ALEXANDER POV
"Begitukah caramu, melewati Ibumu begitu saja?" Langkahku seketika terhenti. Menoleh ke arah seorang wanita berusia paruh baya yang duduk dengan anggunnya di ruang keluarga.
Wanita itu menatapku dengan wajah angkuhnya. Rambut sebahu yang bergelombang dan digerainya mampu menujukkan seberapa angkuh dirinya. Bahkan kesan smokey eyes yang menempel di kelopak matanya membuat tatapannya terlihat semakin angkuh menatapku.
"Apa kau tidak melihat jika Ibumu sedang duduk di sini? Ataukah kau sengaja melewati Ibumu begitu saja?" Tanyanya sarkastik.
Aku menghela napas panjang. Sudah sangat bosan mendengar celotehannya setiap hari. Aku bukan anak durhaka yang membangkang pada orang tuanya, namun wanita yang sedang berhadapanku ini selalu punya 1001 cara untuk mencari kesalahanku bahkan di suatu titik di mana kesalahan tidak berpihak padaku. Dan maaf, harus kuralat perkataanku tadi. Wanita ini bukan Ibuku, namun dia selalu berusaha untuk terlihat seperti seorang ibu yang sempurna di tengah kehancuran keluarga kami.
"Mengapa kau diam saja? Alexander kau tidak harus mendiami Ib ...,"
"Berhentilah menganggap dirimu adalah Ibuku!" Aku memotong perkataannya, berucap dengan tegas.
Wanita itu seakan terkesima dengan perkataanku. Ia tersenyum penuh makna. Namun dibalik itu aku tahu, ia sesungguhnya tengah bersuka karena aku kembali menyadarkannya pada sebuah kenangan tentang kemenangan yang ia lakukan pada keluarga kami belasan tahun yang lalu.
27 Januari 2005 adalah titik kemenangannya atas keluargaku. Setelah berhasil membuat ayah meninggalkan ibuku dan mengusirnya dari rumah, wanita bertanduk dua ini mengambil alih seluruh kekuasaan yang ada di rumah ini. Membuat berbagai penindasan bagi setiap orang, bahkan pada para pekerja kecil yang ada di rumah ini. Dan walaupun aku tidak mengatakannya secara jelas, namun melalui tindakanku, semua orang tahu bahwa aku membencinya. Wanita bernama lengkap Maureen Thompson ini adalah kekasih gelap ayah yang tamak dan lihai dalam membuat drama. Dan atas kemenangannya itu, ia kini disebut Nyonya Vulgaris. Suatu gelar yang sangat tidak pantas untuknya. Dan sekarang dia sedang menggunakan gelar itu untuk meminta pengakuanku atas dirinya.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Oh, kau ternyata masih mengingat Ibumu yang tidak tahu diri itu?" Wanita itu bangkit berdiri, berjalan ke arahku, kemudian membelai wajahku sambil tersenyum tipis. "Dia tidak ada di sini. Aku adalah Ibumu, bukan dia. Jadi kau seharusnya tahu cara untuk menghormati Ibumu."
Aku menyeringai. "Benarkah? Jadi kau adalah Ibuku?"
Wanita itu mengangguk dengan pasti.
"Di dalam mimpi terindahmu!" Tukasku seraya berlalu meninggalkannya. Ia nampak sangat kesal mendengar perkataanku. Jelas saja aku berkata seperti itu. Entah dia masih mengingatnya, tapi aku begitu mengingat kejadian hari itu.
27 Januari 2005. Malam itu yang kutahu kami baik-baik saja. Namun tiba-tiba ketenangan di dalam rumah berubah menjadi malapetaka saat kudengar dari ruang keluarga ayah dan ibu sedang bertengkar. Pertengkaran hari itu memang bukan pertengkaran yang pertama kali kudengar. Beberapa bulan sebelumnya ayah dan ibu memang lebih sering 'memamerkan' pertengkaran mereka. Namun aku sama sekali tidak tahu apa penyebabnya. Yang kutahu, malam itu saat aku turun dan menyusul mereka ke bawah, kulihat seorang wanita sedang menangis di pelukan ayah sambil menyalahkan ibuku.
"Aku tidak meminta apapun darimu, aku juga tidak ingin mengusik keluarga kalian, aku hanya ingin kau menerima kehadiran Gwyneth di keluarga kalian. Tapi istrimu, dia melarangku untuk bertemu denganmu." Ucapnya kala itu. Saat itu ayah dengan tatapan yang menyala-nyala semakin tersulut emosinya. Tanpa menunggu lama, ayah pun memarahi ibu yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Kenapa kau melarangnya untuk menemuiku?!"
Ibu menatap ayah dengan pandangan yang sulit diartikan. Matanya sembab, berair, namun ia memberanikan diri untuk berucap, "Kau tahu aku tidak pernah suka bertengkar, Chris. Namun apakah aku harus membiarkan anak dari kekasih gelapmu itu hadir di tengah-tengah keluarga kita? Memangnya apa yang akan dikatakan orang nanti?"
"Aku tidak pernah mencintaimu dan kau pun tahu itu. Dia ...," ayah menunjuk pada wanita itu yang berdiri tepat di sampingnya. "Dia yang seharusnya menikah denganku. Bukan kau!" Lanjut ayah.
"Lalu apa artinya pernikahan kita selama tujubelas tahun ini? Apa selama itu hatimu tidak sedikit pun luluh padaku?" Lirih ibu.
"Apa yang kau harapkan? Bukan hanya Gwyneth yang akan tinggal di sini, tetapi Maureen juga akan ikut bersamanya. Dan jika kau tidak suka, silahkan pergi dari sini!" Ucap ayah dengan tegas. Ia bahkan tidak peduli pada linangan air mata yang sudah siap untuk meluncur dari mata ibu.
"Aku tahu pernikahan ini bukan kau yang menginginkannya. Aku pada awalnya juga tidak mencintaimu, Chris. Namun seiring berjalannya waktu aku belajar untuk memahamimu. Kupikir kau juga akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan ini. Namun ternyata ...," belum sempat ibu berucap, aku buru-buru turun dari tangga sambil memotong perkataannya.
"Ibu akan pergi dari sini?" Ketiga pasang mata itu seketika terkejut menatapku.
"Apa urusanmu? Kembali ke kamar!" Titah ayah.
"Siapa wanita itu?" Aku mengarahkan pandanganku pada wanita itu, wanita yang kini berkuasa atas segalanya di rumah kami.
Tak menghiraukan ucapanku, ayah memilih untuk kembali menegaskan perkataannya dan mengusir ibu.
"Ibu, apa yang Ibu lakukan? Ibu tidak seharusnya pergi dari sini." Ucapku penuh penekanan saat mengikuti ibu untuk membereskan pakaiannya.
"Alex, kau tahu Ibu sangat menyayangimu, ayahmu, kalian. Maafkan ibu yang tidak bisa mempertahankan keluarga kita. Ibu telah berusaha, namun akhirnya Ibu kalah. Ayahmu lebih memilih wanita itu, kekasih gelapnya."
"Ibu ...," aku menggenggam tangan ibu dengan erat. Berharap ia mengerti. Usiaku saat itu enambelas tahun. Cukup untuk mengerti bahwa siapa yang seharusnya pergi dari rumah ini.
"Ibu tidak bisa menjelaskan secara detail, Alex. Maafkan Ibu."
"Kakak ...,"
Aku kembali menoleh. Kali ini yang memanggilku adalah seorang gadis kecil, berusia tujuhbelas tahun. Ada perasaan teriris ketika aku menatap kedua manik cokelatnya. Wajahnya begitu mirip dengan ayah, namun darah yang mengalir di tubuhnya berbeda denganku. Aku tidak dapat menjelaskan secara jelas. Perasaanku seperti hancur dan kasihan pada saat yang bersamaan. Hancur karena yang kutahu, kenyataannya dia adalah adik tiriku, kasihan karena gadis ini harus lahir dari seorang wanita yang jahat dan tamak akan harta.
"Ada apa?" Aku mengusap puncak kepalanya. Merapihkan rambut panjangnya yang ditahan oleh sebuah bando berwarna merah muda, warna kesukaannya.
"Aku ingin pergi menonton konser musik The Duke, tapi Ibu tidak mengizinkannya. Dan sekarang The Duke telah pergi ke lain kota. Itu artinya aku tidak berkesempatan melihat Danvy." Ia menatapku dengan kedua mata yang berkaca. Setidaknya ia dan Deonasyera punya satu kesamaan. Mereka sama-sama suka pada The Duke. Dan gadis kecil ini sangat terpikat dengan Danvy. Lelaki Arabian yang konyol itu.
"Gwyneth," aku menyebut namanya. Mencoba menenangkannya. "Memangnya siapa yang mengatakan padamu bahwa The Duke telah berangkat?"
"Aku melihatnya di TV," ujarnya pelan.
"Kau memang tidak perlu menonton konser akustiknya." Aku mulai menggodanya.
