Bab 1. Federasi Vie
Malam hari, sebuah bangunan bertingkat tiga terlihat tidak begitu bagus. Kesan yang di ciptakan terlihat seram dan menakutkan. Dua lampu terpajang di pintu gerbang menambah kesan penghuni tidak ingin di ganggu atau tidak memiliki banyak penghuni. Mobil Rocky keluaran terbaru terlihat parkir di depan rumah bergaya etnik tersebut.
Pertarungan kelompok Mafia absolute yang sebagian daerah daratan Asia kini berusaha merebut kekuasaan. Tuan Robert yang merupakan pimpinan Asia tenggara enggan untuk menyerah karena Cina masih termasuk dalam bagian kekuasaan kelompoknya.
Pria itu terkenal bijak namun hatinya cukup bengis untuk memaafkan tindakan orang yang tak dia sukai. Seperti hari ini dia rela mengancam sebuah keluarga kecil hanya untuk mendapatkan kewenangan atas kehebatan dokter yang terkenal cerdas, lulusan universitas terbaik di dunia. Pria itu bernama Albar.
Senyum sinis penuh penekanan, Albar terintimidasi oleh keadaan. Keluarganya membutuhkan uang, dokter yang terlahir miskin dia pun tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Seperti Dewa Tuan Robert memberikan kehidupan baru untuk Albar. Pria ini sama sekali tidak tahu jika sesuatu yang buruk akan mengikuti dirinya seperti hukum timbal balik. Mata yang bersebelahan dan tidak akan pernah mungkin bisa Ia dapatkan keduanya.Pagi ini Albar di jemput oleh anggota kelompok merah, tapi semua itu tak semudah yang di bayangkan ILB sebelum keberangkatannya Albar hampir saja mati akibat racun.
"Kamu yang meracuni makananku? Tidak usah menyangkal" tapi belum selesai bicara dia malah di hadapan petarung yang sengit. "Darimana kau berasal? Apa ini ada hubungannya dengan kelompok Mafia di Asia tenggara?!"
"Aku Agen Rahasia dari Federasi Vie! Kau sudah kalah, aku tidak ingin kita bertengkar lagi. Tidak perlu mencari keadilan karena sebagai Agen Rahasia aku tidak ingin mendengar kalimat dari pendosa seperti dirimu. Perkenalkan aku Liam, kamu tidak perlu sungkan.
Mendengar itu Albar terkekeh-kekeh, "sayang sekali, aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan karena aku sudah menyuntikkan racun di tubuhmu." Pria ini langsung membantu, tubuhnya lemas tidak berdaya.
Mata Liam membesar setelah sadar dirinya telah terperdaya oleh Albar, disini terlihat kalau Albar sangat licik tapi kesalahan ini sangat diingat oleh Liam. Dia tidak terima dengan perlakuan Albar padanya, hanya jari yg bisa menggenggam dan tubuhnya tidak berdaya.
"Apa dengan tatapanmu itu membuatku takut?, Tidak. Racun yang kau berikan itu tidak berpengaruh pada tubuhku tapi sangat aneh, kenapa kau tidak memberikan racun yang keras? Jadi aku pikir kau agen yang sangat bodoh, tidak dapat mengenal lawanmu dengan baik." Albar tersenyum dan sengaja membuat agen Liam panas.
"Kau!" Agen Liam sungguh kesal.
"Apa tujuanmu dengan racun itu?" Tanya Albar yang penasaran dengan Liam.
"Aku ingin membunuhmu. Ya, aku ingin melihat tubuhmu tidak bernyawa lagi." Ucap Liam dengan terbata-bata dan sorot mata tajam kearah Albar.
Albar tertawa karena ada pertanyaan yang sangat membuat dirinya tertawa, 'sangat pentingkah diriku hingga ada yang mengharapkan kematianku!'
Agen Liam bingung melihat Albar yang tertawa. "Kau kira dirimu telah menang!"
Tiba-tiba Albar tersentak dengan ucapan Liam, dia mulai berpikir maksud ucapan itu. "Aku tanya, kenapa kau ingin membunuhku? Aku rasa kau tau alasannya dan, siapa pelaku sebenarnya yang sangat mengharapkan kematianku?" Albar mendekatkan senjata dibagian pundak agen tersebut.
"Akhirnya," angel Liam tersenyum. Dia mengetahui kalau Albar mulai cemas. "Ya benar, kematianku yang diharapkan!" Agen Liam menyeringai.
"Aku yakin bukan kau yang berharap besar atas kematianku ini! Kau hanya pesuruh dan pembuat rusuh." Albar merasa kalau agen Liam ini terpaksa, ada sesuatu hal yang disembunyikan olehnya. "Kau manusi paling rendah dan penakut!" Tambah Albar yang berusah memancing Liam untuk berbicara. Albar batuk dan menahan rasa sakit pada dadanya akibat perkelahiannya.
"Aku tidak seperti yang kau ucapkan itu, ada yang ingin nyawamu" Liam membesarkan matanya dan menyampaikan sedikit fakta pada Albar. "Kau juga sudah lemah, tidak akan mungkin bisa membunuhku!"
"Jangan kau mengulur waktuku, jangan sampai kehabisan kesadaran ku!" Albar mengancam Liam untuk segera menjawab pertanyaannya. Dibola matanya, Liam seakan tertekan oleh pihak lain tapi siapa dalang dari semua ini. Tidak akan mudah untuk mengetahuinya karena Liam adalah seorang agen yang mampu menyerahkan nyawanya untuk mempertahankan organisasinya.
"Baiklah akan aku katakan, ini perintah langsung dari kepala agen rahasia." Liam dengan lantang menyampaikan kepada Albar. Dia merasa kalau Albar adalah orang yang dicarinya.
"Kenapa dengan diriku! Apa yang kau inginkan dariku?!" Albar menjadi bingung karena dia menjadi target agen rahasia ini. Bila sampai ingin membunuh Albar berarti tingkat bahaya yang bisa ditimbulkan oleh Alba sudah tinggi, maka pikiran Alba menjadi kritis terhadap yang lainnya.
"Kau harus tahu perintah itu adalah membunuh pengkhianat." Liam menatap mata Albar dengan tajam.
Sangat terkejutnya Albar yang dianggap sebagai pengkhianat oleh agen rahasia ini, dia merasa tidak mungkin akan melakukan pengkhianatan terhadap negeri ini. Dirinya sangat tidak menyangka, berulangkali dia memegang keningnya karena dia tidak merasa melakukan hal itu. "Berarti kau dan agen rahasia yg menginginkan aku mati!" Albar tidak menyangka kalau dirinya sangat berharga.
"Jika kau tetap ingin membunuhku maka yang lain akan mencarimu dan membunuhmu." Liam terlihat gemetar dan cemas dengan ancaman. "Melihat wajah takutmu itu,semut api pasti akan tertawa! Lucu sekali, Aku ingin tertawa sekarang!"
Liam kesal sekali, dia tidak pernah murka sampai seperti saat ini! "Agen rahasia bukan lembaga yang bisa kamu mainkan Albar, kami tidak akan tinggal diam jika kamu bergabung dengan Tuan Robert. Konsekuensi melawan federasi tidak semudah yang kamu pikirkan. Hidup yang aku jalani sekarang sudah cukup, jadi jika harus mati di tanganmu tidak masalah bagiku." Dia tak takut Albar melakukan apapun. "Kenapa tidak membunuhku"
"Aku tidak akan pernah melakukan apapun yang tidak memiliki rasa kemanusiaan." Dia lelah sekali beradu argumen dengannya. Siapa yang mendapatkan imbalan atas jerih payahmu, itu yang aku tanyakan! Aku tidak berniat mengambil nyawamu."
Albar menunjukkan lencana Federasi Vie yang dia miliki."Apa kau serius mereka ingin membunuhku?!"
Wajah Liam terlihat sangat terkejut, "ke-kenapa kau bisa memiliki lencana Federasi Vie?!" Tatapan matanya gugup dan penuh tanya, Liam merasa di khianati oleh Federasi."Darimana kau bisa mendapatkan lencana tersebut, oh Sial! Dimana kau mendapatkan lencana itu b******k?! Aku tidak takut mati, lebih baik mati dari pada harus berdiskusi denganmu "
Albar tersenyum sinis. "Helf adalah guruku, dia adalah devisi ahli medis di Federasi Vie. Kenapa wajahmu seperti orang bodoh, aku lucu sekali melihatnya. Jangan pikir aku akan terkecoh dengan wajah terkejutmu itu!"