DEONASYERA POV
Angin berhembus kencang di penghujung bulan Desember tahun ini. Kurapatkan jaket berbahan wol yang membalut tubuhku, seraya mendongkak menatap langit yang dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan kembang api yang meledak di angkasa. Masih ada beberapa jam lagi sebelum tahun 2015 benar-benar berlalu, namun semua orang telah merayakan kepergiannya sebelum waktunya. Mereka begitu antusias menyambut tahun baru. Seolah tahun ini hanya akan menjadi masa lalu yang telah ditinggalkan dan terus berada di belakang. Benar-benar berbeda denganku yang selalu membiarkan pintu masa lalu terbuka lebar dan menyiksa diri untuk kembali mengulang masa lalu.
Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku mencintai seseorang dari masa lalu yang tak bisa kutemukan di masa sekarang. Perasaan itu terlalu kuat untuk dihilangkan. Teman-temanku selalu berkata bahwa aku mungkin hanya berkhayal tentang pria itu, karena aku tak pernah bisa menunjukkan rupanya pada mereka. Namun tak ada yang tahu, aku selalu mengingatnya dalam ingatanku. Walau beberapa tahun terakhir ini kurasa wajahnya mulai memudar dari ingatanku, namun kenangan senja yang kami miliki selalu menghantuiku. Bagaimana dia menyapaku, tersenyum saat menatapku, menceritakan kisah hidupnya padaku seolah kami telah berteman lama, bahkan saat dia meninggalkanku. Seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi saat itu terus berputar di pikiranku, seperti tidak ingin pergi. Aku masih tidak mengerti apa yang sesungguhnya kucari darinya sehingga aku mampu bertahan sejauh ini.
Terkadang aku merasa bahwa aku adalah wanita paling bodoh. Menghabiskan waktu untuk menunggu seseorang yang mungkin takkan pernah kutemui hingga kapan pun. Semuanya berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa sepuluh tahun berlalu sejak terakhir aku melihatnya. Dia benar-benar membuktikan perkataannya. Bagai jejak kaki yang hilang dihapus ombak, dia pun menghilang begitu saja. Aku tahu aku seorang pembangkang. Ia menyuruhku untuk tidak mencarinya, tetapi aku melakukan hal sebaliknya. Aku mempersulit diriku sendiri.
Sebenarnya jika dipikirkan baik-baik, aku bisa saja berhenti menghabiskan waktuku untuk menunggunya. Aku bisa saja memilih untuk melanjutkan hidupku dan mencari seorang yang baru untuk dicintai. Aku tahu bukan dia satu-satunya pria didunia ini yang patut untuk dicintai. Namun rasanya sangat sulit untuk mencintai orang lain. Aku bukan tipikal wanita yang mudah jatuh cinta dan melupakan masa lalu. Ada sesuatu di dalam diriku yang memintaku untuk tetap menunggunya.
Kini, setelah sepuluh tahun berlalu aku belajar bahwa hidup tidak harus tentang dia. Maksudku, aku juga punya banyak tanggung jawab dan pekerjaan lain yang harus kulakukan dari pada menghabiskan waktuku untuk memikirkan bahwa kapan dia akan kembali. Aku juga yakin jika dia masih ada, dia akan setuju dengan pemikiranku.
Aku punya keluarga yang harus kuperhatikan. Ayahku tahun depan akan pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang staf di sebuah perusaan alat berat yang ada di Vellozia. Arvense Company. Sedangkan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Otomatis yang akan menjadi tulang punggung keluarga setelah ayah pensiun adalah aku. Aku tak mungkin meminta kakakku untuk menanggung tanggung jawab tersebut. Karena dia telah memiliki tanggung jawab baru bersama keluarga kecilnya. Selain itu, aku juga punya tanggung jawab sendiri sebagai seorang editor di salah satu perusahaan penerbitan buku. Maribels Book Group.
Namun kembali lagi pada masalah yang sebenarnya kualami. Aku telah bertindak sebaik mungkin dengan lebih memprioritaskan keluargaku. Namun bayangan lelaki itu selalu muncul dalam benakku, walau aku tidak ingin mengingatnya. Aku seolah terus dipaksa untuk mencarinya.
♧♧♧
"Kenapa kau sangat suka menyendiri?" Aku tersentak dan segera menoleh menuju sumber suara. Ibu. "Masuklah ke dalam. Udara di luar sini akan menusuk kulitmu."
Aku lalu bangkit berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah beriringan dengan ibu. Atau lebih tepatnya ibu berjalan sambil memelukku. Kami berjalan mengikuti alunan musik. Menuju ruang keluarga di mana terdapat ayah, paman Sam, bibi Hanna, Dianee, Petter, dan Tee. Dalam hidupku, aku hanya memiliki seorang kakak yang umurnya terpaut empat tahun dariku. Dianee Cord. Dia adalah seorang pengacara yang dua tahun lalu menikah dengan seorang kontraktor. Petter Anderson. Tak hanya itu, mereka pun dikaruniai seorang anak perempuan. Freycinetia Thereszia Anderson. Aku lebih senang memanggilnya 'Tee'. Jangan tanya mengapa, namanya terlalu sulit untuk kategori seorang bayi berusia delapan bulan. Sementara paman Sam sendiri adalah kakak tertua dari ayah yang menikah dengan kakak tertua dari ibu. Bibi Hanna. Mereka tidak memiliki anak. Oleh karena itu setiap tahun, ia dan bibi Hanna akan berkunjung ke Vellozia, sekedar untuk merayakan tahun baru bersama kami.
"Baiklah, kita akan mulai membagikan kadonya," ucap ibu yang kemudian berjalan menuju pohon natal dan mengambil beberapa bungkusan kado yang bertumpuk di bawahnya. Bungkusan kado itu lalu diletakkan di atas meja. Dan disaat itulah sidang dimulai. Maksudku, ibu membagikan kado sesuai dengan nama yang tertera pada bungkusannya.
Aku dan keluargaku punya beberapa tradisi lama yang masih sering kami lakukan hingga sekarang jika menjelang tahun baru. Menggelar pesta kecil, saling bertukar kado, dan pergi menonton pesta kembang api di anjungan pantai. Sekilas, kegiatan seperti itu terlihat terlalu terstruktur dan membosankan. Tetapi aku sama sekali tidak melihatnya di dalam keluargaku. Mereka selalu punya cara tersendiri untuk meramaikan suasana.
"Dan, pemilik kado terbanyak tahun ini adalah ...," Dianee tersenyum kegirangan sambil melirik satu per satu anggota keluarga. "Bibi Hanna!" ucapnya setengah berteriak, kemudian tertawa saat melihat ibu terperangah.
"Kakak? Bagaimana mungkin kau mendapat kado terbanyak?" Ibu menatap bibi Hanna dengan tatapan tak percaya.
"Ah, ini menyebalkan sekali! Ada yang menggantikan tempatku sebagai pemenang tetap selama lima tahun terakhir ini." Aku terbelalak mendengar perkataan ibu. Ibu memang sangat antusias dengan segala hal yang berkaitan dengan kado. Dan aku sama sekali tak menyangka ibu akan mengingat setiap kemenangan yang ia dapatkan dengan baik.
"Sudah kubilang, suatu saat aku akan mengalahkanmu, Eliza!" ucap bibi Hanna sambil tertawa. Suaranya menggelegar di pelosok ruangan. "Kau berhutang traktiran padaku. Semangkuk pangsit ayam, segelas lemon tea, dan dua cup ice cream cokelat berukuran sedang,” tambahnya dengan penuh antusias.
"Tunggu, tunggu ...," Paman Sam menatap ibu dan bibi Hanna secara bergantian, "kalian sedang bertaruh?" Ibu dan bibi Hanna mengangguk secara serempak.
Hening selama beberapa detik. Kemudian tiba-tiba saja terdengar suara tawa yang berasal dari ayah dan paman Sam.
"Apa yang lucu?!" Tanya ibu dan bibi Hanna bersamaan, sambil melempar pandangan tajam mereka pada ayah dan paman Sam.
"Tentu saja ini lucu! Kau dan Eliza bertingkah seperti anak kecil. Dua orang wanita berusia setengah abad lebih bertaruh hanya demi melihat siapa yang memiliki kado terbanyak?" Paman Sam tak mampu menahan tawa. Kami pun ikut tertawa mendengarnya. Sementara ibu dan bibi Hanna hanya membalas ucapan paman dengan mencibir.
"Paman, tidak apa kalau Ibu dan Bibi seperti itu. Bukankah ini adalah kejadian langka?" Sahut Petter, diikuti dengan Tee yang berucap tidak jelas dipangkuannya.
"Syera, aku punya satu hadiah lagi, khusus untukmu." Bibi Hanna kemudian merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya. "Dua tiket menonton konser akustik The Duke."
Aku tersenyum menatap dua lembar tiket tersebut seraya berucap 'Terima kasih' pada bibi Hanna.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Karena aku yakin kita pasti akan terjebak dalam kemacetan,” ucap ayah sesaat setelah meneguk kopi hitam miliknya.
Kulirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. "Ayah, Ibu, semuanya, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa pergi menonton pesta kembang api bersama kalian."
Dianee mengerutkan dahinya, "Ada apa? Apa kau sakit?" Ia lalu menempelkan punggung tangannya pada dahiku. Aku menggeleng.
"Aku ingin menunggu Bryan di bandara. Pesawatnya akan tiba pukul 11 nanti,” ujarku ragu-ragu. Ragu bahwa ayah akan mengizinkan putri bungsunya untuk keluar malam.
"Bukankah terlalu cepat, jika kau pergi sekarang?" tanya ayah.
Aku menggeleng seraya berucap, "Tidak, Ayah. Jalanan pasti akan sangat ramai. Kupikir, tidak apa jika harus terjebak macet, tetapi sampai di bandara tepat waktu."
"Aku takkan membiarkanmu pergi menemui orang yang tidak kupercaya. Namun jika orang yang kau maksud adalah Bryan, maka pergilah." Ayah tersenyum kecil, kemudian raut wajahnya kembali menjadi serius. "Pastikan dia membawamu pulang dengan selamat."
Aku tertawa kecil. "Terima kasih, Ayah."
Ibu tersipu sambil menatapku, lalu berujar, "Kalian semakin dekat saja, ya?"
"Terlalu dekat,” sahut bibi Hanna. Kedua kakak-beradik itu sepertinya sepakat untuk menggodaku. Lagi.
Aku segera bangkit berdiri, kemudian berlari menuju kamar. Menyalakan lampu, menyimpan tiket konser akustik tadi ke dalam laci nakas, mengambil jaket di dalam lemari, dan juga mengenakan tas selempangku yang berwarna biru tua.
Langkahku terhenti sejenak sebelum keluar dari kamar. Tepatnya saat pandanganku terpaku pada bunga Edelweis yang berada di atas meja kerjaku. Bunga yang diberikannya padaku sepuluh tahun yang lalu. Sebagai kado ulang tahun, juga kado perpisahan.
"Selamat tahun baru untukmu. Di mana pun kau berada, aku merindukanmu."
Kami pun sama-sama berangkat meninggalkan rumah, dengan menggunakan dua mobil. Ayah, ibu, bibi Hanna, dan paman Sam berada di mobil yang sama yang dikendarai oleh ayah. Sedangkan aku, Petter, Dianee, dan Tee, menggunakan mobil yang sama yang dikendarai oleh Petter.
Ayah dan rombongannya segera berangkat menuju anjungan, sementara aku beserta keluarga kecil Dianee berangkat menuju bandara. Kami berpisah di persimpangan jalan.
Perjalanan dari rumah menuju bandara hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit, jika melalui tol. Dan Petter memilih untuk menggunakan tol.
♧♧♧
Natans Internasional Airport
Setelah berpisah dengan Dianee beserta keluarganya, aku pun mampir ke sebuah kedai kopi yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu masuk bandara. Memesan secangkir cokelat panas ditemani sepiring pancake.
Satu jam sudah aku berada di dalam kedai kopi ini. Bahkan, aku telah menghabisi dua cangkir cokelat panas. Aku memang penggemar cokelat. Entah dalam bentuk minuman atau makanan, aku sangat menyukainya. Hanya saja aku tidak suka buah cokelat. Lidahku seolah mati rasa bila memakannya. Kembali pada keadaan sekarang, tatapanku masih setia menatap ke arah jarum jam, juga keadaan di sekitar bandara. Aku menatap seluruh penjuru bandara yang tercakup dalam pandanganku, mulai dari petugas kebersihan yang sedang membersihkan lantai, beberapa satpam yang sedari tadi mondar-mandir di sekitar sini, orang-orang yang sedang mengantri untuk masuk kedalam bandara, beberapa orang yang tengah merokok di ruangan khusus, beberapa lagi sedang duduk di kursi sembari bercerita, pengunjung yang mulai berdatangan di kedai kopi, hingga tatapanku kembali lagi pada diriku yang sepertinya sudah terlihat buruk sekali. Aku mulai lelah dan mengantuk. Dan hampir saja ambruk di atas meja, sebelum akhirnya kurasakan seseorang memegang kepalaku. Bryan.
"Jangan tidur di sini. Aku akan mengantarmu pulang,” ujarnya sambil merapikan rambutku.
Bryan Vandeer. Seorang fotografer, yang juga merangkap sebagai seorang peracik kopi di sebuah cafe. Tepatnya cafe miliknya sendiri yang terletak tidak terlalu jauh dari kantor tempat aku bekerja. Pria berambut sedikit cepak ini baru saja kembali ke Vellozia, setelah menghabiskan tiga bulan waktunya berada di Jerman. Mempersiapkan pernikahan sepupunya.
Sudah lama aku mengenalnya. Tak heran jika aku mengetahui banyak hal tentangnya, seperti: dia adalah anak tunggal dan ayahnya telah lama meninggal karena kecelakaan mobil sejak kami masih berada di kelas 2 SMA. Sedangkan ibunya, bibi Claire, harus mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan itu. Walaupun bukan kelumpuhan total, tetap saja aku merasa kasihan setiap kali melihat ibunya yang harus tertatih saat berjalan. Tak heran jika dalam seminggu, aku menyempatkan diri untuk beberapa kali mengunjungi ibunya. Satu fakta yang kutahu adalah hubungan Bryan dengan kedua orang tuanya tidak terlalu baik, bahkan setelah ayahnya meninggal. Dia juga tidak tinggal bersama dengan ibunya. Dan jika dibandingkan denganku, dia sangat jarang mengunjungi ibunya sendiri. Dan aku pun tak tahu alasannya, karena dia sama sekali tidak menceritakannya padaku. Aku sendiri tidak ingin membahas masalah tersebut. Walaupun dia adalah pria yang baik dan tidak pernah memarahiku, tetap saja membahas masalah tersebut merupakan hal yang sensitif.
Aku telah mengenalnya sejak berada di SMA. Kami mengikuti ekstrakulikuler yang sama. Musik. Dan satu fakta lain yang kutemukan adalah kedua orang tuaku telah mengenalnya dengan baik, apalagi ibu yang telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Ibu bahkan pernah menyarankanku untuk menikah dengannya. Sungguh suatu ketidakmungkinan yang tidak akan pernah mungkin kulakukan.
Kami berdua seolah mempunyai kesepakatan khusus yang terjadi tanpa adanya negosiasi. Aku tahu Bryan memendam perasaannya padaku, namun aku tidak pernah mencoba menghindarinya hanya karena dia pernah menyatakan perasaannya padaku. Bukan hanya sekali, namun beberapa kali. Sedangkan dia mengetahui bahwa aku sedang menunggu seseorang, namun tidak pernah mencoba menghentikanku. Status kami saat ini lebih kepada teman dekat. Sayangnya, kedekatan kami malah membuat ibuku dan bibi Hanna berpikir bahwa kami memiliki hubungan khusus.
Aku bangkit dari dudukku kemudian tersenyum lalu menepuk kedua pundaknya.
"Kau tahu, aku hampir saja menginap di kedai kopi ini. Mengapa kau lama sekali, Bryan?"
"Apa kabarmu?" Dia menatapku dengan polos. Seolah tidak ada hal penting dari pertanyaanku yang harus dijelaskan olehnya.
"Aku lelah, mengantuk, dan ingin sekali membeli ice cream." Aku lalu mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Rasa kantuk ini semakin menjadi-jadi saja.
Dia tertawa mendengar ucapanku.
"Kalau begitu ikut aku." Ia menarik tanganku untuk ikut bersamanya. Kami berjalan menuju basement. Menuju sebuah sedan berwarna putih yang telah terparkir di bandara selama dua minggu.
"Sebentar!"
Bryan menoleh. "Ada apa?"
"Aku ingin ke toilet!” tukasku yang kemudian berlari menuju toilet umum tanpa menunggu respon darinya.
Setelah beberapa menit kuhabiskan waktuku di toilet wanita, aku pun berjalan menuju wastafel.
"Permisi ...," ujar seorang wanita yang berdiri tepat di sampingku. Ia berpakaian pramugari dan tentu saja tubuhnya tinggi semampai. Ia menatapku dengan ragu seraya bertanya, "apa aku boleh meminjam ponselmu?"
Aku menaikkan kedua alisku. Belum juga aku merespon, wanita itu kembali bersuara sambil memelas.
"Tolong aku! Ponselku hilang. Aku harus menelpon kekasihku." Aku menatap wanita itu dengan saksama. Menatap tubuhnya yang tinggi semampai, bentuk wajah yang cukup tirus, dan secara garis besar penampilannya memang 100% seperti pramugari di salah satu maskapai penerbangan. Tetapi, apakah teknik pencurian zaman sekarang menggunakan wanita cantik sebagai umpannya? Aku tidak boleh tertipu.
"Percayalah padaku! Aku benar-benar butuh pertolonganmu. Dia pasti sedang mencariku." Wanita itu menggoyangkan tubuhku. Kulihat wajahnya mulai pucat.
"Ini." Aku lalu menyodorkan ponselku padanya yang segera disambut tatapan yang menyiratkan kata 'terima kasih'.
"Ini aku, Cale. Maaf menggunakan nomor asing. Ponselku hilang!" Wanita itu menghela napas, aku pun dapat mendengar sayup suara celotehan seorang pria di seberang sana. "Aku lupa menaruhnya di mana. Baiklah, akan kutemui kau di parkiran." Wanita itu lalu mengakhiri panggilannya. Tak lupa mengembalikan ponselku.
"Terima kasih." Aku terkejut. Wanita itu memelukku sebentar. "Aku tidak punya sesuatu yang berarti untuk kuberikan padamu. Aku hanya punya ini." Ia lalu menyodorkan sebuah lipstick.
"Seorang penumpang memberikanku ini. Aku tidak tahu apa kau suka warnanya atau tidak. Terimalah."
Aku tersenyum kikuk seraya berucap, "Terima kasih."
"Siapa namamu?"
"Deonasyera."
Wanita itu mengangguk.
"Aku … panggil saja Cale."
"Baiklah. Aku harus pergi. Sampai jumpa, Cale." Wanita itu kembali mengangguk, kemudian tersenyum.
Aku lalu berjalan menuju basement secepat yang kubisa. Mataku menemukan Bryan dan mobilnya. Kubuka pintu mobil dan duduk tepat di samping Bryan yang telah duduk di kursi pengemudi. Mobil pun melaju dengan kecepatan standar, membiarkan semilir angin masuk melalui jendela mobil yang terbuka. Bryan pun memutar musik dari tape mobilnya, tentu saja dengan volume yang standar.
"Bagaimana liburanmu di Jerman? Apakah menyenangkan?" tanyaku sambil menatap Bryan yang tidak sedang menatapku.
Dia tertawa kecil. “Sangat buruk! Banyak sekali masalah yang sama muncul setiap hari."
"Benarkah? Masalah apa?"
"Masalahnya adalah aku merindukanmu setiap hari."
Aku tertawa. Dia selalu mengatakannya jika dia berada jauh dariku.
"Tetapi aku tidak pernah merindukanmu."
"Aku tahu. Jadi kau tidak pernah punya masalah."
"Aku hanya bercanda. Kau tidak menganggapnya serius, kan?" ujarku sambil menyenggol lengannya.
"Berarti aku masih punya kesempatan untuk dirindukan olehmu." Dia menoleh sekilas, lalu tersenyum. "Bagaimana keadaanmu? Kau tidak pernah mengabariku selama aku ada di sana."
“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula, kupikir kau sedang menikmati liburanmu. Tidak mungkin aku akan mengganggu.”
“Kau ini, seperti baru kemarin mengenalku.” Ia kemudian tertawa.
“Tidak mau! Biar kau saja,” ucapku yang kemudian ikut tertawa.
Keadaan kembali hening. Bryan tidak lagi membalas perkataanku. Kami masih terdiam, hingga mobilnya terhenti tepat di sebuah restoran. Restoran sederhana yang terletak di pinggiran pantai. Tempat wisata kuliner favoritku dan juga Bryan. Kami sangat suka tempat ini, karena lokasinya yang berhadapan dengan laut. Tak hanya itu, setiap malam tahun baru restoran ini selalu buka hingga pukul tiga pagi. Tak heran jika beberapa kali aku dan Bryan menghabiskan malam tahun baru kami di sini.
Sekarang, di depan mataku tengah tersaji makanan dalam porsi yang cukup besar, yang kurasa takkan habis jika hanya dimakan olehku dan juga Bryan, kecuali jika kami berdua benar-benar dalam titik terlapar di hidup kami. Dua porsi steak daging, bahan makan lengkap untuk beefsteak, seperti: wortel, kentang goreng, dan sebagainya, saus daging bercampur jamur, ditambah semangkuk sup pangsit ayam, juga dua cangkir teh hangat. Sup ayam dan teh hangat tersebut seperti antibiotik alami untuk menghangatkan tubuh kami.
"Kau makanlah duluan. Aku ingin membeli sesuatu." Aku mengangguk pelan kemudian tersenyum.
Sepeninggal Bryan, aku hanya terdiam sembari memaini ponselku tanpa berniat untuk makan. Aku lebih suka jika makan bersama daripada sendiri. Tiba-tiba aku mendengar suara kursi yang digerakkan. Seseorang baru saja duduk di depanku.
"Deonasyera? Lama tak bertemu." Kualihkan pandanganku dari ponselku. Mencari tahu siapa yang tengah berbicara padaku.
"Kau?!" Aku cukup terkejut dengan kedatangannya. Tapi sebisa mungkin aku bertingkah biasa-biasa saja.
Sudah sangat lama setelah terakhir kali aku melihatnya. Apa dia datang untuk menghancurkan perasaanku lagi?