Chapter 5
Magic Spell
Cloudy menghela napas berat, hari ke tujuh suaminya tidak kunjung kembali ke tempat tinggal mereka dan Ryan juga tidak menjawab panggilannya. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya. Berpikir jika ada yang salah dengan Ryan atau dirinya yang tidak memahami Ryan?
"Perlu tumpangan untuk kembali?"
Suara itu membuat Cloudy membuka matanya. Ia kembali menghela napasnya dengan berat kemudian menegakkan punggungnya. "Jika kau tidak keberatan."
"Oh, My Sweet Heart...." Etta, rekan kerja Cloudy mendekati wanita hamil itu dan mengecup pelipis Cloudy. "Tentu saja dengan senang hati, aku akan mengantarmu."
"Etta, terima kasih."
"Apa suamimu masih belum kembali?" tanya Etta dengan hati-hati.
Aura murung menyelubungi wajah Cloudy. "Dia mengatakan akan menghubungiku nanti."
"Apa ada masalah dengan suamimu?"
Cloudy tampak berpikir. "Ryan sangat terpukul, satu-satunya keluarganya telah tiada."
"Satu-satunya?"
"Ya," desah Cloudy terdengar ragu.
"Jadi, kau bukan keluarganya?"
Cloudy menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu maksudnya...."
"Tidak, ini tidak masuk akal. Kau harus ke tempat tinggal saudara kembar suamimu dan memastikan keadaan suamimu dan tidak seharusnya suamimu itu tenggelam dalam duka hingga mengabaikanmu," omel Etta dengan bersungut-sungut.
"Jadi, secara tidak langsung kau sedang menuduh suamiku menyembunyikan sesuatu?"
Etta memiringkan kepalanya, matanya menatap Cloudy dengan tatapan lembut. "Cloud, apa pekerjaan saudara kembar suamimu? Maksudku... apa pekerjaan saudara iparmu itu berhubungan dengan pekerjaan suamimu?"
Cloudy mengenal Ryan satu tahun yang lalu dan mereka memutuskan menikah hanya dalam beberapa bulan setelah perkenalan mereka. Ryan tidak banyak menceritakan tentang pekerjaan, yang Cloudy tahu Ryan bekerja di balik laptopnya di tempat tinggal baru mereka dan di dalam ruangan pribadinya. Sesekali Ryan pergi untuk urusan pekerjaan ke tempat tinggal Rain yang dulu merupakan tempat tinggalnya sebelum mereka menikah.
"Suamiku dan saudara kembarnya memiliki perusahaan...." Perusahaan yang dirintis bersama dan Ryan.
Ryan tidak terlalu terbuka jika menyangkut pekerjaan bahkan setahu Cloudy profil perusahaan milik keluarga Holter tidak dicantumkan nama Ryan dan Rain. Hanya ada nama Holter dan ia tidak berniat menyelidikinya karena sepanjang yang ia tahu perusahaan itu legal sehingga tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
Cloudy masih mengingat saat mereka merencanakan pernikahan, Ryan meminta pesta pernikahan diadakan secara pribadi dan tertutup yang hanya dihadiri oleh kerabat dan sahabat dekat Cloudy dan hal itu baginya bukan masalah besar karena ia tidak ingin membuat pertengkaran hanya karena masalah pesta pernikahan. Asalkan pernikahan mereka legal secara hukum, bagi Cloudy itu sudah cukup meski ia tidak menampik sebagai seorang wanita ia memiliki impian pernikahan mewah yang hadiri seluruh rekan kerja dan teman-temannya.
Namun, karena sepertinya Ryan ingin menjaga privasinya, Cloudy memilih sepakat dengan pernikahan sederhana dan tertutup.
"Mungkin saudara kembar suamimu meninggalkan banyak masalah di perusahaan. Tapi, tidak seharusnya di mengabaikanmu. Kau harus menyusulnya dan mulai sekarang tinggallah bersamanya."
Mata Cloudy membelakak. "Yang benar saja? Aku menyuruhku mengikuti suamiku seperti seekor anjing mengikuti tuannya?"
"Tepat!" ucap Etta cepat dan penuh semangat. "Kau harus mendengarkan aku karena aku...."
"Kau lebih tua dariku, kau menikah dua kali, kau memiliki puluhan mantan kekasih," sahut Cloudy diiringi tawa ringan lalu dengan sedikit kesusahan ia bangkit dari duduknya. "Jadi, sekarang untuk siapa kau membaca mantra sihir itu?"
"Aku akan membaca mantra setelah mengantarkanmu ke tempat tinggal suamimu."
"Jangan bilang kau berencana mencari teman kencan di bar lagi." Cloudy menggelengkan kepalanya karena jawaban Etta. Temannya itu beberapa kali mencari teman kencan di bar dan sejauh ini hanya untuk bersenang-senang, tidak ada yang berlanjut ke hubungan yang serius.
"Memangnya apa yang bisa kulakukan? Meratapi perceraian keduaku sambil menatap tembok kamarku?" Etta terkekeh.
Cloudy menyeringai. "Omong-omong, di mana Axel? Aku tidak melihatnya sejak pagi."
"Dia berada di Brooklyn."
"Dia tidak memberitahuku."
"Memangnya dia harus terus memberitahumu ke mana pun dia pergi?"
Keduanya tertawa sambil melangkahkan kaki keluar dari kantor polisi kemudian memasuki sebuah BMW berwarna abu-abu metalik milik Etta.
Etta adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan, tentu saja Etta juga tidak kalah baiknya dengan Axel di tempat kerja Cloudy. Hanya saja jika Axel lebih banyak bersikap tenang, sementara Etta bersikap selayaknya wanita yang terkadang banyak bicara dan suka berdebat sehingga membuat suasana kantor menjadi lebih ramai.
Cloudy menatap tombol lift yang membawanya menuju lantai tempat tinggal Rain, ia menjilat bibirnya yang terasa kering dan jantungnya terasa berpacu sedikit lebih cepat, sedangkan otaknya sibuk merangkai kalimat apa yang harus ia ucapkan nanti di depan Ryan.
Mereka tidak pernah tidur terpisah sejak menjalani pernikahan, belum pernah terlibat cekcok apa lagi pertengkaran meski terkadang ada pertentangan kecil yang disebabkan perbedaan pemikiran. Tetapi, dengan cepat mereka menemukan jalan tengah meski sebenarnya yang sering terjadi adalah Ryan bersedia mengalah untuk Cloudy.
Kali ini Cloudy merasa sedikit janggal dengan sikap suaminya yang berbeda. Ryan tidak menjawab panggilannya, tetapi suaminya merespons dengan mengirimkan pesan yang menurutnya adalah omong kosong karena mengirimkan pesan dengan kata-kata yang sama.
"Kita bicara nanti." Dan itu adalah satu-satunya kebohongan Ryan yang pernah Cloudy temui, tujuh hari suaminya tidak kunjung berbicara padanya.
Benar kata Etta jika seharusnya ia telah kehilangan kesabaran. Dan sebenarnya Cloudy memang telah kehilangannya, ia berusaha bersikap tenang karena ingin suaminya menganggapnya sebagai seorang istri yang penuh pengertian di tengah duka suaminya.
Cloudy benar-benar berterima kasih karena dikelilingi orang-orang baik, seperti Etta dan Axel di tempat kerja. Axel selalu ada untuk membantunya dan Etta, wanita itu sepertinya harus dinobatkan sebagai penasihatnya.
Ketika lift berhenti di lantai teratas bangunan, Cloudy sejenak ragu untuk keluar dari sana.
Ryan bisa saja marah jika ia tiba-tiba datang ke tempat tinggalnya dulu karena Ryan pernah berpesan untuk tidak datang ke tempat itu seorang diri. Tetapi, bukankah sekarang ia datang untuk Ryan? Dan lagi pula Ryan pernah memberikan kode akses tempat tinggalnya, jadi apa sebenarnya maksud Ryan memperingatkannya untuk tidak datang ke sana sendirian?
Di tengah kebimbangannya, pintu lift nyaris menutup kembali dan saat Cloudy hendak menekan tombol lift, seorang wanita berparas cantik dengan gaya pakaian modis memasuki lift diikuti oleh seorang pria berpakaian hitam khas pengawal dan ia tahu pengawal itu adalah salah satu orang yang diperkerjakan oleh Rian dan Ryan.
"Nyonya Holter?" Pengawal itu tampak tegang menyapa Cloudy.
Bersambung....
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak komentar dan RATE.
Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis.
❤️🍒