Bab 8

1044 Kata
Bab 8 Cintaku Terhalang Status PNS Setelah sepekan tidak kabar, akhirnya teman sekamarku itu pulang. Lelaki yang kemarin menjemput, ternyata sekarang ikut mengantar juga, lengkap dengan mobil merahnya. Kali ini dia memakai kurta dipadu dengan celana panjang. Kalau bisa dibilang lelaki ini memiliki kharisma tersendiri. Aku melihat pergerakan mereka dari balik jendela sebelum akhirnya ke depan untuk menyambut kedatangan sahabat baikku itu. Sebuah pelukan hangat kuberikan untuk menyambut Santi saat dia merentangkan tangannya. "Pasti kangen banget ya kamu, Dir!" ejek Santi membuatku lekas melerai pelukan. Dia tertawa sekilas sebelum akhirnya melirik ke sosok lelaki yang berada di sampingnya. "Kenalin nih, kakakku! Namanya Gio," ucap Santi kemudian. Oh, jadi dia itu kakaknya kirain pacar! Aku menyodorkan tangan, tetapi lelaki itu hanya cuek. "Aku langsung cabut ya!" pamit Gio setelah hening beberapa saat. Sebel aku, minimal say hello dulu kek! Malah pergi. Tapi pandangan mataku tidak lepas sampai dia menghilang. Santi memilih mengantar kakaknya, sedangkan aku balik masuk ke kamar. Benar-benar ya, moodku langsung anjlok. "Kakakmu nyebelin banget sih! Songong banget," semprotku usai Santi masuk ke kamar lagi. Dia terkekeh pelan. Tangannya sibuk mengeluarkan beberapa baju dan aneka oleh-oleh. "Kemarin kamu ke mana? Main pergi aja, aku jadi kepikiran. Mana dihubungi susah banget," keluhku lagi. Ditelpon tidak diangkat, mengirim pesan tidak dibalas. Bahkan dibaca tidak, heran aku. Lalu apa gunanya dia membawa ponsel? "Nih, biar sebelnya ilang." Sebatang coklat berukuran besar diletakkan ke tanganku. Seketika perasaan kesal dan marah langsung hilang. Aku menimang kemasan coklat tersebut dan membukanya. Kupotek bagian atas, ada niat untuk memberikan kepada Santi, tetapi ternyata dia juga sedang membuka kemasan coklat yang lain. "Coklatmu banyak banget," seruku. "Tadi dibeliin sama Mas Gio waktu mampir ke minimarket." Perasaan kesal muncul lagi, aku meletakkan asal coklat itu ke lantai. "Yakin gak mau? Mas Gio sendiri yang nyuruh bagi ke kamu, kalau gak mau ya udah buat aku aja." Aku lekas mengambil coklat itu sebelum direbut Santi. Dia tertawa lagi, setelahnya ada beberapa ciki dan beberapa biskuit yang dibagi juga. "Mas Gio emang gitu orangnya. Dia kaku sama cewek. Gak usah dipikirin, buktinya waktu beli jajanan ini dia ngingetin supaya kamu dibagi," jelasnya kemudian. Jaman sekarang masih ada cowok yang kaku sama cewek? Bukannya sekarang banyak buaya darat berkeliaran? Apalagi Gio itu wajahnya menarik, bermobil pula. "Kenapa keningmu mengernyit gitu?" Santi ternyata memperhatikanku. Jangan sampai dia tahu, otakku sedang memikirkan kakaknya. "Aku gak percaya kakakmu kaku sama cewek, eh kenapa baru sekarang aku tahu tentang kakakmu? Kita temenan udah lama lho," rajukku. "Dia baru lulus dari pesantren. Sekarang lagi kerja, lagian ngapain aku nyeritain kakakku. Kamu kan bucin banget sama Rendi, yang ternyata cuma morotin doang." Aku sigap mendekat ke arah Santi. Sasaranku adalah kepala, gemas rasanya ingin menoyor perempuan yang sekarang sedang cengengesan itu. Tetapi dia lebih cepat menghindar, sehingga kami terlibat kejar-kejaran kecil. "Udahlah, stop. Aku capek!" serunya. Dia merebahkan diri di lantai. Tidak dihiraukan lagi, baju dan beberapa barang lain yang masih berantakan di kamar. Aku ikut merebahkan diri di sampingnya. Sesaat kami terdiam sejenak untuk istirahat, rasanya lelah juga sampai napas ngos-ngosan. "Sekarang kamu cerita deh, ke mana kamu sepekan kemarin?" celetukku setelah bisa mengatur napas. "Ayahku sakit. Mas Gio menjemputku untuk menjenguknya," jawabnya "Terus sekarang gimana? Kenapa gak ngasih tahu? Aku kan juga ingin jenguk," serobotku. "Alhamdulillah sekarang ayah sembuh, makanya aku bisa balik lagi. Dan juga aku gak ada waktu buat nengokin hp, hati dan pikiranku cuma ingat tentang kondisi ayah." "Kamu gak pengen tinggal lebih lama, barangkali ayahmu masih ingin bersamamu." Kepala Santi menggeleng. Dia menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya menoleh lagi ke arahku. "Aku tidak bisa cuti lebih lama." Suaranya terdengar datar dan pelan. "Eh, mobil kakakmu kan bagus. Pasti kerjaannya juga bagus, kenapa kamu tidak minta dicarikan pekerjaan saja olehnya?" "Gak, aku ingin mandiri. Aku bisa kok cari kerja sendiri!" tegasnya. Aku menoleh ke arah Santi yang tatapannya masih ke arah langit-langit kamar. Apa ada rahasia yang dia tidak ingin bagi denganku? .... [Assalamualaikum, Kak. Apa benar ya ini akun Kak Dira?] Sebuah DM masuk melalui akun sosial mediaku, saat aku sedang beristirahat dari bekerja. Aku berpikir siapa yang mengirim pesan. Akunku bukan termasuk yang populer. Setelah ditelusuri ternyata pemilik akun itu adalah gadis yang sedang dekat dengan Mas Rendi. Mau apa dia? Secepat kilat aku membalas pesan karena takut ada hal yang penting. [Waalaikumsalam, iya benar. Ada apa ya?] [Maaf kak, kalau lancang. Apa benar dulu Kakak sering memberikan uang kepada Mami Lilis?] Akun bernama YuniloveR itu masih mengetik saat aku akan membalas pesannya. [Mami selalu membandingkanku dengan dirimu, Kak. Padahal setiap bulan juga kukasih uang tapi selalu kurang. Dia selalu berkata bahwa pemberianku ini tidak apa-apanya dibandingkan pemberianmu. Bisa tekor aku lama-lama, Kak. Kalau boleh tahu berapa banyak dulu kakak ngasih ke mami Lilis?] Belum ada setahun hubungan mereka, dia sudah merasa tidak sanggup menuruti keinginan dari Tante Lilis. Apa kabar aku yang sampai sepuluh tahun tapi diam saja, tanpa protes. Eh, masih saja dia bertingkah. [Kalau kamu beneran cinta dengan Rendi, pasti tidak keberatan dengan permintaan ibunya.] Aku membalas tanpa menyebutkan nominal pemberianku dulu. , [Cinta sih cinta, Kak. Tapi kalau sering diporotin, lama-lama aku juga mikir. Masa beli bensin pakai uangku terus, belum rengekan dari ibunya Mas Rendi.] Ya, siapa juga yang sanggup bertahan dengan keluarga parasit itu? Kelihatan saja dari luar, mentereng dengan seragam PNS padahal menggerogoti dari dalam. Namun, aku salut Yuni bisa sadar dengan cepat. [Maaf ya, urusanku dengan keluarga Rendi sudah selesai. Jadi aku tidak bisa berkomentar lebih lanjut. Sekedar saran, kalau tidak sanggup mending lepaskan.] Biarlah Yuni mengambil keputusan sendiri, masih berhubungan dengan Mas Rendi atau tidak. Santi menghampiri diriku dengan membawa dua kantung plastik berisi es teh. Dia terlihat ceria meski terik matahari menyengat dan mengenai wajahnya. "San, masa pacarnya Mas Rendi DM aku. Nanyain dulu ngasih uang berapa ke maminya?" aduku setelah kami dekat. "Terus kamu jawab apa?" sahutnya sambil memberikan sekantung plastik es teh. "Baca sendiri deh," pungkasku dan lebih memilih untuk menikmati es yang terlihat segar. Benar saja, tenggorokanku langsung adem. "Tapi dia lebih pinter dari kamu, Dir," celetuk Santi setelah selesai membaca dan menyerahkan ponsel kembali. "Kenapa?" "Baru beberapa bulan, dia udah ngeh diporotin. Lah kamu berapa tahun baru nyadar?" ledek Santi diakhiri dengan suara tawa yang cukup keras. Beberapa pengunjung taman tampak menoleh, aku sampai menyikut lengan gadis itu supaya diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN