Bab 7
Mas Rendi benar-benar menghilang. Biasanya dia akan menunggu di teras kost atau menghubungi lewat ponsel. Mungkin sekarang dia sibuk dengan kekasih barunya. Tante Lilis juga tidak pernah datang lagi ke taman. Bahkan saat ada senam, dia juga tidak muncul.
Seharusnya aku senang, tapi kenapa rasanya lain. Terkadang diam-diam aku berharap Mas Rendi masih menunggu seperti biasa atau mengirim pesan saat online. Sebenernya baru kali ini aku diabaikan olehnya.
Terdengar suara klakson yang membuatku melonjak kaget. Sebuah mobil yang sangat kuhafal berhenti tepat di sebelahku. Untung saja, jalanan sedang sepi jadi tidak ada yang memprotes dengan rentetan suara klakson di belakang.
"Pagi, Kak."
Suara seorang wanita menyapa dengan ceria di balik kaca mobil yang telah diturunkan. Di sebelah Mas Rendi fokus dengan kemudi, tanpa sedikitpun menoleh.
Aku tersenyum dan mengangguk kecil sekedar menanggapi sapaan hangatnya.
Tidak lama kemudian, kaca dinaikkan dan mobil kembali melaju. Senyumanku menjadi hambar, melihat kebersamaan mereka. Di sini kenapa aku merasa tidak baik-baik saja. Seharusnya senang bukan lepas dari keluarga parasit itu.
Aku menengadah menatap langit yang terlihat cerah di pagi hari. Suara burung yang berkicau, sangat merdu. Beberapa orang melintas terburu-buru seakan dikejar waktu. Hati ini harus semangat seperti mereka yang memulai hari. Tidak ada guna menatap masa lalu, sekarang eranya memikirkan masa depan.
Hari demi hari kulalui dengan perasaan hampa. Beberapa kali Santi menyarankan untuk keluar dan bersenang-senang atau setidaknya menambah kenalan lelaki baru. Namun, aku lebih memilih untuk fokus jualan online. Live sekarang dilakukan sampai tiga kali sehari. Sepulang bekerja, saat sore hari dan menjelang tidur. Tidak hanya itu, aku juga menampakkan wajah saat live karena merasa tidak ada lagi yang mempertanyakan pendapatan jualan.
Tidak terasa beberapa bulan berlalu, kini aku terbiasa dengan gaji utuh setiap bulan dan menyalurkannya dengan mengontrak kios kecil sebagai tempat untuk jualan online sekaligus gudang. Santi juga turut andil di dalamnya. Kami berangan-angan akan berhenti bekerja setelah hasil dari kerja sampingan ini bisa diandalkan.
...
"Dira, kamu di sini?"
Sebuah suara terdengar saat ku membereskan sisa live.
Aku tercengang melihat Tante Lilis telah berdiri di hadapanku. Dari mana dia tahu aku di sini?
"Kamu memang pekerja keras, Dir. Rendi setiap hari hanya bermesraan dengan gadis itu. Dia sering bolos kerja," beber Tante Lilis tanpa diminta
"Diingatkan langsung saja, Tante," sahutku sambil menata dagangan kembali.
"Kamu jualan apa?"
"Baju dan aksesoris, Tan."
"Boleh mami lihat?"
"Maaf, Bude. Ini semua punya Santi."
"Kenapa sekarang kamu pelit juga sama seperti cewek barunya Rendi? Dia tidak pernah memberi uang kepada mami, setiap diingatkan pasti selalu memberi alasan. Lama-lama mami jengah juga."
Aku sengaja membalikkan badan dan tersenyum sendiri.
'Gimana, Tante? Masih enak jamanku to?'batinku puas.
"Maaf, Tante. Saya mau pulang karena semua sudah selesai," pamitku dengan sopan.
"Tunggu dulu, Dira. Mami tidak punya uang lagi. Lalu bagaimana nanti jika ada apa-apa di jalan?"
Aku merogoh saku baju dan rok. Selembar uang pecahan sepuluh ribuan sebagai penghuni terakhir kuserahkan dengan ikhlas.
"Masa segini, Dir. Tidak ada lagi?"
"Adanya cuma segitu, Tante. Kalau tidak mau, boleh saya ambil lagi untuk bayar angkutan umum?"
"Gajimu kan sekarang utuh. Masa ngasih mami cuma segini. Kemana ilangnya? Jangan boros-boros, sini titipin ke mami aja. "
Duh, maunya!
"Tenang saja, Tante. Saya bisa handle semuanya."
"Coba lihat isi rekeningmu, jangan-jangan tidak nambah."
Aku heran, Tante Lilis tidak tahu malu sekali ya!
Badan wanita paruh baya itu merangsek maju untuk memastikan. Dia menyambar ponselku yang masih dalam keadaan menyala dan hendak memeriksa isi didalamnya. Sedangkan aku lekas merebut kembali. Dia sudah sangat keterlaluan, tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Ekspresi Tante Lilis tidak terbaca, Mungkin syok sekarang aku bisa melawan.
"Maaf, Tante. Saya permisi dulu," pamitku setelah menutup pintu dan menguncinya.
Tidak ada waktu meladeni Tante Lilis. Lebih baik pulang dan istirahat.
"Tunggu dulu, Dira. Tante belum selesai."
Aku enggan menanggapi perkataan Tante Lilis. Biarlah nanti dia mengadu kepada Mas Rendi, seperti biasa.
....
Pulang dari bekerja, aku mendapati seorang lelaki tengah menunggu di teras. Bukan Mas Rendi tapi orang lain. Entah dia siapa? Dia hanya mengatakan sedang menunggu Santi, selebihnya hanya diam. Aku merasa kesal dan memilih mengacuhkannya dengan masuk ke kamar.
Laporan keuangan telah selesai kubuat. Meski dengan cara sederhana yang penting kelihatan dana masuk dan dana keluar. Tidak berapa lama Santi pulang. Dari wajahnya terlihat kusut, seakan ada masalah. Apa ada hubungannya dengan lelaki yang tengah duduk di depan? Apa mungkin lelaki tadi mantan kekasihnya?
"Dir, aku balik kampung dulu ya! Kamu jaga kesehatan,"pamitnya cepat sebelum aku bisa mencerna apa yang sedang terjadi.
"Kenapa mendadak? Ada yang terjadi? Siapa lelaki di depan?"tanyaku bertubi-tubi.
Sayangnya, Santi tidak menjawab. Dia berjanji akan bercerita setelah balik ke sini. Meskipun begitu, kali ini aku tidak yakin dia akan pulang dengan cepat.
Aku mengintip dari jendela untuk melihat kepergian Santi dan lelaki tadi. Pelukan serta usapan kepala Santi yang tertutup kerudung warna biru muda dilakukan oleh lelaki tadi, saat mereka berjalan keluar dari gerbang kost. Aku sampai menganga dan refleks menutup mulut dengan kedua tangan.
"Jadi dia kekasihnya Santi," gumamku. "Pantas saja dia tidak pernah merespon setiap lelaki yang mendekat, wong cowoknya keren begitu."
Ya, meskipun memakai baju koko dan sarung. Aura lelaki tadi awur-awuran, begitu yang sering k****a di media sosial untuk mendeskripsikan lelaki ganteng.
Mereka memasuki mobil yang berwarna merah dan melesat pergi. Tinggal diriku yang masih sendiri di sini. Tidak tahu akan berbuat apa, lebih baik berselancar dengan ponsel. Melihat beberapa postingan, pandangan mata tidak sengaja berhenti di sebuah foto yang diupload seseakun. Sebenernya aku tidak berteman dengannya, tetapi akun tersebut menandai Mas Rendi. Dalam foto tersebut, terlihat Mas Rendi berfoto dengan wanita yang tadi pagi menyapaku. Mereka tampak berpose mesra sambil tersenyum lebar. Syukurlah, jika memang dia bahagia dengan kekasih hatinya yang baru.
Bisa jadi Tante Lilis tadi menjelekkan kekasih barunya Mas Rendi karena ingin merayuku supaya mau mengeluarkan uang. Buktinya dalam foto itu, mereka tampak bahagia. Ya, aku yakin itu.
Biarlah sekarang aku fokus untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Rasanya belum siap membuka hati untuk lelaki baru. Lebih tepatnya trauma, takut bertemu dengan lelaki yang tidak tulus dan cuma bisa morotin duit. Target menikah di usia dua puluh empat harus kupendam dahulu, meski sebenarnya tinggal setahun lagi. Biarlah jika nanti melampaui target, yang penting aku tidak salah dalam memilih suami.