44

3713 Kata
Aura meraung dalam hatinya, nggak habis pikir dengan jalan pikiran Dipta. Yang benar saja pagi-pagi buta begini sudah minta sarapan! “Tuan muda,” Aura memanggil dengan nada sarkas, “Aku baru pindah kemarin, bersihin dapurmu yang kayak tempat pembuangan sampah, ke minimarket, masak, cuci piring, rapiin barang-barang, dan baru tidur jam dua malam. Sekarang baru jam enam, dan kamu sudah minta sarapan. Bisakah kamu berbelas kasih, biarin aku tidur sampai jam delapan?” AA “Tapi aku sudah lapar,” kata Dipta. “Ini Jakarta, Bos. Jalan ke depan sedikit, banyak yang jual sarapan. Ada nasi uduk, bubur ayam, mie ayam, lontong sayur. Tinggal pilih aja, atau kalau males jalan, pakai Grab atau Gojek. Tinggal siapin duit, beres!” Dihadapkan dengan omelan panjang lebar ini, Dipta nggak merasa takut sama sekali, juga nggak ada tanda-tanda kemarahan, dan hanya mengangguk, “Oke, aku pesan pakai Gojek aja.” Aura merasa puas, ketika dia akan menutup pintu, Dipta menjatuhkan ancamannya. “Ngomong-ngomong, buat uang sewa, tolong segera dibayar selama tiga bulan di depan.” Untuk orang yang sedang hidup di bawah garis kemiskinan, kata-kata membayar sewa tiga bulan di depan setara dengan mengambil nyawanya. Demi supaya tetap bisa tinggal di sini, gadis itu mengalah. Dia menggosok kotoran matanya, kemudian meraih bagian belakang kaos pria yang akan berbalik dan pergi. “Aku cuci muka dulu, kamu tunggu depan TV.” Pria itu puas, mengangguk, dan berbalik pergi. Aura menyikat giginya, mencuci mukanya, membersihkan wajah dengan sabun, lalu secara mengambil celana pendek hitam dan memadukannya dengan kemeja pas badan, kemudian mengambil sepatu sandal bertali. Ketika Dipta melihatnya keluar, dia terkejut, mengapa gadis ini terlihat lebih pendek dari kemarin? “Ayo!” Dahi pria itu berkerut, “Nggak pergi sendiri?” Aura menggeleng. Karena sudah bangun pagi-pagi, rugilah cuma beli sarapan. “Kulkasmu nggak ada isinya. Sekalian aja kita belanja ke pasar.” Dipta terlihat enggan, “Aku nggak tahu di mana pasarnya.” “Kan bisa nanya sama orang!” sahut Aura nggak mau kalah. Jangan harap pria itu bisa santain setelah menganggu tidurnya! Dipta bangun dengan malas dari sofa, dan mengikuti langkahnya keluar, mengeluarkan mobil dan pergi ke pasar modern yang ditunjukkan tukang ojek. Aura yang masih dendam sengaja membeli bahan makanan yang mahal tanpa menawar, nggak peduli apakah itu enak atau nggak. Toh, yang dipakai buat bayar bukan uangnya. Dan Dipta yang sepertinya baru sekali datang ke pasar juga nggak keberatan, dia membayar apapun yang diambil Aura tanpa banyak protes. Dua orang yang belanja dengan royal tentu saja bikin senang yang jualan. Seorang ibu yang menjual dua kilo ayam diatas harga normal tersenyum lebar, memberikan belanjaan Aura. “Ini Neng, ibu tambahin bonus ati ampela sekalian sama ususnya.” Aura mengambil bungkusan itu, bilang terima kasih, dan nggak memperhatian wajah gelap Dipta. “Anjing siapa yang mau kamu kasih itu?” “Kasih makan apa?” “Jeroan ayam tadi,” sahut Dipta dengan ekspresi jijik. “Ohh,” Aura memasang wajah datar. “Jadi aku anjing, begitu?” Dan Dipta tidak komentar lagi Sebelum pulang dia membeli dua porsi soto ayam untuk mereka sarapan di rumah. Selesai menghabiskan semangkok soto dan dua potong perkedel, Dipta rebahan sambil main hape. Aura lanjut menyiangi sayur, membersihkan ikan dan daging, menyiapkan bumbu kemudian memasukkannya ke dalam kontainer berukuran sekali masak. Hari pertamanya sebagai tukang masak, Aura membuat pokcoy tumis bawang putih dengan tambahan bakso sisa semalam dan udang goreng cabai. Ati, ampela, dan usus yang tadi sudah dibersihkan dan ditusuk seperti sate dan diungkep kuning, kemudian di goreng. Itu jatahnya buat siang. Bodo amat sama omongan Dipta yang bilang itu makanan anjing. Untuk pencuci mulut, dia merebus sebungkus bubuk agar-agar, dua bungkus bubuk minuman cokelat, dan sekotak s**u ultra. Cairan yang sudah mendidih ia biarkan setengah dingin, kemudian pindahkan lagi ke dalam kotak s**u yang sudah kosong. Dinginkan. Setelah tugasnya selesai dia menghampiri Dipta, “Aku sudah masak, tinggal tunggu nasi mateng. Habis ini aku mau tidur lagi, awas aja kalau ganggu!” Gadis itu mengepalkan tinjunya di depan wajah Dipta, kemudian pergi dari sana. Beberapa detik kemudian, dengan suara keras, pintu kamarnya tertutup. Setelah tidur hampir sepanjang hari, tubuhnya lebih segar dan punya banyak energi. Ketika melihat meja makan, hanya ada sedikit sayur dan lima potong udang. Sate jeroannya raib. Ternyata tuan muda sudah berubah menjadi seekor anjing. Selama akhir pekan, tidak ada yang dikerjakan Aura selain rebahan, memasak untuk Dipta, dan membersihkan dapur. Baru pada Minggu malam dia tiba-tiba teringat dengan formulir pelatihan yang belum ia pelajari. Jadi sambil menunggu ayam yang ia masak untuk makan malam matang, Aura mempelajari materi latihan hari Jum’at kemarin. Matanya terangkat, mulutnya melengkung, memperlihatkan dua lesung pipit yang indah, dia hanya bisa mengangguk. Untungnya, pekerjaan yang nggak sengaja ini adalah awal yang baik. Saat dia sedang konsentras, tiba-tiba dia merasakan sakit di betisnya, dan melihat kaki besar yang baru saja menendang terlepas dari betisnya. Aura duduk dan menatap Dipta, "Sakit tau!” Pria itu duduk di sebelahnya dan berkata perlahan, "Kamu nggak nyium bau gosong dari dapur?" "Apa--" Aura segera melemparka formulir di tangannya dan memakai sandalnya lalu berlari ke dapur yang berasap sambil berteriak, "Ayamkuuuu—“ Dipta meliriknya dengan ringan, "Bodoh!" Dia mengambil formulir yang dia jatuhkan, membaca semua pertanyaan tentang perangkat lunak dengan serius. Selesai membaca, Dipta menggerakkan sudut mulutnya, bibirnya yang tipis dan sinis mengatup, "Naif." Melihat pemilihan pekerjaan di belakang, dia melirik dapur, dan ternyata dia seorang karyawan yang baru mau masuk kerja setelah lama menganggur, nggak heran miskin dan sedikit kekanak-kanakan. Tidak, itu bahkan bukan pemula, paling-paling hanya dijadikan umpan untuk mendapatkan pelanggan baru. Lima menit kemudian, Aura berlari kembali dengan sandalnya dan berdiri di samping Dipta, "Makan malam sudah siap." Dipta meliriknya dengan sembarangan, "Kamu nggak usah lari-lari kayak pembantu baru. Aku bisa dengar teriakan dari dapur!” Andai saja membunuh orang bukan perbuatan melanggar hukum, Aura ingin menceki pria itu sampai mati. Matanya yang bulat menatap pria itu dengan tajam, kemudian perhatiannya beralih pada tangan yang memegang soal pertanyaan yang sedang ia pelajari, dan dia berhenti, seolah-olah sebuah rahasia kecil ditemukan, wajahnya memerah, dia menarik formulir itu dan berkata dengan tidak senang. "Siapa yang mengijinkanmu melihatnya?” Dipta berdiri dan berkata dengan sikap yang sangat acuh tak acuh. "Ruang tamu adalah area publik. Kamu naro itu sembarangan, dan aku nggak sengaja baca.” Setelah jeda, dia berhenti dan menatap gadis yang kepalanya lebih pendek dari dirinya, dan mengangkat alisnya, "Aku bisa bantu kasih jawaban yang masuk akal buat pertanyaan di sana.” Aura menipiskan bibirnya. Nasihat apa yang bisa diberikan oleh tuan muda kaya yang bahkan nggak bisa membersihan dapur? Saran bagaimana cara menanam jamur? Ketika dia memikirkan jamur dalam cangkir kopi, Aura merasa sekujur tubuh jadi gatal, dan dia tanpa sadar menggoyangkan bahunya, rasanya menakutkan. Butuh waktu lama untuk membuang bagian gosong pada ayam bakar yang hangus barusan. Hanya ada sedikit bagiand dari ayam yang bisa diselamatkan, Aura memberikannya pada Dipta, dan bagian yang agak gosong untuk dirinya sendiri. Ketika menggigit ayamnya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. Karena ayahnya pemilik rumah makan padang yang laris, dia mewarisi kepekaan ayahnya terhadap rasa masakan. Apapun jenis masakannya, dia bisa membuatnya dengan membaca resep sekali, apalagi saat praktik. Jadi untuk ayam gosong, ini adalah kegagalannya yang paling memalukan. Diam-diam melirik Dipta, yang sangat pemilih, kaya dan muda, dan cerewet soal makanan. Dia siap untuk dicela oleh pria itu, tetapi dia membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut, secara tak terduga. Dipta bahkan tidak mengerutkan alisnya sama sekali, dan mengambil beberapa suap besar, dia bahkan memakan paha ayam gosong tanpa sedikitpun protes. Bahkan caranya makan seperti orang yang kelaparan. Aura tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan bibirnya, Bukankah dia sering makan enak dalam hidupnya? Melihat kembali ke seluruh rumah, dia mencondongkan tubuh ke arah Dipta, kakinya menendang betis pria itu, “Dipta!” Pria itu meletakkan sendok dan menatapnya dengan saksama. “Apa?” Aura dengan cepat mengubah mulutnya, mengangkat dagunya, dengan ekspresi menuduh di wajahnya, "Jujur, Ini bukan rumahmu kan?" Dipta menyipitkan matanya sedikit, "Hah?" Aura melanjutkan, "Aku curiga rumah ini punya saudara yang kamu jaga selagi yang punya pergi, dan kamu memanfaatkan untuk dapat uang tambahan. Benar kan?” Dipta menatapnya, otot-otot di wajahnya berkedut, kemudian dia mengambil sendoknya, lanjut makan. Diamnya Dipta di artikan sebagai iya oleh Aura. “Kamu menyuruhku dengan semena-mena. Bagaimana kalau pemilik asli datang dan ngusir aku dari sini?” “Di usir ya pergi, apa susahnya?” Aura tertegun, agak terdiam. Bisakah seseorang begitu kejam? Aura memegang wajah kecilnya di tangannya, Tatapannya melirik bolak-balik pada pria itu. “Ngomong-ngomong siapa yang makan makanan anjing diatas meja tadi?” “Aku yang buang!” “Ohh, dibuang. Ku kira ada anjing kepala item yang makan, soalnya cuma sisa tusukannya.” Pada saat berkata seperti itu, Aura akhirnya mendapatkan keinginannya untuk melihat bahwa ekspresi tenang di wajah Dipta pecah. Dipta meliriknya, berkata dengan ringan, “Berhenti ngoceh, ada kulit cabe di gigimu!” Aura menutup mulutnya tanpa sadar, dan kemudian menyadari dengan melihat ke meja, selain saos botolan, di sana nggak ada cabai sama sekali. “Sialan!” DIpta tertawa rendah, mengabaikannya dan terus makan. Karena ayamnya nggak enak, Aura hanya mengambil beberapa gigitan sebelum meletakkan peralatan makannya, dan kemudian mengambil formulirnya untuk belajar, sambil menunggu Tuan muda selesai makan, dan kemudian mencuci piring. Gadis itu duduk menyamping, dengan tenang menatap A4 di tangannya dan mengerutkan kening dari waktu ke waktu. Dua helai rambut di dahinya menggantung ke bawah, dan t**i lalat kecil di sudut matanya bisa dilihat dari celah rambut. Dipta menggerakkan jari-jarinya.Untuk beberapa alasan, dorongan untuk merapikan rambutnya muncul di hatinya, tetapi pada akhirnya dia masih tidak melakukan apa-apa. "Aku bisa bantu jawab surveynya kalau kamu mau, nanti aku kasih saran yang baik Aura mengangkat kepalanya untuk menatapnya, dia sedikit bingung dengan karirnya. Dia awalnya belajar akuntansi, tetapi dia secara alami berpikir bahwa dia bisa menjadi pekerja keuangan yang sangat baik di masa depan. Sayang sekali tidak ada perusahaan yang mau menerimanya. Orang tua di keluarga berharap dia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri. Namun, sekarang dia telah memasuki perusahaan teknologi dengan kebetulan, dan telah berlatih selama seminggu, bahkan posisinya belum diputuskan, apalagi gajinya. Dia terdiam selama beberapa detik, menatap Dipta dan bertanya, "Menurutmu, kerjaan apa yang cocok buatku?” DIpta meletakkan mengambil kain lap bersih untuk mengelap tangannya, menyesap dari gelas air, dan berkata dengan serius, "Tentu saja cocok di bagian marketing." “MArketing?” Aura menatapnya dengan bingung, “Kenapa kamu bisa berpikir begitu?” Dipta balik bertanya, "Pernahkah nggak kamu dengar tentang ilmu sukses serorang marketing? Kamu sudah punya itu semua.” “Seriusan?”Jawaban itu membuatnya lebih bersemangat. Pria itu mengangguk, “Serius, kamu udah punya semua kelebihan yang dimiliki seorang marketing sukses.” "Kelebihannya apa?" Dipta mengangkat telunjuk, "Satu, nggak tahu malu, dua, nggak punya malu, tiga, nggak kenal malu." Aura Menatap Dipta dengan menunjukkan ekspresi kesal. Dipta balas menatapnya dengan tampang polos, “Kenapa? Memang benar kan?” Setelah tiga detik, itu pecah. Dia berdiri dan memukul tangannya di atas meja, "Dipta, kamu cuci piring!” kemudian mengangkat kakinya, dia berjalan ke kamar tidur. Pria itu memanggilnya: "Hei, aku akan menagih uang sewamu!” Aura menjawab tanpa menoleh ke belakang, "Terserah, aku ngga keberatan tinggal di kolong jembatan!” Dipta menggerakkan bibirnya, sebelum mengeluarkan suara, Aura sudah berteriak lagi, "Jangan berpikir untuk nggak mencuci piring, kalau nggak, nggak akan ada makanan untuk dimakan besok pagi!” Dipta memandangi dua piring kotor dan berminyak di atas meja,itu piring untuk dua orang. Akhirnya dia bangkit dengan sedikit enggan dan melemparkan dua piring, dua tempat lauk, dan dua pasang sendok langsung ke tempat sampah. Saat dia berjalan ke atas, dia melihat jari-jarinya yang putih dan ramping, "Bagaimana bisa tangannya yang halus dan berharga ini melakukan pekerjaan kasar.” Keesokan harinya, Aura bangun jam setengah enam, dan mulai sibuk pagi-pagi. Untuk pagi ini, Aura memasak nasi goreng, menceplok telur, dan menggoreng sosis. Memasak gulai ikan dan menggoreng perkedel untuk makan siang. Meletakkan semua di meja makan dan meninggalkan catatan untuk Dipta, kemudian pergi mandi lalu bekerja. Perusahaan telah mengaturnya untuk pergi ke bagian teknis. Orang-orang yang mengikuti pelatihan bersamanya juga diatur untuk pergi ke bagian lain dalam perusahaan, tetapi dia adalah satu-satunya yang bergabung dengan bagian teknis. Ketika Aura datang untuk bergabung, manajer bagian teknis sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota Supervisornya namanya Tiwi, seorang wanita muda berpenampilan rapi. Umurnya mungkin sekitar 30-an tahun. Saat Aura berdiri di depan mejanya, dia sedikit mengagumi wanita yang sibuk menelepon. Ketika akhirnya wanita itu menutup telepon, dia menyapa, "Pagi, Bu, saya kesini untuk melapor.” Tiwi sedang memberikan panduan jarak jauh kepada pelanggan melalui Internet. Dia bahkan bisa mengangkat kepalanya, dia berteriak, "Waan, sini dulu!” Aura mengikuti dan melihat keluar, menduga bahwa Tiwi sibuk dan mencari orang lain untuk mengajarinya. Karena belum tidak punya pengalaman kerja, dia pikir supervisor akan mengajarinya secara langsung. Meskipun