"Renata tatap mataku! Kau lihat betapa aku mencintaimu,ini aku lakukan demi kebahagiaanmu juga agar kau bisa tenang dan menganggap aku selalu ada, tidak ada sedikitpun aku menyakiti perasaan kepada Rania tolong mengerti aku saat ini."
"mas aku mohon yang berkata seperti itu Aku tidak tahu lagi yang kuharapkan agar kau bisa memiliki anak dari darah dagingmu, tidak ada satupun orang yang bisa dan membuat kau memiliki anak. aku hanya mempercayai dia bukan orang lain orang lain hanya menganggap aku tidak bisa membahagiakan suami sendiri, banyak di luar sana tetapi kau tidak menyadari Bagaimana teman-teman yang mengatakan Aku istri yang tidak berguna, sakit yang aku rasakan saat ini Fajar tapi aku berusaha tetap tenang, ikhlas Dan menganggap semua itu bisa berjalan dengan lancar." Ucap Renata kepada Fajar yang tidak mengerti isi hatinya.
"Renata maafkan aku aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku akan menuruti apa yang kau inginkan asalkan kau masih mengizinkan aku untuk selalu menyayangimu.Aku berusaha untuk memberikan perhatian dan perasaan ini kepada Rania hanya demi kau Renata."
"Tidak mas, jangan hanya karena Aku memiliki perasaan cinta itu, setelah menikahinya berarti kau telah berani bertanggung jawab dan menerima dia apa adanya, belajarlah untuk tumbuh sendiri dengan perasaan itu sekarang yang aku lakukan hanya untuk mendapatkan yang terbaik pada Rania, dia sahabatku dia butuh kasih sayang dari seorang pria yang telah menikahi nya bukan untuk menghancurkan hatinya saja. Jauh dilubuk hati, sekarang ini aku harus berdamai dengan hatiku sendiri." Ucapkan Renata kepada Fajar.
"Baiklah Renata." Ucap Fajar sambil memeluk tubuh Renata begitu erat.
Dari kejauhan Rania melihat kedua sejoli itu saling berpelukan begitu romantis jalan percintaan mereka, "aku hadir hanya untuk menghancurkan hubungan mereka Aku berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik tapi kenapa hati ini saat memandangi Sakit apakah ini dinamakan Aku memiliki perasaan cinta kepada suamiku ini, sepertinya aku belum bisa karena mas Fajar hanya mencintai Renata bukan Aku orang baru yang datang untuk memisahkan pasangan yang sedang jatuh cinta" ucapkan niat dalam hati sambil memandangi Renata dan Fajar. Tatapan itu membuat diri Rania semakin tidak percaya diri apa yang telah berada di hatinya saat ini. Rani berharap perasaan cintanya ini akan tumbuh secara perlahan-lahan, seperti air yang mengalir.
Di waktu itu Rania yang sedang menyiapkan sarapan pagi sedang tidak merasa enak badan, tetapi dia berusaha untuk melakukan yang terbaik sekarang demi suami nya.
“Rania, apa yang kau lakukan sepagi ini?”
Renata bertanya kepada Rania yang sedang sibuk.
“Aku sedang menyiapkan makanan dan aku melakukan nya karena menurutku harus melakukan nya hehee... jangan khawatirkan di sini aku akan selalu membantu kau jangan sampai merasa sedikit lelah.”
Rania berkata kepada Renata.
“Hehe... lain kali kau beritahu aku, aku juga ingin menyiapkan semua nya dan di semua nya bisa berjalan dengan lancar saja saat ini, kan aku juga istri mas Fajar sama seperti kau.”
Renata menjawab Ucap Rania yang terus memaksakan diri nya dan siap melakukan nya dengan baik satu sama lain nya.
“Demi apa pun itu akan terus berjalan apa ada nya sampai mengetahui apa yang sudah terjadi saat ini, kalau begitu ayo kita sarapan terlebih dulu.”
Ucap Rania kepada Renata.
“Hm... oke, biarkan aku yang memanggil mas Fajar mungkin dia baru saja selesai bersiap juga.”
Renata berkata kepada Rania dan langsung meninggalkan Rania sendiri di ruang makan.
Sesampai nya Renata di dalam kamar, dia membuka pintu dan dia langsung saja memanggil.
“Mas... ayo sarapan.”
Tiba-tiba dari belakang Fajar memeluk tubuh nya dari belakang dan dia merasa diri ini semakin yakin kalau tidak ada yang bisa di jadikan diri ini sebuah kebahagian tersendiri.
Renata terkejut dan dia berkata “Mas! Kau ini membuat aku kaget saja, untuk saja aku tidak pingsan hehehe.... Sekarang kau masih saja memakai handuk?”
“Iya, aku hari ini malas untuk bekerja, setelah berliburan panjang aku merasa hatiku bergejolak ingin terus bersama kau dan tidak mau di lakukan dari yang lain nya di sisi lain nya hanya satu hal yang bisa di jadikan diri ini semakin tidak yakin.”
Ucap Fajar kepada Renata.
“Tidak yakin bagaimana?”
“Iya, aku tidak yakin pada pernikahan ini, sampai aku masih belum paham apa yang harus aku lakukan saat ini.”
Renata langsung tersenyum melepaskan pelukan nya dan dia berusaha untuk tenang melakukan nya.
“Sayang, aku yakin kau pasti bisa menjalankan nya sampai kau harus melakukan yang terbaik untuk diri kita masing-masing, Rania juga istri sahmu! Mas, percaya saja kalau kau pasti bisa berlaku hadir pada diri ini sampai di sini kau mengerti apa yang aku maksud?”
“Tapi... aku merasa diri ini tidak pantas saja.”
Rania yang sedang duduk di sebuah kamar mandi di kantor nya, dia merasa kalau Renata begitu sangat perhatian kepada nya saat ini, entah kenapa saat ini semua nya bisa di jadikan diri ini sebuah keinginan diri nya satu hal pun itu terjadi saat ini juga, di dalam kehidupan itu bisa di jadikan diri ini akan menajdi sebuah kenyataan.
“Hm... bagus sekali gaun ini, aku tidak menyangka kalau Renata menyiapkan dengan sempurna begitu, memang dia sahabat yang sangat tidak bisa aku lupa kan nya.”
Ucap Rania di dalam hati sambil memandangi gaun yang di pakai nya yang berwarna merah itu begitu sangat anggun tidak kuasa memandang nya saat ini.
Salah satu karyawan yang sedang masuk ke dalam toilet melihat Rania yang begitu sangat indah.
“Rania, itu benar kau?”
“Lah memang nya siapa lagi? Ini aku Rania.”
“Kau mau kemana? Aku sangat pangling melihat nya saat ini, tidak biasa aku melihat kau berdandan begini. Hm... aku tahu pasti ingin makan malam bersama suami mu ya? Uuuu... sweet banget sih pengantin baru ini.”
Rania hanya tersenyum tersipu malu dia tidak menyangka ada orang yang memuji nya cantik saat memakai gaun yang di pilihkan oleh Renata saat ini juga, tidak ada yang bisa di jadikan diri ini melakukan nya.
“Hehehe... kau ini membuat aku malu saja, aku sudah biasa saja kok.”
“Tidak! Kau sangat cantik Rania, aku memang tidak menyangka kau sekarang cantik sekali, pasti baju ini sangat mahal juga. Oke kalau begitu ayo kita menyelesaikan semua nya diri ini semakin mendalam saja. Di sisi lain hanya diri ini akan terus terjalin dengan baik juga.”
“Terima kasih ya.”
Ucap Rania kepada teman kantor nya.
“Iya sama-sama, kalau begitu selamat bersenang Rania.”
Ucap teman Rania yang langsung meninggalkan nya di dalam toilet nya.