51

4183 Kata
Jam setengah sepuluh pagi, Maura sudah menyeret satu koper berisi pakaian di tangan kanan, kantong kertas di tangan kiri, dan menggendong tas ransel dipunggungnya menuju peron kereta api. Matanya sembab karena mengantuk. Wajar saja, dia nggak tidur semalaman, nggak habis pikir dengan kenekatannya mencium Jevan tanpa berpikir tentang bagaimana reaksi orang tua pria itu, terutama ibunya. Maura baru bisa memejamkan matanya jam tiga pagi, itu juga setelah menghitung lusinan domba dalam pikirannya, dan terbangu tiga jam kemudian karena teleponnya terus-terusan berdering. Itu telepon dari Jevan yang berkata, “Ini aku, Jevan.” Kelopak mata Maura hanya terbuka sedikit saat menjawab, “Heeem, kenapa?” “Jam berapa keretamu berangkat?” “Jam sepuluh.” “Oke, jam delapan aku sampai di rumahmu.” Kelopak mata Maura segera terbuka sepenuhnya mendengar ini, “Nggak usah. Biar papaku aja.” Bukan tanpa alasan dia menolak. Pertama, Maura masih merasa malu untuk bertemu lagi dengan pria itu. Kedua, dia dan Jevan adalah dua orang asing yang pernah berinteraksi sebelumnya. Kecuali, saat malam yang mereka lalui di atas tempat tidur yang sama. Jadi, dia nggak mau merepotkannya. Yang ketiga, dan yang paling penting adalah, sejak mengetahui bagaimana latar belakang Jevan dan keluarganya, ibunya sudah kehilangan minat untuk menjadikan pria itu sebagai menantu. Dia bisa membayangkan bagaimana wajah cemberut ibunya saat melihat pria itu tiba-tiba muncul di rumah pagi-pagi. Rupanya, Jevan juga sama enggannya dengan Maura. Setelah mendapat penolakan, dia hanya melontarkan kata-kata yang akan menyelamatkan dirinya sendiri. “Kalau begitu, kalau ibuku nelepon kamu, dan nanyain tentang ini. Bilang aja aku juga ikut ngantar ke stasiun.” Maura yang baru bangun tidur mengangguk dengan linglung, “Oke.” Tanpa bilang terima kasih atau mengucapkan selamat tinggal, terdengar nada sibuk di telepon. Jevan memutus sambungan secara sepihak. Maura cemberut, kecewa dan melempar telepon, dan segera bangun. “Kabari mama kalau sudah sampai sana.” Ucapan ibunya menarik pikiran Maura yang melanglang buana mengingat kejadian tadi pagi. “Iya, nanti di WA.” Karena tidak membeli tiket, pasangan itu hanya mengantar anak gadis semata wayangnya hanya sampai pintu depan. Perpisahan selalu melankolis, sudah sebesar ini, air mata Maura masih saja berlinang saat berpelukan dengan ayah dan ibunya. Maura melihat mereka pergi, berbalik dan hendak masuk ke dalam untuk menunggu kereta, ketika seorang pria berkemeja hitam tiba-tiba menghalangi jalannya. Dia terkejut, mencengkeram d**a dan menahan kaki belakang supaya nggak jatuh, dan makian yang siap keluar dari mulutnya dia telan lagi begitu meihat wajah acuh tak acuh di depannya. “Ibuku menyuruhku mengantar ini.” Jevan menyodorkan kantong kertas berukuran besar yang ia bawa dengan kedua tangannya. Dengan senyum canggung, Maura mengambil kantong kertas yang ternyata lumayan banyak dan berat. Maura sudah kepayahan menyeret koper besar, dan sekarang ditambah bawaan dari Jevan dan membuatnya semakin susah. Jevan yang menyadari hal itu menawarkan bantuan. “Biar aku yang bawain.” “Nggak apa-apa, aku bisa.” Dia berjongkong, membuka koper, dan meletakkan sebagian hadiah di sana. Jevan melihatnya dengan matanya yang rumit. Maura berdiri setelah menutup lagi kopernya, “Tolong bilang terima kasih ke mamamu.” “Oke.” Keduanya berdiri berhadapan tanpa bicara. Maura menghela napas panjang, ketika kaki pria itu melangkah dan melewatinya, dia