1
Kamar hotel itu sangat berantakan sekali. Semalam, Siska dan beberapa temannya termasuk karyawan magang merayakan keberhasilan mereka dalam mengambil proyek baru.
Siska tidak mengingat apapun, ia sudah berada di salah satu kamar hotel dengan tubuh polos yang hanya ditutupi selimut tipis.
Kedua matanya mulai terbuka setelah sinar matahari tepat mengenai dua bola matanya yang masih terpejam. Kepalanya masih berdenyut dan rasanya pening sekali. Ubun-ubunnya terasa berputar.
"Hmmm ..." desah Siska sambil merubah posisi tidurnya dari miring menjadi terlentang. Ia merasa angin dingin mengenai kulit tubuhnya yang mulus.
Siska mulai sadar dan duduk tegak dengan kedua kaki bersila. Ia mengedarkan pandangannya di ruangan itu sambil memegang selimut tipis yang masih menutup tubuh polosnya.
"Aku kenapa?!" desisnya pelan sambil melihat ke arah lantai. Pakaian kerja yang ia pakai semalam sudah terlepas dari tubuhnya dan tercecer di lantai.
"s**t!" umpatnya kesal. Kenapa ia bisa berada di tempat ini dan posisinya telanj4ng.
Jose keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang masih setengah basah dengan handuk yang hanya dililitkan di pinggang. Ia berjalan dan tanpa menatap ke arah Siska yang juga sedang memandanginya.
Siska mengerutkan keningnya, memastikan mengenal lelaki yang kini berdiri di hadapannya. Ia tidak bisa berteriak saking syoknya.
"Ka -kamu siapa?" Akhirnya Siska membuka suaranya dan hanya melontarkan kalimat singkat rasa ingin tahu. Siska mengeratkan selimut di bagian dad4nya.
Pria yang terlihat masih muda itu kemudian duduk di tepi ranjang tepat disamping Siska duduk.
"Se -semalam ... Kita begituan ..." Jawabnya lirih sambil menunduk.
"Be -begituan gimana?" Siska terlihat panik. Wajahnya yang masih muka bantal mendadak pucat pasi.
Pria muda itu tetap menunduk dan tetap diam. Pertanyaan Siska dianggap angin lalu tapi membekas di pikirannya.
"Aku nanya sama kamu. Kita gak kenal kan? Kita bukan karyawan satu kantor kan?" Siska langsung memberondong pertanyaan.
Pria itu hanya menggeleng pelan dan melirik sekilas ke arah Siska. Wajah Siska yang panik malah terlihat sangat menggemaskan.
Siska itu mempesona sekali. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Siska, gadis cantik dengan body goals yang sangat mantap. Wajahnya bersih dan sangat mulus. Tubuhnya wangi dan sangat bersih. Tidak ada cacat ataupun bekas luka yang kadang membekas di kulit. Sungguh sangat terawat sekali. Andai Siska tahu bagaimana Jose kalap menikmati Siska yang tak tersadar karena mabuk berat semalam.
"s**t! Kamu gak bisu kan?" sentak Siska kesal.
Jose paham dengan kekesalan Siska. Tapi, sejak melihat Siska kemarin, hatinya yang beku kembali luluh dan cintanya bersemi seperti tanaman kering yang baru tersiram air. Semangat hidup Jose kembali b*******h. Dan hasratnya pun menggebu hingga ia menyalurkan nafsunya berkali-kali pada Siska semalam.
"E -Enggak kok," jawab Jose.
"Jelaskan! Kenapa aku bisa disini?!" Siska hanya ingin tahu. Kenapa dirinya bisa ada di kamar ini. Bahkan ia tidak memesan kamar semalam. Ia dan teman-temannya hanya membuat party kecil-kecilan dan ... Ah, Siska sampai lupa apa yang terjadi semalam.
Dan setelah ia tersadar, dirinya sudah berada di kamar hotel ini. Sebentar, Apa? Kamar hotel?
Belum sempat menjawab pertanyaan Siska, Jose yang masih mengumpulkan keberanian untuk bicara jujur pun kaget dengan teriakan Siska.
"Ma -maksud kamu tadi bilang begituan itu? Ka -kamu dan a -aku?" Siska menunjuk Jose dan dirinya sendiri.
Jose mengangguk ragu sebelum pada akhirnya ia menjawab mantap, "Iya. Kita semalam bercinta."
"s**t!" Siska mengumpat keras. Ia sudah menjaga tubuhnya dari sentuhan lelaki selama belasan tahun. Dan kini, pertahanannya jebol juga tanpa ia sadari.
"Kenapa?" Jose menatap bingung ke arah Siska. Raut wajahnya begitu polos.
"Kenapa?! Kamu itu sudah meniduri ku! Siapa nama kamu?" sentak Siska tak terima.
"A -aku? Meniduri kamu? Kamu yang minta disentuh," jelas Jose jujur. Ia tidak mau disalahkan da dijadikan tersangka.
Kalau memang Siska menuntut soal ini, Jose sudah bersiap dengan bukti yang ada.
"Aku?! Minta ditiduri! Buktinya apa?" Siska menggertak tak mau kalah.
"Oke. Aku ambilkan buktinya," jelas Jose.
Jose berdiri dan mengambil ponselnya di atas meja rias lalu membuka salah satu video rekaman semalam. Bagaimana Siska yang sedang b*******h merayu Jose dan meminta untuk ditemani tidur. Sumpah gaya Siska benar-benar liar dan sangat binal sekali.
Suara desahan yang begitu menggoda membuat Jose terpaksa mengangguk dan terjadilah pergulatan panas di atas kasur. Tidak hanya sekali, api berulang kali. Itupun atas permintaan Siska.
Rasanya malu sekali setelah melihat video rekaman itu. Ingin rasanya, Siska menenggelamkan kepalanya di dasar laut yang dingin.
"Namaku Jose. Kamu bisa panggil aku Jose atau cukup dengan panggilan Jos saja," jelas Jose mengulurkan tangannya.
Siska menatap tangan Jose sekilas. Ia menunduk malu. Kenapa dirinya bisa seliar itu semlama. Sampai ia sendiri yang mengajak Jose ngamar. Lalu kenapa harus Jose? Bukannya banyak laki-laki yang ikut di dalam party semalam?
"Yakin? Gak mau balas jabat tanganku?" ucap Jose pelan dan nampak menggoda.
Siska mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Jose lalu menyebut namanya, "Siska."
"Nama yang sangat bagus sekali. Umurmu berapa? Aku dua puluh dua tahun tapi tahun ini dua puluh tiga tahun," ucap Jose dengan santainya merangkai kalimat yang membuat Siska membola.
Oh tidak mungkin Siska mengaku jujur soal umur saat ini. Apalagi lawannya berusia dua puluh dua tahun. Tapi ...
"Ah ... Aku dilema!" Siska berteriak keras di dalam hatinya.