Menikahlah dengan adikku

755 Kata
Hari pernikan Hanim dan Nando pun tiba. Hari ini semua orang sangat sibuk. Sudah sejak subuh ibu-ibu sibuk di dapur menyiapkan makanan karna acaranya tidak mengunakan jasa catering, sedangkan kaum bapak-bapak membantu kesiapan lainnya di depan. Arya juga ada di sana untuk membantu. "Mas, ini bajunya Nando kok masih belum di jemput ya?" Tanya Susi istrinya bang Lukman "Masa iya? Mungkin dia lupa. Sini biar mas antar ke rumahnya. Mungkin dia sedang bingung mencari bajunya." "Iya, nih. Mas telpon dia dulu, biar dia tidak panik karena kehilangan baju pengantinnya." "Nggak usah, biar mas langsung kesana saja. Ar, kita ke rumah Nando sebentar" bang Lukamn pun pergi ke rumah Nando bersama Arya ***** Setelah berkendara kurang lebih selama 30 menit, bang Lukman dan Arya pun sampai di rumah Nando. Ketika sampai di depan pintu mereka mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah. Mereka dapat dengan jelas mendenngar pertengkaran orang-orang yang ada di dalam rumah karena pintu yang tidak di tutup. "Sebenarnya apa yang ada dalam otakmu itu, hah! Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus menikah dengan Hanim!" Lukman seketika membeku mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali. Dengan tubuh yang bergetar karna amarah ia mengintip ke dalam rumah untuk memastikan si pemilik suara tadi "Aku tidak mau, om. Aku tidak mau menikah dengan gadis kampung itu, aku hanya akan menikah dengan Lena." "Plaak...." satu tamparan mendarat di pipi Nando "Kau pikir kau bisa menikah dengan anakku jika Lukman menyerahkan bukti-bukti kejahatan kita kepada polisi atau mungkin kepada Adam Sanjaya. Bahkan sekarang Sanjaya Grup telah dipegang oleh anaknya laki-lakinya yang lebih kejam dari Adam. Kau pikir kau bisa selamat? Hah!" "Bukti kejahatan? Kejahatan apa yang mereka maksud? Dan kenapa ayah dan perusahaan keluarga kami pun dibawa-bawa? Siapa mereka semua sebenarnya?" Guman Arya. Begitu banyak pertanyaan yang mu cul di benaknya saat ini, namun ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya Sementara Lukman sudah tidak mampu lagi menahan amarahnya. Bang Lukman berjalan cepat nyaris berlari ke dalam rumah sambil berteriak kepada kedua orang yang ada di sana. "Jadi ini rencana kalian selama ini? Breksek!" "Bught! Bught! Bught!" Lukman langsung melayangkan pukulannya ke wajah Nando. "Kau sahabatku yang sudah ku anggap saudaraku sendiri, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kau menipu aku dan adikku. Apa salahku padamu, hah?! Jawab, apa salahku?!" Bang Lukman menghajar Nando hingga tidak berdaya lagi "Dan kau, tuan Gunawan! Apa lagi yang kau inginkan? Apa kau belum puas sudah memfitnahku, memecatku dan membuatku tidak diterima bekerja di perusahaan mana pun? Apa lagi yang kau inginkan hingga adikku pun ingin kau hancurkan?" Bang Lukman berteriak sambil mencengkram kerah baju Gunawan lalu mendorongnya hingga terjatuh ke lantai. Dia tidak peduli jika pria itu jauh lebih tua usianya dari dirinya. Bang Lukman akan beranjak pergi keluar dari rumah itu tapi Gunawan menghentikannya "Tunggu! Aku ingin kau menyerahkan semua bukti tentang kejahatan kami yang kau punya, barulah setelah itu aku akan melepaskanmu dan juga keluargamu" ujar Gunawan "Benarkah? Heh, jangan mimpi! Meskipun. Aku memilikinya aku tidak akan menyerahkannya padamu, sebaliknya aku akan memberikannya pada keluarga Sanjaya." "Jadi kau lebih memilih adikmu yang sangat kau cintai itu menderita dan menanggung malu karna pernikahannya dibatalkan karna kakaknya ini telah menganiaya calon suaminya, begitu?" Ancam Gunawan "Kau masih berpikir aku akan menikahkan adikku dengan b******n ini? Kau salah, aku lebih memilih adikku menanggung malu dari pada harus tersiksa di tangan iblis seperti kalian" jawab bang Lukman "Baiklah, kalau begitu bersiaplah aku akan melaporkanmu pada polisi atas tindakan penganiayaan terhadap Nando" ancam gunawan lagi "Silakan saja tuan, aku dengan senang hati akan menunggu kalian berdua di dalam penjara. Kalian pilih saja, aku yang membunuh kalian di dalam penjara atau Adam Sanjaya yang akan melenyapkan kalian dengan caranya sendiri" Jawab bang Lukman dengan seringainya yang terlihat menakutkan. Gunawan langsung ketakutan mendengar ancaman bang Lukman namun dia berusaha menutupinya "Bagaimana hal itu terjadi sementara kau tidak memiliki bukti apa pun tentang kejahatanku?" Tanya Gunawan dengan nada mengejek "Kau tidak akan bertindak sejauh ini jika kau tidak yakin aku memilikinya, bukan begitu tuan Gunawan yang terhormat?" Ucap bang Lukman seraya berlalu pergi di ikuti oleh Arya di belakangnya. Sementara Gunawan diam tak dapat berkutik karena kata-kata bang Lukman dan Nando yang terbaring tak berdaya di lantai. Bang Lukman menghentikan motornya di sebuah taman yang sepi. Mereka turun dari motor dan duduk di sebuah kursi taman. Mereka hanya diam, tidak berbicara apa pun. Meski diliputi banyak pertanyaan namun Arya memilih untuk menahan rasa penasarannya atas semua yang terjadi barusan. Arya terkejut melihat bang Lukman yang tiba-tiba berlutut di depannya. "Aku mohon, tolong menikahlah dengan adikku Hanim" Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN