“Akan selalu ada kata maaf, dan kesempatan untukmu, karena hatiku memang sereceh itu. Sekalipun bernilai namun tak berharga.”
CaS AFM
Ziqri yang berniat membeli kelapa, tak disangkanya bahwa di tempat yang sama ada seseorang yang dulunya dia harapkan untuk kembali ada di depan matanya.
"Bli, i want buy 2 coconut"
Seseorang berpakaian pantai menoleh ke arah nya.
"ZIQRI"
"Ga-gadis"
Wanita itu kemudian memeluknya. Ini posisi yang sangat sulit. Dia memang sangat mengharapkan wanita yang sedang memeluknya ini. Namun, disana ada seseorang yang sedang dia harapkan. Namun rasa rindu yang sudah sangat berat ini membuat Ziqri harus jatuh ke pelukan wanita yang berasal dari masa lalunya ini. Mereka bergandengan tangan lalu pergi bersama.
“Kamu punya waktu 5 menit dari sekarang untuk menjelaskan kepergian mendadak kamu.”
"I am so sorry, aku ga pernah ninggalin kamu. I am still married. Tapi dia selalu nyakitin aku. Tolong aku, aku mohon hiks aku udah ga kuat"
Gadis menangis sejadi-jadinya. Mengingat sang suami yang sudah seringkali berbuat kasar kepadanya.
Ziqri benar benar sangat terpukul mengetahui bahwa Gadis sudah menjadi milik orang lain. Disisi lain dia sangat marah. Marah kepada dirinya dan keadaan kenapa orang yang sangat dijaganya harus disakiti orang lain. Ziqri mengepalkan tangan kanannya dan tangan kirinya memegang kepala Gadis.
Ziqri mengajak Gadis untuk berbicara, setelah menemukan tempat yang cocok akhirnya mereka duduk dan mulai bercerita.
“Ki, aku sama sekali tidak pernah ninggalin kamu, aku hanya berusaha untuk menuruti keinginan orang tua aku, tapi sumpah demi apapun aku gak cinta sama dia. Aku cintanya sama kamu. Percaya sama aku.”
“Terus kenapa kamu gak mencoba untuk bertahan?”
“Karena kamu gak pernah ngerasain di posisi aku Ki,”
Ziqri bagai kerbai dicocok hidungnya, dia hanya mengangguk dan mencoba memahami apa yang Gadis rasakan. Dalam hatinya dia bertekad untuk menyelamatkan perempuannya ini. Dan akan membuatnya bahagia.
Sementara Ziqri sudah bisa memaafkan Gadis. Tarisa dan Apri belum ada perkembangan.
Mereka sedang duduk di salah satu café, sembari menikmati pemandangan Tarisa enggan untuk memulai percakapan di antara mereka. Pasalnya sedari tadi Apri pun hanya diam saja. Apri sadar sahabatnya ini sedang marah besar padanya.
“Ca, sakit banget pipi gue,” ujar Apri pura-pura merasa kesakitan. Otomatis Tarisa menoleh.
“Sakit mana, sama ditinggal gitu aja tanpa pamit? Berasa gak penting dan gak dianggap,” ucap Tarisa ketus.
“Bukan gitu Ca. waktu itu beneran gak sempat.”
“Jakarta-Bandung gak sampe 5 jam.”
“Ca, gue janji itu yang terakhir, gak akan ulangi lagi.”
“Semudah itu? Sementara gue merasa bersalah hamper 2 tahun ini. Gue berasa sia-sia tau gak sih mikirin lu tiap hari, nyatanya lu lebih baik jauh dibandingkan gue. Nyesel anget rasanya.”
“Ca. Sorry,” ucap Apri dengan sangat sungguh-sungguh.
Tarisa hanya bisa menangis. Entah, harusnya dia merasa bahagia karena Apri sudah ada di depan matanya. Dia miris dengan dirinya sendiri. Karena ternyata sampai saat ini, Apri masih belum bisa merasakan apa yang dirasakannya. Bodohnya dia selalu berharap. Suatu saat lelaki itu mengerti.
Apri yang melihat sahabatnya menangis pun segera memeluknya, mulutnya berkali-kali mengucapkan kata maaf, dari yang Tarisa mendengarnya, sampai tidak ada suaranya lagi.
“Cheescake?” Tarisa tersenyum, Apri masih mengingat makanan kesukaannya. Namun segera dia tepis senyum itu dengan tatapan sinis.
“Ukuran jumbo.”
“Dua deal!” kini Apri yang tersenyum, sahabatnya itu sudah memberi lampu hijau.
“Pemerasan.”
Apri kini merangkul Tarisa, dia tahu sahabatnya ini masih marah. Tapi dia sudah bertekad akan memperbaiki semuanya. Waktu memang tidak bisa diputar kembali, tapi kenangan bisa dibuat lagi.