Part 8 (Pertengkaran)

532 Kata
“Kamu selalu egois, dan Aku yang selalu mengalah. Sekalipun kamu tidak bicara, Aku tahu.”                                                                                                        CaS AFM   Tarisa memutuskan untuk pulang bersama Apri tanpa sepengetahuan Ziqri. Dia sangat kesal hanya dengan membayangkan untuk bertemu. Sedari kemarin dia tidak kunjung memakan apapun. Makan hanya akan membuat nya mual. Setibanya di Jakarta pun dia masih tidak mau makan. Harusnya Ziqri tidak meninggalkannya  sendirian di Bali, bagai mana pun Tarisa baru pertama kali ke sana. Untunglah ada Apri yang membantunya.  Namun manusia tidak bisa menahan waktu, hari ini dia kembali bekerja. Kembali bertemu dengan Ziqri. Tarisa pov Sekarang gue lagi ada di atap gedung yang tinggi dan sejuk. Karena di atas sini di buat tamannya. Sembari mendengarkan lagu Mytha ~ menghapus yang terukir Duggg awwwww *meringis kesakitan "Setelah pergi ninggalin saya gitu aja, kamu malah diam di atap kaya gini. Perusahaan saya tidak membutuhkan orang pemalas" "Saya bisa keluar dari perusahaan anda." "Haha, tapi sayangnya tidak bisa nona, karena anda sudah terikat kontrak dengan saya" "Terserah anda tolong tinggalkan saya sendiri" Entha keberanian dari mana gue berkata begitu, rasanya masih ingat banget alasan dia  ninggalin gue. "Tidak bisa, saya tidak mau jika perusahaan ini terkena kasus karena seorang karyawannya bunuh diri" Ga waras ini  orang, emang dipikir gue akan segila itu. "Aku ga segila itu, " *selain mencintai orang yang bahkan ga mengharapkann gue "Cih trus kenapa disini dari tadi, ini udah hampir sore, kantor mau tutup. kamu mau nginep di sini gitu iya?" "....." gue males debat, padahal gue belum pulang juga karena nungguin dia pulang duluan. "Ga bisa jawab?" “Bapak kalua mau pulang, pulang saja. Saya bisa pulang sendiri, dari Bali saja saya bisa pulang sendiri kan.” Ziqri diam, enggan untuk membahasnya, lagi pula dia sudah meminta maaf dan tidak meninggalkan Tarisa begitu saja, dia sudah mengirimkan salah satu pekerjanya untuk mengawal Tarisa pulang. Yang dia kaget, justru pengawalnya bilang, Tarisa pulang bersama cowok, mereka bergandeng tangan. Ziqri tidak cemburu hanya saja, kenapa Tarisa harus marah kepadanya, jika dia saja pulang bersama pacarnya. Mereka berarti impas harusnya. "Laki-laki yang kemarin siapa?" "Mangsa baru," ucap Tarisa  kembali sinis. Sepertinya tenaganya sudah kembali lagi. " Oh, berapa semalam? Saya sewa seminggu deh." Ziqri mengejeknya. "Kasihani  pipi anda, sebelum saya tampar." Tarisa masih berusaha menahan amarahnya. "Dia kasih apa aja ke kamu apartemen? Mobil? Kartu kredit? Apapun itu aku bisa kasih ke kamu" "Saya masih punya tangan dan kaki juga otak buat kerja dan dapatkan uang.” "Trus bermalam di Apartemen lelaki itu demi apa? kalau bukan demi uang.jawab! ga bisa jawab kan cih" Tarisa kaget, dari mana Ziqri tahu dirinya menginap. Padahal dia tidak memberitahunya "Apapun yang saya berikan untuk dia. dia pantas mendapatkannya,  setidaknya dia baik dan jujur tidak seperti  anda tuan Ziqri yang terhormat." Dia mendekati dan mencengkeram bahu Tarisa dengan sangat kuat, saat ini Tarisa sudah sangat pucat dan gemetaran. Melihat Ziqri yang begitu sangat marah padanya. Ingin rasanaya Tarisa berteriak, namun tenaganya tidak cukup kuat. Nafasnya terasa tercekat. Hanya air mata yang bisa dia keluarkan. “Saya sudah cukup sabar menunggu penjelasan kamu, jika kamu memang tidak bia diajak bicara vbaik-baik. Mari pakai cara saya.” Suara Ziqri hanya terdengar samar oleh Tarisa. Karena setelahnya berubah menjadi gelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN