Hujan, Senja, dan Perpisahan yang Kubenci

2452 Kata
DEONASYERA POV   28 Januari 2005 Aku berjalan sendiri menuju halte itu. Melewati keramaian kota Vellozia sambil sesekali melempar pandang pada jalanan yang masih dalam keadaan lembab karena diguyur hujan semalam. Langkahku lalu terhenti tepat di depan pintu masuk sebuah mini bus, saat ia menatapku. Lebih tepatnya ia juga berpapasan denganku dan hendak masuk kedalam mini bus tersebut. Dia ... seorang lelaki bertubuh tinggi, berkulit cokelat muda, bermata dan berambut hitam pekat. Dia juga mengenakan jaket hitam, sama sepertiku. Aku tersenyum kecil saat ia mempersilahkanku untuk masuk mendahuluinya. Aku memilih duduk di kursi paling belakang, tepatnya di bagian ujung sebelah kiri dekat pintu keluar, bersampingan dengannya.   Perjalanan pulangku saat itu terasa sedikit berbeda, karena aku dipertemukan lagi dengan kawan lama yang dulunya sering kutemui di halte ini. Sebenarnya tidak dapat juga dikatakan sebagai 'kawan'. Nyatanya, kami tak pernah berbicara apalagi berkenalan. Hanya saja aku telah merasa begitu familiar dengan lelaki itu. Sebab ia juga adalah salah satu penumpang tetap pada mini bus tersebut. Lagipula, sudah lama memang aku tak berpapasan dengannya.   Pertemuan kami saat itu merupakan pertemuan tak sengaja dan aku sangat senang mengetahui hal itu. Namun, berada di dalam mini bus itu serta duduk bersampingan dengannya sungguh membuatku merasa canggung. Ditambah lagi dengan suasana di dalam mini bus yang terlihat sangat mendukung. Semua penumpang yang berada di dalam bus terlihat sibuk bercerita dengan kerabat atau pasangannya masing-masing. Menyisakanku yang sedang duduk mematung bersama dengan lelaki yang berada di sampingku atau mungkin hanya aku saja yang melakukannya. Karena yang kulihat, lelaki tersebut sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Dia juga menyibukkan dirinya dengan membaca sebuah novel. Suatu hal yang tidak biasa dilakukan oleh para lelaki. Aku sebenarnya ingin juga merogoh ponsel yang berada di dalam saku jaketku. Hanya saja, ponselku saat itu sedang berada dalam keadaan mati karena kehabisan daya. Akhirnya, aku hanya bisa terdiam. Melamun, layaknya orang bodoh.   Cukup lama aku terhanyut dalam lamunanku hingga suatu kejadian konyol terjadi dan membuatku tak percaya bahwa akulah penyebabnya. Mini bus yang kami tumpangi hampir berhenti di tempat perhentiannya dan aku saat itu sedang berusaha mencari dompet di dalam tasku, yang pada saat itu terlihat lebih bervolume, karena berisikan beberapa buku tulis dan buku paket, payung, juga kotak makanan berukuran lumayan besar. Oleh karenanya, aku merasa bahwa tubuh dan juga tas sekolahku hampir jatuh. Dan untuk mencegah hal buruk terjadi, aku pun bergeser sedikit ke arah sebelah kanan dan kembali mencoba untuk mencari dompet tersebut. Sayangnya, aku masih merasa kesulitan dalam mencari dompetku. Karena memang hanya melakukan sedikit pergeseran, aku lalu bergeser kembali ke arah yang sama agar dapat lebih leluasa untuk mencari dompet cokelat milikku itu. Lagipula, mana mungkin aku akan turun dari sini tanpa membayar sepeser uang pun?   Tak berselang lama setelah pergeseranku, aku merasa bahwa ada pergerakan lain selain tubuhku. Dan benar saja, saat kutolehkan kepalaku ke arah jendela untuk memastikan siapa yang bergerak, mataku menangkap lelaki yang duduk bersampingan denganku itu tengah bergeser menjauh sampai ke bagian paling ujung sebelah kanan. Pergerakan yang dilakukannya sontak membuatku terhenyak dan merasa malu. Pikiran liarku mengatakan bahwa sepertinya ia mengira bahwa aku sengaja melakukannya agar dapat mendekatinya. Akhirnya, setelah berhasil mendapatkan dompetku, aku segera bergeser ke arah kiri untuk memperbaiki posisi, tepat pada posisi awal. Mencoba bertahan dengan suasana hati yang tak karuan. Kutatap jendela mini bus tersebut dengan maksud untuk menikmati pemandangan dan berharap dapat melupakan suasana yang canggung tersebut. Namun sayangnya, pikiranku ini tak mampu melupakan apa yang baru saja terjadi.   Bus yang kami tumpangi pun sampai di tempat perhentiannya. Saat hendak turun, sebenarnya aku bisa saja turun lalu pergi. Namun karena kejadian yang baru saja terjadi saat itu, aku semakin yakin untuk membiarkannya turun mendahuluiku. Akan tetapi, beberapa detik rasanya telah terbuang percuma. Lelaki itu tak kunjung turun dan hanya diam sambil mengarahkan tatapannya padaku seolah berisyarat agar bagaimana bila aku saja yang turun duluan. Tetapi aku lebih memilih untuk ikut terdiam bersama lelaki itu sampai akhirnya ia memutuskan untuk turun dari bus tersebut.   Setelah turun dan membayar, aku lalu berjalan menuju dan berdiri tepat di samping sebuah mobil kedai roti dan mengamati lelaki itu yang berjalan tanpa menoleh sedikit pun padaku. Aku mengamati punggungnya yang perlahan menjauh, diiringi dengan rintik hujan yang mulai jatuh membasahi bumi. Tiba-tiba, aku dibuat kaget karena lelaki itu memalingkan kepalanya padaku lalu dengan sekejap, seulas senyuman terukir dari bibirnya. Senyuman yang tentu saja membuatku senang sekaligus bertanya dalam hati. Kupikir aku akan mendapat tatapan sarkastik dari lelaki itu. Nyatanya, ia tersenyum padaku. Senyuman yang sangat manis yang hanya berlangsung selama beberapa detik dan setelah itu menghilang bersama dengan lelaki itu yang terus berjalan menjauh. Ia mungkin tak tahu, namun apa yang dilakukannya telah membuatku, Catherine Deonasyera Cord, seorang gadis yang saat itu baru saja berusia 15 tahun merona.   ♧♧♧   4 Februari 2005  Aku sedang duduk di taman kota sembari menatap lurus ke arah sebuah lukisan wajah yang terpampang jelas di depanku seraya tersenyum bangga. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa ternyata aku pun memiliki kemampuan untuk mengggambar, selain menulis. Walau tidak sebagus dan semahir para ahli yang dapat melukis dengan sangat detail sehingga terlihat mirip dengan objek asli, tetapi setidaknya aku dapat melukis wajahnya.   Dalam lukisan itu, aku melukiskan diriku sendiri sedang menatap ke arah seorang lelaki manis yang tengah duduk di kursi penumpang paling belakang sambil membaca sebuah novel karya Philip Otlivio, yakni seorang penulis novel best seller era 2000-an yang berjudul Caught The Light in Summer. Aku sendiri tak tahu mengapa bayangan lelaki yang sedang duduk di kursi penumpang itu selalu mengantui dan bahkan membuatku tergerak untuk melukis wajahnya.   Cukup lama aku memandangi lukisan itu hingga sebuah suara berbisik tepat disamping telingaku dan membuatku tersentak kaget.   "Lukisan yang indah."   "Ka ... kau?" ujarku dengan terbata. Lelaki yang tengah kupikirkan baru saja muncul dihadapanku.   "Senang berjumpa kembali denganmu,” ucap lelaki itu yang cukup membuatku yakin bahwa aku tidak sedang bermimpi.   Aku pun memberanikan diri untuk berbicara, walau kalimat yang kuucapkan saat itu tak sebanding dengan degupan jantung yang semakin memacu.   "Sedang apa kau di sini?"   "Sepertinya aku mengenal wajah yang kau lukis itu." Ucapan yang lebih terdengar seperti sindiran itu seketika membuatku menunduk dan mulai menutupi lukisanku dengan kedua tangan.   "Kenapa menunduk? Apa kau mencari ini?" Lelaki itu berujar sambil menyodorkan beberapa logam uang receh padaku.   "Hei, jangan diam saja. Apa aku membuatmu takut?"   Aku menggeleng. "Maaf. Aku telah lancang melukis wajahmu,” ujarku pelan tanpa menoleh ke arah lelaki tersebut.   Beberapa saat kemudian terdengar suara tawa darinya yang tiba-tiba mengambil lukisan yang sedari tadi berada di genggamanku.   "Aku tak masalah dengan ini. Aku malah senang melihat hasil lukisanmu. Mengesankan,” ucapnya yang malah menandatangani lukisanku. "Tapi, mengapa harus wajahku?" Aku tertegun. Sama sekali tidak tahu mana jawaban tepat yang harus kukatakan atau setidaknya mana kata-kata yang dapat kugunakan untuk beralibi.   "Mengapa begitu yakin bahwa ini adalah lukisan tentangmu?" ucapku balik bertanya. Lelaki itu mengerutkan keningnya, merogoh sesuatu dari dalam ranselnya, lalu menunjukkannya padaku. Sebuah novel.   "Karena ini. Aku ingat jelas hari itu aku sedang membaca novel ini dan mencoba merangkumnya."   "Merangkum? Bagaimana mungkin kau dapat merangkumnya tanpa membaca keseluruhan dari isi novel itu?"   Lelaki itu menyeringai. "Mungkin aku akan menjawabnya nanti. Pertama, kau harus menjawab pertanyaanku."   Kutarik napasku dalam-dalam sembari memejamkan kedua mataku. Seolah sedang mempersiapkan diri untuk berpidato di depan banyak orang yang belum pernah kutemui sebelumnya.   "Maaf, sebenarnya ini hanyalah gambar asalan yang kubuat. Aku hanya ingin melukis wajah itu." Napasku tercekal. Aku benar-benar gugup, "Entahlah, aku hanya ingin terus melihat wajah itu. Aku tidak ingin wajah itu menghilang dari benakku begitu saja. Jika kau tidak suka, kau boleh membuang lukisan ini,” tuturku yang tak percaya pada semua yang baru saja kukatakan. Dan yang lebih membingungkan bagiku adalah ia hanya tersenyum menanggapi ucapanku. Sebuah senyuman yang sama seperti yang dilakukannya seminggu yang lalu.   "Kurasa kita memiliki kontak." Lelaki itu mendongkak ke atas menatap langit seraya berucap, "Hari sudah mulai senja. Saatnya untuk pulang. Kau tak mungkin bermalam di sini, bukan?"   Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu menarik tanganku untuk ikut bersamanya.   Aku lalu berjalan dalam diam, mengikuti kemana langkah kakinya akan membawaku. Ralat, kami. Tak ada percakapan lagi di antara kami. Sesekali aku melihat ke arah lelaki itu yang tidak tersenyum, namun tidak juga murung. Satu hal yang kutahu, ialah perjalanan pulangku kali ini akan berbeda dari sebelumnya. Aku tidak pulang seorang diri, tetapi bersama dengan lelaki yang kusukai.   Kami berjalan menyusuri sebuah jalan yang di sisi kanan dan kirinya ditumbuhi oleh rerumputan liar yang mulai meninggi dan terkadang aku melihat bunga-bunga kecil menyerupai bunga Daisy yang tumbuh di situ.   "Sebenarnya kau akan membawaku kemana? Ini bahkan bukan jalan menuju rumah!"   "Ikut saja. Aku tidak akan menculikmu. Lagipula kita hampir sampai,” tukas lelaki itu tanpa menoleh ke arahku   Kami pun terus berjalan hingga akhirnya aku melihat hamparan laut yang begitu luas dan menyilaukan mata. Deburan ombak yang menerpa pasir putih, beberapa burung yang singgah ditepi pantai, juga udara yang dingin dan menyejukkan. Pandanganku tertuju pada sebuah jembatan kayu yang disekitarnya terdapat beberapa kapal kecil yang sedang berlabuh.   "Ini adalah tempat favoritku sejak kecil. Dulu ini adalah sebuah dermaga bagi kapal-kapal kecil, namun sekarang tidak difungsikan lagi dan aku tak tahu apa alasannya,” jelasnya seolah ia dapat membaca apa yang tengah kupikirkan.   "Lalu bagaimana dengan nasib kapal-kapal itu?"   "Entahlah. Kapal-kapal itu sudah lama bersemayam di situ."   Aku lalu berjalan menuju jembatan dan duduk di sana. Menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh pantai itu. Membiarkan angin menerpa wajahku, menghirup aroma laut yang khas, juga mendengar bunyi deburan ombak yang beriak ditepi pantai. Bagiku, hari itu merupakan salah satu momen senja yang tidak akan terlupakan begitu saja. Aku duduk bersama lelaki itu, menikmati pemandangan di bawah langit oranye.   "Menenangkan, bukan?" ucapnya sambil ikut duduk. Di sampingku.   Aku menoleh seraya tersenyum. "Terima kasih telah membawaku kemari. Tempat ini begitu indah!" ujarku.   Ia tersenyum penuh arti kemudian mengalihkan pandangannya dariku.   "Pertama kali aku menemukan tempat ini adalah saat umurku delapan tahun."   "Apa yang kau lakukan di sini saat itu?"   "Aku lari dari rumah, sesaat setelah melihat kedua orang tuaku bertengkar. Lalu aku menemukan tempat ini dan menangis selama seharian penuh."   "Ada apa dengan orang tuamu?" tanyaku berhati-hati.   "Sejak kecil aku tak pernah merasakan kedamaian saat melihat mereka. Mereka selalu bertengkar dan puncaknya adalah hari itu. Ayahku mengusir ibu dari rumah. Dia bahkan melarangku untuk menemui ibu. Hingga sekarang aku tak tahu di mana ibuku dan bagaimana kabarnya,” jelasnya sambil tersenyum tipis. Sementara aku hanya tersenyum masam menanggapi ucapannya tanpa tahu harus berkata apa.   Kami berdua pun terdiam. Tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku tak tahu apa yang tengah dipikirkannya. Yang aku tahu, hari itu aku benar-benar bahagia karena telah diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya. Dalam hati aku berdoa semoga setelah hari itu, kami akan sering bertemu dan mungkin dapat berteman. Segala khayalan gila bahkan teratur dalam pikiranku dengan sangat baik. Aku mengkhayalkan bahwa kami akan menjadi lebih dari sekadar teman.   "Catherine ...,"   Aku tertegun. Lelaki itu adalah orang pertama yang memanggilku dengan sebutan itu. Biasanya mereka lebih senang memanggil nama tengahku 'Deonasyera'.   "Selamat ulang tahun. Aku tahu, aku seharusnya memberikan ini seminggu yang lalu. Kuharap kau tidak kecewa menerimanya,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang, berwarna hitam, dan dihiasi dengan pita berwarna emas.   Aku lalu menerima kotak itu dengan banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku, seperti: "Bagaimana ia tahu bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku?"   "Kuharap kau menyimpannya dengan baik, karena mungkin saja ini adalah pertemuan terakhir kita,” pintanya yang kemudian tersenyum sambil mengacak rambutku. Sementara aku, aku menatapnya dengan tatapan tak percaya. Maksudku, apa yang sebenarnya ingin dia katakan? Apa ini lebih merujuk pada hadiah perpisahan dari pada hadiah ulang tahun? Apa dia akan pergi?   "Apa maksudmu ini adalah ... hadiah perpisahan?" tanyaku.   Dia menggeleng.   "Aku tulus memberikannya padamu. Itu hadiah ulang tahun dariku untukmu. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan perpisahan." Ia mendesah pelan. "Mungkin setelah ini, kau tidak akan pernah melihatku lagi. Mungkin setelah ini kau akan segera melupakanku. Perubahan itu selalu ada. Karena yang terjadi saat ini takkan sama dengan besok,” ujarnya.   Aku terdiam sambil tetap menatapnya. Mencoba mencerna setiap kalimat yang ia ucapkan. Aku punya satu kesimpulan dari apa yang telah dikatakannya. Tetapi aku tak ingin menganggapnya sebagai sebuah kesimpulan.   Karena aku tak ingin dia meninggalkanku.   "Banyak hal yang telah terjadi padaku, selama dua tahun ini. Salah satunya adalah kau." Ia tersenyum kecil, mengalihkan pandangannya dariku. "Aku tak pernah tahu akan bertemu denganmu. Jika saja aku tahu, mungkin aku akan mempersiapkan diriku lebih awal." Aku masih menatapnya dalam diam. Tak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaanku saat harus mendengar semua perkataannya. Terasa sangat sulit. Saat kau hampir berada dekat dengannya, namun takdir berkata lain. Kalian hanya dipertemukan untuk melihat perpisahan.   "Lebih baik aku tidak pernah bertemu denganmu dari pada aku harus meninggalkanmu. Maksudku, aku benci perpisahan." Ia menatapku dalam-dalam. "Dengar baik-baik, Cathe. Dua tahun kuhabiskan waktuku untuk memikirkannya. Dua tahun kuyakinkan diriku bahwa aku ... tak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Aku hanya ingin menegaskan padamu bahwa aku mencintaimu...."   Aku hampir tak percaya mendengarnya. Tetapi saat melihat matanya, aku tahu bahwa dia serius. Aku masih mencoba mencerna segala hal yang terjadi padaku saat itu. Pikiranku mulai melontarkan berbagai kalimatnya, seperti : "Mungkin dia punya alasan mengapa dia harus meninggalkanmu. Tetapi untuk apa dia menyatakan perasaannya padamu jika dia hanya akan meninggalkanmu? Lalu jika dia meninggalkanmu, apa yang harus kau lakukan nanti untuk tetap yakin bahwa dia akan mencintaimu bahkan setelah dia kembali? Lalu saat dia pergi, bagaimana denganmu? Bagaimana jika kau ingin menemukan cinta yang lain? Bagaimana jika dia berbohong? Bagaimana jika dia tidak akan pernah kembali?"   "Kau bilang kau mencintaiku, tapi kau akan meninggalkanku." Aku tersenyum kecil. Mencoba menahan tangis. "Aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat kau tak ada nanti."   "Lakukan apapun yang kau mau. Hanya saja, jangan coba mencariku. Aku juga tidak tahu apa aku akan tetap mencintaimu hingga aku kembali. Yang aku tahu, cinta akan menemukan jalannya sendiri."   "Bukankah itu terlihat egois? Lalu bagaimana denganku?" Aku menghela napas. Terasa sangat sesak di d**a. Aku hampir tidak bisa menahan air mataku. "Apa yang harus kulakukan nanti untuk tetap yakin bahwa kau akan tetap mencintaiku bahkan setelah kau kembali? Kau bahkan tidak yakin akan tetap mencintaiku. Lalu bagaimana jika kau tidak akan pernah kembali?" tanyaku.   Dia terdiam. Sama sekali tidak merespon perkataanku. Dia juga tidak menatapku lagi. Pandangannya tertuju pada mentari yang mulai terbenam. Seharusnya saat itu adalah saat yang romantis. Bukan menyedihkan seperti yang telah terjadi.   "Aku sebenarnya tidak percaya pada cinta, Cathe. Cinta itu seperti api. Kita tidak pernah tahu apakah ia akan menghangatkan atau malah membakar. Namun, aku percaya pada perasaanku. Aku akan mengingatmu." Dia kembali menyuarakan isi hatinya. Dan senja pun perlahan semakin memudar. Dan aku? Aku menangis dalam diam. Inikah yang bisa dilakukan oleh waktu? Ia tidak pernah berpihak pada perasaan.   "Sampai bertemu di masa depan, Cathe...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN