Taruhan

1209 Kata
Bab 1 Sore itu hujan turun dengan sangat lebat. Angin bertiup kencang mengiring setiap tetes air yang turun dari langit itu menambah dinginnya suhu udara saat itu. Seorang pria sedang berdiri di sebuah halte, menyelamatkan diri dari guyuran air hujan yang turun sejak setengah jam lalu dan belum manampakkan tanda untuk berhenti. Pria dengan jaket lusuh dan celana jins sobek-sobek di lutut dan pahanya, serta rambut gondrongnya yang basah tidak dapat mengurangi kadar ketampanannya. Tiga buah anting dengan bentuk yang berbeda bertengger di telinga sebelah kirinya. Beberapa aksesoris metal melingkar di leher hingga dadanya. Sorot mata yang dingin dan ekspresi yang datar menegaskan dirinya adalah seorang preman jalanan. Arya Sanjaya namanya, dijalanan ini ia biasa dipanggil bang ari. Dia adalah anak buah dari bang Lukman, bos preman yang biasa mangkal di kawasan ini. Tetesan hujan dan deru angin menelan segala hiruk pikuk yang biasa tercipta oleh aktifitas manusia. Namun, bagi arya, suasana ini membuatnya kembali teringat akan kejadian beberapa minggu yang lalu. Saat dirinya kalah dalam tender sebuah proyek yang menjadi objek taruhannya bersama sahabat dan sepupunya. "Hahaha... unbelievable, sangat sulit dipercaya! Akhirnya ada juga yang mampu mengalahkan mister perfect dan jenius kita. Waah,,, hari ini patut kita rayakan! Kita akan berpesta! Hahhaa..." William tak dapat menghentikan tawa dan ejekannya pada sahabatnya itu "Tentu saja hari ini akan kita rayakan, karna untuk pertama kali kak arya kalah dalam tender sekaligus taruhan kita. Dan yang paling penting, orang yang mengalahkannya itu adalah si anak ingusan, yaitu aku, Ammar Lutfi" sambung Ammar yang tak lain adalah adik sepupu Arya "Cih, hanya tender segitu saja kau bangga? Asal kau tau saja, aku tidak berminat sedikitpun pada tender tak bernilai sama sekali itu sehingga aku tidak benar-benar fokus untuk memenangkannya" balas Arya tak ingin kalah "Tak peduli apa alasannya, yang penting adalah kau sudah kalah, dan sesuai perjanjian, kau harus memberikan atau melakukan apa yang di minta oleh Ammar" sahut Jo, sahabat sekaligus dokter pribadinya "Aku Arya Candra Sanjaya tak pernah lupa apalagi ingkar pada janji yang sudah ku buat. Cepat katakan apa yang kau inginkan!" Ujar Arya "Asik, inilah yang kusuka darimu kak. Kalau begitu aku ingin kau,,," Braakk... Belum sempat Ammar menyelesaikan kata-katanya terdengar suara pintu yang dibanting kasar Dari arah pintu masuklah seorang gadis belia dengan wajah yang penuh emosi "Assalamu'laikum!" Ucap gadis tersebut keras "Waalaikumsalam" balas orang-orang dalam ruangan itu "Salamnya sih bagus, tapi intonasinya itu loh, agak gimanaaa gitu" ujar Riko setengah berbisik pada Jo "Kakak! Apa yang kakak lakukan?" Bentak gadis itu pada kakaknya "Apa yang ku lakukan? Kau tidak lihat aku sedang duduk?" "Jangan pura-pura tidak tau! Kakak kan yang menghajar teman-temanku?" "Teman? Orang-orang seperti itu kau sebut teman? Orang yang setiap hari membully mu apa pantas kau sebut teman? Tidak! Aku tidak akan membiarkan satu orangpun menghina apalagi menyakitimu. Kau adalah seorang Sanjaya dan mereka harusnya tunduk padamu" jawab Arya "Huuffft...." gadis itu menarik napasnya dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Ia mencuba menetralkan emosinya. "Kak, aku tahu kau menyayangiku, tapi tidak harus dengan cara kekerasan seperti itu, mereka hanya anak-anak nakal kak. Tindakan mu yang seperti itu tak ubahnya seperti seorang preman pasar kak" ujar gadis itu lagi "Aisyah Putri Sanjaya! Kau dengarkan baik-baik! Siapapun orangnya, apapun alasannya, tidak ada seorangpun yang boleh merendahkanmu. Selain aku, ayah dan ibu kita, serta kakek-kakek dan nenek-nenek kita, semua orang harus menghormatimu dan mamatuhi semua kata-katamu. Jika ada yang melanggar, maka harus siap menerima akibatnya." Ucap Arya tak ingin dibantah Aisyah menatap semua orang yang ada disana. Kemudian tatapannya terhenti pada seorang laki-laki yang tak lain adalah kakak sepupunya, Ammar. Ammar yang ditatap oleh adiknya itu pun langsung merasakan firasat yang tidak enak, apalagi sekarang gadis itu sedang berjalan kearahnya. Baru saja ia ingin bangkit dari duduknya dan pergi aisyah sudah lebih dulu duduk dan langsung melingkarkan tangan kelengannya. Ammar menatap adik sepupunya itu yang saat ini memberikan senyuman manis namun dengan tatapan matanya yang tajam. "Kak, bagaimana hasil taruhan kak Arya dan kak Ammar? Siapa yang menang?" Tanya Aisyah "Taruhan ya? It,, itu kak Ammar yang menang. Memangnya kenapa dek?" Tanya Ammar. Perasaannya benar-benar tidak enak saat ini "Kak, hadiah taruhan kakak untuk Aisyah ya?" Pinta Aisyah "Tapi hadiahnya adalah yang menang bisa meminta yang kalah untuk melakukan perintah yang menang dek." Jelas Ammar Semua orang yang ada di ruangan itu merasa was-was dengan permintaan Aisyah, termasuk juga Arya. "Iya, Aisyah tau kak, karna itu aisya mau mintak hadiah kak Ammar. Mau ya?" Rayu aisyah "Tapi,,,," "Kak Ammar tidak dengar yang dikatakan kak Arya tadi? Tadi kak Arya bilang siapapun yang tidak memenuhi keinginan aisyah harus menanggung akibatnya, SIAPAPUN! Kak Ammar mengertikan?" Kata Aisyah yang memotong ucapan Ammar. Ammar menatap adiknya itu dengan tatapan memohon. "Baiklah, apa yang kau inginkan?" Ammar lemas Seketika Aisyah jadi ceria, raut emosi sirna sari wajahnya. Dia semakin mendekati Ammar dan membisikan sesuatu diteliga kakaknya itu. Wajah Ammar langsung berubah pucat dan keringat dingin langsung membanjirinya ketika mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh Aisyah. Setelah Aisyah selesai membisikkan keinginannya, Ammar langsung menatap Arya dan Aisyah bergantian lalu berusaha menelan salivanya. "Ini mah ibarat makan buah simalakama, dituriti digantung Arya, tak dituriti digolok Aisyah" batin Ammar "Huft... hilang sudah kesempatan minta mobil sport dan apartemen" Ammar menghela nafas kasar "Kak, sebagai hukuman karna kakak kalah taruhan, aku ingin kakak jadi preman pasar selama tiga bulan dan tidak boleh membawa identitas serta fasilitas atas nama keluarga Sanjaya" ucap Ammar menatap penuh antisipasi kepada Arya "Apa!" Arya "Apa?" Jo "Apa?" William "Apa?" Riko Bukan hanya Arya, tapi para sahabatnya pun ikut terkejut dengan permintaan Ammar. "Kau gila atau sudah bosan hidup?" Bentak Arya "Bukan aku tapi adik kesayanganmu itu, dia yang meminta itu" kilah Ammar menunjuk Aisyah Aisyah santai saja meski mendapat tatapan tajam dari sang kakak "Apa? Aku kan hanya memberi ide saja. Kakak kan suka berlagak sok preman, jadi aku memberi jalan untuk bakat terpendam kakak itu. Harusnya kakak berterima kasih padaku, bukannya marah-marah begitu" ucap Aisyah dengan wajah imutnya "Dari begitu banyak hal, kanapa kau memintaku melakukan itu? Kau mau mengerjai aku? Kakakmu sendiri?" "Sudahku bilangkan? Aku hanya memberi jalan u tuk bakat terpendammu itu. Kenapa? Kakak takut?" Tanya Aisyah "Takut? Kau bercanda adik kecil. Aku tidak takut pada siapa pun. Kau ingat itu!" "Ya sudah, berarti kakak akan terima hukumannya kan?" Tanya Aisyah lagi "Tidak!" Sahut Arya "Ck,,, cemen" ejek Aisyah "Apa katamu?" " kakak cemen. kakak takutkan jika ternyata Kakak tidak ada apa-apanya tanpa embel-embel keluarga Sanjaya di belakang nama kakak. Ya sudah kalau memang kakak takut, it's ok, no problem. Tapi nama Arya Candra udah nggak cocok deh sama kakak, cocoknya Arya Cemen" ujar Aisyah masih dengan ejekannya "Kau,,," Arya tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Sementara semua orang yang ada disana hanya diam mendengarkan perdebatan kedua kakak beradik ini. Mereka semua tau hanya Aisyah yang berani membantah setiap perkataan Arya dengan caranya sendiri, dan Arya tak akan pernah marah secara berlebihan pada adiknya tersebut. "Baiklah, kakak terima tantanganmu" lanjut Arya dan berlalu pergi Flash back off Arya hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan halte dan memutuskan berjalan menembus hujan yang tak kunjung berhenti saat ia melihat seorang gadis berlari sambil berlari menuju ke arahnya (lebih tepatnya ke arah halte). Arya masih fokus menatap gadis itu hingga tak sadar gadis jika sang gadis sudah beberapa kali menyapanya "Bang? Bang Ari? Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN