PROLOG
Aku yakin, aku melihatnya.
Aku melihatnya setiap hari. Duduk menyendiri di pantai itu sembari menikmati semilir angin di bawah indahnya langit jingga. Dia begitu tenggelam dalam ketenangannya hingga tak menyadari bahwa aku telah berada di dekatnya, berusaha menyentuh pundaknya yang tegap menghadap birunya lautan. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya, namun aku benar-benar merindukan sosok yang tengah kulihat itu. Selalu dan mungkin untuk selamanya, kurasa bayang wajahnya tidak akan pernah berubah. Bagiku, ia masihlah seorang anak lelaki berusia belasan tahun yang akan selalu menemani jalan pulangku: menuju suatu kebahagiaan tanpa batas, atau terbangun dari mimpi dan angan-angan. Sesosok lelaki yang tidak banyak bicara, namun akan selalu mengarahkan padangannya padamu, satu-satunya lelaki dengan senyum semanis ribuan cokelat dunia yang telah dilelehkan menjadi satu ... ah, aku tidak sanggup menjelaskannya! Sungguh, ia manis sekali!
Aku terus berjalan mendekatinya. Sebisa mungkin hanya membuat sedikit keributan. Yang aku tahu, aku harus memeluknya. Membiarkan degupan jantung ini menemukan iramanya, menyelaraskan nalar dan batin, bahwasannya apapun tidak akan pernah bisa menandingi betapa besarnya kebahagiaan yang kurasakan saat ini. Aku ingin pulang. Kembali pada masa di mana usia belasan tahun adalah hal yang indah, dan jatuh cinta adalah labanya. Namun, bila menangis adalah pilihan terakhir untuk menjelaskan segalanya, maka kupastikan ialah satu-satunya yang pantas mengetahuinya. Aku ini, teramat rindu! Siapa pun tahu, tiada yang benar-benar baik adanya bila harus menyimpan sesak yang dipendam bertahun lamanya.
“Hai,” sapaku dipenuhi kekalutan, hampir-hampir berbisik.
Ia sama sekali tidak menoleh. Kurasa suaraku ini terlalu kecil untuk didengar.
Aku semakin berjalan mendekatinya. Mengapa sebuah perjalanan yang sesungguhnya hanya membutuhkan lima langkah untuk mendapatkan sebuah kisah baru, rasanya sama seperti ketika kauhendak berjalan kaki menuju titik terjauh yang harus kautempuh? Maksudku, aku tidak harus segugup ini hanya sekadar untuk berjalan mendekatinya, sekaligus menyapanya.
Aku butuh keberanian lebih!
Keributan yang awalnya kuterka hanya akan berasal dari ombak yang beriak atau kicau burung di udara, nyatanya kalah jauh dengan teriakan tanpa suara yang kian menggelora dalam batinku. Sementara lelaki itu masih pada posisi yang sama. Kurasa ia terlalu terbuai pada ketenangan yang diberikan pantai ini. Sebuah ketenangan yang telah lama menghilang darinya.
Dan akhirnya aku benar-benar menghampirinya. Benar-benar duduk tepat di sampingnya. Walau begitu, ia belum juga menyadari keberadaanku. Sempat kupikir ada yang salah denganku, ataupun kami. Tahulah sendiri, seharusnya ia, setidaknya, menoleh padaku. Lebih tepatnya, kuharap ia menyadari keberadaanku. Dengan begitu aku bisa mulai menceritakan berbagai cerita yang takkan pernah mampu dimengerti oleh siapa pun. Berbagai keluh kesah yang sejatinya penting untuk iaketahui sejak dulu. Atau perihal menyingkap bungkam yang selama ini iaberi. Atau yang lebih daripada itu, ialah bagaimana sesungguhnya ia melihat kami.
Namun ternyata, keinginanku itu hanya sebatas harap. Langit jingga yang tadinya berwarna cerah, tiba-tiba berubah menjadi gelap, seiring dengan embusan angin yang begitu kencang. Mataku menyipit seraya mendongkak ke atas, melihat tetesan hujan yang begitu deras jatuh membasahi wajahku.
Aku terkejut bukan main saat menoleh dan mendapatinya telah tiada. Benar-benar tidak ada. Ia menghilang begitu saja tanpa jejak. Kudapati diriku seorang diri. Bernapas dalam kegelapan, tertawa dalam tangis. Ia meninggalkanku.
