Hanim

583 Kata
Arya hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkan halte dan memutuskan berjalan menembus hujan yang tak kunjung berhenti saat ia melihat seorang gadis berlari sambil berlari menuju ke arahnya (lebih tepatnya ke arah halte). Arya urung melanjutkan langkahnya kala matanya menatap lekat wajah gadis itu. Seorang gadis yang sudah tak asing baginya. Nurhanim namanya, dia adalah adik kandung dari bang Lukman, bosnya di dunia kepremanannya. Setiap melihat Hanim, Arya seakan melihat sosok yang diidamkan oleh mamanya untuk dijadikan pendamping hidupnya kelak. Pintar, rajin, sopan dan penyayang, semua yang diidamkan oleh mamanya ada pada diri Hanim. Namun Hanim tak mungkin dapat dimilikinya. Bukan karna tidak suka, tapi Hanim akan segera menikah dalam hitungan beberapa hari ke depan. Arya masih fokus menatap gadis itu hingga tak sadar gadis jika sang gadis sudah beberapa kali menyapanya "Bang? Bang Ari?" Hanim memanggi-manggil Arya sambil menjentikkan jarinya di depan wajah Arya "Eh,,, i,, iya, ehemm. Iya, ada apa Nim?" Arya yang terkesiap karna panggilan Hanim tergagap tapi langsung berusaha untuk bersikap biasa saja "Abang kenapa melamun?" Tanya Hanim "Tidak ada, hanya karna kelamaan disini sendirian nggak sengaja jadinya melamun. Kamu dari mana? Kenapa hujan-hujanan?" Arya balik bertanya "Oo,,, Hanim barusan dari kantor, mengurus penguduran diri, bang" jawab Hanim "Kenapa memundurkan diri?" Tanya Arya lagi "Hmmm,,, calon suami Hanim tidak mengizinkan Hanim untuk bekerja setelah nanti kami menikah, bang" Arya dapat mendengar nada kekecawaan dari jawaban Hanim "Bukannya bagus setelah menikah cuma melayani suami, mengerjakan pekerjaan rumah dan bersantai, uang belanja pun dapat?" "Iya sih bang, cuma,,, Hanim merasa ilmu yang Hanim dapat saat kuliah jadi tidak bermanfaat. Rasanya seperti apa yang Hanim usahakan dulu jadi sia-sia. Sebenarnya Hanim ingin bekerja setidaknya sampai Hanim memiliki anak, setelah itu barulah Hanim akan fokus pada keluarga Hanim, bg. Tapi sudahlah, mungkin ini adalah yang terbaik buat Hanim,bg." Jelas Hanim "Kalau Hanim nikahnya sama abang saja mau nggak? Abang akan mengizinkan Hanim untuk tetap bekerja. Bagaimana?" Goda Arya sambil bercanda dan mengedipkan sebelah matanya pada Hanim. Satu hal yang belum pernah dilakukan oleh Arya sebelumnya pada gadis mana pun dan tindakannya itu membuatnya malu sendiri. Bukan hanya Arya, ternyata Hanim pun merasa malu dan tersipu karna ulah laki-laki itu. Tanpa mereka sadari diseberang sana ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi. "Bang, mereka terlihat serasi. Sepertinya si Arya menyukai adikmu, bang" kata Andre "Hmmm..." Lukman menanggapi kata-kata Andre dengan acuh begitu saja. Dia masih memperhatikan senyuman dan wajah merona adiknya. Selama ini dia belum pernah melihat adiknya bereaksi seperti itu saat bicara dengan lawan jenisnya. Tapi, setelah ia memperkenalkan Arya pada adiknya itu, sudah beberapa kali ia mendapati adiknya tersipu saat bertemu dan berbincang dengan Arya. "Apa aku sudah melakukan hal yang tepat dengan menjodohkan Hanim dengan sahabatku?" Batin Lukman **** Sementara di tempat lain "Om, aku nggak mau menikah dengan Hanum, om" kata Nando. Ya, dia adalah calon suami Hanim, sahabat Lukman. "Kenapa kau tidak mau?" Tanya Gunawan "Karna aku tidak mencintainya,om. Aku hanya mencintai Lina, anak om" jawabnya "Aku tidak menyuruhmu untuk mencintainya, tapi menikahinya! Jika kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, kau bisa meninggalkan wanita itu dan menikah dengan Lina, atau setelah kau nikahi wanita itu kau juga bisa langsung menikahi Lana, aku akan merestuimu. Tapi kau menolak, mulai sekarang kau jauhi anakku!" Bentak Gunawan "Tapi om, bagaimana jika Lukman benar-benar tidak memiliki apa yang kita butuhkan?" "Diam kau! Aku sangat yakin dia memilikinya. Kau ikuti saja perintahku!" "arrggh,,, Baiklah, terserah om saja" Nando pun berlalu pergi Senyuman licik terbit di bibir Gunawan membayangkan rencananya selanjutnya Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN