# Nina duduk di atas sofa dan meneguk air mineral yang ada di atas meja. “Kau tidak terlihat seperti orang yang kehilangan ingatan,” ucap Nina tenang. Ia akhirnya bisa menguasai dirinya setelah beberapa saat. “Apa itu penting? Bukannya kau kemari tidak untuk mengecekku? Jangan pura-pura perduli kalau kau tidak ingin, nanti cepat tua.” Arruna mengatakan hal itu dengan senyuman, seakan ia tengah berbicara dengan seorang sahabat dekat, sangat kontras dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Nina bangkit berdiri dan mendekati ranjang tempat Arruna berada. Ia mengamati Arruna sejenak dan menarik napas pelan. “Papa akan menjual toko roti Tante Wina. Kami sedang membutuhkan dana dan toko roti Tante Wina adalah satu-satunya harapan kami. Kecuali tentu saja kau mau membantu dengan memberikan

