Undangan mama Jevan mengingatkan Maura tentang pekerjaan.
Setelah lulus kuliah, dia dapat pekerjaan di Jakarta, kemudian supervisor di kantor cabang Surabaya mengundurkan diri.
Maura yang bertahun-tahun patah hati, menawarkan diri supaya dimutasi ke sana dalam rangka meperbaiki kondisi hati, dan menghindari pertanyaan ‘pacarmu mana? Kok nggak pernah dibawa ke rumah? Atau, umurmu sudah sekian lho, Ra. Masa nggak punya pacar sih? Kapan nikahnya, biar tante Nurul cariin ya?’ dari ibunya.
Jevan bekerja Jakarta, dan butuh sepuluh jam perjalanan dengan kereta api dari Jakarta ke Surabaya. Ini akan menjadi hubungan jarak jauh buat keduanya.
Selalu banyak godaan yang bisa bikin putus untuk pasangan yang berhubungan jarak jauh. Apalagi Jevan menjadi pacarnya karena terpaksa.
Terhalang Jarak yang jauh adalah alasan bagus dan masuk akal kepada orang tua, jika sewaktu-waktu mereka putus.
Memikirkan itu, Maura merasa lega.
Saat dia mau menghubungi Jevan untuk menanyakan tentang undangan makan malam, Maura baru sadar dia tidak punya nomor pria itu, Zivara langsung mengiriminya nomor Jevan begitu dia meminta.
“Jev, ibumu nyuruh aku datang ke rumahmu besok.”
“Menurutmu gimana, datang nggak?”
Maura melihat di catatan bahwa pria itu sedang online. Maura menunggu beberapa menit, centang dua di pesan yang ia kirim belum berubah warna. Setelah tidak ada jawaban, Maura menghela napas, dan segera kembali ke rumah.
Begitu dia membuka pintu, ibunya sangat bersemangat saat menyambut kedatangannya. Tatapan wanita itu cerah dengan senyum lebar menghiasi bibirnya, sangat berbeda dengan sikap seorang ibu yang mengusirnya barusan.
“Maura, cobain deh, ini kue yang dibuat ibu Jevan. Enak ya?”
Maura mengambil sepotong kue yang sudah diiris oleh ibunya, memakannya sedikit, lalu memberi komentar, “Iya enak.”
“Ibu Jevan baik nggak? Kerjanya apa, ayahnya gimana?”
Pertanyaan demi pertanyaan tentang Jevan dan kondisi keluarganya, apa pekerjaan ayahnya dan segala macam t***k bengek lain, terlontar dari mulut ibunya yang terlalu antusias dengan pemuda yang tibatiba dibawa putrinya pulang.
Maura memutar matanya saat mendengar ini, dan tidak begitu antusias.
“Kenapa tadi mama nggak nanya ke dia langsung?”
“Ya nggak enaklah. Dia baru datang sekali, masa udah nanyain yang gitu-gitu, tapi hubungan kalian sudah masuk ke tahap serius kan?”
“Nggak tahu! Bahasnya ntar aja, aku capek, mau tidur dulu.”
Melihat suasana hati anaknya yang jelek, Indah menutup mulutnya dan tidak bertanya lagi. dia melanjutkan mengiris kue, memindahkannya tiap potong ke tiga piring kecil untuk suami dan dibagikan ke tetangganya.
Maura masuk ke kamar tanpa melihat ke belakang, mengunci pintu, dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Kanapa jadi kacau begini, Ya Tuhaaannnn…”
Dia berbalik, membenamkan wajahnya di atas bantal dan meratap. Setelah melampiaskan kegalauannya, dia berbalik lagi dan berbaring. Dia mengambil ponselnya, niatnya cuma mau nonton film di Netfix, tetapi pesan dari Jevan menarik perhatiannya.
“Aku jemput kamu besok.”
Maura bisa membayangkan ekspresi dingin dan acuh tak acuhnya saat membaca jawaban yang sangat singkat ini. Mood-nya untuk nonton serial terbaru langsung menguap.
Dia melempar ponselnya dekat bantal, berbalik dan membenamkan wajahnya ke bantal, kembali meratap.
Apakah begini sikap seorang pria kepada pacar yang tidak dia inginkan?
Dia teringat bagaimana dulu Jevan memperlakukan Callya, terlepas bagaimana sikap wanita itu, Jevan akan memperlakukannya seperti ratu.
Yakin deh, sekesal apapun dia, Jevan pasti nggak akan pernah pasang tampang acuh tak acuh atau membalas pesan singkat seperti ini pada Callya.
Perasaan iri terbersit dalam hatinya kepada Callya karena memiliki hati Jevan.
Lupakan saja, toh hubungan ini terjadi karena kesalahan, biarkan dia semaunya sendiri.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Maura mendapatkan lagi ketenangannya. Dia menatap langit-langit, menguap, dan akhirnya tertidur.
Kemudian, suara dipintu yang diketok berulang-ulang membangunkan tidurnya. Maura melihat jam, itu sudah jam satu siang. Dia bergegas bangun, sambil mengikat rambutnya, Maura berjalan keluar untuk makan.
Di meja makan, ibunya masih membahas tentang Jevan, dan Maura masih mengabaikannya. Sebenarnya bukan mengabaian, tapi lebih karena dia nggak tahu harus jawab apa.
Yang dia tahu tentang Jevan hanya hubungannya dengan Callya yang berakhir kacau. Sisanya, dia benar-benar buta dan nggak tahu apa-apa.
Ibunya kehilangan kesabaran karena diabaikan, dan mengucapkan kata-kata sinis dengan mata juling.
“Udahlah, mama males mau nanya-nanya lagi! Kamu kan seneng kalau mama kelihatan kayak orang b**o di depan tetangga.”
Maura mendengarkan dan memutar matanya diam-diam.
Selesai makan, Indah membanting sendok dan berjalam keluar. Ayah Maura yang pendiam hanya menggelengkan kepala melihat dua orang wanita berselisih di depan matanya.
“Mamamu mungkin khawatir kamu salah pilih, Ra, makanya dia begitu.”
“Iya, Pa, Maura tahu kok.”
Maura merapikan piring kotor dari atas meja dan pergi ke dapur untuk mencucinya.
Saat mencuci, dia mendengar bel rumah berdering, tetapi dia tidak peduli. Suara mesin air yang menyala menutupi suara obrolan di ruang tamu.
Setelah Maura menyelesaikan pekerjaannya dan mau kembali ke kamar, barulah dia melihat siapa yang datang. Ternyata itu tante Nurul yang tadi ketemu dengannya di lift.
“Nah kan, itulah pentingnya cari informasi. Untung aku bergerak cepet.”
Dari mulut Indah terdengar sedikit keluhan, “Iya, Mbak. Makasih lho udah mau bantuin. Maura ditanya juga nggak jawab apa-apa.”
Mendengar namanya disebut, secara otomatis Maura tahu kedua ibu di ruang tamu lagi ngomongin dia. Maura hanya bisa menggerutu dalam hatinya, dan bermaksud langsung masuk kamar tanpa repot-repot menyapa, tetapi sebelum dia melarikan diri, mata ibunya menatap tajam ke arahnya.
“Maura, sini!”
Indah memanggilnya dengan wajah serius, mau tidak mau Maura datang dan duduk di sebelahnya.
“Kenapa, Ma?”
“Tante Nurul bilang, Jevan punya pacar yang sudah dia pacarin dari SMA. Ada yangh bilang, dia cewek nggak benar. Benar itu?”
Maura melirik Nurul yang mengangkat kepalanya dan tersenyum.
Tebakannya, tukang gosip ini pasti dapat informasi dari putrinya. Saat itu, Callya adalah cewek pemes di sekolah mereka, dan Jevan mengejarnya dari kelas satu. Dan itu bukan rahasia umum lagi.
Pasangan Jevan dan Callya sangat terkenal, terutama dikalangan adik kelas.
“Mereka sudah putus. Mantannya belum mau serius.”
Maura menjawab dingin, tetapi begitu dia mengatakan ini, dia melihat cibiran Nurul yang menganggapnya konyol.
“Belum mau serius, atau karena cowoknya miskin?” kata Nurul dengan senyum menghina tersungging di bibirnya, “ada yang bilang, mantan pacar Jevan joget-joget pake baju seksi buat dapet tambahan duit.”
Maura menatapnya dan memiliki keinginan untuk meninju muka bulat sempurna di depannya, tetapi demi sopan santun, dia menahan semua keinginan itu.
“Wajar sih, Jevan cuma karyawan biasa yang gajinya setara UMR kan, belum punya rumah apalagi mobil. Coba kamu bandingin sama orang yang mau tante kenalin ke kamu, Ra. Jauuh! Mending kamu pikir-pikir lagi. Buat apa punya suami kalau dia orang susah?”
Akhirnya karena nggak tahan lagi, Maura menyela ocehan Nurul yang berpikir sudah memberikan jalan untuk masa depan Maura yang cerah.
“Tante nggak usah khawatir tentang itu, kalaupun susah, aku juga nggak minta duit sama tante kan?”
Kesal, ibu Maura menoyor kepala anaknya.
Maura menutupi kepalanya, memiringkan kepalanya dengan ekspresi tidak senang.
“Yang sopan sama orang tua. Tante Nurul ngomong begitu buat kebaikanmu. Cari calon suami itu nggak harus ganteng, tapi mapan. Memangnya kamu mau terus-terusan kerja jauh kayak sekarang?”
Mata ibunya melotot, dan ini bukan hal yang dia harapkan. Seharusnya seorang ibu membela anaknya, bukannya berpihak ke tetangga yang seorang provokator.
Maura merasa marah. Dia berdiri, melempar bantal sofa dengan kesal.
“Bukannya tadi ibu muji-muji Jevan yang mau menerima temperamenku yang buruk., kenapa sekarang jadi begini? Memangnya kenapa kalau dia karyawan biasa dengan gaji UMR, yang penting kerja dan punya penghasilan kan? Nggak ada cowok yang aku bawa ke rumah, mama ribut kapan aku bisa nikah! Sekarang sudah ada, mama masih ribut gara-gara dia nggak sesuai standar tante Nurul. Sebenarnya mama cari suami buatku atau buat mama sih?”
Setelah berteriak dalam satu tarikan napas, wajah dan teling Maura memerah. Napasnya agak tersengal, dan kedua wanita paruh baya yang duduk di ruang tamu tercengang.
“Maura!”
“Aku keluar, kalian lanjutin aja ngobrolnya!”
Maura mengambil dompet dan ponselnya, lalu pergi tanpa menoleh.
sial! Pasti dia diamuk mamanya lagi nanti.
Dia menghela napas dalam-dalam, dan segera pergi untuk menunda kematiannya sendiri. Maura keluar dari lift dan berdiri depan pintu, dan tidak tahu harus pergi kemana.
Dia melihat ada kursi kayu di lantai bawah dan duduk, saat meihat ke parkiran, dia menemukan ayahnya sedang membersihkan mobil lalu berdiri dan datang ke sana.
Mendengar langkah kaki, ayahnya berbalik dan tersenyum kepadanya.
“Udah malam, kamu mau kemana?”
“Nggak tau, yang penting keluar. Males di rumah.”
Setelah mengeringkan kaca spion, ayah melempar kanebo ke dalam ember. “Nurul masih di rumah?”
Kepala Maura mendongak dan melihat ke balkon rumahnya. “Kayaknya belum.”
Ayah berjalan ke arah kursi kayu, duduk di sana dan memberi isyarat kepada Maura supaya mendekat.
“Duduk sini dulu sampai dia pergi. Papa juga nggak begitu senang kalau mamamu udah ngobrol sama budemu.”
Maura yang tahu pria itu juga punya keengganan yang sama, akhirnya duduk di sebelahnya.
Ayahnya berkata lagi, “Nurul itu merasa lebih unggul dari mamamu karena anaknya sudah menikah, punya menantu mapan, dan dua cucu yang lucu. Padahal, tadi mamamu sudah senang dan antusias dengan Jevan, bahkan nggak bisa menutup mulutnya dan terus membahas tentang Jevan, tetapi begitu Nurul ngomong beberapa patah, dia langsung berubah.” Ayahnya menghela napas, Maura duduk bersandar di tembok dan meliriknya. “biarin aja mamamu, nanti juga kalau pengaruh Nurul hilang, dia bisa berpikir jernih.”
“Kayaknya susah deh, Pa. Tante Nurul pinter banget nyuci otak orang.”
“Nggak apa-apa dia yang nyuci, nanti kita yang ngotorin lagi.”
Ketika pulang dengan ayahnya, itu sudah hampir beduk maghrib.
Saat menuang air minum di dapur, Maura bertemu dengan ibunya di dapur yang sedang memasak makan malam.
Dia berkata ke ibunya yang masih cemberut, “Ma, aku nggak makan. Mau rapiin barang.”
Setelah memasukkan sebagaian bajunya ke dalam tas, Maura rebahan sambil bermain hape. Ketika membuka feed di i********: dia teringat dengan ucapan Nurul tentang Callya.
Maura mengetik nama wanita itu di kolom pencarian, tetapi tidak membuahkan hasil sama sekali. Masih penasaran, Maura membuka akun teman-temannya semasa kuliah dan mencari pada kolom mengikuti, dan menemukan akun Callya yang memakai nama selebritinya.
Akun itu punya ratusan ribu pengikut, foto profilnya adalah foto terbaru Callya dengan dandanan khas selebgram, alis tebal, soflens hijau, dagu runcing, riasan bold dengan ujung eyeliner yang menukik ke atas.
Feed-nya kebanyakan berisi video dia joget-joget di t****k dengan pakaian minim.
Saat dia terus-terusan mengusap layar, pintu kamarnya terbuka, ibunya masuk dengan membawa piring berisi nasi dan lauk di tangannya.
“Ngapain kamu, Ra?”
Maura membuang ponselnya, dia malu kalau ketahuan stalking akun mantan pacarnya Jevan, dan segera duduk.
“Ada apa, Ma?”
Sang ibu meletakkan piring di atas meja, menarik kursi, lalu duduk di sana.
“Kenapa sih, Ma?” Maura bertanya lagi, tetapi ibunya hanya menggeleng, mengambil tangan Maura, dan mengusapnya lembut.
“Ra, mama bukannya nggak suka dengan Jevan.” Indah memandang anaknya, ketika mengatakan ini matanya merah.
Maura mendesah, ibunya masih saja membahas tentang Jevan, Jevan, dan Jevan. Kayak nggak ada bahasan lain saja.
“Maura, kamu satu-satunya anak mama, biarpun kami susah, kami tetap mengusahakan yang terbaik buat kamu. Puluhan tahun kami merawatmu, kasih kamu kehidupan yang nyaman, punya rumah untuk berteduh tanpa mikirin bagaimana bayarnya, ada kendaraan untuk buat ngantar keman-mana. Eh, tiba-tiba ada cowok yang datang, nggak punya rumah, nggak ada mobil mau menikahi kamu dan membawamu keluar dari rumah untuk hidup susah. Kamu harus bayar cicilan puluhan tahun supaya bisa punya rumah atau mobil. Bagaimana perasaan mama coba. Belum lagi Jevan itu…”
Hati Maura sakit ketika melihat ibunya menangis, dan dia mengulurkan tangan untuk memeluk ibunya, menepuk punggung wanita itu untuk menghiburnya.
“Ma, memangnya siapa yang mau nikah sih? Kami baru pacaran, belum kepikiran ke sana. Nggak usahlah mikir macem-macem, ya?”
“Tapi kamu nggak pulang tadi semalam, Nurul tahu itu, dan sekarang saudara-saudar ngomongin yang nggak-nggak tentang kamu.” Suara Indah penuh dengan kebencian dan Maura memarahi dirinya sendiri karena kebodohannya.
“Nggak usah khawatir. Nggak terjadi apa-apa antara aku sama Jevan semalam.”
“Lalu kenapa dia tiba-tiba datang dan menemui kami dan bawa banyak hadiah dari orang tuanya?”
Maura tersedak mendengar pertanyaan ibunya, dia melepas pelukannya, lalu mengambil piring di atas meja, “Kok tiba-tiba aku jadi lapar ya?”
Sehari sebelum pulang ke Surabaya, Maura berdandan dan memakai pakaian yang rapi. Dia tidak memberitahu ibunya kalau dirinya diundang keluarga Jevan untuk datang makan malam, kerena takut ibunya punya pikiran yang nggak-nggak lagi.
Mobil Jevan diparkir di basement. Dia juga menghindari bertemu dengan orang tua Maura, terutama dengan ibunya yang terlalu antusias. Mengambil ponsel, dia mengirim pesan ke Muara kalau sudah sampai.
Maura segera mengambil tas dan berlari ke lift, dan memakai hoodienya di dalam lift.
Menemukan mobil Jevan, dia segera membuka pintu dan duduk di depan. Takut ada tetangga yang melihatnya dan memberi tahu ibunya, Maura membungkus rapat kepalanya dengan penutup kepala hoodie, lalu memalingan wajahnya dari jendela. Itu membuatnya seperti maling yang takut ketahuan.
Untuk sesaat Jevan menatapnya dengan curiga. “Kenapa penampilanmu begitu?”
Maura nggak tahu bagaimana harus menjelaskan. Nggak mungkin kan dia bilang begini ke Jevan, mamaku nggak suka kondisi keluargamu makanya aku berpakaian begini biar nggak ketahuan pergi sama aku.
Jadi, untuk gampangnya dia bilang, “Diluar hujan, dingin.”
Jevan tidak lagi berkomentar, dan hanya mengulurkan tangan mengecilkan suhu AC. Maura melihat gerakan kecil ini, dan entah kenapa dia sedikit senang.
Melihat bahwa Jevan mengemudi dengans serius, Muara diam dan nggak banyak ngomong. Jadi dia hanya memandang ke luar jendela dengan pikiran kemana-mana.
Berpikir tentang dia yang akan kembali ke Surabaya dan segera putus dengan Jevan.
Saat turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah Jevan. Mita dan Zivaa sudah menunggunya dengan senyum yang memiliki arti berbeda.
Maura tiba-tiba takut dan mau melarikan diri, tetapi ibu Jevan sudah menarik tangannya, pada akhirnya dia hanya bisa mengikuti.
Zivara bergaul akrab dengan kedua orang tua Jevan, semantara Maura, dia bersikap sopan dan tersenyum gugup dan malu kepada orang tua.
Makanan sudah siap saat dia memasuki ruang makan. Itu adalah meja bundar dengan lima kursi.
“Duduk, duduk jangan malu.”
Ayah Jevan menarik kursi untuk istrinya, Zivara secara alami duduk dekat mereka berdua.
Maura tertegun sejenak saat mengetahui mereka sudah mengatur tempat duduknya di sebelah Jevan.
Zivara menyeringai melihat tampang enggan Maura, tapi dia tidak berniat menolongnya dengan bertukar kursi.
Meja makan ramai dengan ocehan Mita dan Zivara, Maura hanya mendengarkan dan sesekali menimpali ketika di tanya.
Jangan tanya bagaimana Jevan, pria itu hanya diam mengunyah makanannya dengan wajah yang sama datarnya dengan tembok.
Apakah dia melayani Maura seperti dia melayani Callya, tentu saja nggak. Jangan bermimpi terlalu muluk tentang itu, dia mau meliriknya saja, Maura sudah sangat bersyukur. Setidaknya Jevan sadar dengan kehadirannya.
Dari sudut matanya, Maura melihat Mita mengaitkan dagunya ke arah Jevan, memberi kode dengan mata dan gerakan kepalanya. Setelah itu, barulah Jevan mengangkat tangannya dan dua potong cumi goreng tepung pindah ke piring Maura.
“Ini enak. Makanlah!”
Mita tersenyum puas melihat putranya yang menurut dan calon menantunya yang malu-malu terlihat sangat imut di biji matanya.
“Maura sudah berapa lama kerja di Surabaya?”
Pertanyaan itu datang kepadanya. Maura menelan dulu makanannya, baru menjawab pertanyaan tadi. “Hampir tiga tahun, Tan.”
“Lama juga ya, kamu nggak ada rencana balik dan cari kerja di sini aja?”
“Ada sih, tapi sayang juga ninggalin yang di sana. Tapi kalau ada peluang yang lebih bagus, kenapa nggak?”
Ini adalah jawaban yang selalu dia berikan setiap kali ada yang bertanya tentang karirnya. Ibu Jevan mengangguk dengan sungguh-sungguh setelah mendengarkan, dan memuji Maura yang mandiri dan berpikir tentang masa depan.
Makanan yang terhidang di atas meja rasanya enak semua. Cumi goreng tepungnya renyah dan tidak berminyak dengan saus asam manis yang rasanya khas. Lalu udang tumis bawang putih yang harum dan sedikit pedas.
Mata Maura berbinar saat memakannya. Saat ini dia sangat menikmati makanan, sehingga dia melepas ketegangannya dan memuji keahlian memasak wanita paruh baya itu dengan tulus.
Mita mendengar pujian itu dengan senyum di wajahnya, mengeluarkan penawaran yang murah hati, “Tunggu sampai kalian menikah. Nanti tante setiap hari masak buatmu.”
Makanan yang baru ditelan Maura tersangkut di tenggorokan, dan senyum alaminya membeku di wajahnya.
Dia berniat membantah dan berkata dengan jujur kalau dirinya dan Jevan tidak memiliki hubungan apapun. Semua yang terjadi di antara mereka hanya kesalahan konyol yang tidak seharusnya terjadi.
Hanya saja, melihat senyum tulus di wajah Mita, dan bagaimana bahagianya wanita itu, hatinya menjadi nggak tega.
Sepertinya, drama putus karena hubungan jarak jauh lebih masuk akal daripada ngomong jujur dan menyakiti orang sebaik ini.
Apalagi Jevan yang makan dengan tenang juga tidak berniat meluruskan hal ini sama sekali, dan akhirnya Zivara mengangkat kepalanya tertawa,
“Tante, jangan ngejar Maura tentang pernikahan terus. Iya kalau jodoh, kalau mereka tiba-tiba putus gimana?”
Maura melihat temannya dengan mata yang seolah mengucapkan terim kasih.
Setelah makan, dia mengikutin Zivara memindahkan piring kotor dan bantu mencucinya, dan setelah menikmati buah dan makanan penutup, ayah dan ibu Jevan bertanya beberapa hal yang menyerempet masa depan.
Kemudian Zivara berdiri, dan mengajak Maura pulang karena tidak tahan melihat Maura yang tertekan.
Setelah meninggalkan rumah itu Maura menegakkan punggungnya dan menghela napas panjang, lalu menoleh dan berterima kasih kepada sahabatnya yang sudah menyelamatkannya dari kesengsaraan.
“Nggak ngerti lagi deh kalau kamu nggak ada di sana tadi.”
“Ini salahmu karena nggak tegas menolak akal-akalan si t***l ini!” saat kata-kata si t***l keluar, Zivara melirik Jevan dengan penuh kebencian.
“Tunggu aku balik ke Suraya, Zee, baru cari cara buat putus.”
Ketika berjalan ke tempat parkir, ketiganya diam dan acuh tak acuh, dan wajah Zivara kelihatan bete.
Ketika membuka pintu mobilnya, Zivara berkata pada Maura. “Naiklah, aku antar sampai rumah.”
Maura menuruti Zivara, tetapi satu tangan besar menarik pergelangan tangannya saat dia membuka pintu mobil.
Dia bisa merasakan buku-buku jari Jevan yang panjang dari balik jaketnya. Maura menoleh, menatap Jevan dengan kedua alis terangkat.
“Ada apa lagi?”
“Kamu naik mobilku.”
Perasaan senang yang tidak bisa dijelaskan melintasi hatinya atas inisiatif Jevan.
“Orang tua ku masih melihat ke sini. Mamaku bisa ribut kalau aku nggak mengantarmu,” kata pria itu lagi.
Kata-kata itu masuk ke telinga Maura, dan sudut mulutnya berkedut. Dia melirik ke rumah tanpa daya. Benar saja, ibu Jevan melambaikan tangan dengan senyum di wajahnya.
Maura sedikit tertekan dengan antusiasme ibu Jevan yang berlebihan kepada dirinya, tapi dia tersenyum dan melambai kembali. Pada saat ini, mobil Zivara sudah melaju dengan kecepatan penuh.
“Kami putus karena Cally capek. Dia menyerah untuk mendapatkan restu yang bertahun-tahun nggak bisa dia dapat.” Jevan bercerita tanpa diminta, “tapi kamu langsung dapetin restu itu dalam sehari.”
Maura tidak tahu apakah ini pujian atau penyesalan.
“Sementara ini jadilah pacarku, supaya ibuku tenang, dan nggak lagi menyuruh orang untuk memata-matai semua kegiatanku. Dengan begitu, aku bisa dapatin Callya kembali.”
Maura hampir memuntahkan isi perutnya saat dia mendengar ucapan Jevan yang terang-terangan memanfaatkannya.
Menatap wajahnya yang tanpa ekspresi, dan matanya yang melankolis itu, hati Maura bergetar, dan tiba-tiba ada keinginan untuk membalasnya.
Pria ini sudah memanfaatnya, kenapa dia harus diam saja?
Berpikir seperti itu, tiba-tiba Maura maju dua langkah sehingga mereka saling berhadapan. Memiliki tinggi 160, dia harus mendongak saat menatap Jevan yang lebih tinggi satu kepala darinya.
Sebelum Jevan memahami senyum gugupnya, Maura berjinjit, mengalungkan kedua tangan ke leher pria itu dan mencium bibirnya.
Reaksi pertama Jevan adalah menolaknya.
Dia mengangkat tangannya, Maura merasakan kekuatan yang melepas tangannya dan berkata, “Orang tuamu melihat kita, jangan tanggung kalau pura-pura.”
Kata-katanya yang lembut penuh kemengan dan genit,
Jevan tertegun sejenak, lalu meletakkan tangannya melingkari pinggang Maura dan menunduk untuk bekerja sama membuat pertunjukan yang bagus.
Maura tidak punya pengalaman berciuman sebelumnya, jadi dia tidak bisa membandingkan ketrampilan berciuman Jevan, yang jelas pria itu lebih baik darinya.
Pria itu memasukkan lidah ke mulutnya, menarik lidahnya, mengisapnya sampai kehabisan napas. Kaki Maura yang jinjit sedikit terangkat.
Keintiman ini berlangsung selama beberapa detik. Maura secara alami menatapnya dengan penuh kasih sayang. Ketika napasnya mulai pendek, dan mata dingin itu menusuk matanya. Maura mendapatkan kembali kewarasannya yang sempat hilang.
Jevan masih sedikit linglung saat Maura menarik tubuhnya menjauh, bibirnya merah dan basah tersenyum dan mengeluarkan alasan.
“Orang tuamu sudah masuk ke rumah.”