Setelah melihat kamar itu Aura berlari seperti embusan angin sampai dia berdiri di samping pemilik.
“Oke, aku mau! Aku mau!”
“Aku siapin kontraknya.”
Meninggalkan Aura sendirian mengagumi ruangan yang akan menjadi kamarnya, pria itu berjalan ke ruangan di sayap kiri bangunan yang sepertinya adalah ruang kerja.
Dia keluar lima menit kemudian dengan surat perjanjian di tangannya.
Menghampiri Aura, pria itu mengulurkan tangan menyerahkan perjanjian sewa yang sudah ia siapkan.
“Satu kamar, hanya boleh ditempati satu orang.” Ujarnya memberitahu, “nggak boleh bawa teman buat menginap. Setuju, tanda tangan.”
Aura mengambil kertas perjanjian, membaca semua poin-poin dengan seksama.
Untuk satu kamar tidur yang lebih besar dari rumah petakan yang dia sewa di tempat lama, dengan fasilitas yang mirip hotel. Ada AC-nya di kamar, pemanas air di kamar mandi pribadi, kasur empuk, printilan-printilan lain. Aura sama sekali tidak keberatan dengan peraturan yang dia buat.
Yang menjadi masalah adalah, dia tidak tahu berapa harga sewa yang ditetapkan?
Melihat kamar dan fasilitas di dalamnya, dia sedikit impulsif dan langsung bilang mau. Untuk rumahnya yang lama saja, dia harus mengeluarkan satu juta setiap bulan.
Apalagi buat kamar semewah ini.
Melihat keraguan Aura, pria yang duduk menatap ponsel di tangannya mendongak, “Bukannya kamu mau kamar ini?”
Tubuh Aura agak menyusut saat menjawab. “Kayaknya aku berubah pikiran.”
Mendengar jawabannya, wajah pria itu mengungkapkan ekspresi tidak senang, “Apakah menurutmu kamar ini nggak cukup bagus?”
“Bukan, bukan!” Aura melambaikan tangannya dengan cepat, “Kamar ini jauh lebih bagus dari perkiraanku.”
“Jadi?”
“Aku cuma sedikit ragu. Sedikiiit.” dia memberi isyarat jarak dengan ibu jari dan jari telunjuknya, “Bagaimanapun juga kamu laki-laki, aku perempuan. Nggak wajar tinggal bareng dalam satu rumah.”
“Maksudmu, aku nggak pantas tinggal denganmu?”
“……”
“Masalahnya bukan pantas nggak pantas. Tapi harga sewa, rumah sebagus ini nggak mungkin kan harga sewanya murah?” akhirnya dia mengatakan unek-uneknya dengan jujur.
Jempol pria di layar berhenti, dan dia dengan santai mengangkat kepalanya untuk menatapnya, "Oh, biaya sewa. Bagaimana kalau 2 juta sebulan?”
Tangan pria itu sangat indah, jari-jarinya ramping, dan tulangnya terdefinisi dengan baik.
Aura hampir tersedak air liurnya. Dua juta?
Didompetnya hanya tersisa satu setengah juta, itu bahkan kurang untuk sewa satu bulan. Belum lagi makan, beli pulsa.
“Itu termasuk murah lho, masa nggak sanggup bayarnya?”
Pria itu tertawa lagi.
Ini adalah ketiga kalinya Aura melihat atau mendengar seorang pria tersenyum setelah memasuki rumah.Jika tidak ada emosi negatif seperti sarkasme atau penghinaan, sebenarnya senyum pria itu membuatnya semakin tampan.
“Mungkin buatmu uang itu sedikit, tapi nggak buatku. Bye.” Aura melirik kamar tidur dengan enggan.
Tanpa diduga, dia baru saja berjalan dua langkah, dan pria itu tiba-tiba berkata, "Hei, tunggu. Kamu bisa masak?”
Aura mengerem kakinya untuk berhenti, menoleh untuk menatapnya dengan bingung, dan bertanya dengan matanya, Maksudnya?”
"Masak untuk tiga kali makan. Potong biaya sewa buat upahnya.”
Aura menunjuk dirinya sendiri dan bertanya, "maksudmu, aku jadi tukang masak di sini buat bayar sewa?”
Pinggul pria itu bersadar pada tepi meja, melipat kedua tangan depan d**a. Posturnya santai, tapi terihat serius saat mengangguk.
“Serius?” Aura seperti telah diberi stimulan sepuluh botol kratingdaeng, matanya melebar, “Aku bisa masak, bisa!” dan kemudian bertanya lagi, “Kenapa kamu nggak sewa pembantu?”
Pria itu menerima ekspresi cerobohnya dan menjadi sedikit sinis, "Bukan urusanmu!”
Aura mengangguk. Yah, dia benar, ini bukan urusannya. Lagipula, dengan nggak adanya pembantu, dirinyalah yang paling diuntungkan.
Hanya saja masih ada masalah, "Sebenarnya aku lagi masa pelatihan kerja, baru tiga hari ini, mustahil aku bisa pulang saat makan siang.”
Pria itu berpikir sejenak, "Tiga kali makan sehari bernilai sewa satu hari, terserah mau diambil atau nggak!”
Aura mengibaskan jarinya dan menghitung, sewa kurang 2 juta harus menjadi yang termurah di pasaran, kalau kesempatan ini nggak diambil, diperkirakan dia nggak akan bisa mendapatkan tempat yang lebih murah dan bagus dari ini.
Apalagi rumah ini dekat dengan kantor.
Pas jam makan siang, dia bisa pulang naik ojek. Masak sesuatu yang gampang dan cepat. Biar nggak buang-buang waktu, sebaiknya dia bikin dulu menu buat seminggu.
Kalau orang ini setuju dengan menu yang dibuat, setiap hari Minggu dia bisa belanja bahan makanan buat stok. Bersihkan, taruh dalam kulkas. Jadi lebih gampang dan cepat.
Jadi Aura yang ragu-ragu sejenak, segera membuat keputusan sekarang, "Oke, tapi jangan protes kalau masakanku nggak sesuai seleramu."
“Nggak masalah.” Pria itu mengambil lagi kontrak yang diletakkan diatas meja oleh Aura, “Tanda tangani.”
Selain beberapa syarat yang tadi dia baca, pada dasarnya itu adalah surat perjanjian standar untuk menyewa rumah. nggak ada yang istimewa. Ada beberapa perbedaan di salah satunya, dan dia tidak menganggapnya sebagai masalah.
Batas waktu untuk menyewa rumah ditentukan oleh Pemilik. Kalau si penyewa melanggar persyaratan yang ada dalam kontrak. Maka dia harus membayar tiga kali lipat biaya bulanan ke pemilik rumah sebagai biaya ganti rugi.
Aura nggak pintar hitung-hitungan matematika dari dia masih kecil. Bagaimana dia bisa memahami masalah yang begitu rumit?
Lupakan saja, dia mengambil pena dan menandatangani namanya.
Setelah menandatanganinya, dia ingat bahwa saya nggak tahu nama pemiliknya?
Dia melirik kontrak itu.
Dipta.L.K
Nama yang bagus ... tapi ...
Tunggu, Dipta.L.K kalau disatuin dibacanya Diptalk. Lah, curhat dong?
Aura tidak bisa menahan untuk menutupi mulutnya dan tertawa, Dipta langsung menyambar kontrak yang sudah ditanda tangani dengan wajah hitam, dan dengan dingin menjatuhkan kalimat, "Masa percobaan tiga hari," dan dia pergi.
Melihat gadis itu menatap tempat di mana dia menandatangani tanda tangannya, ada api yang tidak diketahui di hatinya Siapa yang memberinya nama unik seperti itu?
Atau pas hamil dulu ibunya sering curhat mendalam kali ya, makanya anaknya dinamain Deep Talk alias Dipta.L.K. kreatif banget nggak sih ibunya?
Sampai sosok Dipta menghilang di sudut tangga, Aura masih tertawa. Pada saat ini, dia telah memindahkan tangan yang menutupi mulutnya dan mulai memegangi perutnya yang sakit.
Ha ha ha……
Ha ha ha……
Ha ha ha….
Tiba-tiba sapaan lembut datang dari lantai atas, "sudah ada yang kasih tahu belum, ketawamu itu kayak kuntilanak?”
ga——
Aura segera membuang tawanya, dan terdiam.
Sebelum pria itu berubah pikiran dan mengusirnya, Aura buru-buru berlari keluar.
Setelah pelatihan yang lama pada hari Jumat, intruktur yang melatih memberi mereka selembar kertas setelah acara. Aura menyimpannya dengan acuh tak acuh, hanya berpikir untuk segera pulang dan pindah, dia sama sekali tidak mendengarkan instrukturnya yang masih menjelaskan di depan.
Begitu jam menunjukkan angka 5, Aura langsung melesat dari sana dan mengambil koper serta barang-barangnya yang sudah ia titipkan ke warung makan yang tidak jauh dari kantor.
Itu hanya dua koper dan satu tas ransel.
Nggak banyak memang, tetapi isinya berat. Baru setengah jalan, Aura yang berjalan kaki ke tempat baru sudah kecapekan sampai lengan dan kakinya lengan gemetar.
Ketika dia tiba di rumah Dipta, sudah lebih dari jam 6 malam, dan tidak ada lampu yang menyala di rumah. Aura berdiri di luar halaman kecil dan mengira tidak ada seorang pun di rumah.
Untungnya, begitu jarinya menyentuh pintu, pintu itu bergerak perlahan ke kedua sisi, dan dia yakin seseorang di lantai atas selalu melihat ke luar.
Aura memindahkan barang-barang ke dalam rumah satu per satu seperti tikus lapangan. Saat ini, lampu di rumah masih belum dinyalakan. Dia diam-diam melirik ke atas.
Ini orang kenapa sih, senang banget gelap-gelapan? Masa iya rumah segede ini nggak ada listriknya.
Apa tokennya habis dan sengaja nggak diisi karena mau menyuruhnya patungan?
Aura bergerak cepat, toh, masih ada senter dari hape, dia bisa pakai itu untuk sementara. Kalau Dipta muncul nanti, dia bisa minta nomor tagihannya buat isi token.
Aura bergerak selama sekitar setengah jam dan kemudian hampir selesai merapika kamarnya. Dia membawa kotak terakhir dan kembali ke rumah. Di tangga yang gelap, bayangan ramping bergerak ke bawah. Kalau nggak tahu ada orang di atas, mungkin dia akan mengiranya penampakan.
Aura terbatuk dan berjalan ke dalam rumah, pura-pura tidak melihatnya.
Suara rendah dan bertanya datang perlahan, "Kenapa lampunya nggak dinyalain?”
Aura berdiri seperti orang bodoh.
Memangnya lampunya bisa nyala?
Dipta nggak menyalakan lampu ketika ada orang datang. Pikirnya karena pulsa tokennya habis.
Dengan satu kali bunyi klik, ruangan gelap langsung menjadi cerah, Aura sudah menyesuaikan diri dengan kegelapan, dan tiba-tiba melihat cahaya lampu yang terang, dia tidak membuka matanya karena silau.
Wanita muda itu berdiri di sana selama beberapa detik, berkedip dan berkata, "Aku kira pulsanya habis.”
Pria itu mengangkat alis, “Hah? Token?”
“Pulsa listrik isi ulang,” beritahu Aura, dia mengambil selembar uang lima puluh ribu dari saku celananya, “Ini, aku ikut patungan buat beli pulsa listrik.”
Pihak lain tidak berbicara atau mengambil uangnya, dan hanya menatap Aura.
Mengira itu terlalu sedikit, Aura berkata lagi, “Seharusnya sih ini cukup buat 2 minggu. Nanti kalau udah dapat uang aku tambahin lagi.”
Akibatnya pria itu hanya mencibir dan lagi-lagi menertawakannya.
Apa dia punya kecanduan menonton lelucon orang lain?
Aura meletakkan uang di atas meja, kemudian mengangkat kotak itu dengan kedua tangannya sengaja menyeretnya dengan suara berisik, dan dengan cepat berjalan menuju kamar tidur.
Setelah akhirnya menyelesaikan semuanya, sekarang sudah jam 8 malam. Aura dengan cepat menyalakan TV dan pindah ke We Tv.
Dia baru-baru ini lagi marathon nonton series buatan PH Indonesia. Kisah inspirasional untuk dokter wanita yan diselingkuhi suaminya, alur ceritanya kompleks, pemeran utama wanita aktingnya keren. Reza Rahardian yang biasanya main sebagai cowok baik-baik yang bikin baper, di sini jadi suami selingkuh dan nyebelin.
Aura terpesona, dan bahkan ketika Dipta turun, dia tidak tahu sampai TV tiba-tiba dimatikan.
Aura mengerucutkan bibirnya nampak terganggu, tetapi tidak ada cara lain untuk mengambil remote dari tangan pria itu.
“Aku belum makan seharian.” Kata Dipta.
Dalam hati Aura, ada serentetan omelan yang kejam. Dia bertanya, dengan sadar, "Kenapa belum makan?”
“Nggak ada yang masak.”
Mendengar jawaban yang nggak masuk dinalarnya, Aura mengernyit.
Bukannya selama ini juga nggak ada yang masak? Jadi selama ini dia nggak makan dong?
Lagi pula, bagaimana dia bisa tahan menunggu seseorang untuk memasakkan sesuatu sampai jam 9 malam?
Meskipun enggan, Aura akhirnya mengangguk pada pria yang berdiri di samping sofa. Lagipula, perutnya juga perlu di isi sesuatu.
Dipta melihat penampilan cuek Aura. Gadis itu mengenakan denim super pendek dengan kaos putih. Saat dia berdiri, mata pria itu tertuju pada sepasang kaki dengan kulit seperti bawang putih yang dikupas. Putih, mulus dan ramping.
Rambut yang sangat hitam digulung dan dijepit asal-asalan di belakang kepalanya. Poninya agak berantakan, dan hampir menutupi mata bundarnya yang cerah dan agak usil.
Dipta memalingkan wajahnya, dia mengerutkan bibirnya, "cepatlah!”
“Iya, sabar, ini baru mau ke dapur!”
Ketika hendak melangkah, gadis itu berhenti dan berbalik. Yang dia tahu tentang rumah ini hanya halaman yang luas, lantai atas yang merupakan daerah kekuasaan Dipta, dan kamarnya sendiri.
Selain tempat-tempat itu, yang lain gelap.
“Di mana dapurnya?”
Dipta memimpin ke dapur tanpa berbicara padanya apa yang harus dimasak.
Karena rumah ini terlalu besar, pada awalnya hidungnya tidak mencium bau aneh.
Sampai dia tangan pria itu membuka pintu dapur, tiba-tiba keluar bau seperti sesuatu yang busuk setelah waktu yang lama, dan Aura tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik kembali ke pria yang malah berhenti setelah membuka pintu.
“Ini dapurnya. Cari sendiri apa yang mau kamu bikin.”
Mencium bau yang benar-benar busuk ini, Aura hampir pingsan.
Apa dia menyembunyikan mayat korban mutilasi dalam dapurnya?
Mau tak mau dia bergidik, dan tiba-tiba menemukan bahwa seluruh ruangan dipenuhi dengan bau aneh yang kuat.
Aura berjalan ke dapur dengan hati di tangannya, karena takut melihat sesuatu yang buruk.
Ketika tatapannya jatuh ke wastafel, jantung dan isi perutnya hampir melompat keluar.
“Diptaaa!!”
Wajah Dipta sangat jelek karena Aura memaksanya masuk ke dapur, bau yang sumbernya dari wastafel benar-benar membuatnya tidak tahan.
Ekspresi pria itu jijik dan runtuh, “Tempat ini kotor!”
Wajah Aura dipenuhi tanda tanya, “Kan kamu yang tinggal di sini.”
“Kamu yang tinggal di sini. Aku di lantai dua.”
Iike what?!!!
“Kok jadi aku?” Aura melancarkan protes, “ Aku kan baru datang sore tadi. Nih kamu lihat, sampah-sampah ini umurnya udah lebih dari seminggu. Jauh sebelum aku datang ke sini!”
Pada saat Aura membersihan namanya dari pencemaran nama baik, pemilik rumah yang terhormat membuka mulut emas lagi, “Kamu bersihin dulu, selesai itu baru masak!”
Namun, Aura nggak bergerak. Dia menentang perintah Dipta yang semena-mena.
Bukan dia yang mengotori tempat ini, kenapa jadi dia yang harus bersihin? Lagian perjanjian awal cuma masak tiga kali sehari, nggak ada tuh kata-kata bersih-bersih rumah.
Apalagi sampah busuk yang menjijikkan seperti ini.
Melihat wanita itu tidak juga bergerak, Dipta melirik Aura dan mengulurkan tangannya: "Apakah kamu melihat tanganku?"
Aura mengangguk seperti ayam yang mematuk nasi.
"Kamu menggambarkan tangan seperti apa ini?"
"Sangat bersih?"
"ada yang lain?"
"Jari panjang?"
"Lalu?”
"Tanganmu indah."
Dipta menyipitkan matanya, "Bagaimana dengan kondisi kulit?"
Meskipun Aura merasa bahwa pria ini tiba-tiba memiliki beberapa masalah dengan tangannya, dia masih secara tidak sadar berkata: "Halus, kenyal, dan sehat?"
"Apakah ini kelihatan seperti orang yang pernah kerja kasar?"
Aura melihat Dipta lagi, terutama pada bagian tangannya, lalu dengan enggan mengakui. “Tanganmu kelihatan seperti tangan tuan muda kaya.”
Dipta mendengus dari lubang hidungnya, "Jadi, dengan tangan seperti tuan muda yang barusan kamu bilang, apakah menurutmu pantas untuk bersih-bersih sampah?"
Aura tercengang, "Ya ampun, tapi ini jijikin banget. Biasanya kan tugas buang sampah itu bukannya dikerjain laki-laki?”
Dipta meliriknya, "Ini jaman emansipasi, dimana seorang perempuan menuntut kesamaan gender. Dimana pekerjaan laki-laki, wanita juga harus bisa melakukannya. Bahkan saking hebatnya, wanita bisa memegang setengah langit,"
"..."
"Ayo. Percayalah pada dirimu sendiri, kamu bisa." Dipta menepuk bahu Aura dan berjalan pergi dengan licin.
Pada akhirnya, Aura harus menundukkan kepalanya pada kekuatan jahat lagi.
Dia nggak tahu apa yang dilakukan oleh pria itu di dapurnya.
Tempat cucian piring di belakang kompor penuh dengan air. Piring, gelas, sendok dengan sisa makanan mengambang di dalamnya, memancarkan bau busuk yang kuat.
Semua cangkir keramik masih memiliki sisa ampas kopi, dengan lapisan hijau di atasnya. Cangkir yang lain masih ada tutup.
Aura mengangkat tutupnya…dan hanya bisa melongo.
Tiga jamur putih besar tumbuh di dalamnya
Astaga! Si Dipta ini.
Apa lagi coba-coba mengembang biakkan jamur dengan media ampas kopi bekas?
Aura mencubit hidungnya dengan tangan kirinya, dan mengobok-obok hal-hal kotor di kolam dengan tangan kanannya, berniat untuk mengambil kotoran yang menyumbatnya.
Selain itu, dia harus melindungi jamur besar, dan mengambil gambar dan mempostingnya ke status segera.
Lelucon terbesar tahun ini, jamur besar tumbuh di cangkir.
hahahaha hahahaha…
Aura tertawa lama, tanpa sadar memikirkan suara tawa kuntilanak, dan langsung menutup mulutnya, dan pergi untuk membersihkan benda-benda mengambang di air.
Aura menyingkirkan barang-barang kotor terlebih dahulu, dan kemudian menemukan bola kawat baja untuk menyeka panci dan wajan dan kotoran lain selama beberapa kali.
Awal dia mencuci, sabun dalam botol masih ada penuh dan belum dibuka, sekarang cuma sisa seperempat. Perabotan yang kotor dan berantakan sekarang lebih bersih dan mengkilat, bahkan menyilaukan dibawah sinar lampu.
Untuk membunuh kuman yang sudah menempel berbulan-bulan, dia merebus air dua panci lagi. kemudian semua perabotan dia siram air panas dengan hati-hati dan steril.
Melihat peralatan makan yang bersih dan rapi, Aura akhirnya menunjukkan senyum puas, memegangi pinggangnya yang akan patah dengan satu tangan, melihat kembali ke puing-puing di tempat sampah, dan sedikit mengernyit.
Tiba-tiba menyadari beberapa masalah, apa yang harus dimakan di malam hari?
Dia membuka lemari es, untungnya tidak terlalu berantakan dan bisa menahannya, tetapi sepertinya tidak ada yang bisa dimakan kecuali satu kotak besar Evian.
Ck! Orang jorok itu benar-benar senang membakar uang.
Mengabaikan air minum yang sebotolnya setara dengan satu mangkok bakso, dia membungkuk dan membuka lemari. Harus selalu ada bihun, kan?
Kulkas ini benar-benar kosong.
Aura baru pindah rumah sepanjang sore, merapikan barang-barang di kamar tidur, dan disuruh untuk merapikan dapur membuatnya capek dan kesal.
Matanya menangkap sampah yang bau, dan dia menarik napas dalam-dalam.
Dengan langkah lebar, dia berjalan ke ruang tamu, ke depan TV, mengincar kaki seseorang.
Pria itu menatap telepon, dengan ekspresi yang sangat santai dan puas, Aura menendang kakinya dengan keras, "Hei—"
Dipta melepas telepon dan menyipitkan mata ke Aura, “Ada apa?”
"Di mana berasnya?"
“Belum kamu masak?”
“Apanya yang dimasak? Nggak ada satupun yang layak di dapurmu! Nyetok mie nggak?”
“Nggak.” Sahut Dipta.
Aura meletakkan kedua tangan di pinggang dengan wajah kesal, “Nggak ada beras, nggak ada mie. Apa yang harus aku masak?”
“Terus ngapain kamu di dapur lama-lama kalau nggak masak?” Dipta melirik Aura.
Aura merasa tidak bisa bersabar lagi, "Bersihin kandang babi!”
Pria itu tersenyum kecut, “Aku sibuk dan nggak sempat belanja, apalagi bersih-bersih.”
"Ini bukan waktunya Deep talk alias curhat. Saranku kamu segera pergi ke minimarket, beli beras, mie, telur. Atau terserah apa, yang penting bisa dimasak. Jangan kemaleman, keburu tutup!”
Dipta tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. Ada begitu banyak kemarahan. Dia mengulurkan tangannya dan mengambil foto berulang kali di bawah cahaya.
Sepuluh jari panjang yang ramping, putih dan sangat lentik, Aura menggertakan gerahamnya. Bahkan dia yang seorang perempuan nggak punya tangan sebagus dia.
Hanya saja orang yang begitu tampan ternyata ngga bisa melakukan apa-apa.
Dipta melihat cukup banyak jarinya, dan kemudian berkata dengan hangat, "Tanganku melakukan hal-hal hebat. Bagaimana aku bisa melakukan pekerjaan seperti itu yang dilakukan pelayan di dapur? “
Aura menggigit bagian dalam pipinya, dan dia tidak sabar untuk mengambil bantal di sebelahnya dan melemparkannya langsung di wajahnya.
Setelah menenangkan diri selama beberapa detik, Aura mengangkat kakinya lagi dan pura-pura menguap, “Aku ngantuk. Mending kamu minum air banyak-banyak terus tidur buat nahan lapar.” Wanita itu berbalik dan pergi.
Pria yang berbaring di sofa berdiri, sosok hitam besar tiba-tiba menekan dan langsung menutupi kepala Aura. Dia berhenti dan menoleh untuk melihat Dipta.
Pria itu berwajah muram dan terlihat sangat mengerikan ketika dia siap untuk pergi.
Aura benar-benar takut dia akan meninjunya dua kali di detik berikutnya, dan kemudian memikirkan apa yang dia lihat dan dengar di dapur barusan. Orang ini tidak akan...memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan kan?
Mau tak mau dia menciutkan lehernya, mundur selangkah, melingkarkan tanganku di sekitar d**a, dan berbisik, "Kamu...kamu...apa yang kamu lakukan?"
Wajah Diptai sangat gelap, dan dia berkata dengan dingin, "Pergi dan beli beras."
"Oh ..." Ini tidak seperti memukulnya, Aura menghela napas secara diam-diam dan tidak tahu jam berapa sekarang.
Apakah supermarket masih buka, tapi tidak peduli apa, siapa yang membuatnya mengacaukan dapur dan menolak untuk membersihkannya. Dia lelah sepanjang malam dan tidak bisa meluruskan pinggangnya.
"Kalau begitu pergilah," katanya dan berjalan ke kamarnya, dengan begitu banyak barang yang belum dirapikan, dan setelah memasak, kayaknya dia nggak akan tidur malam ini.
Tanpa diduga, tepat setelah mengambil dua langkah, tiba-tiba dia merasakan bagian belakang leher saya menegang, dan seluruh tubuh ditarik ke belakang dengan kekuatan yang besar.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh, menatap Diptai, pria itu menyeretnya keluar pintu, "Dipta, apa yang kamu lakukan?"
Dia hampir kehabisan napas.
