dan dia sudah tahu jawabannya, tetapi Arlan masih mau menjawabnya dengan sabar.
“Jawabannya masih sama, Ay. Lima tahun.”
“Huhuhu… lama banget sih, Yang. Lima tahun, nggak bisa gitu kayak Bang Toyib yang cuma tiga kali puasa, tiga kali lebaran?”
Tawa Arlan yang khas meluncur dari mulutnya. Dia mencubit gemas pipi Deera yang masih meenyisakan lemak bayi.
“Apaan cuma tiga tahun. Orang sampai sekarang istrinya masih nyariin Bang Toyib kok. Cek aja di warteg atau tempat hajatan kalau nggak percaya.”
Deera memandang Arlan, dan bibir merah mudanya meringkuk tanpa sadar.
“Lagian kenapa sih kamu pake isi formulir itu segala sih, Yang? Jadi pisah lagi kan kita.”
Biarpun ini sudah terjadi dan keberangkatan Arlan tinggal hitungan jam. Deera masih mengeluh. Siapa yang tahan dengan hubungan jarak jauh? Semua serba online.
Arlan yang tahu Deera marah lagi membujuk. Dia menarik kedua bahu gadis itu untuk berhadapan dengannya, menarik dagunya hingga kedua pasang mata saling bertukar pandangan.
“Ini kan demi masa depan kita juga, Ay. Atau kamu ikut nyusul juga ke sana, mau? Biar kita nggak pisah lama-lama.”
Pergi ke negara empat musim dengan pacarnya, itu adalah tawaran yang menggoda dan Deera benar-benar menginginkannya, tetapi dia pada akhirnya dia menggeleng sebagai tanda menolak.
“Nggak, ah.”
Selain sadar diri karena dia kurang kompeten, yang paling memberatkan bagi Deera adalah, “Di sana nggak ada yang yang jualan cilok, cimol sama gorengan. Siapa yang tahan lima tahun nggak makan micin? Aku sih nggak tahan.”
Jawabannya yang ceplas ceplos kembali bikin Arlan tertawa. “Jadi kamu lebih berat pisah sama micin nih, daripada sama aku, Ay?”
“Ngelepas kangen sama kamu kan bisa online, Yang. Makan micin mana bisa.”
“Kamu lho yang nggak mau ikut. Jadi jangan marah kalau aku pergi.” Tangan Allen yang berada diatas kepala Deera, pindah ke pipi gadis itu. Ibu jarinya mengusap pipinya yang halus. “Lima tahu sebentar kok, Ay. Kamu tunggu aku, lima tahun kemudian, aku pulang dengan banyak uang, dan kita menikah.”
Janji itu terdengar sangat manis di telinga Deera, mana kepikiran dia kalau lima tahun kemudian janji tinggal janji. Mengulurkan tangannya, memeluk pinggang pacarnya.
Perpisahan ini agak membuatnya khawatir tentang masa depan hubungan mereka ke depannya.
“Janji ya, kamu nggak boleh jatuh cinta sama cewek bule yang seksi-seksi itu.”
“Tenang aja itu nggak akan terjadi, aku nggak suka bule. Sukanya kamu yang lucu dan suka ngeluarin makian kalau lagi marah.”
Deera jadi tersipu mendengarnya, dan memeluk prianya semakin erat, enggan berpisah.
“Oke, aku pasti sabar nunggu. Asalkan nggak bayar cicilan, lima tahun itu nggak lama. Bener nggak?”
Sabar, adalah hal yang paling gampang diucapkan, tetapi susah banget buat dijalani.
Hubungan cinta itu dipisahkan oleh jarak, waktu, dan lautan luas yang terbentang di antara mereka.
Ketika masih baru-baru, baik Arlan ataupun Deera masih rajin chat, telepon, tapi lama kelamaan kesibukan dan perbedaan waktu membuat komunikasi mereka terputus.
Sampai hari ini, selama tiga tahun lewat enam bulan lebih lima hari berada di luar negeri, belum sekalipun Arln nggak pernah pulang ke Jakarta. Karena pacarnya itu kuliah sambil bekerja, komunikasi mereka menjadi tak begitu intens seperti dulu.
Sekarang, menarik satu koper dan membawa tas punggung, Deera berjalan ke pintu masuk terminal 1 keberangkatan internasional bandara Soekarno Hatta.
Bukan untuk menyusul Arlan, tetapi untuk mengantar Natasha, sahabatnya yang hari ini berangkat ke Washington untuk melanjutkan sekolahnya di sana.
“Coba kamu bisa ke sana juga, Ra. Nggak kebayang gimana kagetnya Arlan pas lihat kamu.”
Untuk memangkas jarak dan waktu yang menjadi penghalang kisah cintanya, Deera dengan diam-diam mencari informasi dan ikut mendaftar beasiswa ke Amerika dengan Natasha.
Hasilnya, Zonk. Dari puluhan test yang dia ikuti, nggak ada satupun yang lolos. Malah Natasha yang cuma ikut-ikutan yang dapat.
Deera masih digelayuti perasaan depresi ketika menjawab, “Sayangnya aku nggak sepintar kamu.”
“Kamu pintar kok,” Natasha merangkul bahu temannya dan menghiburnya, “cuma agak kurang beruntung aja.
“He’eh.nggak beruntung. Nggak pernah minum tolak angin sih.”
“Apa hubungannya deh ama tolak angin?”
Deera menjawab pertanyaan Natasha dengan nada ringan. “Kan ada tuh iklannya, orang bejo minum tolak angin. Coba kemarin aku minum terus, lain kali ceritanya. Eh, tapi kasian deng kalau anginnya ditolak mulu. Insecure ntar dia.”
“g****k!” seru Natasha dengan senyum di bibirnya, “terus, gimana rencanamu setelah ini?”
“Cari kerjalah. Mau ngapain lagi?” Deera mengangkat kedua bahunya, ”Masa nganggur, yang ada makin kangen ntar sama maszee.”
Nada suara Deera memang terdengar ceria, tetapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan kecewa. Hal itu membuat Natasha menjadi nggak enak hati.
“Sorry ya, Ra. seharusnya aku kemarin nggak ikutan tes—“
Kata-kata yang mengandung banyak penyesalan itu segera dipotong oleh Deera, “Santai aja kenapa sih, Nat. emang udah jalannya begini. Lagian nggak apa-apa kamu yang pergi, aku jadi bisa nitip buat ngawasin Arlan. Kalau dia macem-macem, langsung aja kasih dia pelajaran.”
“Ogah ah! Yang ada malah aku masuk penjara. Polisi di sana lain, nggak kayak di sini. Nggak bisa di kasih salam tempel.”
Deera tertawa, kemudian menyerahkan koper yang akan dibawa ke kabin oleh Natasha, “ya udah, kalau gitu aku titip oleh-oleh buat aja buat Arlan.”
“Isinya apa ini?”
“Indomie,” sahut Deera, “biar kalian nggak makan burger mulu. Bulet ntar.”
Mata Natasha melebar. “Buat aku juga ada?”
“Ada dong. Sama rendang, dendeng, sambal botolan, kering kentang, kering tempe, teri, cumi, bakso aci---“
“Gila! kayak orang jualan aja. Kamu beli ini semua, Ra?”
Anggukan antusia Deera membuat Natasha tidak bisa berkata-kata. Semua makanan ini harganya nggak murah, lebih kali setengah juta sih.
Tahu bagaimana kondisi keuangan temannya, Natasha memberinya nasihat untuk menghemat uang.
Deera hanya mengibaskan tangannya dengan cuek. “Nggak apa-apa. Duit bisa dicari, kapan lagi bisa ngirim ini ke Arlan. Udah sakaw indomie dia.”
Ketika pacar dan temannya bainya berada di luar negeri, Deera sudah mulai bekerja. Nggak bertitle mbak-mbak SCBD sih, tapi gaji dan tunjangannya hampir samalah. Standar UMR, belum lagi bonus yang lumayan.
bulan ini, tepat empat tahun enam bulan Allen tinggal di USA, dan lebih dari satu tahun Natasha juga berada di sana.
Deera yang terus menghitung hari sudah menunggu dengan tidak sabar kapan pacarnya pulang dan melamarnya.
Sebenarnya, tiga orang yang saling berkaitan juga bikin grup WA untuk bertukar kabar, cuma ya gitu, grupnya sepi.
Palingan ramai sebentar kalau Deera yang chat duluan dua orang itu menanggapi sebentar sebelum akhirnya pamit mau tidur, atau kadang Allen dan Natasha yang ramai ngobrol, sementara Deera terbuai dalam mimpi. Begitu dia bangun dan ikut nimbrung, baru direspon 12 jam kemudian.
Hal itu terjadi selama tiga sampai empat bulan, kemudian grup WA mereka berakhir tanpa satupun notifikasi.
Sore ini, diwaktu luangnya yang jarang ada. Deera lagi mesra-mesraan dengan gawai dalam genggaman tangannya.
Layar datar seukuran 6 inci menampilkan muka bantal yang mengantuk. Ketika pria itu menguap kesekian kalinya, Deera bersuara.
“Ya udah deh, Yang. Kamu bobo lagi aja, lope you ayangggg. Mmmuach!”
“Bodoh!”
Suara sinis terdengar ketika Deera mencium layar gawai sebelum menutup pangilanynya.
Saat mengantongi gawai miliknya, gadis itu melirik kesal ke arah pria yang duduk dengan kaki terentang di ruang tamunya.
“Sirik!” dengkusnya marah.
Pria itu bereaksi dengan memberinya cibiran. “Pacaran mulu sama hape. Masak sana, perutku lapar!”
“Ada mie, masak aja sendiri.” sahut Deera ketus.
Pria itu mengangkat matanya, dan melihat ke arahnya dengan ekspresi malas. “Apa mesti aku ingetin lagi dengan perjanjian kita dulu?”
Dengan enggan Deera beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan ke dapur.
Dirinya benar-benar sudah terjerat dengan roh jahat.
Semua ini berawal dari dirinya yang bermulut longgar di tempat kerja.
Waktu itu, Deera baru satu tahun bekerja di perusahaan advertising. Dia terjun ke industri kreatif juga nggak sengaja, awalnya dia datang sebagai anak magang.
Karena kinerjanya memuaskan, ketika ada salah satu karyawan tetap yang beli empat lusin donat JCO di akhir bulan yang menandakan itu adalah hari terakhir dia bekerja, Deera sudah diangkat sebagai karyawan tetap.
Perusahaan tempatnya bekerja berada di salah satu gedung perkantoran di area Kelapa Gading.
Deera dan dua orang temannya lagi makan siang di dapur ketika pintu terbuka, dan Monny masuk, menyapa mereka dengan kalimat pembuka.
“Eh, kalian udah denger belum?”
Kalau Monny sudah tanya begitu, itu artinya ada gosip baru, dan semuanya langsung bersemangat.
“Apaan, apaan?”
“Ish nggak di suruh duduk dulu nih?” Monny cemberut.
“Yaelah, Mon, duduk tinggal duduk aja sih.” Deera menggeser bangku dengan kakinya, “nih, ayo cerita, cepet.”
Duduk tempat yang disediakan, Monny membuka bungkusan makan siangnya, nasi padang Sederhana yang harganya nggak sesederhana mereknya.
Tiga orang di samping kanan kirinya masih menunggu gosip apa yang terlontar dari mulutnya.
“Monny! Lama amat sih ngomongnya. Udah pada nungguin juga.”
Monny melirik Deera dengan tatapan mencela yang seakan berkata ‘nggak sabaran banget sih kalau mau gibah’
“Kalian tau Leo kan? Katanya ada anak pengusaha yang naksir dia.”
“Hooo, wajar. Leo kan ganteng banget, mana tinggi, badannya juga bagus,” Mbak Tini memberikan pendapatnya, sebagai ibu dengan dua anak perempuan, penglihatan wanita itu terhadap laki-laki cukup bagus. “Yang jadi pertanyaan, Leo mau nggak? Dia kan agak susah dideketin.”
“Ini Livy Renata lho, pasti mau lah, orang ada anak AE yang liat mereka jalan kok.”
Leo yang dimulut Monny ini adalah Leonardus Saliem, fotografer freelance yang sering dipakai perusahaan, dan ketika mendengar nama itu, Deera kehilangan semangat bergosip.
Kenapa dia kehilangan semangat? Karena 90% yang dibilang sama Monny itu salah.
Untuk segala keanehan yang terjadi di dunia fana ini, Deera lebih percaya Lucinta Luna beranak daripada Leo pacaran sama si Livy, Livy itu.
Karena apa?
Karena…Leo itu homo,