49

4078 Kata
Maura masih seperti orang yang kena hipnotis saat mengikuti Jevan keluar dari kamarnya. Dan kata-kata yang seperti orang bermain-main itu masih terngiang di telinganya. Kenapa Jevan bilang sekarang dia adalah pacarnya? Apa karena dia merasa tidak enak sudah meniduri seorang gadis tanpa status apa-apa di antara mereka? Lalu, bagaimana dengan perasaan pria itu ke mantan pacarnya? Bukankah dia masih mencintai Callya? Jadi buat apa mereka pacaran? Semakin banyak pertanyaan, semakin pusing kepala Maura. Menuruni tangga dan memasuki ruang tamu, langkah Maura semakin lambat. Kedua orang tua Jevan ada di sana, duduk dengan cangkir teh dan makanan kecil di atas meja. Melihat pasangan paruh baya itu tersenyum, Maura yang masih merasa sangat malu karena ketahuan tidur dalam kamar seorang pria, mau tidak mau menarik kedua sudut bibirnya ke atas. “Halo, Om, Tante.” “Ayo, kalian berdua duduk.” Saat ayah Jevan berkata begitu, Maura merasa mereka akan segera disidang. Dia mengigit bagian bawah bibirnya, dan berjalan dengan kepala menunduk. Dan kemudian, ibu Jevan datang dan meraih tangannya, dan menjejalkan ponsel ke tangannya. “Semalam, waktu kami baru pulang, hape mu bunyi terus. Jadi tante ambil dan matiin karena takut membangunanmu.” Wanita itu tersenyum cerah, dan wajah Maura langsung memerah. Maura tidak mau tinggal lama-lama di sini dan langsung pamit. Karena dia menolak untuk sarapan, ibu Jevan mengambil kotak makan dan memindahkan masakan yang baru saja matang untuk dia bawa pulang. “Salam buat orang tuamu.” Wanita itu berkata dengan ceria saat mengantarnya keluar. Maura hanya mengangguk dan segera pergi dari sana. Ketika keluar dari rumah, ibu-ibu sudah berkumpul di tempat tukang sayur. Berdiskusi tentang apa yang mau mereka masak hari ini. Pada saat itu ada yang melihat Maura, salah satu ibu segera menarik ibu Jevan. “Mbak, ini pacar baru Jevan?” Tetangga itu merendahkan suaranya, tetapi telinga Maura yang tajam masih bisa mendengarnya. “Iya, cantik kan?” Nada suara ibu Jevan bangga, dan Maura masih belum jauh dari situ. “Kelihatannya lebih baik dari pacar anakmu yang sebelumnya. Bokongnya besar, tandanya subur dan cepat punya anak.” Dua ibu-ibu tertawa, dan kerutan di dahi sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Pantat besar? Maura tidak tahu Haruskah dia bangga atau kesal dibilang begitu. Jevan mengambil di mobil di tempat parkir umum untuk mengantarnya pulang dengan mobil ayahnya, dan kursi di belakang ada bungkusan makanan dan hadiah lain yang dibawa pulang untuk orang tua Maura. Suasana di dalam mobil canggung dan memalukan, tidak tahu harus ngobrol apa, Maura hanya diam dan melihat ke luar jendela. Akhirnya dia bisa menyimpulkan kenapa Jevan mau pacaran dengannya. Itu pasti karena dia tidak punya pilihan lain selain bilang, Maura adalah pacarnya saat orang tuanya menemukan mereka tidur dalam kondisi tak senonoh. Zivara pernah bilang kalau orang tua Jevan tidak menyukai Callya, jadi mereka pasti senang ketika melihat yang tidur dengan putra mereka bukan Callya, tapi seorang gadis berpantat besar yang subur. Seandainya semalam dia langsung pergi, atau dia mengabaikan Jevan yang mabuk, pasti sandiwara bodoh ini tidak akan terjadi. Mobil yang dikendarai oleh Jevan berbelok ke rusunami yang menjadi tempat tinggal orang tua Maura. Setelah menemukan tempat parkir, dan mobil berhenti, Maura membuka mulutnya yang sejak tadi bungkam. “Kamu kasihin saja barang-barang ini ke orang lain, dan nggak usah masuk. Aku nggak mau bikin orang tuaku salah paham.” Jevan menatap tepat di bola matanya, membuat Maura tertegun. “Salah paham kenapa?” Maura menjawab, “Mereka sudah lama menungguku membawa calon suami ke rumah. Kalau mereka lihat kamu, Jev. Mereka bisa mengira kamu adalah calonku, dan itu bisa menyusahkanku.” “Lalu, bagaimana dengan orang tua ku yang sudah telanjur salah paham?” Setelah dia bertanya, Jevan tidak menunggu jawaban. Dia melepaskan sabuk pengamannya, mendorong pintu dan berjalan keluar. Kemudian membuka pintu belakang dan mengambil hadiah yang dibawakan oleh ibunya. Maura membeku di kursinya, mencerna pertanyaannya, kemudian turun dengan ekspresi wajah yang rumit. Dia sudah memberi Jevan kesempatan melarikan diri, tetapi dia malah pilih untuk masuk ke dalam perangkap. Jadi, terserahlah! Menjelang usia Maura yang sebentar lagi menginjak angka 25, belum pernah sekalipun dia membawa laki-laki ke rumah, dan itu mulai membuat orang tuanya mulai sibuk tentang jodoh, tetapi sepertinya anaknya itu tidak peduli. Mengikuti filosofi setangkai bunga, seorang wanita ada masanya mekar dengan indah untuk menarik kumbang. Usia mekar bunga terbatas, setelah itu layu dan kehilangan keindahannya. Begitu juga perempuan. Orang tua Maura khawatir anaknya akan menjadi perawan tua. Ketika sedang merencanakan untuk menjodohkan Maura dengan kerabat tetangga mereka, tiba-tiba Maura pulang dengan calon menantu laki-laki setelah semalam tidak pulang. Kejutan itu membuat orang tua Maura gembira sehingga tangan mereka yang memegang cangkir teh gemetar. “Kamu ini, Maura. Kabarin kek kalau pacarmu mau datang, biar mama siap-siap. Lihat nih, nggak ada apa-apa di rumah!” “Nggak apa-apa, Tante. Air putih juga cukup.” Indah, mama Maura tersenyum puas mendengar kata-kata Jevan. Sekarang pasangan itu hanya memiliki Jevan di matanya. Segala hal yang berkaitan dengan pria itu ditanyakan, terutama tentang profil calon menantu dan besannya, dan keberadaan Maura secara dilupakan. Maura duduk sendirian, makan sebungkus wafer cokelat dan menonton Upin Ipin di TV, dia dengan santai melirik Jevan, mengamati penampilannya yang sopan. Orang tuanya bertanya proses bagaimana mereka bisa pacaran, dan Jevan menjawab itu karena Zivara. Saat pria itu menyebut nama Zivara, barulah dia teringat dengan sahabatnya dan hampir tersedak sebatang cokelat. Membersihkan tangannya dengan tisu, dia bangun, mengambil ponselnya dari dalam tas dan buru-buru pergi ke kamarnya dengan panik, menutup pintu saat menelepon Zivara. “Mauraaa!!!! Ingat juga akhirnya kamu sama aku!!!” Zivara meraung begitu panggilan tersambun, dan Maura hanya menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia menelan ludah, lalu memberitahu Zivara. “Aku nganterin Jevan pulang tadi malam.” Zivara di ujung lain menjawab, suaranya tenang seperti air. “Aku sudah tau.” “Dari mana kamu tau?” “Tante Mita nelepon aku tengah malam, dan nanya aku kenal nggak sama kamu.” Mata Maura melompat, nyaris keluar dari rongganya. “Kamu bilang nggak kan?” Tawa zivara terdengar nyaring di telinganya. “Yakali aku bisa bohong sama tante Mita.” Maura tahu arti jawaban itu, dan dia mendesah. Setelah jeda sebentar, Zivara melanjutkan, “Tante Mita juga nanyain bagaimana orang tuamu, dan dimana kamu bekerja. Kayaknya mereka sudah niat mau datang melamarmu buat Jevan.” Maura duduk di atas tempat tidur, pikirannya kosong. “Kami melakukannya semalam saat Jevan mabuk.” Maura mengaku dengan gelisah, Zivara di sisi lain hanya menghela napas. “Kamu mencintai Jevan kan?” Maura tidak menjawab, dan Zivara kembali berkata, “Kalau kamu nggak mencintainya, kamu nggak akan mengantarnya pulang.” Kata-kata Zivara menembus hati Maura, membuatnya terdiam. Dia tidak pernah memberitahu atau menunjukkan perasaan cintanya kepada Jevan, tetapi Zivara bisa melihatnya dengan jelas. Maura akan bisa membohongi Zivara sekarang. Keheningan yang canggung akhirnya terganggu oleh suara Zivara. “orang tuanya memperlakukanku seperti anak sendiri, dan kamu adalah sahabatku. Aku tahu kamu jatuh cinta sama Jevan, dan aku bisa bilang dia nggak layak buatmu, tetapi kamu sudah tidur dengannya—“ “Itu benar-benar nggak sengaja. Kami—“ “Aku tau,” Zivara membalas bantahan Maura, “tetap saja itu nggak bisa menutupi kenyataan kalau kalian sudah tidur bareng. Hanya saja, Jevan masih terluka karena Callya, dan belum bisa melupakan mantannya. Kamu harus memikirkan itu sebelum mengambil keputusan. Aku nggak mau kamu sakit hati, Ra. Paham?” Maura mengerti, tetapi hatinya tidak bisa bohong, dia mau memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan Jevan. Hanya saja dia takut. Dia takut patah hati. Setelah menutup telepon, perasaan dan wajah Maura semakin kusut. Gadis itu merenung, tidak pernah mengira akan memiliki hubungan penuh drama dengan Jevan. Orang tuanya sudah melihat Jevan hari ini, pria itu membawa hadiah perkenalan dari orang tuanya, dan mereka pasti akan segera mengejarnya tentang pernikahan. Maura sadar, di usianya yang sekarang, dia harus menemukan orang untuk ia nikahi. Daripada di jodohkan dengan pria yang tidak dia kenal, lebih baik menikahi Jevan, seorang pria yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bangkit dari tempat tidur, dia segera mendorong pintu dan keluar dari kamar. Ketika Maura kembali ke ruang tamu, dia duduk lagi di sofa yang tadi dia tempati dan secara tidak sengaja, dia melihat tatapan Jevan yang meminta bantuan. Segera mengerti, dia berdiri dan menarik tangan pria itu. “Jevan, bukannya ayahmu mau pakai mobilnya siang ini?” “Untung kamu ingetin.” Jevan berdiri dan pamit dengan sopan. Maura menyaksikan tanpa daya, mengambil remote, dan duduk lagi di tempatnya semula. Ketika saluran televisi dia pindah, ibunya memelototinya, “Jangan nonton terus. Antar Jevan ke bawah. Pacar model apaan sih kamu ini!” Mendengar ocehannya, Maura berdiri, dan menyeret kakinya mengikuti Jevan yang sudah berjalan keluar. Semula dia hanya mau mengantarnya sampai depan pintu, tetapi begitu pintu terbuka, dan kakinya melangkah melewati ambang pintu, ibunya yang kejam mendorongnya keluar. Maura menabrak punggung kokoh di depannya dengan kaki yang stabil. Dia malu, dan ketika berbalik mau protes, ibunya menutup pintu di belakangnya. “Maaa…kok ditutup sih?” Sepertinya ibu tidak mendengar atau sengaja tidak mendengar teriakannya. Maura menggosok hidungnya, dan meminta maaf dengan malu lalu berjalan menuju lift dengan cemberut. “Aku antar ke bawah.” Berdiri di samping Jevan, Maura menekan tombol lift untuk turun. “Thank’s.” Suara Jevan masih sama datarnya dengan tadi pagi. Maura memutar matanya dan tidak mengatakan apa-apa. Ting! Dengan bunyi dentingan, pintu lift terbuka. Di dalam lift ada bude Nurul, kakak sepupu iibunya. Wanita bertubuh gemuk pendek itu mendorong kereta dorong, cucunya yang berusia dua tahun duduk dengan memegang dot di tangannya. Irene, putri tante nurul, ibu si anak kecil dalam kereta satu tahun di bawah Maura, tetapi sudah punya dua anak balita. Setelah lulus SMA Irene menikah dengan pemilik rumah makan Padang yang cabangnya ada puluhan, dan menjadi nyonya muda yang sibuk. Maura tidak membenci Irene, karena dia cukup baik, tetapi pendapatnya berbeda tentang Nurul. Maura tidak begitu menyukai Nurul, karena gangguan tentang pernikahan yang sering ditanyakan oleh ibunya akibat hasutan dari tante satu ini. Ketika dia pulang ke rumah saat libur kuliah, Maura sering mendengar Nurul bilang ke ibunya begini, “Memangnya tujuan anakmu setelah lulus kuliah apa sih? Palingan nyari kerja kan? Mendingan dari sekarang cari pasangan yang mapan, jadi nggak usah capek-capek kerja. Kayak si Irene tuh, enak tinggal di rumah, urus anak. Pokoknya santailahm nggak diribetin sama pekerjaan kantor atau bos rese. Mau apa-apa tinggal minta sama suaminya. Kalau kamu mau cariin jodoh buat Maura, menantuku punya banyak teman dengan karir yang sukses.” Siapa yang mau sama kenalan menantunya yang sudah aki-aki? Sebenarnya, suami Irene nggak tua-tua banget sih, kalau nggak salah selisihnya sebelas tahun dengan Irene, berarti sepuluh tahun dengannya, tetapi tetap saja selisih 10 tahun itu jauh. Saking sebalnya, setiap kali tante Nurul main ke rumah saat dia libur, Maura ngumpet di kamarnya dan nggak mau keluar sampai wanita itu pulang. Setelah melihat wanita itu di dalam, Maura segera memalingkan wajahnya dan mau menyelinap pergi, tetapi mata wanita paruh baya itu jauh lebih awas. “Maura!” Nurul sangat bersemangat saat memanggilnya, “ayo cepat masuk, ntar ketutup lagi lho pintu liftnya.” Maura tersenyum kaku,. Kalau bisa, dia lebih suka pintu lift ini tertutup daripada berada dalam satu ruangan yang sama dengannya. Meskipun berpikir begitu, Maura tetap masuk dengan Jevan mengikuti di belakangnya. Ketika seseorang masuk ke masyarakat, dia harus mengikuti tata krama. Meskipun Maura membencinya, dia harus tetap sopan demi orang tuanya. Jadi, Maura menarik bibirnya untuk tersenyum, membungkuk dan menyentuh kepala batita montok dalam kereta. “Aduhhh, lucunyaaa. Tante, cucumu bener-bener imut.” “Tentu saja, kayak neneknya.” Nurul tampak bangga, setelah memuji dirinya sendiri, dia memandang Maura dan memandang Jevan dengan tatapan mengandung gosip. “Maura, ini…” Maura terdiam sejenak, dia sebenarnya mau menjawab, ini adalah pacarku, untuk mendapat kedamaian, tetapi saat melihat wajah acuh tak acuh Jevan. Dia segera membuang idenya jauh-jauh. “Ini temanku di SMA dulu.” Maura menjawab acuh tak acuh, kemudian membungkuk untuk menggoda cucunya supaya nggak diajak ngobrol, tetapi si tante ini bukan orang yang peka. “Maura, apa ibumu sudah bilang ke kamu masalah yang tante bilang kemarin.” Maura tak bisa menyembunyikan perasaan enggan ketika meluruskan punggungnya dan menjawab, “Mama nggak ada ngomong apa-apa. Memangnya kenapa, Tan?” “Ini tentang teman menantu tante. Mamamu nggak bilang?” “Nggak.” “Kalau gitu biar tante kasih tahu,” wanita itu tersenyum bangga, “tempo hari kan mamamu minta dicariin kenalan buat kamu, tante udah dapet nih. Cowok ini teman Edo, umurnya 35 tahun, kerja di pertamina. Punya mobil, rumahnya ada tiga.” Wanita itu mengangkat tiga jari gemuk miliknya, “duda cerai tanpa anak. Tante rasa cocok—“ Nurul tidak menyelesaikan promosinya tentang calon suami idaman untuk Maura. Karena pria berwajah datar yang sejak tadi membisu itu menunduk, menarik bahu Maura ke arahnya. “Tante, berhenti promosi tentang pria lain. Aku calon suaminya.” Kata-kata acuh tak acuh Jevan membuat suasana lift sepi. Wajah Nurul membeku, dan wajah Maura berkedut, lalu dia berhenti menggoda anak itu. Untungnya suasana aneh itu tidak berlangsung lama, angka pada lift berubah ke satu, lift berbunyi dan pintu terbuka. Ketika Maura memberi jalan untuk Nurul dan kereta dorongnya, wanita itu bergegas pergi sambil mencibir. “Benar-benar sia-sia bantuin kamu!” Maura cemberut saat melirik Jevan, lalu menggelengkan kepalanya tanpa berkata-kata. Keduanya keluar dari lift satu demi satu dan berjalan ke tempat dimana mobil Jevan diparkir. Maura mendongak, melihat ke balkon rumahnya, benar saja, ayah dan ibunya sedang mengawasi dari balkon rumah. Menyadari anaknya menatap mereka, pasangan itu melambaikan tangan dengan penuh semangat, tetapi Maura tidak membalas dan mengabaikan mereka. “Hati-hati di jalan.” Dia otomatis berkata begitu saat Jevan membuka pintu mobil. Jevan hanya bergumam ‘um’ lalu masuk ke mobil tanpa ragu-ragu. Dia berdirin di sana sampai mobil yang dikendarai Jevan berbelok ke jalan raya, dan menghilang. Maura yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah ini menghela napas, dan mengangkat kepalanya lagi, orang tuanya masih ada di sana. Berbalik dan kembali ke rumah, ponsel di sakunya berdering begitu dia melewati pintu lobi. Kerutan di dahinya muncul saat dia melihat nama yang muncul di layar. ‘Ibu mertua’ Teman mana coba, yang menulis nama kontak begini? Mengira sedang dikerjai, Maura menggeser layar, menjawab dengan judes. “Siapa ini?!” “Maura kan?” Suara ibu Jevan membuatnya hampir mati tersedak. Setelah berdeham untuk membuang rasa gugupnya, dia kembali ke mode sopan. “Iya tante, Jevan barusan pulang.” Di sisi lain, ibu Jevan kembali bersuara, “Tante nggak nanyain Jevan, tapi cuma mau ngobrol denganmu.” “Hah? Mau ngobrolin apa ya, Tan?” “Zee bilang lusa kamu pulang ke Surabaya? Om sama tante mau ngajak kamu makan, atau kamu datang aja ke rumah sama Zee besok, tante masakin yang enak buat makan malam.” “Aku bilang ke mama dulu ya, Tan, kalau boleh nanti aku datang.” Minta ijin mama itu hanyalah alasan. Dengan karakternya, ibunya pasti kan langsung memberi ijin. Yang jadi masalah itu Jevan, dia harus bilang dia dulu. Mana tahu dia nggak bolehin Maura datang ke rumahnya lagi. Tetapi mama Jevan mengartikan lain, dia bertanya penuh kekhawatiran. “Ngomong-ngomong, Maura, apa kesan orang tuamu tentang Jevan hari ini?” Maura menjawab jujur, “Baik, mereka nggak masalah kok sama Jevan.” “Bagus, bagus. Kamu kabari kalau dapat ijin, nanti biar Jevan jemput kamu ke rumah, oke?” Jakarta di akhir tahun selalu diguyur hujan, menjelang malam hari suhu berangsur-angsur turun, dan angin sepoi-sepoi diselimuti kesejukan yang lembut. Hujan dan cuaca dingin di luar sepertinya tidak mempengaruhi tamu yang yang terus berdatangan ke Four Season Hotel, Jakarta. Malam ini ada gala dinner untuk amal selesai acara puncak festival Film Indonesia. Acara semacam ini tentu saja mengundang semua selebriti papan , juga orang kaya dari segala penjuru Indonesia untuk hadir. Tidak ada yang satupun orang yang diundang melewatkan acara besar seperti ini. Setiap kali bintang tamu melewati karpet merah, dan lampu sorot terus berkedip! ! ! Sebagai editor majalah "Cosmo", Jena Hara berkumpul dengan rekan-rekan wartawan majalah, mendengarkan mereka bicara tentang gosip terbaru. Perencana pesta ini dari EO bertaraf internasional yang terkenal, dan acaranya sangat luar biasa. Esther, anak magang yang menemani Jena baru pertama kali datang ke acara sebesar ini. Gadis itu benar-benar bersemangat sehingga dia terus berkomentar di telinga Jena. Jena meremas telepon, merasa putus asa, dan hendak pergi keluar untuk mencari tempat untuk bernapas, menghindari asisten magang yang cerewet. Pada saat dia melewati kerumunan, Rossa Caninna, yang mengenakan gaun biru dan menginjak sepatu hak tinggi, berlari ke arahnya. "Jena..." Ada banyak orang di aula perjamuan. Baik itu selebriti atau bintang film, mereka mempertahankan sikap elegan dan bermartabat. Cara lari Rossa yang sembrono menarik banyak mata penasaran, tapi itu hanya sesaat, kemudian mereka membuang muka. Tentu saja tidak ada yang mau membuang waktu memperhatikan artis yang tidak terkenal sepert Rossa. Jena melihat penampilannya cuek dan sembronot, dan berkata sambil tersenyum: "Ada banyak produser dan sutradara di sini, dan ada kamera wartawan infotaintment dimana-mana. Bisa nggak sih kamu kayak selebriti lain yang anggun dan tenang?” Rossa berkata dengan acuh tak acuh, "Biar aja, lagian cuma sedikit ini orang yang kenal sama aku.” Dia mengambil lengan Jena dan mendekatkan mulut ke telinganya, berbisik. “Aku barusan ketemu Cynthia di luar.” Mendengar nama Cynthia disebut, mata Jena sedikit terkulai, dan suasana hatinya mendadak berubah buruk., “Kok dia bisa datang?” Rossa menatap wajahnya dan berkata, "Bisa lah, biarpun dia masih baru di dunia entertainment, dia salah satu artis di bawah RAN’s wajar kalau bisa datang.” Investasi RAN’s Group melibatkan berbagai sektor industri. ‘Cosmo’ didirikan 20 tahun yang lalu dan merupakan anak perusahaan dari RAN’s Group, dan acara malam ini disponsori oleh majalah "Cosmo". Cynthia menjadi artis kesayangan RAN’s sejak awal debutnya. Sinetron yang menjadikan dia sebagai pemeran utama menarik banyak perhatian penonton sejak pertama kali tayang, dan sebentar lagi mau syukuran episode ke-1000. Jena mengepalkan kedua tangannya, dan ketika dia mengangkat kepalanya lagi, ekspresinya kembali normal, "Oke, nggak masalah. Kedatangannya nggak akan mempengaruhiku biarpun dia kayang.” Mendengarkan nada tenang Jena , Rossa diam-diam mengacungkan jempolnya, dia harus mengatakan bahwa kemampuan Nona besar ini untuk menghibur dirinya sendiri benar-benar tak tertandingi. Jena Hara adalah putri satu-satunya dari keluarga Soejono dan satu-satunya pewaris Grup RAN’s yang didirikan Rangga Soejono Rangga Soejono dan istrinya dapat dianggap sebagai pasangan teladan. Jena tumbuh di bawah cinta orang tuanya. Setelah tumbuh dewasa barulah dia mengetahui bahwa hubungan orang tuanya telah rusak sejak lama, tetapi mereka tetap mempertahankan pernikahan dan sering bersikap mesra demi kepentingan perusahaan dan kesehatan mental anak mereka yang belum dewasa. Sebenarnya Rangga sudah memiliki wanita lain di luar. Istrinya sudah tahu, tetapi mereka sudah punya komitmen untuk tidak saling mengganggu. Setahun yang lalu, Jena Hara dan Joury Michael Ongko, putra tertua dari keluarga Ong, menikah untuk bisnis, setelah pernikhan itu saham perusahaan melonjak. Pada saat yang sama, pernikahan pasangan Soerdjito secara resmi juga berakhir. . Ibu Cynthia, Mayang, tidak membuang waktu untuk segera meresmikan pernikahan sirinya dan mengambil posisi ibu Jena untuk menjadi Nyonya besar Soerdjito. "Pokoknya jangan anggap enteng ibu dan saudara tirimu.” Daripada menasihati, kata-kata Rossa terdengar seperti menghasut, “Si Sinta aja sampai nekat mengubah nama ayahnya. Nggak ada jaminan warisanmu akan tetap utuh, apalagi kalau ayahmu dengar bisikan si Kuyang Mayang.” Cynthia adalah anak Mayang dari suami pertamanya, nama aslinya Sinta Sadikin. Awalnya dia eksis dan terkenal di ask fm, sebelum platform itu mulai ditinggalkan, dia sudah lebih dulu pindah ke i********:, dan mulai di kenal publik sebagai selebgram. Dari awal muncul sampai sekarang dia suda meggunakan nama Cynthia S Jono, itu jauh sebelum orang tuanya bercerai. Mengingat hal itu, wajah Jena menjadi gelap, "Coba aja. Kalau dia berniat menganggu perusahaan, aku nggak akan segan-segan menghancurkan karirnya.” Rossa membuka mulutnya mau mengatakan sesuatu, yang membuatnya batal adalah Esther tersenyum dan berjalan mendekat. "Kak Jena, dicariin Bu Mielda,” dia nampak iri saat berkata, “Kayaknya mau dikenalin ke beberapa seleb cowok yang lagi naik daun.” Apa yang mereka lakukan di sini adalah berurusan dengan selebriti. Petronella Jamielda adalah pemimpin redaksi majalah "Cosmo". Dia bergabung dengan majalah sudah puluhan tahun. Berawal dari staff redaksi sampai akhirnya menjadi pemimpin redaksi. Dia tidak tahu kalau Jena Hara adalah wanita pewaris Grup RAN’s, tetapi dia menghargai kepekaan dan bakat Jena untuk fashion, dan dengan sengaja mengembangkannya dan membimbingnya untuk memperluas kontaknya. Jena melirik Rossa, dan Rossa mengangguk dan berkata, "Silakan, kita lanjutin nanti.” Jena mengikuti Esther untuk menemukan Mielda. Mielda membawanya untuk menyapa beberapa orang yang dia kenal. Mereka sedang mengobrol, dan tiba-tiba ada dengungan di luar pintu. Tamu yang sedang mengobrol bubar dan segera menyambut begitu melihat siapa yang datang. Ketika Jena mau bertanya siapa, Mielda malah meninggalkannya dan ikut menyambut tamu yang datangnya sedikit telat. Jena menoleh tanpa sadar, dan matanya tertuju pada sosok pria yang dikelilingi kerumunan. Joury mengenakan setelan hitam dengan sosok tinggi dan tinggi, raut wajahnya dewasa dan dingin, dan temperamen yang tenang, dia berjalan dengan dua kaki panjang, dan orang di depannya mundur ke samping tanpa sepatah kata pun dan memberi jalan. Seolah-olah menyadari matanya yang mengintip, pria itu menoleh, bulu matanya sedikit terangkat, tatapannya menatapnya dengan tepat, saling menatap, seberkas cahaya bersinar di wajahnya. Tatapan mata dalam yang menunjukkan kasih sayang, berlawanan dengan wajah yang begitu dingin. Jena berhenti selama dua detik, lalu membuang muka dengan santai. Dalam haitinya bertanya-tanya kenapa dia bisa datang ke sini, katanya baru pulang besok? Jena membuka ponsel, membaca informasi penerbangan yang dikirim kepadanya oleh Joury lewat WA di telepon. Dia ingat dengan benar, jadwal kepulangan Joury adalah penerbangan pertama jam enam pagi. Apa dia mengubah jadwalnya untuk datang ke acara ini? Setahunya Joury paling malas datang ke acara-acara formal seperti ini, jadi apa yang mengubahnya? . Melihat bahwa dia tidak bersama orang lain, Rosa berjalan untuk mengedipkan matanya, dan mengangkat dagunya ke arah Joury, yang berarti menunjukkan padanya, suaminya datang. Jena mengabaikannya dan mengambil segelas anggur merah dari piring yang dipegang pelayan, dia mendengar seseorang menyebut nama Joury, bergosip tentang pencapaiannya di dunia bisnis. Orang sibuk seperti dia jarang menghadiri gala dinner yang hanya untuk berbasa-basi. Seperti Jena, semua orang menebak-nebak mengapa dia ada di sini. "Apakah ini masih harus ditebak? Joury Michael adalah bos masa depan Grup RAN’s, dan Cosmo juga bagian dari RAN’s. Tentu saja, dia di sini untuk mendukung perusahaan istrinya." Jena memiliki anggur di mulutnya. Dia hampir tersedak mendengar nama bos suami. Anggur itu langsung dia telan dan melewati tenggorokannya tanpa tahu bagaimana rasanya. Dia tanpa sadar menatap Esther yang sedang mengobrol tentang bos masa depan mereka. . Esther menemukan pandangan Jena yang sepertinya bingung, mengira Jena tidak tahu siapa itu Joury, dia mengambil inisiatif untuk memberitahu. “kak Jena, kamu tahu nggak tentang pernikahan grup RAN’s dan Ongko?” Jena tersenyum tipis, tentu saja, bukan cuma tahu, dia adalah pihak yang paling terlibat. Esther melihat ke arah Fu dan berkata, "Orang yang dikelilingi oleh sekelompok orang dan tersanjung di sana adalah presiden Grup Shengyuan, yang juga merupakan pasangan nikah wanita kami dari Grup Daheng. Dia masih muda dan menjanjikan. , tampan dan menawan. Saya hanya melihat foto-fotonya di majalah keuangan. Saya telah membuang relung lalu lintas populer itu ke sepuluh jalan. Saya tidak berharap bahwa saya lebih tampan daripada foto-foto itu. Saya benar-benar iri pada Nona Ruan. Jika saya dia, aku akan melihat wajah tampan bos setiap hari. Aku bisa mati dengan bahagia." Ruan Xin: "..." Itu tidak berlebihan. Dia tidak hidup dengan baik, tapi dia sangat tampan. Wang Li bersalah atas nympho ketika dia berbicara.Xia Yitong, yang berdiri di sampingnya, melihat ekspresi Ruan Xin, dan air mata keluar dari senyumnya yang tercekik. Pesta akan segera dimulai, lokasi adegan diatur sesuai dengan status para tamu, Xia Yitong mengikuti Ruan Xin ke posisi belakang. Pembawa acara di atas panggung sedang berjalan melalui proses. Saya tidak tahu apakah itu disengaja atau tidak. Kamera layar lebar memotong ke baris pertama beberapa kali dan membidik Fu Siyan, yang duduk di tengah tengah. suara. Tuan rumah memandangnya, seolah-olah dia ingin dia naik ke panggung untuk mengatakan sesuatu, Fu Siyan mengangkat matanya, matanya dengan ringan menyapu lensa kacamatanya, dan sudut bibirnya melengkung, dengan keagungan atasan. dalam hatinya. Kamera bergetar dan beralih kembali ke panggung, setelah itu, dia tidak berani menyapu ke baris pertama, dan bahkan aktris yang duduk di baris pertama kehilangan kamera. Xia Yitong memiringkan kepalanya dan berkata dengan emosi, "Xinxin, aura suamimu terlalu kuat. Tatapan matanya membuat tangan guru kamera bergetar. Lihat dirimu lagi. Karyawan perusahaanku sendiri hanya tahu bosnya tapi tidak' aku tidak mengenalmu, bos kecil. Pewaris ditugaskan ke majalah sebagai editor."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN