Chapter 7
Our Home
Rain tidak akan takut bekerja sendirian, Alyssa tahu betul siapa Rain. Pria itu jauh melampaui perkiraannya, otak Rain berisi gagasan cemerlang yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh kebanyakan orang dan di mata pria itu terdapat jejeran kode-kode komputer sementara Ryan tidak sehebat Rain.
Ketika menendang Rain dari perusahaan yang mereka berempat bangun, nyatanya tidak memerlukan waktu lama pria itu untuk kembali bangkit dari keterpurukannya dan kini perusahaan milik Rain selalu menjadi bayangan bagi Contemporary Scurity berkat kecerdasan yang Rain miliki.
Rain bisa tetap tegak berdiri tanpa Ryan, sementara jika Rain yang meninggal sudah dipastikan ILP Security akan mengalami goncangan besar karena pondasi perusahaan itu adalah Rain.
Tanpa Ryan, ILP akan baik-baik saja. Alyssa yakin jika sesuatu yang sedang Rain sembunyikan dan nilainya lebih berharga dibandingkan perusahaan yang menjadi pesaingnya.
"Apa kau menyelidikinya lebih jauh?" tanya Alyssa.
"Rain memakamkan Ryan di GREEN-WOOD CEMETERY," jawab Ello.
Alyssa James tersenyum dengan lembut. "Kau mendapatkan rekaman CCTV di tempat itu?"
Ello Hurley menarik kursi di depan meja kerja Alyssa dan duduk dengan santai. "Ada wanita hamil yang bersama Rain di sana."
Alyssa mengamati foto-foto yang berasal dari CCTV di pemakaman dan salinan berkas kematian Ryan dari rumah sakit. Meskipun ia dan Rain telah berpisah belasan tahun yang lalu dan untuk waktu yang sangat lama pula mereka tidak pernah lagi berjumpa secara langsung, tetapi ia masih bisa mengenali Rain dengan jelas. Wajah tampan dengan ekspresi dingin itu masih sama dengan terakhir kali ia jumpai. Alyssa tersenyum simpul menatap foto Rain.
"Sampai sekarang tidak ada kejelasan siapa di balik batu nisan itu, hanya ada nama Holter di sana," ujar Ello seraya bersandar di sandaran kursi.
"Wanita hamil ini...." Alyssa mengamati sosok wanita berkerudung yang berdiri di samping Rain. "Jadi, dia telah mendapatkan penggantiku?"
Bahu Ello terguncang karena gumaman Alyssa yang masih sampai dengan jelas di telinganya.
"Kau cemburu?"
Bibir Allysa yang berwarna merah terang mengulas senyum lebar, sedangkan matanya yang berwarna hijau menatap layar MacBook beralih kepada Ello.
"Apa aku memiliki alasan untuk cemburu?" tanya Alyssa dengan sinis, tetapi suaranya terdengar lembut.
Alyssa memiliki wajah cantik yang tidak semua wanita miliki, ia juga memiliki kecerdasan yang nyaris sebanding dengan Rain, dan sekarang mereka bersaing secara ketat dalam segala bidang hingga perusahaan mereka bersaing di Amerika dan Eropa Eropa. Apa pun yang Alyssa miliki, Rain juga memiliki. Dari mobil mewah, jet pribadi hingga properti lain dan Alyssa tahu persis berapa aset yang Rain miliki meski mantan kekasihnya itu menutup rapat-rapat kekayaannya.
Tidak ada wanita yang pantas bersaing dengannya apa lagi jika dalam konteks kecerdasan, bahkan Rain yang memiliki kecerdasan melampaui dirinya saja bisa ia perdaya dengan mudah hingga jatuh ke dalam jebakannya kemudian mencampakkannya tanpa ampun setelah misinya tercapai. Karena kecerdasan saja tidak cukup, terkadang hidup memerlukan kelicikan untuk bertahan atau meraih sesuatu yang lebih besar dan Alyssa telah membuktikannya bahwa kecerdasan saja tidak cukup.
***
Kamar Ryan terlalu rapi untuk ditinggali, Rain menyadari jika ia membawa Cloudy ke sana kemungkinan Cloudy akan menanyakan kerapian kamar Ryan dan lantai kamar mandi yang kering padahal ia baru saja selesai mandi. Tetapi, membawa Cloudy ke dalam kamarnya lebih mustahil karena sepreinya sangat berantakan akibat seks yang baru saja ia lakukan beberapa menit yang lalu.
Satu-satunya pertaruhan Rain adalah membiarkan Cloudy tahu hal yang sebenarnya kemudian ia akan memaksa wanita itu tinggal di kondominium hingga bayinya lahir. Kalau perlu mengurung Cloudy, semacam menculik wanita itu dan semuanya beres.
Rain lalu mendorong pintu kamar Ryan dengan hati-hati lalu melangkah masuk diikuti Cloudy.
"Duduklah, aku akan mengambil pakaianku," ucap Rain dengan nada datar.
"Biar aku yang menyiapkan pakaianmu." Cloudy meletakkan tasnya di atas tempat tidur.
Rain diam-diam mendengus, ia berbalik menghadap Cloudy dan bibirnya mengulas senyum yang sama sekali tidak ia inginkan. "Kau pasti sangat lelah setelah bekerja, istirahatlah," ucapnya berusaha selembut mungkin menirukan Ryan meskipun ia sendiri tidak yakin jika caranya sudah mirip Ryan saat berbicara dengan Cloudy dan berharap ia bisa memerankan Ryan dengan baik.
Cloudy tersenyum tipis, matanya menatap Ryan dengan tatapan canggung kemudian mengangguk. Ia dengan lembut meletakkan bokongnya di sisi tempat tidur dan pandangan beralih mengamati sekeliling ruangan yang terlihat sangat rapi.
"Aku tidak tahu jika kamarmu di sini kau serapi ini," ucap Cloudy lambat-lambat.
"Aku lebih sering berada di ruang kerja dan terkadang aku menggunakan kamar Rain." Rain mengamati wajah Cloudy, mencari-cari kecurigaan di sana kemudian menjilat bibirnya. "Kau pasti mengerti, aku... merindukan saudaraku."
Ditinggalkan satu-satunya keluarga pasti tidak mudah dan kemarahan Cloudy menguap bersama udara yang ia hirup, begitu pula susunan kalimat yang telah ia bangun untuk berdebat dengan Ryan telah habis tak bersisa. Hanya ada rasa iba di benak Cloudy menyaksikan betapa terpukulnya suaminya yang baru saja kehilangan saudaranya.
Ia bangkit dan memeluk pinggang Rain. "Aku tahu ini sulit, biarkan aku bersamamu melalui dukamu. Jangan pendam kesedihanmu sendiri, kumohon...," ucapnya lembut dan lirih.
Rain membeku dan nyaris terpaku. Tetapi, ia segera merespons Cloudy dengan cara membalas pelukan wanita itu meskipun ia sempat ragu-ragu saat hendak melingkarkan lengannya di bahu Cloudy. "Terima kasih, Ágape Mou."
Cloudy mendongak dan tersenyum. "Kau masih memiliki kami," ujarnya seraya menarik pergelangan tangan Rain dan meletakkannya di perutnya yang membuncit.
Untuk ke sekian kalinya Rain kembali membeku oleh Cloudy. "Ya, aku memiliki kalian," ucapnya dengan serak, suaranya nyaris tersangkut di tenggorokanndan tangannya kaku meraba perut Cloudy.
Ia berusaha menepis kegugupannya sembari mengusap perut Cloudy yang kencang dan terasa hangat sementara jantungnya berdetak tidak menentu, terasa sangat gugup hingga Rain merasa seperti sedang berada di tepi jurang kematian yang bisa menelannya kapan saja.
"Jadi, kuharap kau tidak lagi tenggelam dalam dukamu, Babe...."
Rain tersenyum dan mengangguk. "Kau benar."
Cloudy menangkup kedua pipi Rain, menatap pria yang ia kira adalah suaminya dengan tatapan sangat lembut. "Jadi, kapan kau akan kembali ke rumah kita?"
"Sayang," ucap Rain senatural mungkin meski ia merasakan perutnya terasa mual dengan caranya memanggil Cloudy. "Ini rumah kita juga."
"Kau akan tinggal di sini?"
Rain dengan gerakan canggung mengusap punggung Cloudy. "Kita akan tinggal di sini."
Ekspresi wajah Cloudy berubah menjadi datar seketika. "Kau belum bertanya padaku."
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar dan RATE yaah di bagian depan.
Terima kasih dan salam manis dari Cherry yang manis.