BAB 1
Ruang itu selalu berbau sama; tembakau mahal, tinta yang mengering di kertas, dan batu marmer abu-abu yang menahan dingin sampai ke tulang. Malam ini ada satu aroma asing yang menyelip di antaranya, wangi sabun mandi wanita yang menguar samar dari balik pintu kamar tidur utama.
Alistair menyandarkan punggung ke kursi kayu berukir dan memijat pelipisnya yang berdenyut. Pernikahan ini tidak lahir dari hati, apalagi dari ketertarikan mata. Ia menikah karena perang menuntut perhitungan. Seorang Duke memegang pasukan dan ribuan hektar tanah di perbatasan utara, tapi pasukan tidak bisa berperang dengan perut kosong, dan pedang terbaik tidak bisa ditempa tanpa emas. Dengan mengambil wanita itu sebagai istri, ia mendapatkan tambahan dukungan militer sekaligus kucuran dana dari klan ayahnya. Uang itulah satu-satunya jalan agar ia menang di utara.
Alistair baru saja menyerahkan kemerdekaan pribadinya di atas meja birokrasi. Demi satu kemenangan di medan perang.
Pintu terbuka.
Wanita itu melangkah masuk. Namanya Alice, putri keluarga bangsawan kaya yang minim garis darah biru, yang memanfaatkan situasi terjepitnya untuk menaikkan status sosial mereka.
Alistair mengangkat pandangan. Ia menatap perempuan yang kini resmi menyandang gelar Duchess. Secara fisik, tak ada satu pun hal dari diri Alice yang menarik bagi pria yang tumbuh di lingkaran elit ibu kota. Ia tidak punya bahu tegap para aristokrat, tidak punya postur tinggi semampai para nyonya bangsawan yang biasa menemaninya di jamuan teh kerajaan. Tubuhnya biasa saja, terkesan mungil. Wajahnya terlalu polos, matanya memancarkan kegugupan yang justru membuat Alistair jengkel.
Bagaimana bisa aku memperjualbelikan masa depanku untuk perempuan seperti ini?
Pandangannya menyapu Alice dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Dingin.
Baginya, tubuh adalah representasi kekuasaan dan disiplin. Ia sendiri menghabiskan bertahun-tahun membentuk fisiknya, bahu lebar, rahang tajam, tinggi seratus delapan puluh delapan sentimeter yang menjulang dan memancarkan d******i. Setiap inci dari dirinya adalah hasil tempaan latihan militer dan standar aristokrasi tertinggi.
Dan perempuan yang berdiri beberapa meter darinya sekarang terlihat seperti bayangan redup di samping singgasananya. Tidak ada karisma. Tidak ada daya pikat. Kehadirannya di ruangan itu terasa seperti lelucon yang sengaja dimainkan takdir untuk menguji kesabarannya.
“Yang Mulia…” suara Alice bergetar pelan, memecah keheningan.
Alistair tidak langsung menjawab. Ia berdiri. Tingginya langsung mendominasi ruangan. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya menghantam lantai dengan ketukan berat yang berirama. Ia berhenti tepat di hadapan Alice, memaksa wanita itu mendongak. Jarak di antara mereka begitu dekat sampai Alistair bisa mencium bau kesederhanaan yang melekat pada istrinya, jauh dari aroma parfum glamor yang biasa ia hirup dari perempuan-perempuan bangsawan berkelas.
“Dengarkan baik-baik, Nona Alice.” Nadanya datar, tajam, tidak menyisakan ruang untuk bantahan. “Keluargamu mendapatkan gelar dan keamanan yang mereka inginkan. Aku mendapatkan dana dan pasukan untuk perbatasan. Urusan kita selesai.”
Ia menatap mata Alice sekilas, lalu membuang muka. Ekspresinya menyiratkan ketidaksukaan yang terang-terangan.
“Jangan berharap aku memperlakukanmu lebih dari pajangan formal di istana ini. Dan di balik pintu kamar ini, kita hidup di dunia kita masing-masing.”
Tanpa menunggu jawaban, tanpa melihat perubahan ekspresi di wajah wanita itu, Alistair berbalik. Ia meraih mantelnya yang tersampir di sofa dan melangkah keluar, meninggalkan istrinya sendirian di tengah kemegahan ruangan yang terasa begitu hampa.
___________________________
Pintu berat bermahkotakan ukiran lambang keluarga Valois itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang berat. Suara langkah kaki Alistair yang menjauh di koridor marmer perlahan lenyap, menyisakan keheningan malam yang menekan d**a Alice hingga terasa sesak.
Alice tidak segera bergerak. Ia masih berdiri di tengah kamar tidur yang luasnya melebihi separuh rumah masa kecilnya dulu. Alih-alih merasa terintimidasi atau kecil hati karena penghinaan terang-terangan barusan, gelombang rasa jengkel dan kekecewaan justru bergemuruh di dalam dadanya.
Wanita itu perlahan mendengus pelan, menatap pintu yang baru saja ditutup oleh sang suami dengan sebelah alis terangkat.
Kira-kira siapa yang sudi menginginkan pernikahan ini sejak awal? batin Alice sengit.
Seandainya memiliki kuasa untuk menolak, Alice adalah orang pertama yang akan menolak dijadikan alat barter politik oleh orang tuanya sendiri. Pernikahan ini bukan impiannya. Menjadi pion dalam transaksi kekuasaan antara ambisi keluarganya yang mendamba status bangsawan tinggi dan kebutuhan logistik militer sang Duke sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar rencana hidupnya. Ia diseret ke dalam sangkar emas ini semata-mata karena kekayaan keluarganya dianggap sebagai satu-satunya jaminan agar Alistair bisa mendanai perang di utara.
Alice melangkah menuju meja rias besar berbingkai emas, lalu melepas jepit rambut sederhananya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin. Ia tahu persis bagaimana keterbatasan fisiknya di mata seorang panglima perang yang angkuh. Ia tidak memiliki kecantikan mencolok atau pesona duniawi yang mampu meluluhkan pria terpandang. Namun, bagi Alice, kekurangan fisik itu jauh lebih mulia daripada harus hidup dalam kepalsuan karakter.
Pandangannya beralih menatap sekeliling ruangan yang megah namun terasa dingin. Alistair de Valois. Pria itu memang memegang segalanya; gelar Duke, kekuasaan mutlak atas wilayah utara, dan tubuh sempurna hasil tempaan latihan militer yang dipamerkan dengan arogan. Tapi di mata Alice, kesempurnaan fisik itu hanyalah sebuah tabir penutup.
Alistair tidak lebih dari sekadar cangkang yang indah di luar, namun busuk di dalam.
Di kalangan kaum elit dan koran gosip ibu kota, rumor tentang sang Duke berhembus kencang. Alistair dikenal luas sebagai seorang playboy yang gemar mempermainkan hati banyak wanita di balik gemerlapnya pesta malam. Namanya kerap disandingkan dengan deretan nyonya muda dan para selir bangsawan yang datang silih berganti. Pria itu memandang rendah kaum wanita, memperlakukan mereka layaknya komoditas habis pakai yang bisa dibuang kapan saja ketika kepentingannya selesai.
Alice mengepal kedua tangannya di atas meja rias. Rasa sedih yang sempat mencubit hatinya seketika menguap, berganti dengan rasa jijik yang rasional.
Ia tidak menangisi penolakan Alistair. Buat apa menangisi pria arogan yang moralnya bahkan tidak lebih berharga dari kepingan emas transaksinya?
"Silakan nikmati kesombongan dan uang panglimamu itu, Yang Mulia Duke," gumam Alice pelan pada bayangannya sendiri di cermin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. "Kau boleh menganggapku sebagai pajangan transaksi yang tidak menarik. Tapi pastikan saja tangan kotormu itu tidak menyentuhku lebih jauh dari ini."
Malam itu, di bawah atap yang sama dengan salah satu pria paling berkuasa di kerajaan, Alice merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang dingin, siap menjalani perannya sebagai bayangan, sementara Alistair membiarkan kebusukannya berkuasa di luar sana.