Bab 9
Cintaku Terhalang Status PNS
Jalanan lengang saat aku beranjak pulang. Rencana tersusun rapi bahwa setelah ini aku akan ke kios untuk mengadakan live. Beberapa kali mereka meminta untuk cepat jualan karena di market place sedang mengadakan diskon besar-besaran. Sayang untuk dilewatkan, kata mereka.
Sebuah mobil menepi dan menghalangi jalanku. Tanpa berniat melihat siapa pengemudinya, aku memilih untuk lebih menepi supaya bisa melanjutkan jalan.
"Tunggu, Santi ada di kost?"
Kakiku berhenti melangkah, beberapa saat aku menoleh dan melihat Gio berada dalam balik kemudi.
Sontak aku menggeleng, setelah istirahat selesai kami berpencar, karena Santi memiliki tanggung jawab di taman lain.
"Ke mana dia?" gumamnya.
Suara klakson dari belakang menginturepsi kami.
"Ayo naik, kita cari adikku dulu," ajaknya.
Aku sampai bengong mendengar ajakan kakaknya Santi itu.
Suara klakson berbunyi lagi, sekarang makin kencang.
"Cepetan naik!" serunya.
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, aku bergegas membuka pintu dan masuk. Ini yang dibilang sama Santi bahwa kakaknya kaku sama cewek? Enteng banget dia menyuruhku ikut dengannya.
"Ke mana anak itu?"
Gumaman dengan suara pelan terdengar lagi. Tetapi pandangan matanya tetap fokus ke depan.
"Emangnya ada apa, Mas? Tadi waktu istirahat Santi nyamperin sih, tapi setelah itu kami berpisah."
Aku menoleh ke arah Gio, tetapi dia diam saja. Seketika ada rasa sesal telah bertanya, emang lebih baik tidak bertanya. Terus fungsinya dia mengajakku buat apa?
Kami menyusuri jalan, tanpa tahu tujuan. Beberapa kali melewati jalan yang sama, membuatku pusing. Meskipun berada di dalam mobil mewah dengan AC dan fasilitas tersedia, tetapi mana kuat dekat dengan lelaki yang diam saja. Berbicara sendiri tanpa pernah mengajakku. Rasanya ingin menyuruhnya berhenti dan aku keluar. Mana sebentar lagi jadwalku live, masa iya dibatalkan, kan sayang.
"Maaf, Mas. Kenapa tidak coba ke kost dulu? Barangkali Santi berada di sana. Kalau tidak ada lanjut ke kios, setelah ini aku akan mengadakan live. Mungkin dia mau membantu," ujarku setelah menguatkan hati.
Terserah jika dia tidak menanggapi, yang penting aku telah bersuara.
"Ck, kenapa gak bilang dari tadi?" gerutunya.
Lelaki ini yang kubilang auranya awur-awuran. Sepertinya aku harus memeriksakan mata secepatnya.
Sampai di kost, orang yang dicari ternyata tengah duduk santai sambil makan ciki. Aku bergegas keluar, begitu juga Gio.
"Kalian kok bisa bareng?" tanya Santi dengan pandangan menyelidik.
"Masmu tuh, nyariin kamu. Mana muter-muter lagi, kamu gak bilang udah pulang apa gimana?" rutukku setelah dekat.
Tanpa kata, aku menyambar ciki yang ada di tangan gadis yang ternyata malah bengong tersebut.
"Kan bisa telpon dulu, Mas Gio gak hubungin aku," kilah Santi setelah beberapa saat.
Kini kami memandangi lelaki yang bersandar di dinding berwarna biru muda. Dia tampak salah tingkah, pandangannya tidak fokus dan lebih sering menunduk.
Berbeda sekali saat tadi berada dan mobil, terlihat resah dan sedikit 'garang'.
"Ya udah, aku pergi," pungkasnya seakan tidak kuat dilihatin lama-lama.
"Masmu aneh," celetukku setelah mobilnya menghilang dari pandangan.
Eh, Santi malah senyum-senyum. Salah makan apa sahabatku ini?
"Ke kios yuk! Aku mau live nih, untung masih keburu. Coba tadi gak ketemu masmu, pasti sekarang udah siap," gerutuku lagi.
"Ayok!"
Untung saja aku selalu mengganti baju dengan pakaian biasa saat pulang ke rumah. Jadi sekarang tinggal make up tipis-tipis sebelum layar dinyalakan.
Selama tayangan langsung, beberapa kali aku mendapati komentar tentang baju yang dipajang. Meskipun berulang kali menjelaskan, tetap aja ada yang bertanya kembali. Lelah memang, tetapi sebisa mungkin selalu kujawab diiringi dengan senyuman.
[Ternyata kamu jualan, Dek. Ramai sekali yang nonton.]
Salah satu komentar datang dari akun yang tidak kuduga. Mas Rendi ternyata sedang menonton siaran live ini. Mendadak aku merasa tidak bisa konsentrasi dan memilih 'break' untuk beberapa menit.
Tatapan penuh tanda tanya dilayangkan oleh Santi saat mengetahui aku berhenti sejenak. Ingin kujelaskan tetapi tidak disangka, Mas Rendi malah menelpon.
[Ada apa, Mas? Aku lagi jualan ini.]
Aku menjawab telepon dengan suara ketus supaya dia tahu sedang sibuk.
[Aku gak nyangka kamu jualan online serame itu, Dek. Kamu memang gadis yang pintar.]
Pujian dari Mas Rendi tidak membuatku melayang, yang ada malah sebal karena dia hanya mengatakan itu. Kukira ada sesuatu yang penting.
Setelah menjawab basa-basi dari Mas Rendi, bergegas aku mematikan telepon dan kembali menayangkan siaran live.
Beberapa komentar kembali membanjiri, alhamdulillah lebih dari setengah fix membeli. Walaupun rasa lelah dan mata capek karena terus memandangi layar ponsel, tetapi jiwaku senang.
"Siapa tadi yang telepon?"selidik Santi setelah kami selesai beberes peralatan.
"Mas Rendi. Dia tahu aku lagi live, komen juga di sana eh gak cukup gitu, malah menelpon."
"Kamu masih suka sama dia?"
"Pertanyaanmu aneh banget, San."
"Ya, aku gak mau aja calon pasanganmu kelak sakit hati karena kamu masih menyukai lelaki mokondo itu!"
"Apa sih? Dia itu kerja PNS bukan mokondo."
"PNS tapi morotin duit anak orang."
Aku melihat kekesalan yang sangat di raut wajah Santi. Biasanya dia memang menunjukkan rasa tidak suka dengan Mas Rendi, tetapi lebih ke arah bercanda. Kenapa sekarang kelihatan benci sekali? Padahal aku sudah tidak berhubungan dengan Mas Rendi.
Setelah memastikan keadaan aman, aku mengunci kios. Santi menungguku dengan duduk pinggir trotoar. Ponsel sedari tadi dia mainkan langsung dimasukkan ke kantong gamis, setelah aku mendekat.
"Apa kamu ada kepikiran buat balikan sama mantan?" tanya Santi tiba-tiba.
Sejenak aku menggeleng.
"Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama dua kali."
"Kuharap kamu jaga omonganmu."
Hari ini Santi terlihat berbeda. Sensitif sekali dia dengan lelaki yang bernama Rendi.
"Gak pengen tahu kabar ayahmu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Kan udah sembuh."
"Meskipun sudah sembuh, setidaknya tanya kabar atau datang berkunjung. Sebagai anak, kamu harus lebih sering mengunjungi ayahmu."
Santi mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
"Kamu mau nemenin?"
"Ketemu ayahmu?"
Santi mengangguk lagi.
"Siap, komandan!"
Kami berjalan dengan bergandengan tangan, wajah Santi juga lebih cerah tidak cemberut seperti tadi.
Seseorang ternyata menunggu kami di teras kost. Padahal aku sudah lelah sekali, ingin segera membersihkan diri dan istirahat. Dia masih membelakangi saat kami mendekat.
"Mas Rendi," celetukku setalah jarak kami tinggal sejengkal.
Dia berbalik sambil tersenyum.
"Aku tahu kamu pasti sudah hafal dengan bentuk badanku, sehingga tanpa melihat wajah sudah ketahuan," puji Mas Rendi.
Sayang, di hati terasa datar.
"Ada apa ke sini, Mas?" tanyaku lagi.
Santi memilih masuk ke kost terlebih dahulu.
"Mas ke sini ingin mengabulkan permintaanmu, Dek."
"Permintaan apa?" tanyaku cengo.
"Melamar kamu."
Jawaban lugas dari Mas Rendi membuatku menganga.
Tidak hanya aku yang terkejut, bahkan Santi keluar kamar untuk menginformasikan kebenaran.
"Beneran, Mami sudah setuju. Tinggal kamu sekarang, Dek. Pasti mau kan jadi istri Mas?"