Nim, hatiku patah

728 Kata
Arya baru saja menyelesaikan tugasnya di pasar yaitu memungut uang keamanan dari para pedagang di sana. Setelah ini ia akan pergi ke tempat bosnya, bang Lukman. Saat dalam perjalanan menuju ke tempat bang Lukman dia melihat sepasang muda mudi berseragam putih abu-abu, sepertinya mereka sedang bertengkar. Arya merasa mengenal gadis SMA itu. Seketika senyum licik pun terukir di bibirnya. It's time for revenge, my dear little sister. Arya berjalan mendekati kedua remaja itu. Setelah sampai dia langsung merangkul erat si gadis. Gadis tersebut adalah Aisyah, adik kandung Arya. Aisyah terkejut karna tiba-tiba merasakan tangan seseorang sedang merangkulnya tanpa izin. Aisyah langsung memalingkan wajahnya kearah si pemilik tangan yang dengan lancang berani menyetuhnya. Namun saat melihat siapa orang itu seketika wajahnya yang penuh amarah berubah menjadi terkejut. "Hai manis manis, baru pulang sekolah ya? Abangl anterin ya?" Arya pura-pura menggoda Aisyah dan sengaja mengacuhkan teman laki-laki adiknya itu. Aisyah yang melongo karna melihat kelakuan kakaknya itu. "Kesambet dimana nih tuan muda Kok jadi genit gini sih? Cantik manis,dia pikir aku ini kue apa?" Batin Aisyah "Eeh si cantik manis, bukannya jawab malah melamun. Kenapa? Abang ganteng ya?" Lanjut Arya lagi Belum sempat Aisyah menjawab laki-laki yang bersamanya lebih dulu menegur Arya "Eh bang! Yang sopan dong. Lepasin teman saya!" Bentak yogi Arya langsung mengarahkan mengalihkan pandangannya dari adiknya dan menatap Yogi dengan tatapan tajamnya "Kalau gue nggak mau, lo mau apa?" Tanya Arya "Jangan macam-macam bang! Kalau tidak, Saya akan laporkan abang ke polisi" ancam yogi "Ck,,, lo nggak usah sok jagoan deh! Gue nggak ada urusan sama lo. Mending lo pergi sebelum gua hajar!" Ucap Arya sambil pura-pura meraih sesuatu dari balik punggungnya. Mendengar ancaman Arya itu nyali Yogi langsung ciut. Dia mulai berjalan mundur hingga hampir terjatuh karna tersandung batu. "Gi, mau ke mana? Jangan tinggalin gue, gue takut Gi" rengek Aisyah pura-pura takut "Maaf Syah, aku ada janji, aku duluan ya?" Yogi langsung pergi dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu "Gi,,, Yogi! Tungguin gue!" Aisyah terus memanggil temannya itu namun tidak dipedulikan Setelah mobil Yogi tak lagi terlihat Arya tak dapat menahan tawanya lagi "Hahahaha,,,, setia sekali pacar mu, dek?" Arya tertawa mengejek adiknya "Pacar? Nggak merasa tuh, dia nya aja yang ngejar-ngejar Ais terus. Tapi untunglah kakak datang jadi Ais ada alasan untuk menolaknya besok. Thanks ya kakakku sayang" jawab Aisyah "Ish,,, padahal kakak mau ngerjain kamu tapi kok malah jadi bantuin kamu sih? Ngomong-ngomong kamu kok jam segini sudah pulang sekolah? Bolos ya?" Tuduh Arya "Enak aja bolos, hari ini kan hari terakhir UTS (ujian tengah semester), jadi pulangnya cepat." Jawab Aisyah "Ya sudah, pulang sana! Ingat jangan keluyuran nanti mama nyariin." Usir Arya "Iya iya, ini juga mau langsung pulang" Aisyah meraih tangan kakaknnya lalu menciumnya, kemudian pamit setelah mengucapkan salam ***** Di rumah bang Lukman "Ndre, si Ari kemana? Udah sore gini kok belum sampai?" Tanya bang Lukman "Tadi udah ditelpon bang, katanya bentar lagi nyampe. Nah, tu dia orangnya, baru juga diomongin" jawab Andre sambil menunjuk ke arah pagar rumah "Woi Ar, dari mana aja sih lo! dari tadi ditungguin." Seru Andre "Sorry, tadi ada perlu sebentar. Bang, nih hasil hari ini" ucap Arya menjawab Andre dan langsung menyerahkan hasil pungutannya di pasar tadi. "Ar, habis ini lu mau kemana? Apa ada urusan lagi? Tanya Lukman pada Arya karna anak buahnya itu sering menghilang tiba-tiba. "Nggak ada bang. Emangnya kenapa bang?" Tanya Arya "Lu bantuin dekorasi ya, lusa Hanim kan nikah, acaranya di rumah aja. Habis ijab kabul langsung resepsi. Lu bantuin gue ngurus keperluan acaranya atau bantuin mak-mak ngangkat apa gitu di belakang. Bisa kan?" Tanya Lukman lagi Sesaat Arya termenung mendengar kata-kata bang Lukmana. Bukan karna ia diminta untuk membantu persiapan acara pernikahan, tapi karna Hanim yang akan menikah sebentar lagi. Hatinya seakan tidak terima jika Hanim menikah dengan orang lain, padahal dia dan Hanim tidak memiliki hubungan khusus. "Ar? Ari, woi! Ditanya malah ngelamun, bisa nggak?" Tanya Lukman lagi "Bi,, bisa bang, bisa" jawab Arya gugup "Baguslah, terima kasih sebelumnya" "Iya bang, santai aja" Arya melihat ke arah dalam rumah, mencari sosok gadis yang saat ini membuatnya galau. Tak lama kemudian sosok yang dicarinya pun akhirnya muncul dari dalam rumah. Dengan senyuman manisnya Hanim menyapa semua orang disana, termasuk Arya. Saat pandangan mereka bertemu ada perasaan bahagia dan juga sdih yang tersirat di raut wajah keduanya. "Nim, hatiku patah." Batin Arya Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN