bab 23

2048 Kata
Ngomong-ngomong, Leo hanya bisa mengikuti Deera berlari ke sana kemari meskipun dengan tampang kesal. Mereka datang ke area permainan di pasar malam. Leo secara alami berurusan dengan permainan kekanak-kanakan ini. Berjalan lurus, dia ingin melewatinya dengan cepat, tetapi Deera tertarik dengan permainan kecil, dia berdiri di depan stan permainan dan tidak bisa menggerakkan kakinya sekaligus. Itu adalah permainan pukul tikus dengan dua pemain yang sederhana, dan permainan itu tidak susah. Ada empat kelompok yang masing-masing terdiri dari dua peserta yang bermain bersama-sama dalam satu set permainan dan menggunakan sistem gugur. Pemenangnya adalah Kelompok yang poinnya paling banyak dan kompak dalam membunuh tikus, dan pemenangnya bebas memilih hadiah yang dia mau. Pandangan Deera tertuju pada beruang berbulu cokelat dengan ukuran jumbo yang ada di stand hadiah. Ketika Leo meneruskan langkah dan menjauh dari sana, dia segera menarik lengan kaosnya. "Leo, temenin aku main ini!” Leo langsung menolak tanpa ampun, "Nggak." "Kenapa? Gampang lho, cuma mukul-mukulin tikus yang gantian muncul doang kok.” “Nggak cocok untuk statusku sebagai pria dewasa.” Deera hampir muntah mendengar alasannya. Ini hanya permainan, kenapa harus disangkut pautkan dengan status dewasa? Apakah karena seorang pria dewasa, jadi dia nggak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh anak-anak seperti main, makan, minum, atau kencing? Bosenin banget nggak sih masa dewasanya kalau nggak mau melakukan hal-hal yang kekanakan? Tapi apakah Deera berani begitu langsung dengan suaminya? Tidak saja tidak. Untungnya, Deera juga memiliki keterampilan membunuh, "Leo, kamu tadi udah bilang kan, aku boleh minta apa pun hari ini, dan kamu kabulkan. Maka permintaan pertamaku adalah kamu nemenin aku untuk bermain gopher ini, dan harus menang!" Deera menggoyangkan teleponnya, "Jangan lupa, aku punya bukti rekaman." Sangat disayangkan bahwa Leo tidak memiliki niat memenuhi janjinya sama sekali. Dia mencibir, dan kemudian dengan kejam menyeret Deera untuk pergi dari stan permainan pukul tikus. Deera cemas dan marah, “Kamu nggak nepatin janjimu! Kamu melanggar kontrak! Kamu tahu kan akibat dari melanggar janji?” Wajah Leo tidak berperasaan dan tidak berbicara tentang kredit. “Kalau semua orang patuh dengan hukum, polisi jadi nggak punya kerjaan. Kamu rela mereka makan gaji buta dari pajak yang kamu bayar?” Alasan macam apa ini?” Karena tidak tahu bagaimana harus membantah, Deera hanya bisa memohon belas kasihan. "Tapi aku mau yang ini!" Dia melirik hadiah di depan stan permainan, "Aku mau beruang besar itu.!" Leo memperhatikan beberapa beruang raksasa yang ditempatkan di samping bilik permainan. beruang ini berbeda dari gaya beruang yang biasa. Mereka mengenakan kerudung naga yang bernafas api dan terlihat sangat imut. "Kita pulang, nanti di Jakarta aku beliin sepuluh." Leo membujuknya seperti membujuk anak kecil. "Nggak mau!" Deera merajuk, "ini harganya mahal, pasti lama kalau nugguin kamu beli. Apalagi sepuluh, keburu abis model yang ini.” Deera sangat ingin membujuk Leo. Suaminyayang terhormat sangat memperhatikan imejnya. Sudah merupakan keajaiban untuk direndahkan untuk datang ke karnaval ini. Kalau dia mau pria itu menemaninya bermain ini game kekanakan ini, mungkin kemungkinan dia setuju sama langkanya dengan dengan probabilitas komet menghantam bumi. Meskipun dia enggan di dalam hatinya, Deera juga menerima pengaturan ini, dan dia masih melirik beruang raksasa sebelum bergerak maju. Akibatnya, Leo memanggilnya dengan dingin, "Ke mana kamu mau pergi?" Leo menggerakkan kepalanya, “Kemarilah.” “Ngapain kita ke sana?" Deera merasa dianiaya, bukannya dia ngga mau main? Kenapa malah mengajaknya ke sana melihat pertandingan? "Nggak ada salahnya melakukan hal kekanakan." Deera bingung untuk sementara waktu, apakah dia nggak salah dengar? Leo mau melakukan permainan kekanakan? Leo mengerutkan kening, "Aku kasih waktu sepuluh detik untuk datang dan jadi partnerku. Lewat dari itu, tawaran hangus!” Ekspresi Leo tampak sedikit tidak sabar. Entah karena cuaca panas atau karena hal lain, dia menemukan bahwa wajah dan telinga Leo agak merah. Deera tertegun, dan takut pria itu menjadi semakin tidak sabaran. Dia buru-buru berlari kembali dan berteriak, "Aku datang !!! Aku datang !!!" —— “Ahhh! Sumpah, Lo, Deera?” teman-temannya berteriak. Kenyataan ini membuat jantung para gadis nyaris berhenti karena kaget. “Masa iya sih Leo homo? Nggak mungkin ah.” Deera mengangguk dengan yakin, “tahu nggak siapa pasangan homonya? Itu… Hoshino Daniel.” Kabar tentang Leo homo saja sudah bikin syok, eh ini ketambahan Hoshino Daniel, cowok blasteran Jepang yang bekerja sebagai pengarah gaya di studio yang jadi pasangannya. Fakta benar-benar menyakitkan. Jadi tak heran kalau sebagian dari mereka yang ada pantry denial. “Ini beneran nggak sih, Ra? tahu dari mana kamu kalau mereka pasangan?” Dari mana dia tahu mereka berdua adalah pasangan? Yaaa, berdasarkan insting dan pengamatan. Sebagai seorang yang menyukai kisah percintaan sesama laki-laki alias Fujoshi, instingnya sensitif untuk merasakan hal-hal abnormal seperti itu. Selain itu, dia juga kenal dekat dengan mereka berdua. Sayangnya, nggak ada satupun yang percaya sewaktu Deera kasih tahu kalau Leo itu kaum pelangi, jadi biarkan saja mereka denial dan terus bermimpi untuk mendapatkan perhatian Leo. Kalau Deera sih ogah. Dan seperti jadwalnya pada hari Jum’at, Leo akan datang ke perusahaannya sore hari. Ketika pintu lift terbuka dan orang-orang di dalamnya, termasuk Leo berjalan keluar. Saat melewati pria itu melewati mejanya, Deera secara tidak sadar melirik ke pihak lain, tetapi pada saat itu, pria itu juga menoleh untuk bertemu mata dengannya. Ini adalah pandangan yang hanya sekila, mata orang itu masih dingin, tetapi Deera memiliki perasaan berdebar sesaat, sebenarnya dia bukan orang yang menilai orang berdasarkan tampang, tetapi pihak lain benar-benar ganteng maksimal. Pria ini dewasa, tampan, kuat, dan tampaknya tanpa cela, bahkan rambut dengan potongan biasa hasil karya tukang cukur di lapangan dekat rumah, terlihat sangat keren dikepalanya. Nggak heran yang naksir dia banyak, nggak cuma yang masih muda, tante-tante juga ada. Bahkan jika dia sudah mengenalnya selama beberapa waktu, dia harusnya sudah kebal terhadap penampilannya, tetapi beberapa saat Ini benar-benar mengejutkan untuk mengambil pandangan seperti itu. Pada saat ini, Leo mengenakan jeans biru dan kaos hitam polos membuatnya memiliki temperamen yang luar biasa, dan bahkan membawa sedikit kemewahan dan beberapa kesombongan dan ketidaksabaran. Kitty yang juga melihat penampilan pria itu berbisik di telinganya. “Nggak yakin deh Livy bisa tahan sama Leo, soalnya Leo itu kan—“ Deera langsung menoleh dan melihat, Kitty yang barusan ngomong. Matanya berbinar dia nggak percaya Leo sama Livy, jangan-jangan dia fujo juga. “Gantengnya nakutin gitu, mukanya jutek dan kelihatan galak, sekali ngomong bikin orang kena mental.” Kata-kata lanjutan dari Kitty membuatnya tidak bisa berkata-kata. Kitty benar, Deera adalah saksi bagaimana wajah, sosok, dan temperamen itu sempurna, tetapi karakter pria itu nggak begitu bagus. Ketika punggung tegap Leo menghilang di balik pintu ruangan pimpinan, mejanya di ketuk oleh seseorang yang mendecakkan lidah. Deera mendongak dan menemukan seorang pria yang mengenakan cermin datar berbingkai emas, berdiri dengan kedua tangan tangan terlipat di depan dadanya. Itu Hoshino. Bibirnya yang tipis memuntahkan suara yang membuat jantungnya hampir melompat keluar. “Deera, barusan kamu liatin Leo kan?” Deera sedikit mati rasa di matanya, jadi dia tidak berani melihatnya. Dia harus menatap buku-buku jari yang dia letakkan di atas meja. Suaranya tersanjung dan berkata dengan datar, "Nggak, siapa bilang?” “Mataku!” Hoshi memutar matanya, “mataku yang lihat sendiri, kamu tadi liatin Leo, kamu suka sama dia?” Deera nyaris menumpahkan air mata gara-gara tuduhan yang semena-mena tadi. Kenapa? Apa pria ini cemburu padanya? Dari berita-berita kejahatan yang sering ia tonton yang korban dan pelakunya terlibat asmara, Deera membuat kesimpulan mutlak, selembut-lembutnya orang, kalau sudah dibakar api cemburu bisa berubah menjadi sangat menakutkan. Biarpun sudah membantah mati-matian dan berkata dengan jujur kalau dirinya sudah punya pacar, Hoshi sepertinya masih nggak percaya, dan itu terlihat jelas dari cara bicara dan tatapan pria itu kepadanya. “Oke, jangan kemana-mana, kamu tinggi di sini. Kami meeting dulu sama Airin sebentar.” Demi menghindari kecemburuan tanpa alasan, Deera segera menempelkan jari telunjuknya, begitu jam absensi kantor bergerak tepat ke angka 17.00 dan bergegas berlari sebelum dua orang yang berada dalam ruangan atasannnya keluar. Setelah terburu-buru keluar dari kantornya tadi, Deera nggak langsung pulang, melainkan mampir ke mall, healing sebentar hilangin penat. Biarpun dia nggak beli apa-apa, seenggaknya kulitnya merasakan dinginnya AC di Mall, hidungnya bisa mencium aroma barang-barang bermerek, mana tahu nanti tiba-tiba dapat ide baru buat konsep iklan yang ia dan timnya pegang. Muter-muter di Mall selama dua jam, Deera akhirnya mampir ke supermarket buat beli bahan makanan untuk dia masak di rumah. Yang dia sebut rumah ini sebenarnya rumah susun sewaan yang sudah ia tempati dari jaman masuk kuliah. Karena tempatnya aman, nyaman, harga sewa terjangkau, dan juga gampang dijangkau, Deera betah tinggal di sana sampai sekarang. Dia bersenandung saat berjalan kaki dari halte busway, unitnya ada di lantai sepuluh tower satu, perlahan lift akahirnya naik dari dari garasi bawah tanah ke lantai dasar. Namun, Deera tertegun ketika pintu lift terbuka. Memang ada seseorang di dalam, tapi yang ini, Deera baru melihatnya tadi sore. Orang yang berseberangan masih memiliki wajah yang tampan, dengan aura yang membuat jantung gadis-gadis berdebar, dan wajah yang dingin dan bibir yang berbentuk indah dan sempurna memuntahkan suara berat yang sangat nggak sabaran. Bukannya masuk, Deera malah celingak celinguk lihat ke dalam, kemudian menoleh ke luar memastikan keadaan aman. Bahaya ini kalau dilihat Hoshi. “Tunggu apalagi? Cepatlah, jangan tunda waktu istirahat orang lain!” perintahnya lagi. Deera bergegas ke lift, dan mengulurkan tangan untuk menekan tombol lantainya, dan angka sepuluh sudah berwarna merah. Dia meliirik pria yang membawa ransel besar di satu bahunya, dan menenteng tas kamera beserta lensanya yang tadinya dia peganng tangan kanan, tetapi katika Deera masuk, tas itu segera ia pindah ke tangan kiri. Kenapa dia pulang sendiri? Bukannya tadi sama Hoshi? Saat dia berpikir, dia diam-diam melirik mata satu sama lain, dia terlihat sangat baik, bulu matanya panjang, bibirnya tipis, dan kulitnya berwarna gandum yang eksotis. Sangat disayangkan bahwa dengan wajah yang begitu tampan, dia ternyata adalah seorang pemuda yang pemuda yang orientasinya menyimpang. Sadar sedang diperhatikan, Leo memasang senyum acuh tak acuh. “Kenapa terus melihatku, kangen?” Deera mau memuntahkan seteguk darah saat mendengarnya. Memangnya siapa dia, kok minta dikangeni? “Mana Hoshi?” Pihak lain tertegun untuk sementara waktu, tetapi bukannya menjawab, dia mengerutkan kening. “Mana aku tahu! Aku bukan bapaknya!” Ada ketidak pedulian dalam suara Leo, yang ingin membuatnya berteriak, “dia pacarmu, perhatian sedikit dong!” tetapi mengingat hubungan tabu mereka yang masih disembunyikan, Deera nggak berniat mempermalukannya. “Leo.” Panggilan Deera hanya di jawab dengan gumaman. “Hmmm.” “Tentang kamu yang jalan sama Livy, hari ini beredar di perusahaanku.” “Itu cuma gosip.” Di lantai 10, Deera memimpin saat keluar dari lift. Leo yang tampan memanggul tas mengikuti di belakangnya. Namun, ketika pria itu menyeretnya ke pintu sebelah kiri, wajahnya menjadi buruk. “Nggak mau, aku nggak bisa datang ke rumahmu lagi. Aku—“ Sebelum kata-katanya selesai, dia diinterupsi oleh pihak lain, dan suara pria tampan itu acuh tak acuh, “Ada kerjaan yang harus kamu selesaikan.” Dia selesai, mengeluarkan kuncinya ... Deera menolak, “Kirim ke email, biar aku kerjain di rumahku sendiri.” Namun pria itu mencibir. Memasukkan kunci dan memutarnya, “dilihat dari kemampuanmu, aku nggak yakin bisa cepat selesai. Masuklah.” Deera mengangkat tangan kanannya saat berjanji, “Sumpah, yang ini pasti aku selesaikan cepet, tapi nggak usah ke rumahmu. Oke?” Ketakutan ini membuat Leo mengangkat alis dengan dingin. “Takut aku perkosa?” dia berdecak setelah berkata begitu, “asal tahu aja, biarpun wanita di dunia ini cuma tersisa kamu doang, aku nggak kepikiran untuk memperkosamu.” “Aku tau, aku tau,” reaksi Deera datang sangat cepat, “aku nggak mau masuk bukan karena takut kamu perkosa, tapi aku harus menjaga perasaan seseorang biar nggak dia nggak cemburu.” “Livy?” Kepala Deera menggeleng, “Bukan, Ini Hoshi.” “Kenapa dengan dia?” Leo menyipitkan matanya. Deera kemudian dia melanjutkan dengan sedikit nasihat, “bayangkan, betapa banyak luka dalam hatinya selama hubungan kalian? Bukan cuma harus bersaing dan menjagamu dari jangkauan pria lain, tapi dia juga harus menghadapi gadis-gadis dan tante-tante yang naksir sama kamu. Sebagai pacarnya, tolong hargai perasaan Hoshi, hormati dia. Kita memang nggak ada hubungan apa-apa, tapi bukan berarti dia nggak cemburu kan?” Leo tidak berbicara dan hanya menatap Deera sambil mengatupkan bibirnya. Semakin banyak Deera berbicara, semakin gelap wajahnya. Lalu, dengan tiiba-tiba dia menarik pergelangan tangan Deera, menyeretnya masuk. “Hei, hei…apa yang lakukan! Lepaas, lepaaaas!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN