7. Marcus's Friend

1006 Kata
Chapter 6 Marcus's Friend Kondominium yang menjadi tempat tinggal Rain masih sama seperti saat Cloudy datang terakhir kali. Ruang tamu dengan dinding kaca menghadap pemandangan gedung-gedung tinggi di Manhattan, sofa berwarna abu-abu tua berpadu dengan warna abu-abu muda dan hiasan lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan yang ditata nyaris menyerupai tempat tinggal Cloudy dan Ryan. Seorang pelayan menghampiri Cloudy dan mengangguk hormat padanya kemudian berucap, "Nyonya, silakan duduk. Tuan akan segera menemui Anda." Sedikit aneh kedengarannya karena ia seperti orang asing di tempat itu, ia seperti seorang tamu. Bukan seorang istri yang ingin bertemu suaminya. Mungkin pelayan Rain hanya tidak terbiasa dengan kehadirannya sehingga memperlakukan dirinya seperti tamu asing. "Di mana suamiku?" tanya Cloudy. "Tuan ada di kamar dan baru selesai mandi," sahut pelayan. Mandi? Tidak biasanya Ryan mandi sore, sepanjang yang Cloudy tahu suaminya biasanya mandi sebelum mereka istirahat atau setelah bercinta. "Biar kutemui suamiku di kamarnya." "Tidak, Nyonya. Jangan... maksud saya, Tuan mengatakan agar Anda menunggu di sini." Pelayan itu tergagap berusaha menyembunyikan kegugupannya. Cloudy menghela napas kasar. Tempat ini adalah tempat tinggal suaminya dulu dan sekarang karena Rain telah tiada bukankah sebagai satu-satunya keluarga Rain yang tersisa maka kepemilikan tempat itu seharusnya jatuh ke tangan Ryan? Awalnya ia ingin bersikap sopan, tetapi Cloudy berubah pikiran. Ia mengabaikan ucapan pelayan dan melangkah menuju kamar Ryan. Pelayan mengikuti langkah Cloudy dan berucap, "Nyonya, tolong jangan membuat saya dalam kesulitan. Tuan mengatakan agar Anda menunggu di ruang tamu." "Kenapa kau melarangku masuk ke kamar suamiku?" tanya Cloudy dengan nada ketus. "Nyonya, tolong...." "Aku istri Ryan," potong Cloudy tanpa memedulikan pelayan yang mengikutinya dengan wajah nyaris pias. "Aku ke sini untuk menemui suamiku, bukan untuk merampok!" Pelayan itu menjilat bibirnya sembari meremas seragamnya. "Tuan tidak suka dibantah, Nyonya." Oh, tentu saja. Ryan memang tidak suka dibantah, tetapi Cloudy adalah pengecualian bagi Ryan. "Bisakah kau diam?" Pelayan itu mengangguk pasrah karena ia tidak bisa menentang Cloudy, tidak pula bisa menentang bisa mematuhi perintah Rain, tuannya yang seluruh titahnya harus dilaksanakan sesuai dengan keinginan. Suara deheman membuat Cloudy menghentikan langkahnya dan pandangan matanya menemukan sosok Rain yang mengenakan jubah mandi berwarna biru dongker dan rambut setengah basah menuruni tangga kemudian berdiri di bordes tangga yang berbentuk siku dengan railing berwarna kuning gading yang lembut dan dipagari dengan kaca yang sedikit gelap. "Ada apa, Bride?" tanya Rain tanpa menatap Cloudy. "Aku ingin bertemu dengan suamiku dan pelayan saudaramu ini menghalangiku," sahut Cloudy dengan nada ketus. Rain mengalihkan tatapannya kepada Cloudy. "Kenapa tidak mengabariku jika kau ingin ke sini?" Cloudy tersenyum sinis. "Apa aku harus mengabari terlebih dulu untuk bertemu suamiku? Suami yang mengabaikan panggilan istrinya selama satu Minggu." "Bride, buatkan cokelat hangat untuk Nyonya dan bawa dia duduk di tempat yang paling nyaman," perintah Rain kepada Bride. Suaminya bahkan sepertinya tidak ingin turun dari tangga, mereka berbicara seperti orang asing dari jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Cloudy merasa ada yang tidak beres, sesuatu yang disembunyikan Ryan darinya. "Aku ke sini untuk berbicara denganmu, bukan untuk menikmati cokelat panas," ucap Cloudy seraya mengangkat dagunya. Rain berdehem pelan, nyaris tidak ada yang mendengar kecuali dirinya. Cara Cloudy menatapnya, mata cokelat terang itu seolah mengandung bara dan Rain yakin jika sedikit saja ia salah bertindak, bara di mata wanita itu akan menyala atau mungkin kedoknya sebagai Ryan akan terbongkar. "Agape Mou," ucapnya dengan nada yang lebih lembut kemudian menjilat bibirnya. "Kita bicara nanti, beri aku waktu untuk berganti pakaian." Mengganti pakaian? Mereka suami istri, bukankah Ryan seharusnya tidak terganggu mengganti pakaian di depannya. Kenapa ia harus menunggu suaminya di luar kamar? "Apa yang kau sembunyikan di dalam kamarmu? Sejak kapan aku tidak boleh mengikuti suamiku ke dalam kamar?" Rain menggeram di dalam benaknya karena nada bicaranya yang lembut barusan ternyata tidak meluluhkan Cloudy. "Kau mencurigai suamimu?" tanya Rain dengan bada datar. "Siapa wanita yang barusan keluar dari sini bersama salah satu pegawaimu?" Cloudy berasumsi jika wanita itu keluar dari tempat tinggal Rain karena pegawai Rain sempat berbicara dengan wanita di lift sebelum pria berseragam bodyguard mengantar Cloudy masuk ke unit yang ditinggali Rain. Rain mengerutkan kedua alisnya. "Wanita?" "Ada urusan apa dia ke sini?" "Aku tidak tahu, mungkin dia teman wanita Marcus." Meski Rain tidak yakin apakah Cloudy mengenal Marcus, tepatnya apakah Ryan pernah mengenalkan mereka. "Marcus kadang membawa teman wanitanya ke sini," lanjutnya berbohong. Satu-satunya alasan yang tepat sekarang hanya itu karena mustahil mengatakan pada Cloudy jika wanita yang barusan Cloudy jumpai adalah wanita yang ia bayar untuk memenuhi hasratnya sebagai pria dewasa. "Aku akan berganti pakaian, kita berbicara sepuluh menit lagi," ucap Rain seraya tersenyum simpul dan meniti anak tangga untuk kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Namun, Cloudy memang tidak sejinak yang ia pikirkan. Baru lima anak tangga yang ia lalui ia justru mendapatkan Cloudy mengikutinya di belakang. Jika bukan karena ada keturunan keluarga Holter di rahim Cloudy, ia tidak segan menendang wanita yang jauh dari standar kecantikan menurutnya keluar dari tempat tinggalnya. Selama-lamanya. Karena tidak bisa lagi berkelit, ia membiarkan Cloudy mengikutinya dan dengan terpaksa Rain masuk ke dalam kamar Ryan yang pastinya masih sangat rapi karena selama delapan bulan kamar itu dibiarkan kosong dan hanya sesekali dibersihkan oleh Bride. *** Di sebuah lantai perkantoran gedung pencakar langit di Manhattan, Ello meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat ke atas meja kerja yang terbuat dari kayu ek. "Kau lihat apa yang kutemukan, Sayang," ucapnya diiringi sorot mata penuh suka cita. Alyssa yang sedang menarikan jarinya di atas keyboard menghentikan gerakannya. "Kau mendapatkan investor baru?" "Menurutmu?" Ello menaikkan kedua alisnya. "Mungkin lebih dari itu, kau terlihat sangat bahagia." Alyssa Dena gerakan lembut meraih amplop yang diletakkan kekasihnya dan membukanya. Wanita berambut pirang dengan model bob itu mengerutkan kedua alisnya. "Dari mana informasi ini kau dapatkan?" "Sepupuku adalah perawat yang menangani saat... Ryan dibawa ke ICU." Alyssa tersenyum tipis seraya matanya yang berwarna biru muda mengamati foto-foto telah dijejerkan di atas meja. "Menurutmu, kenapa dia merahasiakan kematian Ryan?" Ello mengedikkan bahunya. "Mungkin mantan kekasihmu takut kita tahu jika sekarang dia bekerja sendirian." Bersambung.... Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan RATE. Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis. ❤️🍒
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN