BAB 2

1013 Kata
Di sudut paling remang-remang The Golden Griffin, sebuah klub eksklusif khusus bangsawan tinggi di jantung ibu kota, aroma cerutu Kuba bercampur pekat dengan kepulan asap rokok dan wangi mahal wiski tua. Alistair menyandarkan tubuhnya yang tegap pada sofa kulit beludru berwarna marun, gelas kristal berisi cairan keemasan di genggamannya berputar pelan. Di sekeliling meja bundar itu, tiga orang sahabat karibnya, sesama bangsawan berdarah biru dengan reputasi liar yang sama terkekeh pelan, menikmati obrolan malam yang mulai memasuki topik-topik privat. "Kau serius, Al? Malam pengantin pertamamu, dan kau memilih meninggalkannya sendirian?" Elon, seorang Viscount muda dengan senyum sinis yang melekat di wajahnya, bersandar malas sambil menyesap minumannya. "Demi Tuhan, bahkan anjing peliharaanku pun mendapat perhatian lebih baik darimu di hari pertamanya di kandang baru." Beberapa gelak tawa langsung meledak di meja itu. Lord Marcus, yang duduk di seberangnya, ikut menimpali dengan nada menggoda yang sengaja disebarluaskan. "Sudahlah,Elon. Jangan salahkan Alistair. Kudengar, putri dari keluarga pedagang kaya yang membiayai perangmu itu memang tidak punya wajah maupun tubuh yang layak dipandang dua kali. Jauh sekali dari selera Yang Mulia Duke kita ini." katanya terkekeh. Mendengar ledekan itu, rahang Alistair mengeras. Urat-urat halus di pelipisnya menonjol, tanda bahwa batas kesabarannya mulai menipis. Alih-alih tersenyum bangga seperti biasanya saat mereka membahas wanita, Alistair justru mendengus kesal. Ia meneguk sisa wiskinya dalam sekali tenggak, lalu membanting gelas kristal itu ke atas meja marmer dengan bunyi dentingan keras yang membuat tawa teman-temannya seketika mereda. "Cukup," geram Alistair rendah, suaranya dingin dan menusuk. "Kalian tahu persis aku tidak punya pilihan" Alistair menyandarkan kembali punggungnya, menatap cairan di dalam gelas kosong dengan tatapan jengkel yang teramat sangat. "Wanita itu... dia tidak lebih dari sebuah syarat transaksi bisnis yang menyebalkan. Tidak ada daya tarik, tidak ada pesona, apalagi gairah. Membayangkan harus menghabiskan malam bersamanya justru membuatku merasa seperti sedang melunasi hutang dengan cara yang paling memuakkan." "Ah, sudahlah, kawan," Marcus terkekeh pelan, menepuk bahu Alistair dengan santai. "Kalau dia memang sebegitu membosankannya, jadikan saja dia pajangan di sudut kastilmu. Toh, kau masih punya banyak pilihan lain di luar sana yang jauh lebih menarik untuk menghabiskan malam-malammu." Alistair tidak menjawab. Namun, dalam hati, ia sangat membenarkan ucapan sahabatnya itu. Bagi Alistair, pernikahannya hanyalah sebuah kontrak mati di atas kertas. Istrinya, Alice, hanyalah sebuah elemen tambahan yang tidak penting di kediamannya, sesuatu yang akan ia abaikan sepenuhnya selagi ia terus menikmati kebebasan dan kesenangannya di luar. ___________________ Matahari pagi baru saja merayap naik, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai marmer sayap utara kastil. Alice melangkah keluar dari kamarnya dengan jubah rumah berwarna cream yang rapi, rambut cokelatnya terikat longgar di belakang. Hari baru dimulai, dan ia bertekad untuk menjalani rutinitas paginya di ruang sarapan dengan tenang, jauh dari bayang-bayang suaminya yang arogan. Namun, ketenangan itu mendadak buyar saat ia tiba di ujung koridor utama yang menghubungkan pintu masuk kastil. Langkah Alice terhenti. Dari arah berlawanan, Alistair baru saja masuk lewat pintu sayap barat. Penampilan sang Duke jauh dari kesan rapi seorang panglima militer. Mantel mewahnya tersampir asal di bahu, kancing atas kemejanya terbuka memperlihatkan lehernya yang kokoh, dan dasi plastronnya tampak longgar berantakan. Yang paling mencolok bukanlah pakaiannya yang berantakan, melainkan aroma yang menguar dari tubuhnya. Bau pekat sisa wiski malam tadi bercampur dengan wangi parfum wanita yang manis, murahan, dan sangat menyengat, tipe aroma khas dari para wanita penghibur di distrik hiburan ibu kota yang kerap dikunjungi para bangsawan hidung belang. Alistair terhenti, menyadari kehadiran istrinya di tengah koridor. Langkah kakinya yang tadinya sedikit sempoyongan langsung menegak. Ia menghentikan langkah, menatap Alice dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan dingin yang dipenuhi rasa jengkel yang kentara. Di detik yang sama, mata Alice menyapu penampilan suaminya. Ada kilatan jijik yang melintas sekilas di balik manik matanya. Pria ini benar-benar menghabiskan sepanjang malam untuk melampiaskan nafsu, lalu pulang menjelang pagi dengan membawa bau wanita lain, batin Alice sinis. Meskipun rasa amarah dan keengganan bergemuruh di dadanya, sisa-sisa etiket bangsawan dan rasa kemanusiaan yang tipis membuat Alice mengurungkan niatnya untuk langsung berbalik. Ia memutuskan untuk bersikap sewajarnya sebagai sesama manusia yang terjebak di tempat yang sama. Dengan ekspresi datar, Alice mengangkat dagunya sedikit, lalu menatap Alistair dengan sopan namun dingin. "Selamat pagi, Yang Mulia," sapa Alice pelan, suaranya memecah keheningan koridor. "Sepertinya malam Anda berjalan... sangat panjang." Alistair tidak langsung menjawab. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menjernihkan kepalanya yang masih dipenuhi sisa-sisa alkohol. Mendengar sapaan itu dari wanita yang dibencinya, Alistair justru merasa disindir secara telak. Alih-alih menghargai itikad baik Alice untuk menyapa, ia justru mendengus sinis. Bagi Alistair, sapaan pagi itu terasa seperti bentuk penghakiman dari seorang istri hasil transaksi politik yang sama sekali tidak berhak mengatur hidupnya. Alistair menarik napas panjang, menegakkan postur tubuhnya yang tinggi, lalu menatap Alice dengan pandangan merendahkan. Ia sama sekali enggan menanggapi sapaan basa-basi tersebut. "Ya… sangat panjang dan menyenangkan, Nona Alice ," balas Alistair dengan suara serak khas bangun tidur, dengan nada mengejek. "Dan berhentilah pura-pura peduli. Kau bukanlah pengawas moral dalam hidupku." Tanpa menunggu balasan atau melihat perubahan ekspresi di wajah Alice, Alistair kembali melangkah. Langkah kakinya yang berat, berderap tegas menghantam lantai marmer, melewati Alice begitu saja tanpa menoleh lagi. Alice mengepalkan kedua tangannya di balik lipatan jubahnya, menyembunyikan kekesalannya. Beberapa langkah dari tempat Alistair berlalu, Mr. Gable, kepala pelayan istana yang berambut perak dan berpakaian rapi, muncul dari balik pintu lengkung. Pria paruh baya itu membungkuk hormat dengan gestur kaku namun sopan, mencoba meredakan ketegangan yang masih mengambang di udara koridor. "Selamat pagi, Duchess," ucap Mr. Gable tenang. "Meja sarapan sudah disiapkan untuk Anda." Kepala pelayan itu menambahkan informasi dengan nada hati-hati, "Dan... Yang Mulia Duke mengabarkan bahwa kondisi tubuhnya kurang sehat pagi ini sehingga tidak dapat menemani Anda. Beliau meminta agar sarapannya diantarkan langsung ke kamar tidurnya." Alice hanya mengangguk kecil, sama sekali tidak terlihat terkejut. Ia bahkan sudah menduga keputusan kekanak-kanakan itu. Dan hati kecil Alice justru bersyukur akan hal itu. Semakin jarang dia bersinggungan dengannya semakin baik. "Terima kasih, Mr. Gable," balas Alice dengan suara yang kembali datar dan tenang. Sejak pagi itu, seolah ada persetujuan tidak tertulis, bahwa Alice dan Alistair akan menjalani hidup masing-masing tanpa mengganggu satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN