DEONASYERA POV
Kulangkahkan kakiku menuju Jim&Jean's Bookstore, mencoba menghilangkan penat yang mengganggu. Aroma buku-buku baru yang masih disegel dan ditata rapi segera menyusup ke hidungku. Tak hanya itu, lantunan musik yang ada di toko ini seakan menjadi penenang yang sempurna. Aku memasuki toko buku tersebut dan segera berjalan menuju deretan novel. Aku punya satu kebiasaan yang sering kulakukan sejak kecil. Mengunjungi toko buku. Kutatap bergantian novel-novel karya Philip Otlivio yang sedang berada di tanganku dan juga beberapa novel yang masih berjejeran rapi di tempatnya. Ada beberapa buku yang membuatku tertarik karena judulnya yang menurutku sendu, namun ada pula yang membuatku tertarik karena sampul depannya yang menurutku terlihat sendu.
"Mengapa tidak mengambil yang ini?" Ucap sebuah suara lain yang kuyakini pembicaranya adalah seorang lelaki. Aku hanya memalingkan wajahku mengarah ke tangannya yang sedang memegang sebuah buku dan kemudian menyodorkan buku itu padaku. Sebuah buku berwarna abu-abu muda yang dihiasi fon berwarna putih yang berjudul Reality.
"Aku yakin kau pasti akan menyukainya. Ini, ambilah,” tambahnya lagi yang masih belum mendapat respon dariku yang lebih memilih untuk menunduk daripada harus melihat wajahnya.
"Terima kasih atas niat baiknya. Tapi maaf, simpan saja itu untukmu. Permisi," ucapku yang hanya menatap sekilas orang tersebut dan kemudian berjalan pergi meninggalkannya.
Aku lalu berjalan menuju seorang pelayan toko yang juga tengah menatapku dari tempatnya berdiri dan berbicara tanpa menunggu pelayan toko tersebut mengucapkan kalimatnya.
"Aku sedang mencari novel terbaik karya Philip Otlivio. Apa kalian masih memilikinya?" tanyaku pada pelayan toko itu yang segera dibalas dengan cepat olehnya.
"Ya, tadinya kami punya satu. Itu adalah novel terbaru yang diterbitkannya November tahun lalu. Namun, novelnya telah diambil oleh kekasih Anda," ucap si penjaga toko tersebut dengan lancarnya dan sukses membuatku membelalakkan kedua mataku. Aku rasa ia baru saja menyebutkan mengenai kekasih. Siapa yang memiliki kekasih?
"Maaf, ‘kekasih’?"
Penjaga toko itu hanya diam setelah mendengar ucapanku tanpa berniat membalasnya. Ia hanya mengarahkan tatapannya pada ... bukan-bukan. Aku rasa tatapannya bukan untukku. Tatapan matanya tertuju pada sesuatu atau mungkin seseorang di belakangku.
"Kau?!" Ucapku setengah menjerit saat membalikan badanku dan mendapati lelaki itu yang berdiri tepat dibelakangku dan kami hampir saja bertabrakan karna jarak kami yang cukup dekat, hanya sekitar 20 cm. Dan dari sini pula aku dapat melihat garis wajahnya dengan sangat jelas. Alisnya yang sedikit tebal, hidungnya yang cukup mancung, dengan kedua bola mata berwarna cokelat gelap, juga tatapannya yang berhasil mengingatkanku pada seseorang yang begitu kuingat wajahnya.
Aku dapat melihatnya tersenyum padaku, sementara aku segera melangkah mundur lalu mengucapkan kata maaf padanya. Dia benar-benar mengejutkanku tadi. Beruntung aku tidak sampai terpelanting dan membuat kejadian konyol ditempat ini.
"Sudah kukatakan padamu, kau seharusnya mengambil ini," ujarnya sambil terkekeh lalu memberi kembali novel yang tadi sempat ditawarkannya padaku.
Aku pun mengambil novel tersebut dari tangannya dengan sedikit ragu, seraya mengucapkan terima kasih dengan terbata-bata. Mengetahui bahwa wajahnya cukup mirip dengan lelaki itu, seketika membuatku menjadi sangat gugup. Aku sempat berpikir, mungkinkah 'dia' yang sekarang memiliki penampakkan wajah yang sama seperti pria yang tengah berdiri di depanku ini?
"Alexander. Namaku Alexander Vulgaris." Ia mengulurkan tangan, hendak berkenalan.
Aku memberanikan diri untuk menjabat tangannya. "Catherine Deonasyera Cord."
Setelah mengucapkan namaku aku lalu kembali menunduk dan berniat untuk menjauh dari lelaki itu. Namun naasnya, lelaki bernama Alexander itu kembali bersuara, "Apa kau takut padaku?" Ucapnya sembari menatapku yang tengah menatapnya dengan gugup.
Aku lalu menggeleng kepala mewakili responku padanya. Sebenarnya aku bukan takut padanya. Aku hanya merasa bahwa jika terlalu lama melihat wajahnya, mungkin saja aku akan beranggapan bahwa lelaki itu adalah lelaki edelweis yang telah lama kunanti.
Kulihat ia menghela lalu mengembuskan napasnya dan kemudian bersuara, "Agak sedikit canggung di sini," ucapnya seraya terkekeh dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal pastinya. Penyakit umum para lelaki. Sementara aku hanya tersenyum simpul melihatnya.
"Apa kau juga menyukai novel karya Otlivio?" tanyaku padanya.
Lelaki itu memamerkan deretan giginya. "Sebenarnya tidak. Aku tidak terlalu suka membaca novel. Tapi novel itu adalah karya terbaik miliknya tahun lalu. Sayang jika aku tidak memilikinya. Kau sendiri?"
Aku terpana mendengar ucapannya. Philip Otlivio adalah salah satu penulis novel best seller yang buku-bukunya selalu dalam bentuk terjemahan, serta harga penjualannya tergolong mahal. Namun pria di depanku ini rela merogoh koceknya hanya karena novel itu adalah novel best seller, tanpa berniat membaca novel tersebut. Sedangkan semua novel karya Otlivio adalah best seller. Apa dia adalah seorang kolektor novel best seller?
"Aku sangat suka membaca novel. Apalagi, novel-novel karyanya," ujarku seraya menatapnya.
"Kalau begitu kapan-kapan aku harus menunjukkanmu koleksi novel karya Otlivio milikku," ucapnya yang balas menatapku.
Aku tersenyum simpul. "Kedengarannya menarik!"
"Dari semua novel karya Otlivio yang kupunya, aku hanya menyukai satu novel. Sebuah novel berjudul Caught the Light in Summer." Dia menatapku penuh arti.
"Aku yakin kau juga menyukainya." tambahnya. Dan seketika itu pula kurasa waktu berhenti saat ini.
"Ya ... itu cerita yang cukup sedih bagiku," ucapku menerawang. Kuingat sepuluh tahun yang lalu aku berdebat dengan pria itu tentang lukisan. Hingga akhirnya percakapan kami bermuara pada novel itu.
"Benarkah? Aku belum pernah membacanya," ucapnya sambil menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum.
Dahiku mengerut. "Lalu bagaimana mungkin kau mengetahui isi dari ceritanya? Jangan bilang kau ...,"
"Merangkum novelnya?" Alexander tertawa setelah menyela perkataanku. "Yang benar saja? Tidak ada yang bisa merangkum sebuah novel sebelum ia membaca keseluruhan isi novel itu," ucapnya
Aku tertawa kecil. "Kupikir kau melakukannya."
"Aku bukan pria masa lalumu. Jadi, kami tidak mungkin sama. Lagipula, aku menyukai novel itu karena seingatku seseorang juga sangat menyukai novel itu.”
Jantungku berdegup kencang. Apa mungkin pria ini baru saja membaca pikiranku? Mungkinkah dia dapat bertelepati?
"Aku tidak dapat bertelepati. Tenang saja. Semua perkataanku ini hanya kebetulan. Ah, kuharap suatu saat aku dapat membaca novel itu secara keseluruhan." Dia tersenyum, lalu kembali menatapku. "Apa masih ada yang ingin kau beli?"
"Kurasa tidak," tukasku sembari menatap ke arah deretan komik yang berada disampingku.
"Kalau begitu mari pergi dari sini." Ucapannya terdengar seperti sebuah tawaran bagiku. Kami lalu berjalan bersampingan sambil sesekali aku mencoba berbasa basi- dengannya. Namun tiba-tiba aku memberhentikan langkahku dan membuatnya menoleh lalu bertanya, "Ada apa? Mengapa berhenti?" Ucapnya yang hampir saja membuka pintu keluar dari toko buku ini.
"Novel ini belum dibayar. Aku harus kembali dan membayar novel ini," ucapku sambil memegang novel yang tadi diberikannya padaku dan bukannya menyetujui ucapanku, dia malah menertawaiku sambil mencegahku.
"Hei, aku telah membayarnya tadi," ujarnya yang membuatku memicingkan mataku padanya seolah, 'Mengapa tidak bilang dari tadi?' Kami lalu berjalan keluar dari toko buku tersebut sambil menertawakan sikap konyolku tadi. Dan aku sendiri baru menyadari bahwa di luar sini ternyata sedang turun hujan. Ketahuilah, di dalam toko buku tadi aku bahkan tidak mendengar suara hujan karena tertutupi oleh lantunan musik yang diputar oleh toko itu. Dan sekarang, aku dan Alexander tengah berdiri di depan pintu masuk dari toko buku ini, sekadar menunggu agar hujan mereda.
"Sekali lagi terima kasih atas novel ini, Alexander, " ucapku yang sebenarnya sedikit canggung memanggil namanya. Namun segera kututupi dengan sebuah senyuman simpul.
"Tak masalah," tukasnya kembali tersenyum. Pandangannya pun teralih saat melihat guyuran hujan yang kian menderas seraya merutuki hujan tersebut.
"Menurut ramalan cuaca yang kulihat pagi tadi di TV, hari ini 80% akan turun hujan. Dan bodohnya aku tak membawa payung. Aku terlalu meremehkan ramalan cuaca itu," ujarku seraya tersenyum masam melihat rintik hujan yang sepertinya tidak mau berhenti.
"Aku memakirkan mobilku di depan cafe itu. Jika tak keberatan kau boleh menungguku di sini dan aku akan mengantarmu pulang,” ucapnya sembari menunjuk ke arah sebuah BMW berwarna hitam yang terparkir tepat diseberang kami. Sementara aku terdiam sejenak menimang perkataannya.
"Kupikir, kau lebih baik tak usah mengantarku,” kataku dengan ragu. Takut kalau-kalau perkataanku akan mengusik perasaannya.
"Jangan salah paham, aku hanya tak ingin merepotkanmu. Kau bahkan baru saja mengenalku," tambahku lagi sebelum dia mengucapkan kalimatnya.
"Aku hanya baru menyapamu setelah selama ini. Tenang saja, aku bukan orang jahat yang ingin menculikmu untuk suatu misi khusus," ucapnya yang sebenarnya sedikit membuatku bingung dengan kalimat pertamanya.
"Aku tidak bermaksud untuk membuatmu berpikir seperti itu. Aku hanya tidak terbiasa menerima ajakan orang asing. Lagipula aku bisa pergi naik taksi dan tidak ...,"
"Aku sedang tak ingin ditolak, Deonasyera. Aku sudah banyak menerima penolakkan sejak SMA dulu. Tunggu di sini!" Tukasnya memotong perkataanku lalu berlari menerobos derasnya hujan.
Tak berselang lama, BMW hitam itu terparkir tepat di depanku. Alexander lalu mempersilahkanku untuk masuk dan duduk tepat di sampingnya.
“Kita akan ke mana?”
Aku bergumam. “Kau tahu toko busana yang baru saja dibuka tiga bulan terakhir ini? Yang letaknya persis di sudut Maples Street? Aku hendak ke sana,” ucapku.
Alexander menganggukkan kepalanya. “Ah, toko itu! Baiklah.”
Aku hanya terdiam selepas percakapan singkat itu. Aku lebih memilih untuk menatap ke samping dan menikmati pemandangan yang terhalangi oleh rintik hujan yang mengembun di jendela mobilnya. Sementara Alexander sendiri pun kurasa sama sepertiku. Karena sejak tadi ia hanya fokus mengemudi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat dan mendengar guyuran hujan yang seolah tak mau berhenti bernyanyi di luar sana, seketika mengubah suasana hatiku. Aku tak tahu, namun aku merasa bahwa hujan selalu punya cara untuk membuatku tetap mengenangnya. Seperti sebuah melodi lama yang kembali diputar, seolah mengingatkanku pada perjuanganku yang sampai kini belum berujung. Entahlah. Terkadang saat melihat hujan, aku sempat merasa bahwa inilah saatnya untuk melepaskan. Maksudku, percuma saja jika dia selalu ada di pikiranku sedangkan yang kutahu ia tak ada di sampingku. Sangat sulit bagiku untuk tetap percaya di saat tidak ada seorang pun yang percaya bahwa aku pernah bertemu dengan lelaki sepertinya. Dalam hal ini, lelaki edelweis itu.
"Jadi, apa yang kau lakukan di sana, di toko itu?" Ucap Alexander memulai percakapan dan sekaligus membuyarkanku dari lamunan.
"Aku ingin menemui manager tokonya," ujarku sembari menatap ke arah lampu lalu lintas yang kini telah berganti menjadi warna hijau.
"Kupikir kau bekerja di sana," ujarnya lagi tanpa menoleh ke arahku.
Aku tersenyum kecil saat mendengar penuturannya, "Tidak. Aku adalah seorang editor," tukasku yang kemudian mengalihkan pandanganku pada pemandangan di luar mobil. Sementara Alexander hanya bergumam mendengar jawabanku tanpa berniat membalasnya.
"Kau sendiri?"
"Aku bekerja di Arvense Company." Mataku seketika terbelalak saat mendengar jawabannya. Dia bekerja di kantor yang sama dengan ayah.
"Benarkah?!" Aku tersenyum bahagia. "Ayahku juga bekerja di situ dan tahun ini akan pensiun dari pekerjaannya," jelasku.
Ia mengangkat dagunya seraya berujar, "Tuan Hendrick? Dia adalah panutanku, di kantor. Sosok yang sangat baik juga bijaksana. Satu lagi, dia sangat kreatif dan berjiwa sosial tinggi."
Aku tersenyum seraya berucap terima kasih, mewakili ayahku. Kami akhirnya terlibat percakapan yang sebagian besar membahas mengenai pekerjaannya. Dari penuturannya, aku akhirnya tahu bahwa ayahnya ternyata adalah seorang yang cukup disegani di Arvense Company. Bukan karena jabatannya yang tinggi, namun karena sikap serta perilakunya. Namun walau begitu, status Alexander di kantor itu hanya sebagai karyawan biasa tanpa ada jabatan khusus atau istilahnya ia tidak dijadikan sebagai 'anak emas'. Ia juga bilang bahwa dia baru bekerja di kantor tersebut selama tiga tahun dan selama itu pula ayahku berperan penting menjadi senior dan juga pembimbingnya. Benar-benar suatu kebetulan.
"Ah, iya,” aku merogoh tasku mengambil dua tiket konser yang diberikan bibi Hanna padaku. "The Duke akan mengadakan konsernya di taman kota tanggal 9 nanti. Aku punya dua tiket VIP yang kudapat dari bibiku. Apa kau berniat pergi bersamaku?" tanyaku.
Kulihat ia tersenyum kecil saat mendengar penuturanku. Entah apa yang terlintas di benaknya saat ini.
"Aku tidak tahu apa aku bisa menemanimu atau tidak," ujarnya sedikit ragu.
"Aku sudah lama menantikan konser akustik milik Danvy dan teman-temannya. Ini adalah konser pertama mereka di kota ini. Tapi, bila kau tidak bisa, tak apa. Aku mungkin akan pergi bersama Avariella, temanku," kataku sembari menatapnya yang saat ini tidak sedang menatapku.
"Boleh kuminta nomor teleponmu?" tanyanya yang kemudian memberikan ponselnya padaku agar menyimpan nomornya di situ.
"Aku lupa membawa ponselku."
"Yang kuminta hanya nomormu, bukan ponselmu."
Aku tertawa, kemudian mengambil ponselnya.
"021-999-757-8." Aku mengeja sambil mengetik nomorku dan lalu menyimpannya pada ponselnya.
Kami akhirnya tiba persis di depan toko tersebut. Sebuah toko di mama bebberapa waktu yang lalu aku dan Avariella bertemu dengan seorang gadis muda yang tangguh bernama Gwyneth.
“Terima kasih telah mengantarku, Alex.”
“Tidak masalah. Jika kau tidak keberatan, aku akan menunggumu hingga selesai.”
“Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu. Aku bisa pulang sendiri. Lagipula toko ini cukup dekat dari rumahku.”
“Ini sudah malam. Baiklah, aku akan menunggumu di sini.”
Tak ingin saling berbalasan, aku pun segera turun dan memintanya untuk menunggu beberapa saat. Langkahku dengan cepat memasuki toko tersebut. Dan syukurlah aku mendapati pelayan yang sama seperti yang waktu itu kudapati tengah berdebat dengan Gwyneth.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” ujar pelayan toko tersebut.
Aku segera memperkenalkan diriku, menyampaikan maksud kedatanganku, seraya meminta agar dapat menemui manager toko tersebut. Kami lalu terlibat percakapan singkat. Pelayan toko tersebut terlhat enggan membiarkanku bertemu dengan manager mereka. Namun pada akhirnya, setelah beberapa kali kuyakinkan bahwa aku ini bukanlah seseorang yang hendak berniat jahat, pelayan toko tersebut pun memberikan nomor ponsel milik manager mereka.
“Ia sedang tidak di sini. Kuharap ini membantu,” ujar pelayan toko tersebut sambil memberikan sebuah kartu nama padaku.
“Terima kasih.”
“Nona, kuharap kau juga dapat membantuku menyampaikan permohonan maafku pada gadis itu. Aku benar-benar tidak bermaksud.”
Aku hanya tersenyum simpul seraya berpamitan pada pelayan toko tersebut, kemudian kembali menuju Alexander dan mobil hitamnya.
♧♧♧
"Terima kasih telah mengantarku pulang," ucapku saat mobilnya telah sampai tepat di halaman depan rumahku.
"Sama-sama," katanya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Keluargaku hari ini sedang mengadakan perayaan kecil di rumah. Apa kau ingin bergabung bersama kami? Ya ..., sekedar makan malam?" Tawarku yang membuatnya terdiam sejenak, lalu bersuara.
"Kedengarannya menarik. Tapi aku sedang ada janji dengan temanku. Maaf," ucapnya yang entah kenapa terlihat kecewa mengatakan hal itu. "Tapi sebelumnya aku akan keluar dan berpamitan pada ibumu," tambahnya lagi yang membuatku menoleh ke arah jendela.
"Deonasyera!" Teriak ibu dengan nada panik saat aku dan Alexander baru saja keluar dari mobil. Aku yakin ibu akan segera mengomeliku. Namun ternyata ibu malah mematung seketika saat melihatku dan Alexander yang tengah berdiri bersampingan dan juga sedang menatap balik ke arahnya. Kupastikan ia tengah menerka siapa lelaki yang berdiri di samping putrinya ini.
"Ibu ... dia...," ucapku mencoba mengenalkan Alexander pada ibuku namun ucapanku dipotong oleh lelaki yang tengah berada disampingku ini.
"Namaku Alexander Vulgaris, Bibi. Teman baru Deonasyera,” ucapnya seraya menjabat tangan ibuku sedangkan ibuku hanya terdiam tanpa mengucap sepatah katapun. "Maaf, seharusnya kami bisa lebih cepat dari ini. Tapi tadi kami terjebak macet panjang di area Townsville," tambahnya lagi, sementara ibuku masih terperangah menatapnya.
"Apa kau adalah anak dari Tuan Christopher?" tanya ibu yang dibalas anggukan kepala dari Alexander. "Pantas saja. Wajah kalian sangat mirip! Ya ampun, maaf putriku telah merepotkanmu," imbuhnya.
Alexander menggeleng. "Aku sangat senang bisa mengantarnya pulang, Bibi."
"Kami sedang mengadakan acara kecil dan kau boleh bergabung bersama kami," kata ibu dengan antusias.
Alexander bergumam sejenak sembari menatapku dan ibu bergantian,"Maafkan aku, Bibi. Aku sedang ada janji dengan temanku dan dia telah menungguku daritadi. Kuharap aku akan diundang lagi di acara berikutnya."
"Sayang sekali. Tapi, tak apa. Aku akan senang hati untuk mengundangmu nanti," ujar ibu.
"Terima kasih, Bibi. Aku harus pergi. Sampai jumpa," tukas Alexander seraya berlalu dari hadapan kami dan tak lupa tersenyum padaku sebelum masuk kedalam mobilnya.
Aku hanya menatap mobilnya yang perlahan menjauh dengan tatapan sendu. Berandai jika Alexander ternyata adalah lelaki itu yang beberapa tahun lalu mengalami kecelakaan dan terkena amnesia atau semacamnya sehingga ia tak mengenalku. Tapi tetap saja ia bukan lelaki itu. Dan aku tak mungkin menyalahkan takdir.
Aku dan ibu masuk bersamaan ke dalam rumah. Seperti biasa rumahku selalu ramai dengan celotehan bibi Hanna yang ternyata mengintip kami dari dalam rumah. Aku juga melihat kehadiran Bryan dan bibi Claire yang tengah duduk di kursi rodanya. Sementara Dianee tengah menata makan malam kami di atas meja, ditemani oleh Petter. Sedangkan Tee, gadis kecil itu segera kudekap lalu kukecup pipinya sebelum akhirnya aku berjalan menemui bibi Claire di ruang makan.
"Kupikir aku akan melewatkan acara makan malam ini bersama kalian. Apa kabar Bibi Claire?"
"Kau hanya terlambat 15 menit, sayang," ucap bibi Claire
"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya ibu sembari mengambil salad buah untuknya.
"Siapa? Maksud Ibu Alexander?" Aku bergumam sejenak. "Aku bertemu dengannya di toko buku Jim, ia memberiku sebuah novel. Dan Ibu tahu, itu adalah novel terbaik yang diterbitkan oleh Otlivio baru-baru ini!" Ucapku kegirangan sehingga membuat seisi rumah, termasuk Tee tertawa melihatku.
"Pria yang baik." Gumam bibi Hanna.
"Nah! Kita punya banyak makanan di sini. Jadi, makanlah. Lagipula hari ini aku memasak khusus makanan kesukaan kalian. Ini, Sirloin Steak disiram saus Thousand Island dengan kentang goreng dan salad hijau disamping, kesukaan Deonasyera, nasi goreng seafood yang khusus kubuatkan untuk ayah, juga salad ayam caesar dan Diet Cola untuk yang lainnya, kecuali daging asap keju dengan kentang goreng untukmu, Bryan," tutur ibu sambil memperkenalkan kreasi masakannya.
"Dan kau hanya memakan salad buah?" tanya ayah sembari melihat semangkuk salad yang tengah dipegang oleh ibu.
"Sayang, aku ini sedang dalam proses menurunkan berat badan. Lagipula makan malamku sudah selesai pukul enam tadi." Ibu tersipu. Sementara ayah hanya berdecak melihatnya sembari menggelengkan kepala.
"Bibi, siapa lelaki yang tadi bersama kalian?" ujar Bryan seraya meneguk minumannya.
"Namanya Alexander. Ia adalah anak dari Tuan Christopher. Atasan ayah," ujar ibu sembari melahap kembali saladnya.
"Tuan Christopher?" tanyaku mengulang nama itu.
"Ya, Tuan Chris adalah orang kedua di perusahaan Ayah. Ia sangat baik dan ramah pada Ayah," tukas ayah yang kemudian meneguk minumannya. Sementara ibu berdehem sejenak melirikku dan juga Bryan.
"Apa kau cemburu?" Goda ibu yang sontak dibantah oleh Bryan yang memilih untuk tertawa.
"Tentu saja tidak. Aku hanya penasaran, Bibi. Aku belum pernah melihat wajah pria itu sebelumnya," ujarnya
"Sudahlah, tema kita hari ini adalah penyambutan Bryan setelah tiga bulan berada di Jerman. Benar, kan?" Sahut Dianee sambil menyuapi Tee.
"Bagaimana hari-harimu di sana? Pasti sangat menyenangkan bisa bertemu warga asing, melihat kebudayaan mereka, serta menikmati indahnya pemandangan kota itu. Bryan, jika aku jadi kau, aku akan sangat menikmati perjalananku," ucap bibi Hanna.
"Aku tidak punya kenangan yang berarti untuk kuceritakan. Di sana aku hanya fokus untuk mengurus perhelatan sepupuku," jawabnya.
"Aku yakin, pasti di sana kau punya setidaknya satu orang perempuan yang menarik perhatianmu." Dianee mencoba menebak sambil tertawa kecil.
"Aku tidak terlalu suka pertanyaan seperti itu." Bryan tersenyum simpul. "Bagiku tidak ada yang lebih menarik daripada temanku yang satu ini," ujarnya sambil melempar pandangannya padaku yang tengah duduk berseberangan dengannya. Bersamaan dengan itu terdengar deringan yang berasal dari ponselku. Aku lalu mengucapkan permisi dan segera berlari menuju dapur.
"Halo ...," ucapku berhati-hati saat menjawab telepon tersebut karna nomor yang tertera pada layar ponselku sama sekali tidak kukenal.
"Apa kau sedang sibuk?" Ucap sebuah suara diseberang sana. Sebuah suara yang kuyakini adalah milik Alexander.
"Tidak, hanya sedang makan malam," tukasku sembari tersenyum walau aku tahu ia tak dapat melihatku. Entah kenapa aku seperti merasa senang mendapat telepon darinya.
"Maaf, aku hanya memastikan kau tidak memberiku nomor palsu," ucap suara diseberang sana seraya terkekeh dan ikut membuatku tertawa.
"Kau menyebalkan."
"Setidaknya pria menyebalkan ini yang akan menemanimu menonton konser akustik tanggal 9 nanti."
Aku tersentak. "Benarkah?"
"Aku akan menjemputmu pukul tujuh malam nanti."