agak kecewa, Aura tetap tersenyum saat pria muda seusianya masuk menghampiri Tiwi, dan hanya melirik Aura sekilas. “Kenapa Mbak?” Ketika pria muda itu menatapnya, Aura tersenyum ramah padanya. Bagaimanapun, dia ingin menjadi rekan kerja yang akan bekerja sama satu sama lain di masa depan. Dia ingin memperlakukan rekan-rekannya dengan baik untuk memfasilitasi kemajuan pekerjaan di masa depan. Untuk setiap kendala pada satu set perangkat lunak, jika hanya perangkat lunak kecil, seorang insinyur dapat menyelesaikannya, tetapi jika itu adalah perusahaan skala besar, maka harus ada tim implementasi, yang dipimpin oleh seorang manajer proyek, dan beberapa kecil anggota bekerja sama. Setiap orang memiliki pembagian kerja yang jelas dan saling membantu. Selesai. Tiwi menatap Awan, lalu menunjuk Aura dengan dagunya, dan berkomunikasi dengan pemuda itu dalam diam. Kemudian dia menatap Aura, berkata, "Ini Gunawan. Dia masuk sebulan lebih dulu dari kamu. Dia telah mempelajari semua perangkat lunak yang biasa dijual. Sementara ini, dia yang akan ngajarin kamu. Kamu juga harus banyak nanya biar nggak bingung Ada begitu banyak informasi sehinggaa Aura kadang bingung sendiri, tetapi karena itu adalah pengaturan perusahaan, dia pasti akan menerimanya, jadi dia dengan sopan mengangguk, "Terima kasih Bu Tiwi, saya pasti akan belajar dengan keras dan berusaha biar mengimplementasikan teknologi perusahaan secara mandiri lebih awal.” Tiwi juga tidak mengangkat kepalanya, “Kalian boleh pergi.” Aura menganggukkan kepalanya, mengepalkan tinjunya diam-diam, dan diam-diam memasang Bendera untuk dirinya sendiri di dalam hatinya. Dia harus belajar keras dan kembali normal lebih awal. Gunawan adalah anak laki-laki kurus tinggi, umur mereka sepertinya sepantaran, Aura yang bisa dibilang pendek hanya setinggi dagunya saat mereka berjalan berdampingan. Dia mengikuti Gunawan ke area kerja di luar, melihat posisi di sebelahnya dan berkata, "Nggak ada orang di sana, kamu bisa menggunakan komputer itu.." Sikapnya tidak dingin atau hangat, dan wajahnya setenang air, seolah-olah tidak ada emosi. Aura tersenyum padanya lagi, "Terima kasih Mas Awan," dia juga tersenyum dalam-dalam, "mohon bantuannya, kalau aku bikin kesalahan jangan segan-segan buat menegur.” Setelah beberapa saat, dia melanjutkan, "Jum’at besok ku traktir makan malam, jangan menolak.” Melihat senyumnya yang imut, rekan itu, yang tanpa ekspresi, akhirnya menunjukkan senyum pada saat ini, hanya terlihat sedikit malu, "Jangan terlalu sopan, asal aku tahu, aku pasti akan mengajarimu.” Aura tersenyum lagi, memuji dirinya sendiri, “Jangan khawatir, aku orang pekerja keras dan belajar dengan cepat."  Ada lebih dari selusin posisi kerja di area kerja, tetapi hanya ada dua atau tiga di kantor, semuanya tenggelam dalam apa yang mereka lakukan. Bahkan ketika Aura datang bersama Gunawan, nggak ada yang kepo untuk mencari tahu. Kemudian, Aura mengetahui bahwa setiap orang pergi ke lokasi pelanggan untuk menerapkan atau melakukan layanan purna jual. Biasanya, para insinyur hanya memiliki sedikit waktu di unit. Bahkan jika mereka tinggal di perusahaan, mereka perlu menelepon pelanggan atau memecahkan masalah jarak jauh setiap saat. Pada titik ini, Aura secara resmi memasuki tahap magang. Ketika dia pulang di malam hari, dia pergi ke dapur untuk melihatnya, karena dia meminta Diptai untuk mencuci piring setelah makan siang. Dia pergi bekerja di pagi hari dan hanya melihat bahwa tidak ada apa-apa di tempat cucian piring. Setelah memeriksa lagi, tidak ada apa pun di dalam atau di luar dapur, hanya ketika dia akhirnya menyadari identitasnya begitu peri turun ke dunia, dia menjadi orang biasa, dan melakukan pekerjaan manusia. Aura kembali ke kamar tidur dan berganti pakaian rumah, dan keluar untuk menyiapkan makan malam lima menit kemudian. Menandai kalender di dapur, ternyata dia sudah memasak untuk Dipta selama empat hari, meskipun hari pertama datang di malam hari, bukankah dia juga memasak mie buatnya? Seharusnya malam ini masa percobaan tiga harinya selesai, dan Dipta nggak akan bisa lagi mengancamnya untuk minta bayaran sewa rumah setiap kali pria itu memintanya melakukan sesuatu. Aura melirik ke tangga, dan nggak ada tanda-tanda pria itu turun. Lagi pergi kah? Hanya saja, dia sudah tinggal di sini selama beberapa hari, dan sekalipun belum pernah melihat pria itu keluar, kecuali ke pasar dengannya tempo hari. Apakah dia seorang pengangguran? Aura memetik sayuran di tangannya, menggelengkan kepalanya, Tuan muda ini benar-benar misterius. Berdiri di depan kompor, dia menggoreng ayam fillet yang balut tepung. Setelah selesai menumis potongan ayam goreng dengan saos mentega, dia mematikan kompor dan mencari piring saji yang digunakan untuk ayam gosong semalam. Piring itu sangat indah, dan Aura langsung suka ketika pertama kali melihatnya di rak, jadi tidak peduli apa hidangannya dalam dua hari ini, dia menggunakan piring itu untuk menyajikan lauk yang ia buat. “Hah, di mana piringnya?” Aura mencari-cari di dapur, tetapi tidak menemukannya. Tiba-tiba dia menyadari sebuah masalah, mengapa piring dan peralatan makan yang dipakai semalam menghilang? Dipta nggak mencucinya? Matanya tanpa sengaja melihat ke tempat sampah. Tempat sampah itu adalah kantong sampah baru. Tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali daun yang baru saja dia petik dan jatuhkan. Mungkinkah dia meletakkannya di tempat lain? Ketika saya akan bertanya pada Dipta, dia melihat sosok tinggi berdiri di pintu dengan tangan di sakunya, terlihat nyaman dan puas. “Apakah makanannya sudah siap?” Suara pria itu rendah dan dalam, selembut dan seindah cello. Aura balik bertanya, "Di mana piring tadi malam?" Mata pria itu melayang ke lemari, "emang nggak ada piring lain?” Aura sangat ingin keluar dari wajan, mengambil piring dan mengisi piring, dan memastikan lagi: "Apakah kamu tidak membuang piring dari tadi malam?" “Tetot!” Dipta mengangguk dengan bangga, "Anda benar! Kamu menyuruhku mencucinya, dan aku membuangnya!” Aura tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Sedikit dongkol dia berjalan ke lemari mengambil piring saji yang baru. Selama tinggal di sini, Aura memperhatikan satu hal. Faktanya, selera Dipta sangat biasa, dan tidak ada yang terlalu rewel atau ada pantangan. Selama dia memasak, pria itu makan dengan sangat lancar. Dia nggak tahu apakah itu karena keahliannya sendiri atau karena selera pria itu yang standar. Tapi yang jelas, hidangan yang dibuat Aura selalu dia habiskan. Awalnya Dipta perlahan mengambil beberapa lauk, frekuensi memindahkan lauk ke piringnya menjadi lebih cepat. Tidak perlu waktu lama untuk hidangan di meja dia habiskan. Setelah Dipta selesai makan, dia jelas-jelas dalam suasana hati yang baik. Dia menyeka mulutnya dengan handuk kertas dengan elegan, dan ekspresinya mereda. Aura memandangi meja peralatan makan dan sendok. Dia sedang mempersiapkan untuk mengatur kata-kata, "Jadi, apakah masa percobaan tiga hari ku sudah selesai?" Diptai mengingat situasi dua orang dalam tiga hari terakhir. Temperamen gadis itu keras, agak lambat di tempat kerja, dan dia tidak mengedipkan mata. Dia juga memberinya nama panggilan acak, dan dia tidak tahu cara untuk menghormatinya. Kesalahan yang paling parah adalah gadis itu berani menyuruhnya. Omong-omong, saya masih tidak tahu kedalamannya, tidak tahu bagaimana bertanya dengan rendah hati, dan tidak tahu bahwa setiap kata-katanya sebenarnya adalah kata yang baik, mungkin, mungkin, sepertinya ... tidak masalah. Mengangguk, mengatakan apa yang ada di hatinya, dan akhirnya menambahkan, "Hampir nggak lulus.” Aura yakin dengan keahliannya, menatapnya, menghadapinya kalimat demi kalimat. "Berdasarkan apa penilaiannya? Semua masakan yang aku buat, bahkan yang kamu bilang makanan anjing itu habis kamu makan. Bisa-bisanya aku hampir nggak lulus?!” Dipta mengulurkan jari dan mengetuk meja, bicaea dengan nada tuan muda standarnya, "Ingat pertama kali datang? Kamu membuatku kelaparan?” “Kamu nggak bilang apa-apa sebelumnya, nggak salah dong kalau aku kira kerjaanku dimulai besoknya.” “Salahnya, kenapa kamu nggak tanya?” Dipta melirik Aura seolah-olah dia tahu apa yang sedang terjadi di dalam dirinya. “Tetapi nggak apa-apa. Aku maafin, karena sudah memberiku mie instan untuk pertama kalinya dalam hidupku.” Aura mencibir, kemudian berdiri dan membungkuk berkali-kali untuk menyindir, “Terima kasih, terima kasih, Tuan mudaku benar-benar murah hati.” Dipta menyapu wajah Aura dan menambahkan kalimat lain, “Karena aku sudah memberimu tempat tinggal dan makan, nggak ada salahnya kamu bersikap hormat. Tapi menurutku ini berlebihan. Duduklah, untuk percobaan kali ini kamu lolos, tetapi lain kali cukup dengar perintahku dan jangan membantah.” Aura membuka mulutnya tanpa berkata-kata, berbicara dengan cemberut. Selesai makan Dipta duduk di sofa dengan cangkir teh dan bersandar. Kedua kakinya yang panjang dan ramping ditumpuk, dan gerakannya malas dan santai. Melihat ke arah restoran, gadis itu kembali untuk mengemasi barang-barangnya setelah dia membuka giginya dan menari cakarnya. Benar-benar konyol. Setelah Aura mencuci peralatan makan dan pergi ke halaman kecil, Dipta nggak tahu kenapa dia malam-malam ke sana pada awalnya. Kemudian, ketika dia mendengar tong sampah berderak di pintu, jantungnya berdetak kencang, dan seluruh orang terpental dan berteriak di pintu, “Hei pendek, ngapain kamu di sana?” Tanggapannya adalah suara gemeretak tong sampah yang terus menerus. Biasanya setiap pagi jam 8 pagi, ada tukang sampah yang datang rumah untuk mengambil sampah, tapi hari ini mereka tidak datang, jadi… Dia teringat sesuatu piring tadi malam… Dipta meletakkan cangkir teh dan bergegas keluar. Tiba-tiba dia ingat bahwa gadis itu baru saja bertanya apakah masa percobaan telah berlalu. Ini berarti dia ingin mendapatkan piringnya kembali agar dia dapat terus menggunakannya. Orang miskian adalah tipe orang pelit yang akan mengambil sesuatu yang masih bagus dari tempat sampah. Sayang sekali dia keluar terlambat. Ketika dia berjalan ke pintu, Aura sudah kembali ke dapur dengan dua piring dan dua mangkuk di tangannya. Pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening. Itu sangat berminyak dan kotor! Aura memandang pria yang menghalangi pintu, dan menatapnya dengan tatapan kosong: "Apa, kotor?" Sambil mencibir, "Pancimu sebelumnya lebih kotor dari ini, bukankah kamu menggunakannya dengan baik?" Dipta membiarkan sudut terbuka, Aura menyeretnya ke dalam rumah seperti menghindari wabah, memasukkan piring ke wastafel, mencubit pinggangnya dan menatap Dipta. "Cuci semua piring ini, jangan berkelit, aku akan mengawasimu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN