Mentari yang hangat hari ini terasa begitu terik seperti membakar kulit dengan sengit. Sama halnya dengan hati yang terasa tercubit oleh sesuatu hal yang bisa dikata pahit. Liam berdiri seorang diri di balkon apartemennya yang cukup untuk ia berdiam merenungi dan meratapi kisah cintanya yang ternyata berakhir dengan paksa. Sungguh, ia belum bisa menerima apa yang telah dikatakan Isyana. Namun, mau apa dikata jika dia mendapati semuanya dari yang empunya. Tersenyum sinis, Liam berdecih. Hal yang jarang bahkan tak pernah ia lakukan. Angannya terbang membelah waktu pada kejadian beberapa saat yang lalu setelah mendapati Isyana, gadis yang telah menjadi kesayangannya menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Mulanya, Isyana minta dibuatkan secangkir kopi instan. Namun ternyata inilah awa