Dia berujar sambil mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?"
"Aku akan mendatangkan Danvy untukmu, dan dia akan menyanyikan lagu apapun yang kau mau." Seketika secercah harapan muncul dari kedua manik matanya.
"Benarkah?" Ia bertanya dengan ragu.
Aku mengangguk. "Sekarang berhentilah mengeluh."
Dia memelukku seraya berucap, "Terima kasih, kakak." Panggilan yang selalu mampu menyayat perasaanku. Aku membenci ibunya sedangkan dia sangat menyayangiku.
"Gwyneth ...," aku kembali memanggil namanya. "Aku sangat jarang melihatmu di rumah akhir-akhir ini. Apa kau sedang sibuk?" tanyaku yang entah kenapa membuat gadis ituntertegun seketika.
"Aku juga tifak melihatmu di rumah akhir-akhir ini, Kak," jawabnya acuh.
"Semuanya baik-baik saja, kan?" Ucapku kembali bertanya. Sekadar memastikan gadis kecilku ini benar-benar ada dalam keadaan baik-baik saja.
"Jika ada yang tidak baik-baik saja, maka itu adalah Ayah, Ibu, dan kasih sayang mereka."
Aku terdiam sejenak. Walaupun berstatus sebagai adik tiri, namun sejauh ini ia adalah sosok yang cukup dekat denganku. Aku seperti berinteraksi dengan Maureen Thompson dalam versi malaikatnya.
"Mengapa berkata kau berkata seperti itu, Sayang? Apa uang yang Ibu beri padamu kurang cukup? Apa ada hal lain yang ingin kau beli?" Seketika pandanganku dan Gwyneth teralihkan pada Maureen yang telah berdiri menghadap kami berdua sambil memegang ponsel di tangan kanannya.
Sejenak kulihat Gwyneth seakan menahan emosinya. Wajahnya yang tadi nampak sumringah, kini berubah menjadi dingin. Ia menatap ibunya sendiri dengan pandangan yang sulit kuartikan. Apakah itu tatapan kebencian: sama seperti yang sering kulakukan, ataukah itu adalah sebuah tatapan kecewa dari seorang anak yang telah lama kehilangan orang tuanya karena uang.
"Ibu tidak perlu repot-repot membelikanku barang baru dan mahal. Aku telah punya semuanya. Bahkan tanpa kuminta sekali pun. Terima kasih banyak, Ibu." Suaranya memelan ketika menyebut 'Ibu'. Sementara yang dialamatkan nampak tersenyum bangga. Meyakini dengan sungguh perkataan putri kandungnya bahwa ia telah cukup mampu membahagiakan putrinya.
"Tenang saja, Ibu akan selalu memenuhi semua kebutuhanmu," ucapnya seraya berlalu meninggalkan kami.
"Yang selalu Ibu pikirkan hanyalah uang dan kehormatan. Entah kapan aku menyelinap dalam pikiran Ibu." Cerocos Gwyneth yang seketika membuat Maureen membalikkan tubuhnya.
"Apa katamu tadi?!" Tatapannya menatap sinis pada Gwyneth.
"Kenapa? Ibu tidak suka?"
"Mungkin aku seharusnya menjauhkanmu dengan laki-laki ini agar ia tidak membuatmu berbalik memusuhi Ibumu sendiri." Maureen beralih menatapku dengan sinis.
"Aku jauh lebih bahagia karena walau kedua orang tuaku tidak pernah punya waktu untukku, namun aku memiliki seorang kakak yang tidak akan pernah menggantikan posisiku dengan uang dan walaupun ia bukan kakak kandungku."
"Begitukah? Kalau begitu mengapa tidak menyuruhnya mengurusi semya kebutuhanmu agar aku tidak perlu repot-repot mengirimkanmu uang setiap waktu?"
"Gwyneth, kau lebih baik masuk ke kamarmu," ucapku.
Gadis itu menatapku seraya berucap, "Tentu saja aku dengan senang hati meninggalkan ruangan ini. Kedua orang tuaku hanya mempedulikan uang."
"Aku harap kau masuk ke dalam kamarmu dan mempelajari bagaimana uang dapat memengaruhi kehidupanmu sejauh ini!" Maureen akhirnya benar-benar berlalu meninggalkan kami, menyisakanku dan Gwyneth yang tak hentinya menghelaembuskan napasnya.
"Aku tidak ingin memintamu bercerita. Namun kapan pun kau mau, aku siap menjadi pendengar setiamu," kataku seraya tersenyum lembut menatapnya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya punya sebuah kabar yang kuharap kau tidak akan membunuhku setelah mendengarnya," ujarnya sembari menatap
Aku mengangguk. "Sekarang berhentilah mengeluh."
Dia memelukku seraya berucap, "Terima kasih, kakak." Panggilan yang selalu mampu menyayat perasaanku. Aku membenci ibunya sedangkan dia sangat menyayangiku.
"Gwyneth ...," aku kembali memanggil namanya. "Aku sangat jarang melihatmu di rumah akhir-akhir ini. Apa kau sedang sibuk?" tanyaku yang entah kenapa membuat gadis ituntertegun seketika.
"Aku juga tifak melihatmu di rumah akhir-akhir ini, Kak," jawabnya acuh.
"Semuanya baik-baik saja, kan?" Ucapku kembali bertanya. Sekadar memastikan gadis kecilku ini benar-benar ada dalam keadaan baik-baik saja.
"Jika ada yang tidak baik-baik saja, maka itu adalah Ayah, Ibu, dan kasih sayang mereka."
Aku terdiam sejenak. Walaupun berstatus sebagai adik tiri, namun sejauh ini ia adalah sosok yang cukup dekat denganku. Aku seperti berinteraksi dengan Maureen Thompson dalam versi malaikatnya.
"Mengapa berkata kau berkata seperti itu, Sayang? Apa uang yang Ibu beri padamu kurang cukup? Apa ada hal lain yang ingin kau beli?" Seketika pandanganku dan Gwyneth teralihkan pada Maureen yang telah berdiri menghadap kami berdua sambil memegang ponsel di tangan kanannya.
Sejenak kulihat Gwyneth seakan menahan emosinya. Wajahnya yang tadi nampak sumringah, kini berubah menjadi dingin. Ia menatap ibunya sendiri dengan pandangan yang sulit kuartikan. Apakah itu tatapan kebencian: sama seperti yang sering kulakukan, ataukah itu adalah sebuah tatapan kecewa dari seorang anak yang telah lama kehilangan orang tuanya karena uang.
"Ibu tidak perlu repot-repot membelikanku barang baru dan mahal. Aku telah punya semuanya. Bahkan tanpa kuminta sekali pun. Terima kasih banyak, Ibu." Suaranya memelan ketika menyebut 'Ibu'. Sementara yang dialamatkan nampak tersenyum bangga. Meyakini dengan sungguh perkataan putri kandungnya bahwa ia telah cukup mampu membahagiakan putrinya.
"Tenang saja, Ibu akan selalu memenuhi semua kebutuhanmu," ucapnya seraya berlalu meninggalkan kami.
"Yang selalu Ibu pikirkan hanyalah uang dan kehormatan. Entah kapan aku menyelinap dalam pikiran Ibu." Cerocos Gwyneth yang seketika membuat Maureen membalikkan tubuhnya.
"Apa katamu tadi?!" Tatapannya menatap sinis pada Gwyneth.
"Kenapa? Ibu tidak suka?"
"Mungkin aku seharusnya menjauhkanmu dengan laki-laki ini agar ia tidak membuatmu berbalik memusuhi Ibumu sendiri." Maureen beralih menatapku dengan sinis.
"Aku jauh lebih bahagia karena walau kedua orang tuaku tidak pernah punya waktu untukku, namun aku memiliki seorang kakak yang tidak akan pernah menggantikan posisiku dengan uang dan walaupun ia bukan kakak kandungku."
"Begitukah? Kalau begitu mengapa tidak menyuruhnya mengurusi semya kebutuhanmu agar aku tidak perlu repot-repot mengirimkanmu uang setiap waktu?"
"Gwyneth, kau lebih baik masuk ke kamarmu," ucapku.
Gadis itu menatapku seraya berucap, "Tentu saja aku dengan senang hati meninggalkan ruangan ini. Kedua orang tuaku hanya mempedulikan uang."
"Aku harap kau masuk ke dalam kamarmu dan mempelajari bagaimana uang dapat memengaruhi kehidupanmu sejauh ini!" Maureen akhirnya benar-benar berlalu meninggalkan kami, menyisakanku dan Gwyneth yang tak hentinya menghelaembuskan napasnya.
"Aku tidak ingin memintamu bercerita. Namun kapan pun kau mau, aku siap menjadi pendengar setiamu," kataku seraya tersenyum lembut menatapnya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Aku hanya punya sebuah kabar yang kuharap kau tidak akan membunuhku setelah mendengarnya," ujarnya sembari menatap