Tetapi, bagaimana mungkin ia bisa meninggalkanku secepat itu? Maksudku, setidaknya aku pasti melihat pergerakannya. Sebab aku ini berada persis di dekatnya. Apakah semua ini benar-benar nyata, atau mungkin, akulah si pemimpi yang tak pernah lagi memijak pada kenyataan?
Tidak sama sekali!
Aku yakin, aku melihatnya. Bahkan bila mungkin tidak seorang pun akan memercayaiku, aku masih akan tetap percaya pada apa yang kulihat.
Tentu saja ini bukanlah mimpi. Aku bahkan mampu merasakan derasnya hujan yang membasahi tubuhku. Hanya saja aku tak dapat menemukan sosoknya.
Kemudian kudapati diriku berada di lain tempat. Aku tengah berjalan menyusuri sebuah lorong, sementara dia mengikutiku dari belakang tanpa bersuara. Di penghujung lorong tersebut, entah mengapa kami bertemu dengan kedua orang tuaku yang sedang duduk sembari minum teh.
Mereka lalu berbicara banyak hal yang sayangnya tak dapat kudengar, juga tak dapat kupahami apa maksudnya. Aku hanya melihat mulut ayah dan ibuku yang secara bergantian komat kamit sambil menatapku dan juga lelaki itu. Tiba-tiba ia menggenggam tanganku erat, memberikan kehangatan yang benar-benar nyata kurasakan. Aku menatapnya penuh tanya, namun pandangannya lurus ke depan tanpa sedikit pun menoleh padaku. Kulihat ia tersenyum dan setelahnya, semua berubah menjadi gelap....
“Hei, Syera!”
Kuarahkan pandangku menuju sumber suara. Nampak wanita bertubuh gempal, berpakaian serba kuning dengan motif bunga, tengah menatapku sembari menunjukkan dua buah gaun. “Mana menurutmu yang harus kupakai nanti di acara reuni kita?” tanyanya.
Aku mendesah pelan seraya berucap, “Ava ... masih ada empat bulan lagi menuju acara reuni itu. Kau terlalu terburu-buru.”
Wanita itu menggeleng. “Acara reuni itu sangat berarti untukku. Dengan begitu aku bisa mengenang kembali masa di mana Raf pertama kali menyatakan cintanya padaku di halaman belakang sekolah,” ucapnya sambil tersenyum, mungkin pula karena bayang masa lalunya bersama Raf teramat indah, bagaimana mereka bisa mempertahankan keharmonisan hingga memasuki jenjang pernikahan seperti sekarang. Tidak sepertiku yang sekadar memiliki pasangan saja, aku tidak punya.
“Kau sudah memilih gaunmu?” tanyanya lagi.
“Untuk apa?”
“Pergi berkebun!” Ava memutar kedua bola matanya dengan malas. “Tentu saja untuk acara reuni nanti! Kita berdua harus tampil memukau di sana. Avariella Calyst dan Catherine Deonasyera Bixa, dua sahabat sejati yang akan mengalihkan pandangan setiap orang,” jelasnya dengan bangga, sambil bertingkah seolah-olah ia adalah seorang pujangga. Dan aku hampir saja mengeluarkan isi perutku ketika mendengarnya.
“Kurasa aku tidak akan pergi ke acara reuni itu,” kataku.
“Kenapa?”
“Tidak tertarik.”
“Tapi akan ada banyak orang yang hadir di sana. Kita juga akan bertemu dengan teman-teman yang lain.” Ava menatapku penuh selidik. “Atau kau tidak ingin bertemu dengan Davin?” tanyanya lagi seraya mendekatkan tubuhnya padaku.
Aku memilih menyibukkan diri dengan memilih model gaun yang—semoga saja—mampu menarik perhatianku daripada menjawab pertanyaan itu.
“Baiklah,” gumam Ava. “Kau tidak menjawab pertanyaanku. Itu artinya kau memang tidak ingin ke sana karena kau tahu Davin pun akan ke sana,” tuturnya.
“Lebih tepatnya aku tidak akan ke sana karena aku tidak terlalu suka berada di keramaian dan aku sama sekali tidak tahu apapun mengenai Davin,” tukasku.
Gelak tawa seketika terdengar dari Ava. Wanita itu kemudian menepuk kedua pipiku seraya berucap, “Iya, tidak penting memang memikirkan pria berandalan itu. Kau punya ‘pria imajinasi’ yang jauh lebih menyita waktu dan perhatianmu.”
Ia pun meletakkan kedua gaun yang dipegangnya tadi.
“Ava,” ucapku dengan pelan, berusaha agar tidak meledak di tempat umum seperti ini. “Harus berapa kali kukatakan padamu? Dia sama sekali bukan pria imajinasi! Dia itu nyata!”
“Namanya saja kau tak tahu. Bagaimana mungkin ...,”
“Kita sudah berulang kali memperdebatkan hal ini. Jika saja aku bisa bertemu dengannya lagi, aku akan memberitahumu namanya,” ucapku memotong perkataannya.
“Syera, Vellozia ini kota yang cukup besar di mana kau tidak perlu bersusah payah mencari sosok yang baru daripada harus terjebak dalam masa lalu.” Kali ini ia berujar sambil memilih beberapa gaun yang ada di depannya.
“Aku akan menemanimu ke acara reuni itu.”
“Bukan itu masalahnya. Aku masih bisa ke sana dengan Raf.” Pandangannya kembali mengarah padaku. “Aku ingin sahabatku menemukan sosok yang baru di hidupnya. Jika seluruh pria di kota Vellozia ini terlalu sulit untuk kau taklukan hatinya, bagaimana bila ...,”
“Bila mencari seorang teman kantor yang cukup baik untuk diajak berkencan?”
Wanita itu tersenyum. “Kantor kita punya beberapa pria unggulan yang patut untuk kau kencani, seperti Mark, Robert, Ruben, atau Jacob? Tidak ada salahnya, kan?”
“Bagaimana dengan gaun yang ini?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatian, sambil memegang sebuah gaun bermotif bunga dengan warna peach. “Warnanya cocok dengan kulitmu yang putih. Panjangnya selutut, dan bagian pinggangnya berbahan karet yang lembut. Kau akan terlihat cantik memakainya,” ujarku.
“Baiklah, sahabatku yang keras kepala ini sepertinya masih ingin mempertahankan pilihannya.” Ava mendesah pelan. “Aku akan membeli yang ini saja. Pilihanmu selalu yang terbaik,” ucapnya.
Kami pun berjalan menuju kasa. Di sana hanya terdapat seorang gadis yang sedang mengantri. Ava pun berdiri tepat di belakang gadis itu, sementara aku memilih untuk duduk menunggunya pada sebuah kursi yang letaknya di samping pintu masuk toko ini. Dan inilah yang kusuka dari tempat ini. Walau memiliki ukuran ruang yang tidak terlalu luas, namun ia memiliki desain yang cukup elegan, tak lupa dengan alunan musik yang tidak terlalu keras, membuat siapa saja senang berlama-lama di sini.
Beberapa menit telah berlalu, Ava masih saja berdiam diri di tempat, sama halnya dengan gadis yang berada di depannya. Kulihat gadis itu sedang berbicara serius dengan pelayan kasir toko ini, begitu pun dengan Ava yang sesekali terlibat dalam pembicaraan mereka.
Karena penasaran, aku segera berjalan mendekati mereka.
“Ada apa?” tanyaku.
“Gadis ini ingin bekerja di sini. Namun saat ini kami sedang tidak menerima karyawan baru,” tutur sang pelayan kasir.
“Biarlah aku bekerja di sini, selama beberapa bulan saja.” Gadis itu berujar, seakan tidak peduli bahwa ada yang tengah mengantri di belakangnya. “Aku bisa melakukan apapun. Bahkan bila tidak digaji pun, aku tak mengapa. Tolonglah,” pintanya.
Pelayan kasir tersebut tetap teguh pada pendiriannya. “Aku sama sekali tidak memiliki izin untuk mempekerjakanmu. Dan aku bisa saja kehilangan pekerjaanku bila kau memaksa.”
“Aku akan memberimu pekerjaan,” ucapku yang tiba-tiba saja membuat Ava membelalakkan kedua matanya.
Gadis itu menoleh, menampilkan manik matanya yang berwarna hijau, seperti sebuah padang rumput yang luas. Tatapannya menyiratkan kebahagian yang tak tertahan. Seolah ia baru saja berhasil memenangkan suatu pertarungan.
“Aku akan memberimu sebuah pekerjaan,” ucapku lagi.
Sang pelayan kasir kemudian mempersilahkan Ava untuk melakukan pembayaran tanpa sedikit pun menghiraukan gadis yang tadi berdebat dengannya.
Setelah selesai, kami berdua pun keluar dari toko tersebut, tak lupa mengajak gadis itu.
Sekilas, penampilannya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang tengah kesulitan dalam urusan finansial. Namun tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya tengah ia alami.
“Apa yang membuatmu ingin sekali memiliki pekerjaan?” tanyaku.
Gadis itu tersenyum tipis. “Aku ingin menjadi gadis mandiri. Aku tidak ingin dianggap remeh, hanya karena terlahir dari keluarga yang kaya,” jawabnya.
“Bagaimana bila orang tuamu tahu bahwa kau sedang bekerja di luar? Maksudku, apakah mereka tidak keberatan?” Ava menatap gadis itu dengan saksama. Kurasa kami berdua memiliki pemikiran yang sama terhadap gadis tersebut.
“Oh, orang tuaku punya banyak sekali waktu yang dihabiskan hanya mengurus pekerjaan dan bisnis mereka. Mereka tidak pernah ada di rumah. Yang selalu menemaniku hanya uang, jadi tidak ada yang akan keberatan,” ucapnya menerawang, kemudian kembali tersenyum.
“Namaku Gwyneth, tolong hubungi aku jika kau menemukan pekerjaan yang cocok denganku,” tambahnya seraya memberikan secarik kertas berisikan sebuah nomor telepon padaku.
“Biarkan kami mengantarmu pulang,” ujar Ava.
“Terima kasih, namun aku bisa pulang sendiri. Aku tahu jalan pulang,” tukas gadis itu seraya berpamitan, kemudian berlalu dari hadapan kami.
“Tidak! Pulanglah dengan kami. Aku akan jauh lebih tenang bila kau bersama kami," sela Ava.
Kami lalu memesan sebuah taxi. Dan gadis itu turut bersama kami. Ia duduk di kursi depan, sedang kami berdua memilih untuk duduk bersampingan di belakang.
“Jadi ... apakah kau adalah putri tunggal?” Ava mulai melakukan pekerjaan sampingannya: menjadi seorang penyelidik.
“Tidak. Aku punya seorang kakak laki-laki,” jawab gadis itu.
“Apakah dia masih bersekolah atau ...,” belum sempat Ava menyelesaikan perkataannya, gadis itu buru-buru menjawab. “Ia sudah memiliki pekerjaan. Hanya aku satu-satunya beban di keluarga kami.”
“Apa kakakmu itu sama sibuknya seperti orang tuamu?” Ava memajukan badannya menuju kursi depan.
Gadis itu pun berujar dengan pelan. “Kakakku ... jauh lebih baik dari mereka.”
“Lantas mengapa kau ingin sekali memiliki pekerjaan? Kukira gadis sepertimu sebaiknya menyibukkan diri dengan sekolah atau kegiatan ekstrakulikuler.”
“Aku tidak suka mengulang jawaban yang sama.”
Ava kemudian terdiam, perlahan memundurkan badannya, kembali pada posisi semula. Ia sempat menatapku, seolah ingin bertelepati, mengapa aku tidak ingin menanyakan sesuatu pada gadis bernama Gwyneth itu.
Beberapa menit berikutnya terasa seperti kami sedang berlomba menciptakan kesunyian. Siapa yang tidak berbicara sama sekali akan menjadi pemenangnya.
Tiba-tiba gadis itu bersuara, meminta diturunkan pada sebuah halte.
“Aku akan menunggu mini bus di sini. Kalian bisa melanjutkan perjalanan pulang kalian.”
“Kenapa?” tanya Ava.
“Tidak apa. Aku lebih suka pulang menggunakan mini bus. Di sana aku bisa menikmati perjalanan pulangku sambil mendengar alunan musik atau mungkin membaca sebuah novel.”
Gadis itu menatapku dan Ava secara bergantian, lalu tersenyum. “Aku senang bisa mengenal kalian. Kuharap aku akan segera mendapatkan pekerjaanku.”
Ia pun berpamitan sebelum akhirnya keluar dari taxi. Dan aku benar-benar bisa melihatnya menaiki sebuah mini bus, sebelum akhirnya taxi yang kami tumpangi ini benar-benar melaju menjauh. Kurasa ia memang benar. Mini bus selalu adalah pilihan yang terbaik untuk pulang.
“Menurutmu, pekerjaan apa yang cocok untuknya?” tanya Ava di sela perjalanan pulang kami.
“Gadis yang malang, ia hanya butuh pengakuan. Atau setidaknya, jalan pulang....”