Bab 10
"Beneran, Mami sudah setuju. Tinggal kamu sekarang, Dek. Pasti mau kan jadi istri Mas?"
Aku tertawa terbahak-bahak, ternyata sekarang Mas Rendi sangat pintar membuat lelucon.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu, Dek?" tanya Mas Rendi ketika melihat reaksiku.
Santi kembali masuk ke kamar, agaknya dia sudah tidak peduli dengan interaksi kami.
"Kamu ngelindur, Mas? Lebih baik pulang aja sana mas kemudian lanjutkan tidurmu," sahutku dengan rasa sebal.
"Kamu gak percaya sama aku, Dek? Bukannya dulu kamu selalu menanyakan kapan aku siap melamar? Kenapa sekarang malah tertawa? Aku serius, Dek," kekeh Mas Rendi yang sampai sesore ini masih memakai seragam kerja kebanggaannya.
Ucapan Mas Rendi membuatku mengingat masa lalu, di mana saat itu aku sering bertanya tentang bagaimana kelanjutan hubungan kami. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, hati mulai dihinggapi was-was takut tidak berjodoh. Sedangkan Mas Rendi tidak pernah memberi kepastian. Sekarang, setelah hubungan kami berakhir, tiba-tiba dia ingin melamar. Apakah lelaki seusia Mas Rendi itu memang lagi lucu-lucunya?
"Terus cewekmu yang kemarin mau dikemanain, Mas?"
"Aku dah putusin dia. Ribet orangnya."
"Ribet atau dia susah dikadalin?"
"Dek, dikadalin apanya? Kamu aneh banget sekarang. Mau ya kulamar nanti aku akan bawa mami ke sini sama keluarga besar juga."
"Kamu serius, Mas?"
"Memang aku ada tampang gak serius?"
"Sayangnya, aku tidak melihat ada keseriusan dari nada bicara wajahmu. Maaf, aku lelah, Mas. Aku masuk dulu," pungkasku setelah lama terdiam.
"Oke, akan kubuktikan kalau aku serius. Ya sudah selamat istirahat, Sayang."
Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Rendi beranjak pergi. Siulan bernada bahagia terdengar mengiringi langkah kakinya.
"Kamu masih mau terima lamarannya?" todong Santi begitu aku memasuki kamar.
"Gak tahu, San. Aku masih belum bisa memutuskan," sahutku sambil melepas sepatu.
"Jangan sampai kamu menyesal!"
Peringatan dari Santi, tidak kutanggapi. Ada benarnya juga perkataan sahabatku itu, tetapi untuk sekarang aku belum bisa berpikir jernih. Butuh waktu untuk memutuskan hal yang penting seperti lamaran.
Percakapan kami terhenti setelah aku mendiskusikan hasil jualan tadi. Beberapa hari ini, kami mengalami peningkatan meskipun sedikit. Tentu saja sedikit itu tetap membuat kami bersyukur.
"Kalau begini terus, laba jualan kita hampir mendekati gajian bulanan. Mantab sekali!" seru Santi setelah kami selesai berhitung.
"Jadi mau resign bulan ini?"tanyaku.
Santi mempunyai rencana berhenti bekerja sehabis menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Dia sudah mengutarakan niatnya itu sejak beberapa hari yang lalu. Meskipun sedih, aku harus mendukung keputusannya.
"Iya, nanti kamu bisa juga ikut resign dan fokus jualan online juga kan?"
"Apa bisa aku sendiri?"
"Tenang nanti ada yang nemenin kok, bahkan lebih pintar. Barangkali nanti usahamu makin maju."
"Siapa? Aku gak ada teman selain kamu, San. Masa iya Mas Rendi yang nemenin. Mana tahu dia soal jualan online."
"Dia mah bukannya bikin lebih maju, yang ada tekor terus tiap hari karena diporotin."
Dengusan sebal mengakhiri ucapan Santi. Sedangkan aku malah tertawa, dia paham betul bagaimana watak mantan kekasihku itu.
"Serius deh, kamu beneran mau dilamar sama dia. Kalau ada seseorang yang ingin melamar mu juga, bagaimana?"
"Ngaco. Udahlah, San. Dulu aku pernah ngomong pengen nikah pas umur dua empat itu cuma asal doang. Sekarang aku jomblo gini, bukannya jadi kejar target."
"Ya kali, Allah mengabulkan niatmu. Pasti seneng kan?"
"Senenglah, tapi aku gak mau mikirin lebih jauh. Daripada mikirin jodoh, mending mandi. Bau asem nih!"
Sebuah bantal dilempar saat aku menggoda Santi dengan mendekatkan ketiak. Meskipun kena, tetapi tidak sakit di badan. Aku keluar kamar masih dengan sisa suara tertawa, setelah menggodanya sekali lagi.
....
Tetes air hujan membasahi kerudung yang kukenakan. Sudah berupaya berteduh, tetapi karena atap di depan taman kecil, akhirnya bajuku kebasahan juga. Santi mengabari sudah sampai di kost sebelum hujan datang, sedangkan aku masih terjebak di taman.
Langit mulai gelap, hujan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Mau sampai kapan aku berdiri di sini?
"Ada payung, Pak?" tanyaku kepada satpam yang sedang duduk santai di pos.
"Gak ada. Udah tunggu aja, kali bentar lagi reda," jawab Pak Budi, satpam yang telah kukenal akrab.
Hujan begini paling enak memang melamun, menikmati rintik air yang turun ke bumi. Aroma tanah yang basah sangat khas, membuat pikiran menjadi tenang.
"Eh, hpmu bunyi tuh!" celetuk Pak Budi menyadarkanku dari lamunan.
Mas Rendi ternyata menelpon, tumben sekali. Setelah pernyataannya yang ingin melamar belum kuberi kepastian, dia seakan menghilang. Kupikir dia benar-benar pergi.
"Ada apa? Di sini hujan, Mas," teriakku ditengah merdunya suara air turun.
"Belum pulang, Dek? Tadi aku nyari kamu di kost kata Santi belum pulang," cerocos Mas Rendi.
"Aku masih di taman. Mau pulang malah hujan."
"Ya sudah, jangan ke mana-mana. Aku ke situ."
Telepon dimatikan sesaat setelah Mas Rendi berbicara. Aku mengendikkan bahu dan ganti memasukkan ponsel ke dalam ransel supaya tidak terkena air.
"Udah mau dijemput?" tanya Pak Budi.
Sepertinya dia tadi mendengar pembicaraan kami.
"Gak tahu, Pak. Dia cuma bilang tunggu di sini."
"Ya berarti mau jemput itu."
Benarkah? Kenapa aku malah sangsi?
Mas Rendi belum pernah menjemputku dari bekerja selama kami masih berhubungan dulu. Dia memilih menunggu di kost.
Tidak lama sebuah mobil masuk ke pelataran taman. Mas Rendi benar datang. Dia menghampiriku dengan berlari cepat.
"Ayo pulang!" ajaknya.
Aku berpamitan dengan Pak Budi sebelum beranjak. Tidak disangka, Mas Rendi melepas jaketnya dan menggunakan sebagai payung kami berdua, selama menembus derasnya air hujan.
Kami seperti sedang melakukan adegan sinetron romantis. Dia juga tidak banyak berbicara setelah masuk ke mobil. Jaketnya yang basah ditaruh begitu saja di jok belakang.
"Tumben kamu jemput, Mas? Biasanya kamu akan nunggu di kost," celetukku.
Mas Rendi menoleh dan tersenyum, tangannya masih fokus dengan kemudi.
"Kan dah kubilang akan berubah dan menunjukkan kalau aku serius sama kamu."
Jawaban dari Mas Rendi malah membuatku merinding.
Padahal aku berharap dia melupakan kejadian saat melamar dan berujar tidak terjadi apa-apa. Sikapnya sangat di luar ekspektasiku.
"Langsung pulang atau ke mana dulu?"
"Pulang aja, Mas. Bajuku basah."
"Siap, Tuan Putri."
Aku tersenyum sekilas mendapat perlakuan manis darinya. Kenapa tidak dari dulu berubah? Kenapa harus menunggu berpisah dahulu baru bersikap begini?
"Sudah sampai. Jangan turun dulu,"ucap Mas Rendi saat membuka pintu dan turun.
Ternyata dia memutari mobil dan membukakan pintu untukku.
"Silahkan, tuan putri."
Aku menampakkan senyum yang menawan sebagai ucapan terimakasih.
Mimpi apa aku semalam, ternyata Mas Rendi telah berubah?