memanggil. “Jevan…” Pria itu berhenti dengan jarak dua langkah dari Maura, “Ada yang lain?” “Cari cara supaya ibumu nggak membenciku saat kita putus nanti.” Sepuluh menit menjelang pukul enam sore, kereta memasuki stasiun tujuan. Maura menggosok kedua matanya, merenggangkan pinggang, setelah semua penumpang kereta turun, barulah dia berdiri dan menyeret kopernya. Dia menjadi penumpang terakhir yang keluar dari kereta. Maura yang membawa koper, menggendong tas ransel, dan mengenakan jaket denim segera berkeringat ketika dia keluar dari stasiun. Dia meletakkan koper dekat kakinya, mengambil ponsel untuk mencari taksi online ketika sebuah mobil S-Cross warna merah mengerem tepat di tempatnya berdiri. Jendela depan terbuka, satu kepala yang tampangnya sudah Maura kenal muncul dari sana. “Mauraaa…” Ingga, di dalam mobil mengedipkan mata padanya, dan kerutan dahi Maura menghilang begitu saja. “Mobil siapa, nih, Ingga?” “Punyaku lah.” Kerutan di dahi Maura muncul lagi, mengawasi Ingga yang keluar dari mobil. “Beneran punyamu? Ntar punya bapakmu lagi.” Ingga mengangkat tangannya bersumpah, “Nggak percaya ya udah.” Lalu mengambil barang bawaan Maura dengan satu tangan, dan memasukkannya ke bagasi mobil, kemudian berlari ke depan membuka pintu penumpang, membungkuk dengan hormat. “Silakan naik yang mulia. Mobil ini datang untuk menjemput Anda.” Maura tertawa melihat tingkah konyol Ingga. Dia mengangkat dagunya, melenggok seperti kucing, kemudian duduk di depan seperti layaknya bangsawan. “Ayo jalan.” Tawa kedua orang itu berderai bersamaan. Ingga ini teman sekantornya, dia masuk ke cabang Surabaya sebulan sebelum Maura pindah ke sini. Sebagai sesama karyawan yang baru masuk, secara otomatis mereka membentuk koloni bersama. Harus diakui Maura pernah naksir Ingga, iyalah, siapa yang nggak suka sama cowok cakep dan enak diajak ngobrol? Bukan hanya Maura, karyawan perempuan yang lain banyak juga yang naksir Ingga. Namun, Maura punya keunggulan sendiri yang bisa membuatnya bergaul akrab dengan pria ini, bukan unggul di segi fisik , melainkan mereka punya hobi yang sama. Misalkan, keduanya sama-sama penggemar berat superhero DCEU, tetapi berpaling ke MCU karena MCU lebih sering mengeluarkan film baru. Suka cari tontonan di netflix yang underrated. Dan, mereka juga paling suka memaki. Hanya saja, benih cinta ini segera layu sebelum bersemai. Pada saat itu, mereka bekerja lembur sampai jam sepuluh malam. Ingga yang sudah selesai, ngomel terus ke Maura supaya lebih cepat karena cuma tinggal mereka berdua di gedung, dan saat itu malam Jum’at. Maura yang ketakutan terus-terusan dijejali dengan cerita kuntilanak penghuni gedung, segera berlari setelah mematikan komputernya karena Ingga yang tumben banget terburu-buru sudah berada di depan lift. Maura masuk tepat sebelum pintu lift tertutup. Ternyata Ingga terburu-buru bukan karena takut sama kuntilanak, tetapi pacarnya sudah datang jemput dia. Setelah ditinggalkan sendirian, Maura pulang dan menjelajahi i********:, meembuka akun Ingga dan mengintip akun pacarnya, yang kebanyakan berisi foto mereka berdua dengan caption yang lebay. ‘Seumur hidup, jangan pernah mengkhianatiku.’ Dibawah foto bergandengan tangan, atau ‘makasih ya sayang udah masak buat aku.’ Untuk foto sepiring nasi goreng berbentuk hati. Meskipun hati Maura menangis melihat kemesraan itu, dia tetap memberi suka dan memberi komentar berupa emoticon hati dan bunga. Dan sejak saat itu, Maura membuang perasaannya jauh-jauh. Mending jomblo dari pada merebut pacar orang. Kemudian dia semakin bergaul akrab dengan Ingga, mengetahui lebih dalam bagaimana karakter pria itu yang sebenarnya, lama-kelamaan denyutan di hatinya menghilang. Sekarang dia dan Ingga hanyalah sepasang teman yang akrab. Maura mengencangkan sabuk pengamannya, dia melirik interior mobil dan mulai bertanya. “Ingga, seriusan ini mobilmu? Ngepet dimana bisa dapet duit banyak?” Ingga tertawa, menghitung dengan tangannya, “Abangku ngasih 100, ibu 75, sisanya ya nyicil sama bank.” “Berapa?” “Enam juta.” “Sinting! Nggak sisa banyak dong gaji bulananmu?” “Ada sisa 1.5. cukuplah buat makan sama pertamax sebulan. Toh untuk rumah udah ku bayar setahun ke depan.” Maura menggeser mengubah posisi duduknya, menyerong menatap pria yang sedang serius melewati kemacetan lalu lintas, “Kamu kan punya pacar, Ingga. Coba aja itung, sekali keluar buat malam Mingguan nggak mungkin cuma abis seratus, minimal dua lah. Belum kalau pacarmu minta—“ Maura tidak melanjutkan kata-katanya karena Ingga menyela dengan suara dingin. ”Kami sudah putus.” “Hah? Putus?” Maura terkejut, dan ketika dia melihat wajah pria itu lagi, tampangnya memang agak kuyu. Kenapa pria yang pernah dia sukai putus dengan pacarnya secara bersamaan? “Kok tiba-tiba? Masalahnya kenapa?” Ingga mengusap wajahnya dengan agak kesal. “Dia mau aku ke rumahnya pas liburan kemarin, tapi aku malah nemenin ibuku balik kampung.” Mata Maura membelalak, “Nggak mungkin cuma karena itu.” “Memangnya kamu punya ide karena apa lagi?” “Tapi kalian sudah pacaran selama enam tahun. Masa bisa putus cuma gara-gara hal sepele?” Ingga menoleh, dan berkata dengan serius. “Pasangan suami istri yang puluhan tahun menikah aja bisa cerai perkara naruh handuk, kenapa kami yang pacaran nggak bisa putus? Lagian dia juga keterlaluan sih, ini aku nemenin mama lho, bukan selingkuh. Masa ngambek gara-gara itu.” “Namanya cewek, lebaran maunya ditemenin biar nggak dikira jomlo sama keluarganya.” Sebelum Maura menasihatinya dengan kata-kata yang serius, Ingga melepas kemudi dan mengibaskan tangannya dengan wajah serius. “Nggak mungkinlah keluarganya nggak tau dia udah punya pacar! Story WA dia aja bentar-bentar foto kami berdua.” Ingga terus mengomeli sikap mantan pacarnya, “Sekarang dia melarangku nganter ibu, besok-besok bisa jadi aku dilarang berteman sama kamu. Lama-kelamaan aku nggak boleh bergaul sama orang lain!” Maura mengangguk dan memalingkan wajahnya. Biarkan saja dia ngomel-ngomel sendiri sampai puas. Mungkin setelah dua atau tiga hari, dia mulai menyesalinya dan pergi menemui mantan pacarnya untuk berbaikan. Setelah duduk dalam mobil untuk waktu yang lama, Maura mulai menguap. Memanfaatkan keheningan, dia memejamkan kelopak matanya, tetapi sebelum dia tertidur, Ingga malah membuka mulutnya. “Tumben kamu baliknya mepet, Ra? Ketemu cowok di sana?” Dia bertanya asal-asalan, tetapi Maura yang baru saja tertidur segera terbangun dengan wajah cerah. “Kalau aku kasih tau, kamu pasti nggak akan percaya.” Maura berkata dengan serius, “aku sudah tidur dengan seorang lak-laki.” Maura mengatakan itu dengan wajah serius dan sedikit bangga di sudut mulutnya. Ingga menatapnya dengan wajah meremehkan, menunggu wanita di sebelahnya tertawa dan bilang itu hanya bercanda. Namun, setelah lama menunggu wanita ini tidak mengatakan apa-apa. “Kamu pasti bohong.” Akhirnya Ingga bersuara. Maura mengalihkan pandangannya dengan perasaan dingin di hatinya, dan saat melihat ke depan, kendaraan yang lewat membuatnya sadar bahwa mereka masih berada dalam mobil, dan Ingga masih di depan kemudi. Maura sangat ketakutan sehingga dia mengulurkan tangan, dan memaksa supaya Ingga melihat ke depan. “Nyetir yang benar. Jangan bikin celaka!” Gerakannya yang kasar mengejutkan Ingga, dan dia segera melihat ke depan dengan panik. Hampir saja mobil barunya menabrak pembatas jalan. “Hampir saja!” Setelah hening selama satu menit, dia mengemudikan mobil dengan mantap dan Ingga berkata sambil tersenyum, Maura menyentuh dadanya dan memutar matanya ke arahnya dan memarahinya. Saat Maura masih mengoceh, Ingga mengalihkan ocehannya dengan. "Kamu bilang kamu sudah tidur sama cowok?” Dan Maura yang tidak pernah merahasiakan apapun dari Ingga mengangguk. "Yaah, begitulah.” "Kapan? Kok aku nggak ingat pernah tidur sama kamu?” Senyum meremehkan yang terukir di wajah pria itu membuatnya ingin memukul seseorang, tetapi Maura menahannya, hanya memberikan pandangan tidak sabar dan mengekspresikan dirinya dengan tatapan jijik. “Bukan kamu, tapi ini cowok yang aku taksir jaman sekolah dulu.” Ingga sedikit kecewa dengan penampilannya, menoleh untuk melihat jalan, dan kembali ke keseriusannya di jalan raya. “Kenapa aku nggak pernah dengar cerita tentang cowok ini?” “Dia punya pacar. Jadi apa yang mesti diceritain?” Ingga menoleh, menepuk kemudi dengan kesal. “Sial! Maura kamu tidur dengan cowok yang udah punya pacar. Kenapa itu bukan aku?” Maura akhirnya tidak bisa menahan, tangannya terangkat untuk memukul lengan pria itu, dia mengeluarkan "Aduh" kesakitan, dan Maura marah, “Tutup mulut busukmu!” "Aku kan cuma menyampaikan ekspresi kesal aja, Ra. Sama-sama punya pacar, kenapa kamu malah pilih yang jauh kalau ada yang dekat?” Ingga mengusap lengannya yang barusan ditampar oleh Maura. "Sudah kubilang jangan ngomong omong kosong! Mungkin aku nggak punya moral, tapi aku punya prinsip untuk nggak mengganggu pacar wanita lain.” “Tapi tadi barusan…” “Aku yang cerita atau kamu kamu yang cerita?” omel Maura yang kesal karena terus di sela. Tangannya dengan ringan menampar lengan pria itu lagi. “Oke, kamu cerita.” Ingga mengusap tangannya yang perih karena pemukulan. Penampilan pria itu agak murung, Maura menatap wajah tampan yang menyedihkan, dan mengingat kejadian itu, ekspresi agak suram. “Dia putus dengan cewek yang ia pacari dari SMA, mabuk, dan menganggapku sebagai mantannya.” Tanpa diduga, pengemudi tercengang oleh kata-kata ini, dia menatap wajahnya yang bingung, matanya hangat dan sedikit tertekan. “berarti bukan kamu yang nidurin dia, tapi dia yang menidurimu.” “Sama saja. Intinya, aku udah melakukannya tanpa sengaja.” “Lalu?” “Kami ke gap orang tuanya, dan kami menjadi sepasang kekasih.” Kata Maura dengan suara yang tertekan. Ingga menjadi gelisah setelah mendengar ceritanya. Pria itu menatapnya dengan mulut terbuka lebar, seolah-olah dia sedang melihat monster. “Jadi, kamu sekarang udah nggak jomblo lagi?” pria itu berdecak dengan tidak percaya, “Tuhan sudah membolak-balik nasib kita dengan cara yang luar biasa.” “Percaya atau nggak, aku akan memukulmu lagi kalau terus mengejekku!” Ingga melanjutkan untuk melihat jalan di depan dengan ekspresi rumit di wajahnya. “Pacarmu ini, apakah kamu menganggapnya serius?” Maura menggelengkan kepalanya, bersandar pada sandaran kursi, lalu menghela napas lagi. “Dia masih belum move on dari mantan pacarnya, mungkin nggak lama setelah ini, kami segera putus.” “Lalu kenapa kamu menjadi kekasih?” Maura menjawab dengan tidak sabar, “Bukannya tadi aku sudah bilang. Kami ke gap orang tuanya? Jadi mau bilang apa lagi selain kami adalah sepasang kekasih?” Ingga sepertinya sangat penasaran dengan pengalaman pertama Maura, dan terus-terusan menanyakan tentang hal yang dia tidak tahu bagaimana harus menjawab. Kalau saja Maura nggak butuh tenaganya untuk membantunya membawa barang bawaan ke atas, dia sudah menendangnya jauh-jauh dari sini. Mengikuti di belakangnya dan mengawasi pria itu membawa koper dan oleh-oleh ke lanyai enam, Maura terlihat seperti nyonya muda. Dia mengambil kunci untuk membuka pintu, berniat menyuruh Ingga mampir sebelum pergi untuk segelas air, tetapi begitu pintu terbuka, ocehan pria muda itu datang lagi. “Bagaimana teknik bermain cowok itu? Hebat gak?” Pertanyaan ini mengembalikan kemarahan Maura yang sudah menghilang, mendadak berbalik setelah pintu dibuka, dia meraih bahu pria itu dan mengangkat lutut, menendang perutnya. Ingga membungkuk dan teriak kesakitan saat Maura melampiaskan amarahnya. Gadis itu menatapnya, kemudian berbalik dan menyeret barang bawaannya ke dalam rumah, lalu membanting pintu dengan keras dan menguncinya. Idiot di depan masih mengetuk pintu dengan keras, Maura melempar tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur ketika ponselnya berdering. Ini Mama Jevan lagi. Maura hanya melihat layar selama beberapa detik, menghela napas sebelum akhirnya menggeser tombol hijau pada layar sambil berjalan ke balkon, dan menutup pintu. “Hallo,” “Maura, ini tante Mita, kamu sudah sampai mana?” “Sudah, Tan. Baru aja sampai rumah.” “Bagus, bagus.” Karena tidak tahu harus membahas apa, Maura mencari topik. "Ngomong-ngomong, Tan, terima kasih oleh-olehmu, jadi nggak enak udah ngerepotin.” “Hussh! Ngerepotin apanya? Orang sama calon mantu sendiri kok.” Maura tersenyum masam mendengarnya, menantu dari Hongkong? ~~~ Pekerjaan kembali berjalan normal setelah satu minggu libur. Karena sudah putus dengan pacarnya, dan sudah nggak ada yang menemaninya kemana-mana, Ingga sering menempeli Maura dan merusuhinya setiap ada kesempatan. Ketika masih berada di jam kerja, pria itu memiliki penampilan seorang eksekutif muda yang serius, tetapi begitu selesai jam kantor, dia nggak bisa menahan diri, dan menariknya ke sana kemari. “Maura, nonton yuk!” Besoknya, “Maura, makan seafood di sana yuk.” Besoknya lagi, “Ke Mall yuk, temenin nyari baju.” Maura mengira sikapnya Ingga yang tak biasa ini adalah gejala kesepian yang disebabkan karena putus cinta. Ngomong-ngomong, kayaknya sudah hampir satu minggu dia putus, dan sedikitpun belum ada tanda-tanda balikan. Maura bersimpati kepada pria yang sudah kehilangan cinta, dan nggak tega membuatnya kehilangan teman. Jadi dia mengikuti semua kemauan Ingga. Toh dia bisa sekalian refreshing. Selain itu, ada seorang pria tampan yang menemani pengemudi gratis ... Hehe, dia juga nggak rugi-rugi banget. Menghabiskan waktu lama dengan pria tampan, kadang suka bikin baper dirinya sendiri. Misalnya, begitu mereka menonton film bersama, Maura secara kebetulan meliriknya ketika dia memegang Coke, dan melihat profil seriusnya yang langka. Nggak ada senyum menyebalkan, tanpa ada kelakuan konyol yang membuatnya kehilangan integritasnya, dan tidak ada kedipan saat dia gugup. Ingga yang diam memiliki profil yang jelas dan ketampanan yang indah. Pada saat itu, debaran di hati Maura kembali datang, tetapi dia dengan segera menyingkirkan debaran itu jauh-jauh. Jadi setelah waktu itu, Maura tidak pernah berani menatapnya lagi ketika dia menonton film. Sebulan setelah berada di Surabaya, Maura masih menunggu kapan dia dan Jevan putus, tapi sayangnya, dia hanya bisa menelan kekecewaannya. Jevan memang selalu meneleponnya setiap dua hari sekali, setiap jam sepuluh malam, saat Maura baru selesai mandi, beristirahat dengan menghabiskan waktu bermain dengan ponselnya. kekonsistenan pria itu membuatnya bertanya-tanya apakah dia telah menyetel jam alarm di teleponnya untuk berdering setiap dua hari sekali? Jevan berbeda dengan Ingga yang selalu membuatnya tertawa, bahkan di telepon, dia tidak bisa tersenyum di depan Jevan dan mengungkapkan pikirannya secara langsung, belum lagi ibu Jevan terus memanggilnya untuk mengobrol tentag gosip terbaru atau masah remeh lainnya.... Bagaimana dia bisa putus kalau terus begini? Namun ada juga yang menenangkannya, yaitu Jevan nggak begitu banyak ngomong, terkadang sesederhana satu menit. "Halo." "Kamu sudah tidur?" "Belum.” Maura menjawab dengan sopan, tetapi dalam hatinya bilang, "Benar-benar orang ini, dia b**o atau bagaimana? Bagaimana caranya jawab telepon kalau sudah tidur?” "Bagaimana kabarmu hari ini?” pertanyaan yang sama dengan kemarin ditanyakan lagi. "Baik, kamu?" "Baik juga." Lalu panggilan berakhir. Biasanya setelah menutup telepon, Maura menarik napas lega. Tetapi secara kontradiktif, dia kadang-kadang merekam suaranya yang acuh tak acuh dan magnetis untuk di dengarkan lagi. ... Hal yang mengejutkan terjadi pada hari Senin pagi tanggal 14 Februari, yang berarti dua bulan setelah kembali ke Surabaya. Di hari kasih sayang, dia menerima telepon dari Jevan pagi-pagi sekali, meskipun hanya beberapa kata yang masih acuh tak acuh, setidaknya dia masih memperhatikan. Kemudian di perusahaan, seikat bunga mawar dan cokelat Ferroro tergeletak di meja kerjanya. Warna merah dan emas adalah perpaduan yang sangat indah. Diia terlalu tercengang untuk mmepercayai kalau itu adalah miliknya. Maura menyapu semua orang di kantor. Kata pertama yang terlintas adalah "Siapa yang salah naro ini di mejaku?” Nggak ada yang menjawab, yang ada malah tatapan iri dari gadis-gadis lain saat melihatnya. OB yang mengantar karangan bunga ke meja Maura bilang, nama yang tertulis di kartu benar nama Maura. Bisa dipastikan ini nggak mungkin salah tempat. Jadi dia mengumpulkan keberanian untuk mendekat, mengambil kartu di karangan bunga, dan membukanya dengan tangan gemetar. Empat kata yang sederhana di tulis dengan tinta emas, ‘Happy Valentine day’ Tulisan itu bahkan ngga ada tanda seru, atau emoticon apapun. Tanpa perlu menebak, Maura tahu siapa yang mengirimnya. Permainan apa yang sedang direncanakan manusia itu sekarang? Mengesampingkan bunga, Maura duduk dengan cemberut, penuh dengan emosi. Dia merasa perlu baginya untuk putus secepatnya dengan Jevan, kalau dia nggak mau melakukannya, terpaksa dia yang akan mengambil tindakan dulu. Hubungi Jevan, baru kemudian ibunya. Begitu keputusan ini dibuat, Maura tak bisa menahan keringat di telapak tangannya, dan dia menjadi gugup hanya dengan memikirkannya. Seperti kebiasaannya, setiap makan siang Ingga yang ruangannya ada di lantai lima akan naik ke atas untuk menjemput Maura di lantai tujuh. Melihat rangkaian bunga dan cokelat di sudut meja gadis itu, dia bertanya, Siapa yang ngasih ini?” “Pacar yang aku ceritain.” Wajah tampan Ingga berubah menjadi jelek, lalu, tanpa bertanya boleh atau nggak, dia mengambil bunga itu dan memberikannya kepada Cello, bagian keungan yang terkenal perhitungan. “Ambil ini buat pacarmu.” Tiba-tiba mendapat hadiah, Cello sedikit terkejut dan kacamatanya melorot saat menangkap bunga, menatap Ingga sambil tersenyum, lalu balas menatapnya, seolah menunggunya mengangguk. Sejujurnya Maura enggan memberikan bunganya. Dari kecil sampai dewasa seperti sekarang, ini adalah pertama kalinya dia menerima rangkaian mawar merah. Bagaimanapun ambigunya sikap Jevan dan hubungan mereka, Maura nggak bisa bohong kalau mendapat bunga dari Jevan pernah ada dalam khayalan masa remajanya. Sekarang khayalan itu menjadi kenyataan, dan Ingga sialan ini malah mengacaukannya. Melihat tampang si mata empat yang juga enggan melepas bunga itu, dan memeluknya dengan erat, bagaimana bisa dia mengambilnya? Ditambah lagi, tadi dia sok-sok an menolak. Leher Maura terasa sangat kaku saat dia mengangguk, “Ambillah.” Kemudian meneruskan pekerjaannya, berpura-pura tidak peduli. Ingga menyeringai lebih lebar dari matanya ketika dia mendapat jawabannya. “Maura, nanti malam aku traktir kamu makan enak, oke?” “Kalau begitu aku mau makan steak Pada Hari Valentine, banyak orang memilih candle light dinner di restauran. Mereka harus menunggu selama lebih dari setengah jam untuk bisa makan malam. Setelah makan malam, keduanya berkeliling Mall dengan perut kenyang. Karena nggak ada yang menarik, Maura mengusulkan. “Kenapa kita nggak ke time zone aja?” “Boleh juga, yuk lah gas!” Mereka berdua naik tangga jalan ke lantai paling atas, ketika akan mengisi kartu, Inggo tiba-tiba berhenti. Maura sudah mengisi saldo kartunya, menoleh ke belakang dan melihat bahwa pria itu sedang menatap punggung pria dan wanita yang berpelukan di mesin dance-dance revolution. Sepertinya Ingga sedang merindukan pacarnya. Maura melangkah maju untuk menghiburnya. Namun, sebelum dia mendekat, pasanga itu berhenti main dan turun dari sana. Pria itu tersenyum bahagia saat wanitanya mengusap keringat di dahinya dengan tissu, sementara Maura, melihat wajah wanita itu dengan jelas, matanya hampir meggelinding dari rongganya. Pantas Ingga begitu, ternyata gadis muda yang lagi bermain adalah mantan pacarnya. “Oke, jangan dilihat lagi.” Dia meraih lengan Inggo, menyeretnya supaya pergi dari sana. Tanpa diduga, sepasang kekasih itu berbalik dan melihat melewati mereka. Kedua orang yang dahinya masih berkeringat memiliki wajah yang sama putihnya. Merasakan tatapan mantan pacarnya bolak-balik antara kepala dan kakinya, beberapa detik kemudian, Maura memanggil Ingga, “Ayo, tunggu apa lagi?” Dia mengangkat lengan putihnya dan menjabat tangannya dengan senyum sedih, tetapi pria di sampingnya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung ke arahnya. Intuisi memberi tahu Maura bahwa ada yang salah dengan ini, tetapi sebelum dia bisa memikirkannya, pinggangnya ditarik dengan paksa oleh tangan, dan kemudian daguny dicubit dan diangkat, dan wajah tampan Ingga semakin dekat dengan wajahnya… Dan pria itu menciumnya! Mencium bibirnya tanpa aba-aba… Mata Maura membelalak. Siapa yang mengutuknya menjadi sial begini? Kenapa belakangan ini dirinya sering dimanfaatkan oleh pria yang putus dengan pasangannya? Keterampilan berciuman Ingga sangat bagus. Maura, yang tertangkap basah oleh pembunuhannya yang tiba-tiba, pertama kali bereaksi untuk melawan, tetapi begitu tangannya menyentuh bahunya, dia memahami kemarahan di mata elang-nya.. Jadi, penolakan berubah menjadi kerja sama, dan dia harus mengubah kemarahannya menjadi seks, mengintip ke dalam pakaiannya dengan gelisah, dan menjulurkan lidahnya ke mulutnya. Tapi masalahnya adalah dia masih orang yang rasional, jadi ketika dia merogoh pakaiannya dan menyentuh kulitnya, dia dengan cepat kembali ke rasionalitasnya dan mendorongnya menjauh begitu dia merentangkan tangannya. Keduanya terengah-engah, dan semua orang di aula tiket memusatkan perhatian mereka pada mereka. Maura menggigit bibirnya, dia tidak punya waktu untuk merasa malu, dia hanya ingin mengatur napas. Di sisi ini, mantan pacar Ingga tampak sangat terluka ketika dia melihat lelucon ini, dan dibawa keluar oleh pria di sampingnya. Mereka menghilang, dan Maura mendongak untuk melihat bahwa Ingga juga menatapnya, tetapi ada sedikit kemurnian di matanya. Tidak tahan, Maura segera menghindar dan berjalan menuju pintu, tetapi dia mendengar suara itu muncul setelah beberapa langkah. “Maura, kamu dengarkan aku dulu!” keduanya tidak berbicara untuk waktu yang lama. Dia tidak berbicara sampai dia menyerahkan kartu parkir dan keluar, menunggu lampu merah di persimpangan. “Saya adalah orang yang bersamanya ketika saya masih muda.” Ada percikan Di garasi bawah tanah pusat perbelanjaan, Lin Bi duduk di mobil Song Lanqi, dan kemarahan di matanya ketika dia berbicara, dan Lin Bi tercengang lagi. Beberapa bersimpati padanya dan ingin menghiburnya, tetapi pada satu titik, dia memintanya sendiri, yang menyuruhnya untuk tidak meminta maaf. "Sudah berapa lama? Mereka bersama." "Kamu putus, dia berhak memilih pria lain." "Tapi pria itu adalah anakku! Dia bisa menemukan pria mana pun, tapi kenapa dia!" Song Lanqi marah Karena harus menepuk kemudi, Lin Bi menghela nafas dan menatapnya. “Tapi kenyataannya seperti ini. Kamu bisa memberkatimu, menjauh satu sama lain, atau mengejarnya kembali.” “Kembalilah? Setelah mereka akur? Aku, Song Lanqi, tidak peduli dengan wanita orang lain!” Dia berkata dengan benar Dengan kagum, Lin Bi mengangguk, berpikir bahwa ini adalah pernyataan yang bagus, tetapi dia harus melanjutkan topik pembicaraan. “Bagaimana dengan berkat?” “Kupikir lebih baik tidak akur satu sama lain.” “Tapi kurasa dari cara dia memandangmu, dia seharusnya memilikimu di dalam hatinya.” “Oh, jika ada aku, aku akan melakukannya. kehilangan saudara laki-laki yang tumbuh bersamaku. " Baiklah kalau begitu, lakukan apa yang kamu suka." Lin Bi berkecil hati, dan jatuh dengan acuh tak acuh, menyandarkan kepalanya ke belakang kursi, merasakan omong kosong ini. Song Lanqi tidak bergerak, dan keduanya terdiam selama sepuluh menit, Lin Bi tiba-tiba menyadari bahwa ini bukan cara untuk kembali ke rumahnya. "Mau kemana kamu?" Dia bangkit dan menegakkan tubuhnya. Melihat pengemudi, wajahnya menjadi lebih cerah. Tidak hanya itu, tetapi dia juga menyeringai diam-diam. Memikirkan penampilannya yang kesal sebelumnya, Lin Bi tidak bisa menahan perasaan. panas dingin. "Pergi ke suatu tempat." Dia berkata sambil tersenyum, tetapi kontrasnya masih membuatnya merinding, dan dia semakin dekat dengannya, sedikit gugup. “Kamu tidak memikirkannya, kan? Tidak apa-apa jika kamu tidak memikirkannya, kamu tidak bisa membawaku bersamamu, penguburan?” “Apa yang kamu pikirkan!” Song Lanqi tersenyum tak berdaya dan menatap jalan, sementara Lin Bi menatapnya tidak yakin, tepat ketika dia akan memilih untuk percaya. Pada saat yang sama, dia tiba-tiba memiliki sedikit niat buruk. "Tentu saja aku harus menyeretmu untuk menguburmu ketika aku mati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN