Liam terlihat tidak senang, dia marah sekali dan akan segera menghantam wajah Albar. Dia bukan pria yang bisa di ajak bermain kata, Liam hanya ingin tahu darimana sebenarnya Albar mendapatkan lencana Lembaga Federasi Vie. “Jika kamu tidak ingin mengatakannya, maka semua itu tidak ada gunanya lagi bagiku. Sampah sekali, jika aku harus memohon pada manusia rendahan.” Liam sedikit beringas karena dia tak suka sama sekali dengan Albar yang saat ini sedang mempermainkan dirinya. “Terserah padamu ingin seperti apa, tapi aku merasa kita tidak akan cocok untuk satu misi.”
Albar lagi-lagi tersenyum, untung saja hari ini hawanya cukup dingin hingga dia enggan untuk membunuh seseorang. Dia tahu jika pria yang ada di hadapannya kini tidak mengetahui apapun yang terjadi sekarang. Bagi Albar tidak mungkin Federasi Vie ingin membunuh dirinya, karena mereka masih menginginkan sesuatu dari diri Albar yang tidak mungkin di dapatkan dari orang lain. Albar yakin semua ini sudah di rencanakan dengan sangat matang. “Aku tidak begitu tertarik dengan yang kamu katakan tapi saat ini setidaknya kamu harus tahu jika Federasi tidak mungkin meminta dirimu untuk membunuhku, kamu sudah terkecoh dan pasti ada seseorang yang ingin menjebak dirimu.” dia berdiri dari hadapan Liam yang kini sepertinya agak berpikir dan murka. “Kamu bukan orang bodoh, terserah ingin percaya pada siapa namun hargai diri sendiri agar bisa di anggap manusia oleh mereka.”
Liam terkekeh, “apa kau tahu jika keluarga yang selama ini bersamamu itu bukan keluarga kandungmu? Apa kau tidak merasa aneh selama ini hidup dengan mereka? Lihat saja dari warna mata dan kulit kalian jelas sangat berbeda, tapi kenapa kamu masih bersikap bodoh dengan tidak mengakui apapun.” mata Albar tidak bisa berbohong, dia sedikit terkejut dengan pemberitahuan yang saat ini di dengar. “Apa kamu bodoh?” kalimat yang di ucapkan oleh Albar untuk Liam tadi kini dia balikkan ke pria itu. “Ayolah kawan, kau seorang dokter!”
Albar menarik pakaian Liam, wajah mereka terlihat sangat sinis dan saling melempar aura membunuh. “Katakan padaku yang sebenarnya, aku tidak akan tinggal diam atas segala permasalahan ini. Selain itu yang aku tahu kau bukan orang yang bisa bernegoisasi. Liam Ernad adalah seorang buronan Federasi Vie yang melakukan kesalahan tingkat 2, aku tahu semua tentangmu tapi kau tidak mengetahui apapun tentangku. Liam Ernad terlibat pembunuhan sekelompok orang yang berada di lingkungan padat penduduk karena sesuatu yang sangat sepele.” Albar mencoba memprovokasi dirinya karena sangat kesal dan penasaran dengan apa yang sudah di ucapkan. “Kau bukan dalam posisi yang benar Tuan Liam, jadi jika kita tidak bisa bekerjasama dengan benar maka selama itu tidak akan ada yang selamat keluar dari tempat ini.”
Mendengar hal ini Liam kembali menegak saliva, dia tidak ingin memprovokasi siapapun tapi jika memang harus memilih dia masih ingin hidup untuk bertemu dengan keluarganya. Lagipula dia masih sangat penasaran kenapa Federasi Vie ingin membunuh Albar yang jelas-jelas juga bagian dari Federasi tersebut. “Baiklah aku akan memberitahukan semuanya padamu, ini tentang keluargamu yang palsu. Mereka hanyalah sekumpulan orang yang di bayar oleh orangtua kandungmu yang sekarang sudah menunggu di Macau. Mereka sengaja menyembunyikan dirimu dari orang lain karena tidak ingin keadaan semakin memburuk, aku tidak ingin mengatakan lebih dari ini karena lebih baik kau tanyakan langsung kepada mereka. Orangtua palsumu yang selama ini sudah sangat rapat menyimpan rahasia.”
Karena dia bukan orang yang sabar Albar pun pergi dari hadapan Liam dan menemui keluarganya, dia sana dia mendapatkan kenyataan yang sangat menyakitkan. Di antara rasa lega dan benci akhirnya menjadi satu karena sungguh tidak tertahankan. Ibu Palsu Albar mendekat, dia berkata pelan pada sang anak. “Pergilah ke Macau, mereka sudah menunggumu! Gadis yang datang mengunjungimu beberapa tahun yang lalu, pria yang kamu panggil paman itu adalah keluargamu yang sebenarnya. Ibumu telah tiada dan dia masih memiliki hubungan dengan Perusahaan ternama di sana. Keluargamu juga bukan dari golongan orang biasa jadi tidak perlu khawatir karena kamu akan bahagia setelah pergi dari tempat ini.”
Entah kenapa perasaan Albar jadi tidak enak, dia sejak tadi melihat sayu wajah sang ibu yang terus tertunduk pilu. “Jangan seperti ini Ibu, bagaimana pun kalian tetap keluarga yang seutuhnya bagiku. Selama ini tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan, mereka tidak akan bisa mendapatkan perasaan dan hatiku karena hanya kalian yang berada di sisi ini sejak awal.”
Hari ini seperti perpisahan yang tidak bisa berujung, sesungguhnya Albar pun tidak tahu kapan dia akan bertemu lagi dengan keluarganya. Mereka mungkin memang tidak di ciptakan untuk hidup bersama, karena jika Tuhan memang mengizinkan maka tidak akan ada tangis hari ini. Dirinya tidak akan bertemu dengan Liam dan mengetahui segalanya, dia tidak ingin seperti ini tapi Albar juga ingin mengetahui siapa keluarga kandungnya. Memang rasanya penuh sesak, tapi melihat tangis Ibu yang selama ini membesarkan dirinya. Apalagi saat dia mendengar jika uang yang di berikan oleh sang Ayah yang dia panggil paman tersebut semuanya di pakai bermain judi oleh mendiang sang ayah. Mereka pun kabur sampai ke tempat ini karena di kejar oleh hutang mendiang sang ayah.
Semua memang terjadi sangat cepat hingga Albar tidak bisa menghindari keadaan ini. Setidaknya dia bisa membantu keluarga yang telah membesarkan dirinya ini setelah kembali ke keluarga asli yang Maha kaya di Macau. “Aku ingin berpamitan dengan Ibu, ingatlah untuk tidak pindah dari tempat ini. Aku akan berusaha untuk terus menghubungi jika ada kesempatan. Aku seorang dokter yang berumur dewasa jadi ibu tidak perlu khawatir, akulah yang sekarang sangat mengkhawatirkan ibu.”
“Tolong jangan katakan kalimat yang menyakiti hatiku seperti itu, aku sangat menyayangi dirimu Albar. Namun semua ini memang suatu saat harus di ungkapkan, aku tidak ingin semua hal menjadi buruk apalagi sebagai ibu yang selama ini menemani dirimu. Ingat Macau bukan tempat sembarangan, kamu tidak boleh bersikap sesuka hati. Keluargamu akan berpikir ibu tidak mendidik putra ibu!” dia sangat ingin Albar menunjukkan sikap yang santun dan menerima keluarganya dengan benar. “Ibu sangat menyayangi dirimu Albar, ibu mohon jangan sampai terikat dengan sekutu manapun. Kita sudah sama-sama mengetahui bagaimana sikap orang-orang di Macau.”