Dipta yang menyeretnya berkata, "Aku nggak tau harus beli apa
Oke, Aura menggeliat saat mendongak dan melihat wajah bayi raksasa yang satu kepala lebih tinggi darinya, dia benar-benar tidak tahu bagaimana pria seperti peri tumbuh begitu besar.
Meskipun Aura nggak mau keluar, dia hanya bisa pasrah saat diseret oleh Dipta yang tinggi, dan karena semua sepatu dan sandalnya masih dalam koper, dia hanya bisa memakai sandal jepit yang 5 centi lebih besar miik Dipta.
Dengan penampilannya yang lebih mirip gembel hilang, Aura nggak mau pergi jauh-jauh.
Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke langit. Saat itu hampiar jam. Mana ada pasar atau supermarket yang masih buka.
“Makan di warung pinggir jalan aja gimana? Pecel ayam atau nasi goreng gitu?”
Setelah mengunci pintu, Dipta memasukkan kunci dan kedua tangannya di saku jaket. Mendengar tawaran Aura dia langsung menolak, “tempatnya kotor!”
Aura bergumam, “Apa kabar dapurmu? Itu jauh lebih bau dan kotor!”
“Selama nggak lihat langsung, itu bukan masalah.”
Aura memutar mata putih besar di dalam hatinya, “Aku rasa matamu nggak normal. Masa dapur sekotor itu nggak lihat?”
Setelah berbicara, tidak ada respon dari Dipta.
Mungkin dia tidak mendengarnya, jadi Aura berkata lagi, "Ku rasa bukan cuma mata, kayaknya semua inderamu nggak normal.”
Pada saat ini, pria itu berhenti, memiringkan kepalanya dan menatap Aura dengan sedikit tidak senang.
Ditatap seperti itu, Aura tidak bisa menahan perasaan sedikit gugup. Mungkinkah dia baru saja mengatakan hal yang salah dan membuatnya tidak senang?
Memikirkan hal ini, Dipta tiba-tiba berkata, "Ada ide mau makan apa?”
Ah!
Aura menggelengkan kepalanya dengan kosong.
Rumah yang dia tempati sekarang semacam cluster. Setiap cluster seluas satu hektar dan hanya dibangun paling banyak 4 rumah yang pagarnya saling berhadapan.
Biarpun di tengah kota dan dekat dengan area perkantoran, situasinya sepi apalagi malam-malam begini, kontras dengan jejeran pertokoan dekat jalan besar.
Hampir tengah malam begini, hanya mereka berdua yang keluar berjalan kaki. Setelah melewati gerbang utama ada dua jalan yang sama-sama menuju ke jalan besar, menunjuk ke kiri Aura langsung mengusulkan.
“Kalau nggak salah ada minimarket di depan, kita ke sana aja.”
Benar saja, toko serba ada 24 jam yang masih buka, dan Aura masuk tanpa ragu-ragu.
Dia tidak tahu apakah Dipta pilih-pilih tentang makan, tetapi temperamennya tidak menjadi lebih baik, jadi dia mengambil sebungkus mie instan dan bertanya, "Ini mau nggak?”
Masih dengan kedua tangan di saku, kaki tinggi dan panjang,dia berdiri di pintu, menatap Aura, dan diam. selama beberapa detik, "terserah."
Sudah kayak cewek saja, ditanyain jawabnya terserah!
Aura menjulurkan lidahnya, mengambil lima bungkus mie goreng dan lima bungkus lagi rasa kari ayam, menyambar sebotol saos dan bubuk cabai.
Nggak sehat cuma makan mie saja tanpa ada tambahan protein, Aura berjalan ke lemari pendingin mengambil dua bungkus sosis kanzler dan satu bungkus besar bakso, dan melihat ada telur di bingkai di pintu, dia mengambil beberapa telur lagi, lalu pergi ke kasir.
Setelah dipindai oleh kasir, dia menyerahkan barang-barang itu kepada pria itu.
Dipta mengangkat jarinya baru saja akan berbicara, Aura sudah mendahului, "Jangan bilang tanganmu berharga, aku masih keturunan kanjeng ratu Roro Kidul, tanganku jauh lebih berharga!”
Dipta mengambil tas itu tanpa daya, tetapi ketika dia hendak pergi,” Tunggu,” Aura menahan pergelangan tangannya dan menolak untuk melepaskannya.
Pria itu bertanya dengan tidak sabar: "Apa lagi?"
"Bayar."
Aura berkata tanpa basa-basi, dia berjanji untuk memasak tetapi nggak pernah berjanji untuk membayar makanan, dia bahkan tidak mampu membeli makanannya sendiri, bagaimana dia bisa membeli makanan buat laki-laki yang begitu kaya.
Katanya masih keturunan Kanjeng Ratu Roro Kidul, tapi nggak punya duit buat bayar. Tumbal pesugihannya kurang?
Pria itu mencibir saat melihat melihat jumlah yang tertera layar komputer, mengambil dompet, mengeluarkan selembar kartu.
Setelah menekan nomor pin, pembayaran di proses. Kemudian mereka angkat kaki dari minimarket dengan satu kantung belanjaan.
Dalam perjalanan, Aura mau tidak mau bertanya kepadanya, “Dipta——"
Dua kali Dipta mendengar gadis itu memanggilnya secara langsung, suaranya imut.
"Deep Talk, yuk--" Aura memanggilnya lagi, kali ini sambil ketawa.
Dipta tidak menganggap itu lucu, dan terus berjalan.
Aura berjalan beberapa langkah untuk mengejar, "Deep talk… deep talk, ada yang mau aku tanyain nih.”
Dipta melirik dengan mata yang mengancam, menyuruhnya diam.
Aura buru-buru mengganti namanya menjadi "Tuan Tuan muda."
“Kenapa?” Suara pria itu tanpa suhu.
Aura mengikuti langkahnya, mengangkat lehernya dan bertanya kepadanya, “Kenapa dapurmu amat sangat kotor?"
Dipta mencibir, seolah-olah gadis itu mengajukan pertanyaan yang sangat bodoh, "Tentu saja karena namanya dapur kotor."
"..."
Tidak ada yang lebih terdiam dari ini, "Kalau gitu ganti nama aja, dapur bersih jangan dapur kotor.”
Dipta berhenti dan menatapnya. Di bawah sinar bulan, kulit pria itu dingin dan jernih, dan dia benar-benar memiliki temperamen seorang tuan muda kaya, yaitu, dia sedikit canggung ketika mengatakan sesuatu, "Aku senang, kamu yang bersihin kan?"
"..."
Sangat disayangkan Aura nggak punya kesempatan untuk membantah.
Sampai di rumah, Aura memasak mie, dan keduanya memakannya, lalu dengan seenaknya naik ke atas meninggalkan Aura sendirian di dapur mencuci piring.
Dia pikir seorang pria kaya akan pilih-pilih makanan, tapi dia tidak berharap mie instan dimakan dengan lahap, dan tidak sedikitpun yang tersisa, atau mungkin karena dia sudah kelaparan?
Akhirnya menyelesaikan pekerjaannya di dapur, Aura kembali ke kamar dan mulai membereskan barang-barangnya yang membuatnya sangat pusing.
Selain tempat tidur besar yang empuk, ada meja komputer, kursi komputer, dan lemari cantik. Setelah dibuka, ternyata kosong. Itu hanya untuknya.
Dia menyeka lemari dengan ujung jarinya, dan tidak ada debu sama sekali, sepertinya seseorang telah membersihkannya secara khusus dan itu sempurna.
Setelah menyusun pakaiannya ke dalam lemari, dia pergi gosok gigi kemudian melemparkan dirinya ke tempat tidur.
Lima menit kemudian terdengar suara napasnya yang teratur.
Aura merasa bahwa dia baru memejamkan mata sebentar dan terbangun oleh ketukan pintu dari luar.
"Kalau kamu nggak bangun, aku dobrak pintunya."
Ini adalah suara Dipta.
Aura menggosok rambutnya tanpa pandang bulu, mengambil teleponnya dan mengusap layar untuk melihat jam.
Masih jam enam kurang, semalam dia tidur jam dua malam, artinya baru empat jam, dan ini akhir pekan.
Mau tak mau dia menjadi sedikit marah. Kemudian bangkit dan berjalan ke pintu, dan membuka pintu dengan energi untuk bangun.
Dia melihat seorang pria dengan kepala seperti rumah anjing di luar pintu, dan bertanya dengan itu. suara yang sangat tidak menyenangkan, “Ini masih pagi, bisa nggak jangan berisik?!”
"Cepat buat sarapan!”